Sabtu, 07 Desember 2019

Brugge, Kota Paling Romantis di Belgia


Baiklah … mari kita awali dengan proses perjalanan menuju Brugge. Selesai menghabiskan kebersamaan merayakan hari pernikahan di Luxembourg, kami pun kembali bergegas menuju destinasi berikutnya. Tiket Eurail Pass yang merupakan paket hemat untuk bepergian ke penjuru Belgia, Belanda dan Luxembourg (Benelux-red), kembali kami gunakan semaksimal mungkin. Kami akan menempuh jarak dengan waktu sekitar empat jam lebih.


            Saat memutuskan akan mengantar si Kakak (putri sulung kami) untuk study exchange ke Leiden, Brugge menjadi destinasi pilihan yang menyertainya. Sekali terbang, dua tiga negara terlampaui. Begitu niat kami. Tidak mau kecolongan lagi seperti tahun 2015 lalu. Waktu itu saking semangatnya pengin melihat Brussel, Brugge pun jadi terlupakan. Padahal saya sempat menelusuri laman website tentang kota yang katanya paling romantis di Belgia itu.
            Kunjungan kali ini, kami menempatkan Brussel sebagai destinasi alernatif. Karena si Kakak belum pernah berkunjung ke kota itu. Kami pun mengatur perjalanan sedemikian rupa. Yuk! Saya mulai ceritanya.

Tiba di Brugge
            Kali ini kereta kami tepat waktu. Totalnya sekitar empat jam. Perjalanan dari stasiun Luxembourg dengan tambahan transit di Stasiun Brussel Midi akhirnya tiba di Stasiun Brugge. Tidak lagi mengecewakan seperti perjalanan sebelumnya.


Saat kami tiba, gerimis mengundang menyambut kedatangan kami. Saya berharap hujan ini tidak lama agar kami masih punya kesempatan menikmati kotanya. Dari stasiun kami harus menaiki bis menuju hotel tempat menginap. Di dalam bis saya sudah merasakan keindahan dan ketenangan kota ini. Pantaslah hampir semua wisatawan yang pernah mampir, sepakat menyebut Brugge sebagai kota teromantis di Belgia.
Sungguh Allah Maha Kaya. Dia tebar keindahan di setiap bumi-Nya agar kita selalu ingat akan kebesaran-Nya. Saya bangga dengan alam Indonesia karena begitu banyak keindahan yang diberikan Sang Maha Pencipta di bumi leluhur saya. Namun Allah juga menebar keindahan lainnya di belahan bumi milik-Nya. Semua itu semata agar kita bisa memaknai setiap keagungan-Nya sebagai hamba yang berpikir.
            Kembali ke kota romantis ini. Brugge adalah kota wisata yang menjadi ibu kota Provinsi West-Flanders. Letaknya di bagian Barat Laut Belgia. Karena keindahan kanal yang sangat mencolok, Brugge juga disebut sebagai Venice of the North. Konon katanya, Brugge merupakan kota tua yang sudah ada sejak zaman Romawi. Perkembangan kota ini dimulai pada abad ke-4 dan akhirnya dikenal sebagai salah satu kota perdagangan utama Eropa kuno.

            Mata saya tak mau lepas memandangi sudut-sudut kota yang dilalui bis. Begitu memasuki kawasan kota tuanya, saya setuju dengan sebutan romantis itu. Dari model bangunan, Brugge mewarisi gaya arsitek medieval (abad pertengahan) yang ditandai dengan lengkungan setengah lingkaran. Gaya bangunan ini terlihat hampir di seluruh sudut kotanya. Menurut saya, kalau ingin berfoto tidak perlu bingung mencari spot. Hampir semua lokasi bisa dijadikan latar yang menarik.
            Di pusat kota Brugge, banyak tempat yang bisa dilihat. Antara lain Belfry, Menara Lonceng Brugge, dan Church of Our Lady. Museum Groeninge yang menyuguhkan banyak karya seni seniman Flemish. Kota Brugge juga menjadi bagian dari UNESCO Heritage site pada tahun 2000. Banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi di kota ini. Rasanya memang tak cukup sehari untuk menghampiri semua sudut kota. Semoga kami bisa menikmati bagian-bagian terindahnya.

Menyusuri kanal Brugge yang eksotik
            Sekitar 15 menit, bis yang kami naiki pun tiba di halte terdekat dengan hotel yang kami pesan. Kami akan menginap di Canalview Hotel Ter Reien Langestraat I, Historic Centre of Brugge, 8000 Brugge, Belgia (hahaha …lengkap). Hotelnya tidak terlalu besar. Tempat tidurnya unik. Kami refleks tertawa melihat tingginya permukaan tempat tidur ini.
“Kayaknya kita harus lompat ini naiknya,” komentar si Kakak bikin kami ngakak.


Yang menarik bagi saya saat memasuki kamar hotelnya, terdengar seperti aliran air yang sangat dekat menempel di dinding kamar. Saya buka jendela kamar. Wuaaah! Kanalnya persis di sebelah tembok kamar hotel. Sesuai dengan nama hotelnya. Suara aliran kanal yang terdengar tadi ternyata dari gerakan laju perahu para turis yang melintas.


Kecewa karena tidak ada termos untuk memasak air di kamar, mendadak hilang. Selain itu, pasti selalu ada kurang dan lebihnya. Kami akan menginap di hotel ini selama 3 hari 2 malam. Dibawa nyaman sajalah. Suasana teduh dari desiran air kanal sudah mampu menepisnya. Lebaaai … hahaha.
Biermuseum
Toko Renda yang unik
Salah satu toko cokelat
Cuaca kembali terang. Kami tak mau melewatkan waktu. Keinginan untuk menyusuri kanal begitu menggebu-gebu. Kami pun bergegas meninggalkan hotel menuju kota tua Brugge. Di sepanjang jalan yang diapit oleh bangunan-bangunan etnik, saya melihat beberapa yang khas dari Brugge. Makanan dan oleh-olehnya. Ada toko yang menjual aneka macam bahan renda khas Brugge. Aneka cokelat Belgia, permen, dan yang tak kalah populer adalah wafel tradisionalnya serta mussel (masakan dari kerang khas Belgia).



Menurut saya, tidak akan pernah bosan mengelilingi kota ini. Karena setiap sudutnya mampu menebar kecantikan alami dalam balutan nuansa yang romantis. Setelah puas menyusuri sebagian kota tuanya, kami memutuskan untuk naik perahu. Obsesi yang sudah saya bawa sejak sebelum berangkat dari Luxembourg. Untuk naik perahu (boat tour) mengelilingi kanal yang ada di Brugge, kami harus membayar  8 Euro per orang.




Bukan saya saja yang bersemangat untuk naik perahu ini. Sebagai kota yang kanalnya menjadi pemandangan utama, berperahu adalah pilihan yang paling diminati oleh para wisatawan. Terbukti dari panjangnya antrean. Selama tur dengan perahu, pengemudi perahu akan menjelaskan objek-objek yang dilewati.


Church of Our Lady tampak dari kejauhan
Groeninge Museum tampak belakang
Dari atas kanal, perahu akan melewati beberapa bangunan bersejarah. Salah satunya tentang Menara Lonceng Brugge yang letaknya di pusat kota Brugge. Menara ini merupakan salah satu simbol kota Brugge. Di dalamnya terdapat perbendaharaan dan arsip kota itu. Menaranya berfungsi sebagai salah satu pendeteksi kejadian yang berbahaya. Misalnya kebakaran. Ada 366 anak tangga yang harus dilewati jika ingin melihat puncak menaranya. Sementara tinggi menaranya 83 Meter dengan struktur miring 87 Centimeter ke arah Timur. Menara ini juga merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO.



 BelfryBrugges Tower (Menara Lonceng Brugge)

Simon Stevin, ahli Matematika, Fisika, dan Insinyur Flemish
Untuk berkeliling di kota Brugge, selain naik perahu sebenarnya turis juga bisa menyewa sepeda di stasiun Brugge. Atau menyewa kereta kuda. Namun harganya lumayan, yaitu mulai dari 20 Euro, tergantung dari durasi yang diminta. Kami cukup memilih naik perahu saja untuk menikmati kota dari arah kanalnya.

Melengkapi hari dengan romansa kota Brugge
            Puas mengelilingi kanal, kami kembali berjalan kaki melihat bagian sudut kota yang lainnya. Beberapa kedai yang menjajakan wafel khas Belgia menggoda selera. Kami pun mencoba membeli dan mencicipinya di tepi kanal. Benar! Kelembutan wafel dan legitnya lelehan cokelat membuat kami sayang menyisakan potongan terakhir.




            Sambil meresapi setiap kunyahan wafel berbalut cokelat, mata saya memandangi orang yang lalu-lalang. Setelah menghabiskan wafel, kami kembali melanjutkan berjalan kaki. Tiba-tiba suara alunan musik klasik yang biasa digunakan untuk mengiringi dansa mengusik pendengaran kami.
            Arah langkah pun kami bawa mendekati sumber suara itu. Alamaak …! Benar saja dugaan saya. Beberapa pasangan separuh baya sedang menikmati tarian dansa mereka. Musik pengiring seolah menghanyutkan mereka dalam dekapan bersama pasangannya. Entah apa yang sedang mereka pikirkan di setiap gerakan kaki dan dekapan itu. Saya ikut tersenyum sambil mengabadikan pemandangan yang belum tentu bisa saya jumpai di kota asal saya.


            Dari arena dansa itu, kami memutuskan untuk kembali sebentar ke hotel demi menunaikan kewajiban salat. Musim panas yang hampir berakhir membuat kami lebih leluasa untuk menikmati cuaca. Durasinya cukup panjang menuju gelap. Meskipun sesekali hujan turun membasahi tanah Brugge, namun tidak menyurutkan para wisatawan untuk meninggalkan kota itu. Mereka melipir ke restoran-restoran yang tersebar di sudut kota.

Foto dulu biar nggak lupa sama restonya :p

            Selepas salat dan hujan reda, kami kembali meninggalkan hotel untuk mencari restoran halal. Setelah browsing untuk menemukan nama dan lokasi restoran halal tersebut, akhirnya kami menemukan satu yang cocok dengan selera. Walaupun hanya satu dua restoran saja, alhamdulillah … tidak terlalu sulit menemukannya.


            Suami saya yang suka banget iga bakar, seperti bertemu mutiara di dasar laut dengan selera yang pas. Sementara saya dan putri kami memilih yang standar saja. Fish and chips seperti yang ada di restoran-restotan penjual makanan serupa di tanah air. Hanya porsinya yang berbeda dan cukup mengenyangkan. Kami nikmati hidangan yang disajikan dengan pelayanan yang sangat ramah dari penjual berwajah Timur Tengah itu (saya lupa minta izin untuk memoto wajahnya … hehehe).

Selamat tinggal Brugge!
            Kami masih menginap di kota Brugge. Namun di hari kedua, kami samasekali tidak melanjutkan menjelajah kota itu. Kami pindah sejenak menuju Brussel. Bagian perjalanan di Brussel ini akan saya ceritakan di postingan berikutnya. Sabar yaaa ….
            Hari terakhir di Brugge menjadi hari yang bikin hati berat meninggalkannya. Saat menunggu di halte bis yang letaknya persis berhadapan dengan kanal, saya puaskan pandangan menyapu semua keindahan itu. Bis yang kami tunggu belum datang juga. Gerimis kembali membasahi bumi Brugge. Sesekali kereta kuda melintas. Hentakan kakinya memberi irama yang justru menenangkan.
            Di saat menunggu itu, beberapa kali momen yang sarat hikmah terjadi. Pertama, suami saya membantu menopang tubuh laki-laki tua yang akan menaiki bis. Dengan kondisi fisiknya yang bagi orang normal, rasanya tidak mungkin lagi untuk dibiarkan bepergian sendiri. Laki-laki tua itu masih terlihat bersemangat.


                                                           
Mengisi waktu saat  menunggu bis
Kedua, masih tentang laki-laki renta dengan kondisi kesehatan yang tak lagi prima. Saya memerhatikan langkahnya yang gemetar tapi tetap konsisten. Luar biasa! Saya bisikkan ke suami “Kenapa bisa begini ya? Brugge dengan suasana alamnya yang romantis dari kemarin menyuguhkan kejadian-kejadian yang bikin hati kita ikut bergerimis.” Suami saya hanya tersenyum sambil berkomentar “Hitung-hitung kita bisa melihat seperti apa hari tua kita nanti.”

Di stasiun Brugge
Sesaat setelah itu, bis pun muncul. Kami bergegas naik dan bis melaju menuju stasiun kereta. Semoga Allah masih memberi kesempatan kami kembali lagi ke kota ini dengan paket lengkap, saya, suami, si Kakak, dan si Adik (putra bungsu kami). Semoga! [Wylvera W.]
             
Note:
Cerita sebelumnya ada di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...