Minggu, 20 September 2015

Dari Ubud sampai ke Joger

         “Selain jadi Volunteer, ngapain di Ubud?” Wah, banyak. Jalan-jalan, cari tempat makan yang pas dengan selera, dan wisata tentunya.
            Hari pertama (1 Oktober 2012), saya dan Dyah P. Rinni tiba di Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali. Hal pertama yang menjadi tujuan saya adalah transportasi. Kami pun mampir ke tempat penyewaan mobil. Mengingat saya belum akrab dengan jalan-jalan di Bali, mobil yang saya incar harus yang matic. Sayangnya, tak ada yang sesuai dengan target anggaran yang sudah saya perkirakan. Semuanya mahal!
         Batal!
        Itu keputusannya. Akhirnya kami pun menyewa jasa taksi menuju Ubud dengan tarif 210 ribu rupiah. Begitu taksi melaju, baru saya terbayang jika tadi saya memaksakan menerima tawaran mobil yang manual, alamaaak... bakal tak pede lah menginjak pedal mobil sewaan itu. Meskipun saya sudah siap membawa GPS di koper, saya tak begitu yakin akan nyaman menyetir di sana. Satu setengah jam perjalanan dari Denpasar menuju Ubud, membuat saya yakin dengan keputusan tidak jadi menyewa mobil. 
         Kami tiba di Ubud View Bungalow sekitar pukul 14.00 WITA. Letak penginapan kami ada di Jalan Hanoman, Padang Tegal. Setelah membereskan pemesanan, kami pun diantarkan ke kamar. Ternyata kamar yang diberikan tak sesuai dengan perjanjian. Saya keberatan dan minta ditukar dengan yang twin bed. Alhamdulillah, pihak bungalow mengakui kekeliruannya. Kami kembali diantar ke kamar yang sesuai dengan pesanan. 

Di depan penginapan
Model pintu kamar yang selalu seragam
          Sampai di kamar, kami rehat sebentar dan menikmati makan siang yang sudah kami persiapkan dari bandara. Sederhana sekali, nasi putih dan ayam goreng. Cukuplah mengganjal perut sampai menjelang malam.
          Setelah makan, kami memutuskan untuk ke luar dan melihat-lihat lingkungan sekitar. Ternyata, tempat kami menginap agak jauh dari Jalan Ubud Raya atau Monkey Forest (jalan yang dekat lokasi acara UWRF digelar). Tak mungkin ditempuh dengan jalan kaki. Bisa gempor!

Hari pertama dengan sepeda motor.
         Tak ada mobil matic sepeda motor pun jadi. Kami putuskan untuk menyewa sepeda motor saja selama berada di Ubud. Lebih nyaman, ringan, gampang menyelip-nyelip di jalan-jalan Ubud yang relatif sempit dan padat.
         Harga sewa motor sudah disepakati, 50 ribu per hari dengan mengisi bensin sendiri. Saya baru tahu, kalau Dyah teman sekamar saya, ternyata tak bisa membawa sepeda motor...hehehe. Tak apa, saya saja yang jadi pengemudinya, sementara Dyah bertugas mengarahkan (halaaah...:p).
        Pagi itu kami siap menuju tempat orientasi Volunteer Ubud Writers and Readers Festival. dengan sepeda motor berwarna pink di halaman bungalow. Saya sengaja mengajak Dyah ke acara orientasi.
Ini bukan beriklan lho. :)
          Bismillahirrahmanirrahiiim...wuuuzzz!
        Sepeda motor melesat ringan di jalan raya. Ternyata asyik juga naik sepeda motor di Ubud. Kami bisa lebih cepat sampai ke tujuan. Selesai orientasi, kami mulai melakukan eksplorasi. Pertama, mencari tempat makan yang pas dengan selera. Sepeda motor pun meluncur dengan anggun, seanggun yang membawanya. Bwuahahaha....
         Satu yang saya ingat, bahwa di Ubud banyak sekali anjing yang berkeliaran. Saya paling takut sama hewan satu itu. Meskipun naik sepeda motor, tetap saja was-was. Untunglah, tak ada kejadian aneh-aneh dengan anjing selama di sana.:)
        Selepas makan, kami kembali ke bungalow. Istirahat sebentar, lalu kembali ke luar menuju tempat monyet-monyet tinggal dan berkembang biak. Mandala Wisata Wenara Wana namanya. Lokasinya di Jalan Monkey Forest Padang Tegal, Ubud, Bali.



       Sstt... sebenarnya bukan cuma anjing yang bisa bikin saya ketakutan, tapi sama monyet juga lho. Saya punya pengalaman buruk dengannya (nggak usah diceritain ya, maluuu:p). Untunglah ada Dyah yang lumayan berani, saya jadi semangat. Dengan perasaan cemas, saya berjalan dekat-dekat dengan Dyah. Sambil mencuri-curi memotret.


      “Auuu!”
     Salah satu anak monyet melompat ke pundak Dyah. Kalau saya yang dilompati seperti itu, mungkin bisa pingsan atau jejeritan kayak orang kesurupan. Tapi, Dyah berusaha tenang sampai monyet itu turun sendiri. Begitulah, kami pun menikmati waktu sambil berfoto-foto di lokasi.
Setelah itu, kami menuju Cafe Lotus, Pura Saraswati. 



Setelah puas memotret bunga-bunga lotus yang tumbuh subur di kolam pura, kami pun mencari tempat makan. 


Gado-gado favorit
Mie goreng
Tempat makan yang paling sering kami kunjungi di Ubud adalah Warung Ijo. Banyak pilihan menunya, mulai dari nasi goreng sampai gado-gado. Sesuai dengan selera.

Hari kedua menuju tempat wisata.
            Di hari ketiga (3 Oktober 2012), saya belum bertugas sebagai Volunteer. Dan, ini pula alasan saya tak bisa hadir di acara pembukaan UWRF 2012. Tak mengapa, yang penting semua keinginan tercapai. Waktu kosong ini tentu saja kami manfaatkan untuk berwisata menikmati alam Bali yang sarat dengan tempat-tempat yang indah. Banyak pilihan dari brosur-brosur yang kami pungut di display bandara sehari sebelumnya. Namun, pilihan kami jatuh pada paket perjalanan Lovina Tour.
             Dari rangkaian perjalanan itu, saya hanya bagikan beberapa foto kenangan di beberapa tempat saja. Sebab, Lovina dan Gitgit saya kisahkan di bagian lain. Dan, dari paket perjalanan itu, kami hanya sempat mampir di Lovina, Air Terjun Campuhan, dan berakhir di Tanah Lot. 

Pintu masuk ke Pemandian Air Panas Desa Banjar (dokpri)
               Di Pemandian Air Panas desa Banjar, kami sempat tergiur untuk berendam, tapi sayang, tak bawa baju ganti. Kami hanya memuaskan diri untuk memotret lokasi saja.

Ngiler lihat airnya, pengin nyebur rasanya (dokpri)
Sumber mata air panas
              Perjalanan berlanjut ke salah satu pura (maaf, lupa nama puranya). Di area pura tersebut ada miniatur Candi Borobudur, lonceng besar, dan patung-patung Budha

Di depan miniatur Candi Borobudur
        



         Puas mengitari lokasi pura, perjalanan kami lanjutkan menuju Danau Beratan Bedugul. Semua pasti sudah pernah melihat gambarnya di lembaran uang 50 ribu rupiah. 

 

     

       Wisata ke Danau Beratan menjadi lebih komplet, karena bertepatan dengan adanya upacara agama “Nyegara Gunung”. Menurut salah satu penduduk yang saya tanya, arti dari Nyegara Gunung adalah pertemuan laut dan gunung. Mereka mengadakan upacara ini setahun sekali.

Upacara Nyegara Gunung (dokpri)


      Tujuan wisata kami berakhir di Tanah Lot. Sudah lama sekali tak berkunjung ke Tanah Lot, ini jadi pemuas rindu.


Bukan Penunggu Tanah Lot :p (dokpri)

       Di sana kami puaskan berfoto-foto. Dan selebihnya menyinggahi toko-toko yang menjual baju, makanan dan suvenir khas Bali.


Kembali dengan sepeda motor.
            Hari keempat di Ubud, saya mulai bertugas sebagai Volunteer. Tetap saja, di luar jam tugas saya dan Dyah tak menyia-nyiakan waktu untuk menikmati suasana Ubud yang tak pernah sepi selama UWRF berlangsung.
Lagi-lagi ini bukan promo
            Motor yang disewakan untuk kami kali ini bertukar dengan Scoopy. Lebih ringan dan mungil. Bersama Scoopy inilah kami habiskan hari-hari di luar jadwalku sebagai volunteer. Mulai dari menikmati street party, nonton film, cari tempat makan yang murah meriah tapi halal dan pas dengan lidah, belanja camilan, ke pasar Ubud, sampai nonton teater, semua ditempuh dengan Scoopy putih.

Hari terakhir di Bali.
            Tibalah saatnya untuk kembali ke Jakarta. Kami tak lagi bersama sepeda motor, melainkan menyewa mobil untuk mengantar kami ke bandara Ngurah Rai, Denpasar. Karena waktu masih cukup, kami sempatkan mampir ke Joger, di Jalan Raya Kuta Bali, untuk membeli beberapa kaus dan tas buat oleh-oleh.


            Demikian kisah perjalanan saya dan Dyah selama di Ubud, Bali. Semoga saya punya kesempatan lagi kembali ke sana dengan pengalaman yang berbeda pula. [Wylvera W.]

2 komentar:

  1. Aaahh... enak bener mbak kerja bonus jalan2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya. Makanya pengin lagi bisa ke sana. :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...