Kamis, 12 September 2019

Cerita Kami Tentang Leiden

Silakan baca cerita sebelumnya di sini





     Kami masih di Hotel Manofa, Amsterdam. Masih ada sekitar tiga jam lagi waktu untuk menempati kamar di hotel itu. Si Kakak (sebutan pada putri sulung saya) mengajak untuk melihat-lihat suasana di sekitar hotel.
Si Kakak
Salah satu penampakan kanal di Amsterdam
Bangunan bergaya gotic (seni abad pertengahan)

              Amsterdam pagi itu tidak seramai sore sebelumnya saat kami tiba. Ibu kota Belanda itu masih seperti empat tahun lalu saat saya dan suami berkunjung. Jaringan kanalnya yang panjang dan luas masih eksis menyajikan “Amsterdam Canal Cruise”.

Gedung Madam Tussaud-nya Belanda
Si Kakak fokus memotret


Kami mulai pagi dengan menikmati bangunan-bangunan khas bergaya gotic. Namun kali ini fokus kami bukan ingin menjelajah kota Amsterdam. Maka, waktu yang sempit itu kami manfaatkan sekadar memotret apa yang terlihat. Setelah puas membidik objek-objek yang ingin difoto, kami kembali ke hotel untuk check out.

Menunggu kereta menuju Leiden
            Sebelum berangkat, suami saya sudah memesankan penginapan untuk kami lewat aplikasi AirBnB. Lebih mudah dan kami selalu mendapatkan penginapan yang nyaman dan homy banget. Kali ini kami akan menginap di Hooigracht 67 Appartement E, Leiden, Zuid-Holland 2312 KP, Belanda.

Stasiun Kereta Amsterdam
       Jarak tempuh dari stasiun Amsterdam ke stasiun Leidan dengan naik kereta hanya sekitar setengah jam. Pemilik apartemen akan menemui kami sekitar jam dua siang waktu Leiden. Saya dan si Kakak tidak ingin terlalu cepat tiba di sana. Mengingat koper yang kami bawa lumayan berat, maka kami harus tiba tepat waktu. Agar bisa langsung masuk ke apartemen dan terbebas menarik-narik koper lagi.

Kalau mau top up kartu kereta ya di sini
            Sebelum memutuskan memilih jadwal kereta, kami harus melakukan top up saldo kartu OV anonim. Saat di bandara sehari sebelumnya, kami sempat ditawari jenis kartu OV ini oleh penjual pulsa. Ia menjelaskan, lebih baik memilih yang versi anonim agar tidak terikat nama. Bisa dipakai teman jika sudah tidak memerlukannya lagi. Saldo minimal kartu OV anonim, 4 Euro untuk angkutan dalam kota (bus dan tram). Sementara untuk kereta harus mengisi minimal 20 Euro. Untuk mengecek sisa saldo kartu kita, ada mesin di setiap stasiun. Jadi tidak harus menebak-nebak. Gampang kan? Hehe ….

Siap menuju Leiden
Kembali ke tujuan awal. Kami memilih jadwal keberangkatan kereta dari Amsterdam ke Leiden di jam 12 siang dengan memperhitungkan bahwa kami akan menyambung naik bus lagi menuju apartemen. Alhamdulillah, keretanya sudah ada. Kami kembali menarik koper untuk mencari bangku kosong di dalam gerbong. Tidak terlalu banyak penumpang. Jadi kami bisa meletakkan koper sedikit lebih leluasa. Si Kakak malah memilih dua bangku untuknya. Kereta melaju dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu lama, kami pun tiba di stasiun Leiden.

Tiba di kota Leiden
Pada abad ke-17, Leiden merupakan salah satu kota terpenting dan terkaya di Belanda. Letaknya berada di antara Amsterdam dan Den Haag. Saat browsing, dugaan saya tidak meleset. Kota ini tidak terlalu luas. Yang membuatnya menjadi ramai, salah satunya adalah Universitas Leiden (Universiteit Leiden) yang cukup ternama.  Universitas Leiden sudah ada sejak tahun 1575 dan merupakan universitas tertua di Belanda.
Begitu memasuki kotanya, saya langsung merasakan atmosfir historis masa lalu. Kota ini menjadi rumah bagi para pelukis ternama zaman dahulu. Salah satu yang cukup terkenal adalah Rembrandt. Mata saya dan si Kakak langsung dimanjakan oleh kanal, museum, dan kafe-kafe yang sempat kami lihat dari balik kaca bus.
Karena baru pertama berkunjung ke kota ini, kami tidak bisa tepat memilih halte pemberhentian yang lebih dekat dengan alamat apartemen. Dengan wajah lesu kami harus rela kembali menarik tiga koper di trotoar jalan. Dengan panduan penunjuk arah di hape si Kakak, kami harus sabar berjalan sambil diringi oleh suara gesekan roda koper dan aspal jalanan. Untungnya, tidak ada yang peduli dengan suara berisik dari roda koper kami. Hahaha ….
Dengan kesabaran level dewi-dewi tingkat tinggi, akhirnya kami menemukan alamat apartemen itu. Sudah lewat dari jam dua siang. Pemilik apartemen mungkin sudah pergi. Kami harus meneleponnya kembali. Sepuluh menit kemudian, laki-laki bernama Gertjan itu pun muncul. Sedikit terburu-buru ia memberikan kunci kepada kami. Ia minta maaf karena tidak bisa menemani sampai ke dalam apartemen. Di mobil yang di parkir di tepi jalan itu, anak bayinya sedang tertidur. Ia harus segera kembali ke mobil setelah memberi penjelasan tentang fasilitas yang tersedia di dalam apartemen miliknya itu.
“Ya Allah … belum berakhir juga ternyata penderitaan kita dengan koper-koper ini,” ujar si Kakak dengan roman muka yang enggak banget.

Meja makannya
Dapur yang bersih dan lengkap

Kamar di lantai 2 ini modelnya unik

Saya tidak bisa berkomentar lagi. Beberapa anak tangga menuju kamar apartemen harus segera kami taklukkan sambil mengangkat koper-koper yang aduhai beratnya itu. Begitu membuka pintunya, hati kami langsung terobati. Apartemennya lumayan luas dan bersih. Ada dua lantai. Ruang bawah adalah ruang santai, meja makan dan dapur yang lengkap dengan perlengkapan memasak. Sementara kamar tidurnya ada di lantai berikutnya.

Tangga menuju kamar
Sudut kamar yang tenang
Kamar mandi di dalam kamar pun bersih

Setelah merapikan koper dan isinya, kami memilih istirahat sejenak. Sambil istirahat, si Kakak kembali mengatur jadwal.

Mencari alamat kostan
            Tenaga kami sudah pulih. Cuaca di luar juga masih cerah. Penghujung kemarau memang selalu pas untuk melakukan traveling. Selain cuacanya mendukung, durasi waktunya pun lebih panjang. Kami memutuskan untuk mencari alamat tempat kost si Kakak. Nanti, di sanalah ia akan menetap sementara selama enam bulan ke depan.
Menyusuri gang perumahan yang tenang
            Leiden dengan jumlah penduduk sekitar 150.000 jiwa sangat pas dengan luas kotanya. Jika tidak manja, berjalan kaki saja sudah cukup puas untuk menjelajah sudut-sudut kotanya. Dari apartemen, kami hanya perlu mengeluarkan energi untuk jarak tempuh sekitar 1,2 Kilometer. Kali ini tanpa koper tentunya. Saya mulai suka dengan kota kecil yang tenang ini. Mata kami selalu dimanja oleh bentangan kanal-kanal yang tidak tahu ujung dan pangkalnya bermula. Cantik! Itu saja yang sempat saya ucapkan.
Di sini si Kakak ngekost
            Tempat kost itu pun akhirnya kami temukan. Letaknya di pinggir jalan. Sedikit jauh dari keriuhan area kampus. Namun berjalan kaki sekitar 1,6 km dengan udara segar kota Leiden, in shaa Allah tidak membuat si Kakak lelah dan bosan. Kami belum bisa masuk karena perjanjian penyerahan kunci masih menunggu esok harinya.

Menelusuri kota Leiden
            Dari tempat kost, kami melanjutkan berjalan kaki untuk menemukan lokasi kampus. Melewati pusat kota, semakin banyak orang yang menikmati waktu petang dengan menyesap kopi atau bahkan menikmati menu-menu favorit mereka. Kami tidak bisa bergabung di kafe-kafe itu karena belum menemukan label halalnya. Hehehe ….


Menyusuri kanal-kanal bersih ini bikin hati tenang

Semakin sore bertambah ramai saja
            Tadaaa …!
            Kami sudah sampai di area Universitas Leiden. Ketika si Kakak memilih Universitas Leiden untuk program Student Exchange jurusan Hukum Universitas Indonesia Kelas Internasional, tentu saya sangat senang. Ternyata pilihan si Kakak tidak salah. Leiden bukan kota yang asing bagi masyarakat Indonesia. Terlebih buat mereka yang masih hidup dan menjadi saksi sejarah. Banyak hal yang bisa ditelusuri di kota ini jika si Kakak ingin lebih jauh mengenal kota Leiden.



Area kampus 
Kalau dari cuplikan sejarahnya, kekuasaan Belanda atas Indonesia selama tiga setengah abad, telah memberi ikatan kuat antara Indonesia dan Belanda. Sementara Leiden merupakan salah satu kota di Belanda yang menyimpan beberapa catatan sejarah yang masih dikenang sampai sekarang. Leiden menjadi saksi sejarah lahirnya organisasi Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging, 1908) yang diprakarsai oleh para pelajar Indonesia yang pada masa itu mengambil studi di Belanda. Organisasi inilah yang banyak melakukan gerakan perlawanan atas pendudukan Belanda di Indonesia pada masa itu. Lalu pergerakan ini banyak mendapat perhatian dari dunia Internasional. Dan masih banyak lagi kepingan sejarah terkait Indonesia yang diabadikan di kota Leiden ini.


Hortus Botanicus Leiden

Sebut saja Ali Sastromidjojo, Nazir Pamoentjak, dan Sutan Sjahrir, tiga tokoh pendiri pergerakan kemerdekaan Indonesia. Yang senang membaca sejarah Indonesia, pasti akrab dengan nama-nama ini. Mereka dulu kuliah di jurusan yang sama dengan putri sulung saya. Fakultas Hukum Universitas Leiden. Selain itu, nama besar yang pernah menjadi wakil kepala negeri ini, Mohammad Hatta juga sempat kuliah di Universitas Leiden. Namun akhirnya beliau pindah ke Economische Hogeschool yang sekarang dikenal dengan Universitas Erasmus di Rotterdam.

Museum Volkenkunde 

Silakan telusuri rekam jejak serta catatan sejarah Indonesia yang tersimpan rapi di Leiden. Salah satu museum yang terkenal adalah Museum Volkenkunde yang memiliki ruang koleksi khusus tentang Indonesia. Kami belum sempat masuk, Hanya melihat-lihat bangunannya saja dari luar.
Ada hal yang menarik perhatian saya dan si Kakak. Katanya di dinding-dinding tembok bangunan kota Leiden ada terpajang dan tersebar 107 puisi dengan 30 bahasa berbeda yang ditulis dengan abjad aslinya. Proyek penulisan puisi itu diinisiasi oleh Yayasan Tegen – Beeld dengan dukungan pemerintah kota Leiden beserta masyarakatnya sendiri. Sip! Nanti akan kita cari puisi itu.

Mengisi hari di Leiden
            Letak apartemen yang kami sewa dekat dengan supermarket. Albert Heijn namanya. Supermarket ini merupakan salah satu tempat belanja yang terbaik di Leiden. Lumayan lengkap dan harganya tidak terlalu mahal. Maka setelah menikmati sarapan pagi dengan roti dan selai cokelat, kami memutuskan kembali ke Albert Heijn untuk membeli segala kebutuhan anak kost yang belum dilengkapi.
Tempat kami mencari camilan ringan tanpa harus khawatir dengan label halal 
Di hari kedua, kami tidak bisa pergi jauh-jauh. Ada janji penyerahan kunci tempat kost di jam sebelas. Setelah merapikan barang belanjaan, kami bersiap kembali ke tempat kost untuk menerima kunci dari agennya. Tidak lama menunggu, perempuan cantik bernama Cyntia itu muncul dan menyapa kami dengan salam hangat. Ia membuka pintu utama kostan itu lalu mengajak kami menuju kamar yang akan ditempati si Kakak.


Ini kamar kost si Kakak beserta kondisi di dalamnya
Model kamarnya unik
Ada balkon di depan pintu kamar kostnya
Dapur mini 
Ampuuun … lagi-lagi tangga! Perut saya langsung sesak melihat anak tangga menuju lantai tiga. Kembali terbayang perjuangan yang akan kami lakukan untuk membawa dua koper si Kakak ke lantai ini. Pasrah…! Setelah tekun menyimak semua penjelasan tentang aturan penyewaan, kami tidak buru-buru memutuskan untuk mengambil koper-koper itu. Kami memilih melanjutkan eksplorasi di kota Leiden.
Jembatan cantik dekat Molen De Put

Kincir angin - Molen De Put


Dari informasi teman saya yang pernah mengambil program S2 di Leiden, kami pun mencoba menemukan tempat-tempat yang beliau sebutkan. Salah satunya adalah Molen De Put. Kincir angin yang klasik dan terletak di tepi kanal dengan jembatan yang menawan. Dekat lokasi kincir angin ini kami juga menemukan semacam tugu untuk mengenang pelukis Rembrandt. Meskipun saya tidak begitu mengenal sejarah tentang pelukis ini, saya sempatkan berfoto juga dengannya dan beragam objek foto di area ini.


Bersama patung Rembrandt
            Kami juga mampir di Molen de Valk, yang dikenal dengan sebutan “The Falcon”. Sebuah kincir angin yang dibangun pada tahun 1785. Molen de Valk merupakan salah satu situs paling terkenal di kota Leiden. Lokasinya tidak jauh dari Stasiun Central Leiden. Kincir angin ini akan selalu dilewati saat perjalanan menuju kota Leiden. Kincir angin ini diubah menjadi museum kota pada tahun 1966. Di dalamnya banyak tersimpan benda-benda yang digunakan dalam proses penggilingan serta alat dan catatan dari pemilik terakhir kincir angin tersebut.


Molen de Valk

            Tanpa sadar, waktu di jam tangan saya sudah hampir jam delapan malam. Namun jam delapan malam saja langit masih cerah dan orang-orang ramai menikmati kopi serta camilan di kafe-kafe yang tersebar di sepanjang pinggiran kanal. Kami habiskan sisa hari yang masih terang dengan menyusuri kanal Leiden. Lalu mampir kembali ke Albert Heijn untuk membeli makan malam buat berdua.
Salad is our favourite menu
Hari selanjutnya kami masih belum selesai mengelilingi Leiden. Teringat kembali tentang 107 puisi yang bertebaran di kota Leiden. Sebagai orang Indonesia yang senang menulis (semoga bisa diartikan ada hubungannya dengan puisi ya … hehehe), kami sangat penasaran untuk menemukan karya bangsa sendiri. Sebab dari 107 puisi yang tersebar itu, ada 3 puisi karya sastrawan Indonesia. Dari 3 puisi itu, 1 puisi tentu sangat kami kenal dan di zaman sekolah dulu, saya pun pernah membacakannya di depan kelas. Ya! Puisi berjudul “Aku” karya Chairil Anwar (1922 – 1949).

Di sini puisi "AKU" nya
Kami pun sibuk menjelajah dan mencari puisi-puisi itu. Hingga akhirnya kami menemukan puisi “Aku” yang terselip di salah satu tembok rumah penduduk. Puisi itu ditulis pada tanggal 17 Agustus 1995 untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan Indonsesia. Posisi puisi melekat di tembok rumah yang beralamat di Keernstraat 17a. Puisi “Aku” ini menggambarkan perlawanan atas pendudukan Jepang dan Belanda pada masa itu.

Horeee …! Bapak Datang!
          Di cerita saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa suami saya akan menyusul. Alhamdulillah, hari ke-5 adalah hari kedatangannya ke Leiden. Kami bersiap untuk menjemput si Bapak di stasiun Leiden. Si Kakak bertanbah semangat karena bapaknya (penyandang dana) akan tiba. Begitu bertemu, si Kakak langsung nyerocos tentang Leiden dan hari-hari yang kami lakukan sebelum si Bapak datang.
            Berlagak seperti pemandu wisata, kami pun membawa si Bapak naik bus menuju apartemen. Lalu mempersilakannya istirahat demi membayar waktu kurang tidur selama perjalanan dari Jakarta – Leiden. Ternyata tidak bisa berlama-lama tidur, suami saya merasa lapar.


Menyusuri pertokoan dan kafe 
            Kami mengajak si Bapak ke restoran milik orang Indonesia yang menyajikan menu khas tanah air. Restoran Bungamas namanya. Pemiliknya ramah, pelayanannya juga cepat  dan menyenangkan. Masalah harga juga relatif murah. Pemilik resto menyebutnya harga student.

Seperti memilih di warung makan dekat rumah sendiri kan?



Restonya sederhana tapi menunya komplit



            Kami menyantap hidangan yang kami pilih dengan lahap. Seperti makan di rumah saja rasanya. Selepas itu, kami mengajak si Bapak berkeliling di pusat keramaian kota Leiden. Sampai lewat sore hari, si Bapak mengajak kami untuk menikmati udara di tepi kanal sambil menyesap kopi.


            Untuk cerita Leiden, sampai di sini dulu ya. Tunggu lanjutan perjalanan kami berikutnya sebelum saya dan suami meninggalkan si Kakak di kota itu. [Wylvera W.]

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...