Senin, 02 Desember 2019

Berkunjung ke Pemukiman Suku Baduy


            Entah sudah berapa kali saya membaca cerita-cerita tentang masyarakat Baduy. Namun baru kemarin muncul keinginan kuat untuk melihat secara langsung. Kata orang Melayu “pucuk dicinta ulam pun tiba.”
            Selain itu, sudah beberapa bulan terakhir ini saya rutin mengikuti kelas tahsin di rumah kakak kelas saya. Jarak Bekasi – Serpong tidak menjadi halangan bagi saya. Seperti kata suami, “Dirimu mendapat bonus pahala sekaligus lho. Pertama, ikhlas mengantar dan menjemput aku ke dan dari kantor. Kedua, semangat menempuh jarak yang lumayan macet dari Bekasi – Jakarta – BSD.” Saya tersenyum mengaminkannya. Semoga apa yang dikatakan suami saya itu menjadi doa. Aamiin.
            Siang itu setelah pulang dari tahsin, ada pesan masuk di HP saya. Kak Endang (nama kakak kelas saya yang rumahnya rutin dijadikan tempat kami mengaji), menanyakan tentang buku-buku saya. Katanya ia dan anggota (ummahat) masjid ingin mengisi Taman Bacaan di Kampung Mualaf Baduy dengan buku-buku bacaan Islami. Saya pun mendadak sibuk mengumpulkan setiap judul buku saya yang masih beredar. Beberapa eksemplar dari buku-buku karya saya dan satu teman penulis pun terpilih untuk disumbangkan. Setelah itu, obsesi saya ingin berkunjung ke pemukiman suku Baduy pun semakin kuat tak tertahankan.
            Dari interaksi saat tahsin, saya mendapat informasi bahwa para Ummahat Masjid Al Agsha Delatinos akan melakukan kunjungan untuk kedua kalinya ke sana. Mereka sudah sering melakukan bakti sosial. Dan kunjungan yang merupakan salah satu program bakti sosial ini sangat pas dengan keinginan saya. Mereka ingin menyumbang buku-buku (pelajaran dan fiksi) baik untuk dewasa, remaja maupun anak-anak.  Buku saya ada bersama buku-buku lainnya. Akhirnya saya pun nekat menawarkan diri untuk ikut.
            Sayangnya, seat sudah penuh. Sedih banget rasanya. Untung masih ada harapan. Sambil menunggu daftar waiting list anggota yang akan ikut rombongan bakti sosial, saya terus berharap agar bisa mendapatkan kesempatan. Qadarullah … satu peserta akhirnya membatalkan diri. Maka saya lah yang menggantikan untuk menempati seat-nya di dalam bis. Senangnyaaa! Mimpi saya segera terkabul. Alhamdulillah.

Berangkat menuju Kampung Landeuh
            Setelah mendapat izin dari suami dan menginap di rumah Kak Endang, keesokan paginya kami pun siap-siap berangkat. Selepas Subuh, saya pun bergabung bersama 29 pengurus Ummahat Masjid Al Aqsha lainnya. Tidak semuanya perempuan. Ada lima bapak yang ikut mendampingi perjalanan kami menuju kampung Baduy.


            Sebelum berangkat, sesi foto tentu tidak dilewatkan. Saya yang baru pertama kali bergabung dengan mereka, mendapat sambutan hangat. Kak Endang mengenalkan saya sebagai calon warga baru di Delatinos. Aamiin … semoga semakin dipercepat ya kepindahannya. Hehehe ….
            Sekitar empat jam durasi yang kami habiskan untuk menuju perkampungan Baduy Islam itu. Satu hal yang membuat saya nyaman. Saya seolah sudah menjadi bagian dari Ummahat Al Aqsha saja. Mereka sangat ramah dan sama sekali tidak membuat saya merasa asing dan canggung selama di perjalanan. Alhamdulillah … sesungguhnya berkumpul dengan hamba-hamba Allah yang soleh dan soleha itu menjadi sebuah berkah.
            Sekilas tentang masyarakat Baduy. Katanya mereka ini sudah terpecah menjadi dua. Satu Baduy dalam, satunya lagi Baduy luar. Begitu sebutan populernya. Suku Baduy atau orang Kanekes adalah etnis masyarakat adat suku Banten yang tinggal di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Yang disebut dengan istilah sebagai suku Baduy dalam adalah mereka yang masih mengisolasi diri dari dunia luar. Pemukiman mereka terletak di Gunung Baduy Lebak, Banten.
Mereka (suku Baduy dalam) masih memegang kentalnya adat istiadat. Tidak boleh sekolah, pelarangan menggunakan peralatan modern (seperti hape maupun alat elektronik lainnya). Tidak boleh menggunakan alat transportasi, bahkan tidak boleh memakai alas kaki. Mereka juga tidak akan bersedia difoto jika kita datang ke perkampungannya. Berbeda jika saat mereka keluar dari lingkungannya. Urusan berfoto dengan mereka masih diizinkan.
Satu hal yang membuat mereka tetap bisa hidup rukun adalah masalah toleransi. Baduy luar yang sebagian sudah memeluk Islam tetap bisa menjalin silaturahmi dengan mereka yang masih memegang kepercayaan Sunda Wiwitan atau yang belum memiliki agama sekalipun. Kuncinya, tidak saling intervensi atau memaksa satu sama lainnya.
Hingga saat ini, masyarakat Baduy yang sudah memeluk Islam jumlahnya bertambah terus. Mereka sangat senang ketika ada yang memberikan tempat tinggal khusus untuk para mualaf ini. Forum Masjid dan Mushola BSD (FMMB) dari Serpong, Tangerang Selatan, telah mengalokasikan tempat tinggal bagi warga Baduy yang mualaf. Ke lokasi itulah Ummahat Al Aqsha berkunjung untuk memberi santunan berupa sembako, lemari buku beserta buku-bukunya, dan kipas angin untuk masjidnya.
            Di dalam perjalanan, Kak Endang sesekali bercerita tentang kegiatan senada yang sudah pernah mereka lakukan. Diam-diam cerita itu membuat saya ingin sekali segera membaur dengan mereka. Kunjungan ke masyarakat Baduy ini pun dalam rangka santunan lanjutan. Kali ini mereka ingin mengajak para mualaf Baduy itu agar semakin kuat niatnya untuk mempelajari Islam. Baik dari menyimak kajian-kajian secara langsung dari para ulama atau ustadz, maupun lewat bahan bacaan.
            Ide untuk menyumbang dan mengisi Taman Bacaan di pemukiman mualaf Baduy menjadi salah satu prioritas para Ummahat Al Aqsha. Saya terkagum-kagum melihat niat mulia itu. Saya mendadak merasa kecil sekali saat menyimak semua yang sudah dilakukan para muslimah ini. Maka, janganlah pernah merasa telah melakukan hal besar, sebab di luar sana masih banyak hamba Allah yang telah berbuat hal positif yang lebih dahsyat dari dirimu. Yang terpenting, teruslah menebar kebaikan.
Kembali ke pemukiman mualaf Baduy ini. Seandianya jarak tidak sejauh itu dari tempat tinggal saya, rasanya saya ingin sekali mengabdikan diri mengajarkan baca tulis untuk anak-anak mualaf Baduy itu. Semoga niat tulus saya ada yang menggantikan, seseorang atau siapa pun yang mampu dan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari perkampungan Mulaf Baduy itu. Aamiin ….

Disambut irama musik marawis
            Bis yang membawa kami dari Perumahan D’Latinos pun akhirnya sampai di area perkampungan Landeuh. Perempuan-perempuan muda suku Baduy yang rata-rata sudah mengenakan hijab, sibuk menyambut kedatangan kami. Setelah saling sapa dan berfoto sebentar, mereka meminta kami menaiki tangga masjid. Masjid tersebut juga merupakan sumbangan dari donatur (saya lupa namanya).

Masjidnya bagus banget 😍



            Begitu kami sampai di lantai masjid yang dibangun dengan menggunakan kayu kelapa itu, suara gendang marawis pun membuat hati saya terharu. Kami disambut sedemikian rupa. Sangat sederhana tapi saya menangkap ketulusan yang luar biasa dari sorot mata mereka.

Bersama perempuan Baduy yang sudah menjadi mualaf

Pak Khairul
            Setelah itu, kami dipersilakan duduk untuk menyimak sambutan Pak Khairul (semoga tidak salah cara menuliskan namanya). Pak Khairul ini adalah salah satu orang yang sudah berjuang untuk membuat sebagian lahan di Landeuh menjadi tempat bermukim para mualaf suku Baduy. Menyimak kisah dan latar belakang yang disampaikan Pak Khairul, lagi-lagi saya merasa sangat kecil karena belum mampu memberikan sumbangsih sebegitu besar.

Mengisi Taman Bacaan dengan buku-buku Islami
            Setelah acara sambutan selesai, saya tak sabar ingin melihat pemukiman dengan bentuk rumah sederhana yang sama modelnya. Dari lantai masjid yang desainnya dibuat terbuka, saya sudah memerhatikan rumah-rumah beratap jerami itu.

Pemukiman Mualaf Baduy
Buku-buku karya saya 



            Lemari dan buku-buku yang dibawa pun diangkut menuju salah satu rumah. Rumah itu lah yang akan dijadikan Taman Baca bagi masyarakat mualaf Baduy. Memang buku-buku yang diberikan jumlahnya belum maksimal dan belum memenuhi 4 lemari yang dibawa. Semoga dengan membaca tulisan saya ini, teman-teman penulis ada tergerak untuk ikut menyumbangkan buku-buku Islami yang masih layak baca. Aamiin.

Rumah Bacanya sudah rapi 😍
            Satu per satu kerdus pun dibuka. Buku-buku yang dibawa diletakkan dan disusun sesuai dengan pengelompokannya. Ada buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita. Dari salah satu warga, saya sempat bertanya tentang kemampuan mereka membaca. Ternyata mereka belum bisa membaca dan menulis dengan baik. Begitu juga dengan anak-anaknya. Ini juga menjadi salah satu program yang sedang dilakukan oleh forum pembina keluarga mualaf Baduy ini.   Semoga ada yang terus berdatangan dan bisa memberi perhatian lebih di bidang kemampuan baca tulis ini. Untuk apa buku-buku yang dipajang di lemari itu jika mereka tidak bisa membacanya. Minimal untuk anak-anak, ada yang mendampingi serta membantu menyampaikan isi buku-buku cerita anak sesuai dengan usia mereka lewat story telling atau atau mendongeng. Semua seolah berjejal di kepala saya saat ikut membantu meletakkan buku-buku itu di lemari.           

Salat berjemaah dan makan siang beralas daun pisang
            Setelah puas melihat-lihat area pemukiman mualaf Baduy, saya juga menyempatkan melihat cara menenun selendang. Alat menenunnya sangat sederhana tapi hasilnya lumayan bagus. Untuk selendang/syal harganya pun tidak terlalu mahal. Sekitar 35 sampai 50 ribu. Namun untuk kain tenunnya berbeda-beda. Harganya ada yang 200 sampai 600 ribuan.


            Teman-teman seperjalanan pun sibuk memilih kain dan selendang tenun. Anak muda suku Baduy yang melayani para ibu itu terlihat sumringah. Dagangannya laku keras. Saya juga tak mau ketinggalan. Kain tenun berwarna kotak-kota hitam menjadi pilihan saya. Bukan hanya kain dan selendang tenun yang dijual di pemukiman itu. Ada madu dan gula merah juga. 
              Selain di lokasi pemukiman mualaf Baduy ini, katanya variasi kain dan selendang tenun bisa dijumpai di perkampungan Baduy dalam. Waktu tempuh ke lokasi itu sekitar setengah jam.

Madunya asli



            Tiba waktu Zuhur. Kami pun kembali ke masjid untuk melakukan salat berjema’ah. Nikmatnya ketika ibadah utama ini dilakukan secara berjema’ah. Saya merasakan nuansa yang khusyuk dan benar-benar menyentuh kalbu.
            Selesai salat, kami diajak kembali ke pemukiman mereka untuk menikmati santap siang. Saya tersenyum melihat hidangan makan siang yang sederhana beralaskan daun pisang. Para ummahat Al Aqsha sudah siap duduk berhadapan untuk menyantap lauk pauk yang memancing selera itu. Ada tahu tempe, ikan asin, rebus daun singkong dan sambal terasi serta ayam goreng untuk yang membawa anak. Semua itu terlihat nikmat ketika disajikan dengan nasi putih hangat. 

Siap menyantap


      Tidak hanya lauk pauk yang dihidangkan untuk kami. Masih ada buah yang menyusul setelah acara makan bersama beralas daun pisang usai. Alamaaak … siang yang lumayan panas itu pun berbaur dengan rasa kenyang dan menyenangkan.

Menyusuri perkampungan Baduy
            Perjalanan kami belum usai. Dari pemukiman Mualaf Baduy, kami lanjutkan menuju lokasi perkampungan suku Baduy yang masih hidup membaur antara pemeluk Islam dan Sunda Wiwitan.




            Begitu sampai, saya dan teman-teman langsung memasuki area pemukiman mereka. Jalannya menanjak. Sebagian dari kami membeli tongkat kayu yang dijajakan di pintu masuk. Tongkat kayu itu lumayan membantu menopang berat badan saat melangkah menanjak. Sementara saya yang baru pertama berkunjung, samasekali tidak terpikir untuk membelinya. Hahaha … sukseslah kaki ini menahan beratnya beban hidup tubuh sendiri.

Sebagian dagangan masyarakat Baduy luar
Jarak antar rumah mereka
Jalanan menaik dan bebatuan
     Ternyata untuk mencapai perkampungan Baduy dalam tidak semudah yang saya bayangkan. Butuh waktu 3 sampai 4 jam lagi. Obsesi itu kami tunda. Cukuplah melihat-lihat tempat tinggal para Baduy luar saja sambil berbelanja kain, madu dan cinderamata yang dijajakan di sepanjang sisi kiri kanan jalan.

Sebelum menjadi kain tenun, benang-benang ini dipintal terlebih dahulu
            Yang paling membuat saya gembira adalah saat melihat beberapa orang suku Baduy dalam yang hilir mudik di area itu. Kesempatan untuk berfoto bersama mereka tentu tidak saya lewatkan. Sebab jika di pemukiman mereka (Baduy dalam), kesempatan itu tidak akan mungkin saya dapatkan.

Nenek ini tidak bisa berbahasa Indonesia tapi ramah sekali
Perempuan Baduy itu cantik-cantik
            Lagi-lagi saya menangkap rasa nyaman dari cara mereka berinteraksi. Bersahaja, ramah, sopan, dan sedikit malu-malu. Tidak ada terlihat sikap intoleransi atau sarkas saat menerima ajakan kami untuk berkomunikasi. Walaupun tidak semua mereka fasih berbahasa Indonesia namun mereka menyambut kami seperti layaknya keluarga sendiri.


Bersama anak suku Baduy dalam

          Begitulah, pengalaman pertama saya mengunjungi suku Baduy yang mengesankan. Semoga tidak untuk sekali ini saja. Saya masih berharap untuk berkesempatan mengunjungi perkampungan suku Baduy dalam yang masih kental dengan adat istiadat itu. Semoga! [Wylvera W.]
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...