Sabtu, 04 November 2017

Dari Museum Berakhir di Patung Liberty



New York bukan saja kota yang menyajikan kehidupan yang seakan tak ada matinya. Menjejakkan kaki di kota terpadat di Amerika Serikat dan kota global terdepan yang memberi pengaruh besar terhadap ragam putaran bisnis dunia ini, memaksa kami harus jeli memilih objek untuk diabadikan dalam sebuah catatan kenangan. Maka ketika kesempatan untuk hadir dalam hitungan hari yang terbilang singkat, kami tidak bisa meraup semua kesempatan. Pilihan yang disesuaikan minat dan selera menjadi faktor penentu tujuan menyinggahi kota ini.

Efek setting film yang memancing rasa penasaran
Di postingan sebelumnya, saya sudah menceritakan beberapa lokasi wisata New York yang pernah kami singgahi. Di bagian akhir saya ceritakan bahwa kami sudah memesan tiket untuk mengunjungi Statue of Liberty. Selepas itu, kami bingung memilih tempat wisata lainnya. Untunglah suami saya punya tawaran menarik. Begitu diajak ke American Museum of Natural History (AMNH), anak-anak langsung berseru girang. Sisa waktu di hari itu benar-benar kami manfaatkan sebaik mungkin. 
American Museum of Natural History (sumber)
Kami melanjutkan perjalanan menuju American Museum of Natural History, salah satu museum terbesar dan terkenal di dunia. Lokasinya terletak di Central Park West at 79th Street, New York City, Amerika Serikat. Yang membuat anak-anak saya antusias karena mereka ingat bahwa museum ini pernah dijadikan setting film “Night at the Museum”. Film komedi Amerika yang dibintangi aktor komedian Ben Stiller ini, dirilis pada tahun 2006 dan diputar pertama kali di New York. Film yang mengisahkan pengalaman seru seorang penjaga museum ini sangat digemari anak-anak saya pada masa itu.
Satu hal yang bikin mereka penasaran dalam film itu. Diceritakan bahwa di hari pertama Larry Daley (tokoh utama di film tersebut) yang bekerja sebagai satpam di Natural History Museum terkejut melihat benda-benda yang dipajang dalam museum tersebut bisa hidup dan bergerak. Keajaiban itu terjadi pada malam hari. Bagaimana jika dilihat pada siang hari? Begitulah puncak rasa ingin tahu yang menggiring kami ke sana. 

Fans dinosaurus dan sejenisnya :p (dokpri)
(dokpri)
Ketika sampai di depan museum, anak-anak tak sabar ingin segera melihat isi gedung yang besar dan megah itu. Komplek American of Natural Museum ini terdiri dari 45 ruang pameran (exhibition hall) permanen, 1 planetarium, dan 1 ruang perpustakaan. Yang paling menakjubkan, museum ini memiliki sekitar 32 juta spesimen. Dari begitu banyaknya spesimen (walaupun tidak semua dipamerkan secara bersamaan), kami hanya sanggup melihat sebagiannya saja. Spesimen-spesimen itu terdiri dari kategori hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan, mineral, fosil, bebatuan, artefak, dan meteorit. Di museum ini pengunjung juga bisa melihat asal-usal manusia dan sejarah evolusi.
Kurang sangar dikiiit :p

Khalid meniru gaya kerangka binatang di sebelahnya, hahaha

Beberapa kali saya mendengar gumaman kata-kata “Awsome!” “Amazing!” dari anak-anak saya. Tentu saja, di tanah air mereka belum pernah melihat isi museum sejenis sekomplit itu. Selain itu, si bungsu Khalid sesekali seolah mengajak bicara beberapa hewan pajangan yang berada di balik kaca. Menggelikan memang tapi itulah naluri anak-anak. Mereka ingin membuktikan antara yang nyata dan khayalan dari sebuah film sukses yang sempat membuat mereka terkagum-kagum. Hanya sayang, momen kenangan lebih banyak tersimpan dalam bentuk video. Di sini saya hanya menampilkan foto-foto kami yang tersisa di kamera saja.

Burung-burungnya seperti hidup
Dari keterangan sejarah di Wikipedia, saya membaca bahwa sebelum pembangunan komplek museum,  American Museum of Natural History berlokasi di gedung Arsenal di Central Park. Theodore Rooselevelt, Sr., ayah Presiden AS ke-26 adalah salah satu pendiri museum itu. Sementara pendirian museum tersebut merupakan ide dari Dr. Albert S. Bickmore. Albert pernah menjadi murid zoology Louis Agassiz di Museum Zoologi Kontemporer, Universitas Harvard. Bisa jadi, ilmu yang dimiliki Albert pulalah yang melatarbelakangi pendirian dan ide untuk mengisi museum menjadi sedemikian rupa.
Foto atas dan bawah dari keluarga kera-keraan
Mira pengin kenalan sama yang di dalam itu :p
Melihat luas dan banyaknya ragam koleksi di museum itu, kami terpaksa memilih. Adegan Larry yang dikejar-kejar dinosaurus dan penghuni museum lainnya membuat perhatian kami langsung tertuju pada kerangka makhluk purba itu. Kunjungan kami terpusat pada dinosaurus dan sebangsanya serta beberapa koleksi diorama habitat hewan lainnya. Semua terkesan begitu alami membuat yang melihat serasa berada bersama habitat tersebut. Namun keterbatasan waktu memaksa kami menghentikan penjelajahan ke seluruh isi museum.
Untuk menikmati isi museum, kita tinggal menyiapkan uang pembeli tiket masuk sekitar US$22 untuk dewasa dan US$ 12 untuk anak usia 2 – 12, serta US$17 untuk pelajar.

Simbol kebebasan dari Statue of Liberty
            Singkatnya hari di New York akhirnya menyempatkan kami mengunjungi Ellis Island. Tiket sudah dipesan sehari sebelumnya di Battery Park, Selatan Manhattan. Kami mengambil tiket tersebut di counter pengambilan tiket Liberty Statue. Selanjutnya kami ikut mengantri di pintu masuk sebuah ruangan pemeriksaan, arah menuju dermaga. Lumayan panjang dan lama antrian menuju kapal ferry yang akan membawa kami ke Pulau Ellis, tempat patung Liberty itu.
Anak-anak saya mulai gelisah. Demi mengalihkan perhatian, kami akhirnya bermain tebak-tebakan. “Perempuan … perempuan apa yang nggak pernah mandi tapi malah selalu pengin dilihat dan diajak fotoan?” Saya melemparkan pertanyaan humor ke anak-anak. “Whaaat?” Anak-anak refleks menutup hidung mereka. Tiba-tiba Khalid berseru, “Libertyyy …!” pecahlah tawa yang mampu mencairkan kebosanan dalam antrian itu. Untung saja, para pengunjung tidak mengerti isi perbincangan kami.

Di atas kapal ferry
Wajah antara dingin dan efek lelah mengantri
            Akhirnya kami menaiki kapal juga. Langit yang sedikit mendung membuat jarak tangkap kamera tidak cukup memuaskan. Suami saya tak mau menyerah dan tetap mengabadikan setiap momen dalam handycam yang dipegangnya. Udara musim dingin sesekali membuat kami menarik dan melepaskan nafas. Cara termudah untuk menghalau angin yang bertiup dan menetralkan suhu badan selama kapal bergerak perlahan meninggalkan dermaga.

Patung Liberty dari kejauhan
            Setelah berjibaku melawan udara dingin di atas kapal, akhirnya kapal ferry yang kami tumpangi bersandar di dermaga Pulau Ellis. Patung berwarna hijau setinggi 46 meter yang berdiri anggun menyambut kedatangan kami. Sambutan itu seolah menunjukkan kesesuain dari simbol yang melekat pada patung tersebut. Selamat datang bagi pengunjung, imigran, dan orang Amerika yang pulang ke tanah air mereka.

Kakak Mira
Khalid yang memilih berfoto sendiri-sendiri. Hahaha
            Liberty Enlightening the World yang lebih popular dengan nama Statue of Liberty (Patung Kebebasan) ini diberikan oleh Perancis kepada Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 (28 Oktober 18886). Hingga hari ini, Patung Liberty telah menjadi ikon Amerika yang menjadi tujuan wisata banyak pengunjung dari penjuru dunia. Konon kisah pembuatan patung Liberty tidak semudah yang dibayangkan oleh para pengunjung. Begitu banyak usaha pencarian dana yang dilakukan oleh si pembuat patung demi berdirinya Statue of Liberty ini.

Melengkapi jejak kenangan
            Patung ini dibuat di Perancis oleh pemahatnya yang bernama Frederic-Auguste Bartholdi pada tahun 1871. Patung yang berbentuk sosok seorang perempuan (Dewi Kemerdekaan) diberikan kepada rakyat Amerika sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke-100. Dan, sembilan tahun lalu itu menjadi bukti catatn bahwa kami pernah mengunjunginya.
            Seperti kalimat yang selalu diulang-ulang ketika kita berkumpul dalam setiap kesempatan, “Ada pertemuan, ada perpisahan”, begitulah yang kami rasakan di ujung kunjungan kami di kota New York. Semoga apa yang sudah tercatat dan juga tersimpan dalam ingatan menjadi pengaya pengalaman. Sampai berjumpa di destinasi perjalanan saya lainnya. Salam. [Wylvera W.]

Note:
Tentang sejarah beberapa lokasi bersumber dari wikipedia
Cerita sebelumnya ada di sini
           

Selasa, 31 Oktober 2017

New York, Kota yang Tak Pernah Sepi



            Ketika memutuskan untuk menuliskan catatan kenangan ini, sungguh tidak mudah. Saya harus mengumpulkan semua ingatan tentang kota yang dijuluki “The Big Apple” itu. Sembilan tahun lalu bukanlah waktu yang singkat untuk memunguti semua jejak kenangan di sana. Demi mematrikan kenangan manis itu dalam catatan, saya akan tetap mencoba.
   Ini cerita bagian pertama. 

Apartemen mungil kami ada di kiri bawah (1932 A)
          Menetap sementara di sebuah kota kecil bernama Urbana - Champaign membuat kami menyimpan banyak mimpi. Urbana – Champaign merupakan nama dua kota (twin city) yang ada di State of Illinois, Amerika Serikat. Sementara Illinois merupakan sebuah negara bagian Amerika Serikat yang letaknya di bagian tengah benua tersebut. Ibu kotanya adalah Springfield yang pernah saya kisahkan di salah satu postingan blog ini. Kami tinggal di pemukiman pelajar bernama Orchard Down. Dari apartemen mungil itu, saya diam-diam menyimpan angan-angan untuk melihat kota-kota besar lainnya di Amerika. Salah satunya adalah New York.
            Di awal musim dingin yang mulai menyentuh kulit, suami saya tiba-tiba membawa kabar gembira sepulang dari kampusnya. Ada acara tur ke New York dari fakultasnya yang boleh mengajak keluarga. Seperti mendadak dapat rezeki, mata saya berbinar girang mendengar kabar baik itu. Salah satu mimpi saya akan terwujud. Rasanya tidak sabar menunggu anak-anak saya pulang sekolah untuk membagi kabar bahagia itu.

New York, here we come
            Kami akan berada di New York selama 4 hari. Sementara jatah trip dari fakultas suami hanya dua hari. Kami sengaja menambah waktu dan memisahkan diri dari rombongan nantinya.
Singkat cerita, kami sudah berada di bandara Chicago. Dari sana kami terbang menuju Bandar Udara Internasional New York yang juga dikenal dengan sebutan Bandar Udara Internasional John F. Kennedy. Kota yang dijuluki sebagai “A City of Movie Scenes” itu, menjadi obsesi pertama saya ketika mendengar kabar bahwa suami akan melanjutkan studinya di Amerika. Sudah bisa dibayangkan betapa senang hati saya, ketika akhirnya kami bisa tiba dan menjejakkan kaki di kota besar yang menjadi salah satu judul lagu Frank Sinatra itu.
            Saat itu hari masih terbilang pagi, ketika kami tiba di sebuah hotel yang sudah dipesan oleh pihak kampus. Setelah meletakkan koper, suami bergabung bersama teman-teman kuliahnya. Saya tidak ingat pertemuan yang cuma sebentar itu membicarakan apa saja. Tidak berapa lama, suami saya kembali lagi ke kamar. “Belum ada jadwal untuk hari ini. Besok baru dimulai,” begitu ujarnya memberi kesimpulan dari hasil pertemuannya dengan pihak panitia. Mendengar informasi itu, tentu saja anak-anak saya langsung mengajukan usul untuk menjelajah kota New York. Suami saya menawarkan beberapa tempat. Dari beberapa tempat itu, anak-anak dan saya sepakat memilih “Madame Tussaud”, salah satu tempat wisata yang katanya wajib dikunjungi jika sudah tiba di kota New York.

Pengalaman pertama mengunjungi Madame Tussaud
            Madame Tussaud adalah sebuah museum patung lilin yang pusatnya ada di kota London. Namun cabangnya sudah tersebar hampir di seluruh dunia. Dari sejarahnya, museum ini didirikan pertama kali oleh seorang pematung lilin bernama Marie Tussaud. Ia mahir membuat patung lilin karena belajar dari Dr. Phillippe Curtius. Marie dan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah dokter tersebut. Begitu awal mulanya museum patung lilin ini muncul. Buat kami, Madame Tussaud yang ada di New York adalah museum patung lilin pertama yang akan kami kunjungi di tahun 2008 lalu. Lokasinya berada di daerah Times Square (234 West 42nd Street, di antara 7th dan 8th Avenues.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Madame_Tussauds_New_York_logo.jpg
            Banyak jalur kereta bawah tanah menuju museum itu. Silakan memilih. Ada jalur 1, 2, 3, 7, N, Q, R, W, dan S yang akan mengantarkan kita menuju 42nd Street Times Square atau jalur A, C, E yang membawa kita ke 42nd Street dan 8th Avenue. Ada juga alternatif jalur lainnya di B, D, F, dan V yang akan membawa kita ke 42nd Street dan 6th Avenue. Jika enggan naik kereta bawah tanah, ada pilihan dengan menggunakan bus di jalur M6, M7, M10, M16, M20, M27, dan M104 ke arah Times Square. Kami lebih memilih naik kereta bawah tanah (subway) waktu itu.
Begitu tiba di pintu masuk, akan terlihat jadwal operasional museum.  Untuk Minggu hingga Kamis, Madame Tussaud dibuka dari jam 10 pagi hingga 6 sore. Sementara di hari Jum’at dan Sabtu, museum tutup lebih lama yaitu jam 10 malam. Untuk masuk ke museum patung lilin ini, kami harus membeli tiket buat dewasa seharga US$ 36.00 dua lembar dan US$29.00 dua lembar. Lumayan mahal kalau ditotal. Namun demi menebus rasa ingin tahu karena ini adalah pertama kalinya buat kami, harga segitu tak menjadi masalah.
           
Berpose dengan para selebriti dan orang ternama
            Setelah melewati pintu pemeriksaan tiket, kami langsung menuju lantai atas dengan menggunakan elevator. Tiba di lantai atas, kehadiran kami langsung disambut oleh patung-patung lilin selebriti dan orang-orang ternama. Dari kalangan selebritis dan politikus ada Angelina Jolie dan Brad Pitt yang waktu itu masih berstatus sebagai pasangan suami istri. Ada Julia Roberts, Will Smith. Whoopi Goldberg, Hillary Clinton, dan lainnya.

Mira dan Julia Roberts
Bersama Pasangan Angelina Jolie dan Brad Pitt
Bersama Hillary Clinton
Bersama John F. Kennedy
Bersama Michael Jackson
Bersama Lady Diana
            Saya tersenyum mengenang beberapa momen lucu di museum patung lilin itu. Anak-anak saya yang waktu masih SD, tentu saja tidak mengenal semua patung lilin yang ada dalam museum. Namun mereka tetap saja berebutan ingin berfoto sambil terus bertanya, “Ini siapa, Bu?” “Itu siapa, Pak?” Saya dan Bapak mereka pun akhirnya sibuk menerangkannya.

Bersama Will Smith
Bersama Mahatma Gandhi
Bersama Leam Neeson
Bersama Leonardo DiCaprio
Bersama Muhammad Ali
Bersama Einstein
Bersama Charlie Chaplin
            Yang paling bikin saya terdiam sesaat ketika anak saya, Khalid membisikkan sesuatu ke kuping saya, “Bu, kita nggak berdosa ‘kan fotoan?” Walaupun Khalid tidak merinci maksud dari kata berdosa itu, tapi saya paham apa maksudnya. Pelan-pelan saya jelaskan bahwa kami hanya ingin melihat kreativitas manusia saja sampai bisa membuat patung-patung lilin itu mirip dengan sosok aslinya. “Ini hanya tempat wisata. Tenang saja,” ujar saya meyakinkan Khalid kala itu.
Bersama Steven Spielberg
Bersama Oprah Winfrey
Bersama Nelson Mandela
Bersama Fidel Castro dan Yassir Arafat
Bersama Marthin Luther King Jr.
Bersama Neil Amstrong dan Buzz
            Rasanya tak cukup hanya sejam dua jam mengelilingi Madame Tussaud yang ada di New York. Anak-anak saya sesekali berseru, “Ibu! Would you?” kata mereka sambil siap bergaya bersama patung lilin Muhammad Ali, Neil Amstrong dan Buzz Aldrin, dan patung-patung lainnya ketika mereka mengenalnya. Saya diminta untuk memoto mereka. 

Bersama John Travolta dan Morgan Freeman
Bersama Spice Girls
Bersama Chef Rachel Ray
Bersama Superman
Bersama Samuel L. Jackson
Bersama Marylin Monroe dan Jacqueline Kennedy
Bersama Jack Sparrow
Di depan pintu masuk Madame Tussaud
Tanpa terasa, ketika keluar dari gedung museum, hari sudah mulai gelap. Kami segera memutuskan untuk kembali ke hotel.

Mengunjungi United Nation Headquarter
            Esok harinya menjadi momen bersejarah yang sampai saat ini masih menjadi catatan manis bagi kami berempat. Kami mendapat kesempatan mengunjungi United Nation Headquarter (kantor pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menjadi bagian tur pihak panitia. Lokasi bangunannya terletak di pinggir East River, kawasan Turtle Bay, Manhattan, New York City, Amerika Serikat. Gampang sekali mengenali kantor pusat PBB ini. Bendera dari negara-negara anggota PBB berkibar di tiang yang terpancang di depan gedung menjadi cirinya.
Di depan gedung Markas Besar PBB
United Nation Headquarter yang selesai dibangun pada tahun 1952 ini merupakan lokasi terpenting yang dijadikan tempat utama Perserikatan Bangsa-Bangsa bersidang. Selain di New York, PBB juga memiliki tiga kantor cabang. Satu ada di Geneva (Swiss), kedua di Wina (Austria), ketiga ada di Nairobi (Kenya). Ketiga kantor cabang tersebut mewakili kepentingan PBB dalam memfasilitasi kegiatan diplomatik. Sementara hanya kantor pusat PPB yang ada di New York saja yang memiliki Majelis Umum dan Dewan Keamanan.

Penerima tamunya ngantuuuk :p
Bendera UN
Tiba di depan lokasi, anak-anak saya sudah tidak sabar ingin melihat bagian dalam gedung bersejarah itu. Saya melihat sorot bangga di mata putri saya, Mira. Pengalaman pertama (dan mungkin takkan pernah lagi ia alami) ini menjadi catatan khusus di hatinya. Bukan hanya Mira sebenarnya, saya pun ikut bangga bisa melihat langsung benda-benda koleksi PBB yang ada di dalam gedung itu. Yang lebih menyenangkan, kita bisa membeli suvenir khas UN di toko suvenirnya. Ada biaya masuknya tapi tidak terlalu mahal. Sekitar 18 USD untuk dewasa dan 9 USD untuk anak-anak (5-12 tahun).


Tekun menyimak penjelasan Tour Guide
Ketika sudah berada di dalam gedung, ada pemandu tur yang menjelaskan beberapa hal terkait sejarah markas PBB itu. Durasi kunjungan selama satu jam itu membuat Mira dan Khalid antusias menyimak walaupun mungkin tidak semua bisa mereka mengerti. Saya tak kalah antusias mengambil foto. Rasanya semua ingin diabadikan dalam kamera kami untuk dibawa sebagai kenang-kenangan ke tanah air.
Menelisik sejenak sejarah berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perang Dunia II yang terjadi pada tahun 1939 – 1945 adalah bentuk kegagalan Liga Bangsa-Bangsa yang tidak bisa mencegahnya. Demi mencegah pecahnya Perang Dunia III, maka pada tahun 1945 Perserikatan Bangsa-Bangsa pun didirikan untuk mengganti Liga Bangsa-Bangsa. Fransklin D. Roosevelt adalah orang pertama yang mencetuskan istilah “United Nation” yang artinya “Perserikatan Bangsa-Bangsa” untuk menggambarkan negara-negara Sekutu. Untuk lebih rinci, silakan temukan sejarah lengkap tentang PBB ini.
Mira dan Khalid bersama para Sekjen PBB
Miniatur bendera bangsa-bangsa
Kembali pada tur hari itu, kami kembali mengeksplor sisi lain dari gedung/ kantor pusat PBB. Ada banyak foto yang dipajang berjajar berurutan sesuai dengan tahunnya. Ternyata foto-foto itu adalah gambar wajah para Sekretaris Jenderal PBB dari masa ke masa. Sementara miniatur bendera dari bangsa-bangsa yang tergabung dalam PBB juga dipajang di sisi lain ruang gedung itu. 

Medali penjaga perdamaian PBB
Ruang sidang Majlis Umum PBB
Bergerak ke sisi ruang lainnya, ada pajangan medali penjaga perdamaian PBB. Setelah itu, kami diajak melihat Assembly Hall (ruang sidang Majlis Umum PBB). Wuaaah! Ini puncak dari rasa syukur saya ketika itu. Saya tidak pernah membayangkan akan mendapat kesempatan untuk masuk dan melihat langsung tempat yang secara berkala digunakan sebagai ruang sidang para wakil penting negara-negara di dunia. Inilah lokasi terakhir yang bisa kami lihat di United Nation Headquarter itu.

Dari Rockofeller sampai penjual kebab
Selesai dari kantor pusat PBB, suami mengajak saya dan anak-anak melihat-lihat sekitar gedung. Di sana kami menemukan patung pistol yang ujungnya dipelintir, melambangkan perdamaian (peace). Unik sekali. Tentu saja anak-anak saya berebut berfoto bersama pistol unik itu. Selain itu, ada beberapa objek lainnya yang sempat kami jadikan latar foto tapi saya lupa nama-namanya.

Foto bareng pistol perdamaian
Mau ikutan pawai tapi gak punya seragamnya :p

Setalah selesai mengabadikan  objek, kami meninggalkan gedung dan melanjutkan berjalan kaki. Tak jauh dari lokasi Markas PBB, kami terhalang oleh rombongan pawai. Tidak tahu itu pawai tentang apa, tapi kami menyempatkan berfoto saja.

Demonya tertib
Yang lain demo kami malah berfoto ;)
Perjalanan kami lanjutkan. Kembali kami berselisih jalan dengan rombongan pendemo (saya lupa demonya tentang apa). Dengan sedikit hati-hati dan waspada pada situasi demo, saya dan anak-anak masih saja menyempatkan untuk berfoto.
Tanpa terasa kami sampai di area Rockofeller Centre. Lokasi yang berada di Fifth Avenue ini adalah salah satu komplek dengan bangunan gedungnya yang lumayan tinggi di tengah kota New York. Dibangun pada awal 1930 oleh pemilikinya sekaligus pengusaha kaya bernama John D. Rockofeller. Kami tidak berlama-lama di sana. 
Area Rockofeller Centre

Wajah-wajah lapar
Sebenarnya kami ingin melihat Central Park, taman umum yang luas di Manhattan, New York City tapi hari sudah terlanjur sore. Ditambah perut yang mulai terasa lapar, anak-anak saya lebih memilih kembali ke hotel dan membawa makanan pulang. Tiba-tiba mereka berteriak menunjuk penjual kebab. Karena saking laparnya, wajah Mira dan Khalid terlihat tidak bersahabat ketika Bapak mereka meminta untuk difoto dengan latar belakang penjual kebab itu. Melihat foto itu saat ini, saya kembali tersenyum geli.

Melihat kota New York dari Empire State Building
            Pagi itu selepas menikmati sarapan di hotel, kami kembali menelusuri kota New York. Mampir dan membeli cokelat Hersey’s untuk dibawa ke Urbana. Setelah itu, suami mengajak kami ke Empire State Building, gedung pencakar langit yang bisa melihat kota New York dari ketinggian 443 meter. Empire State Building menjadi salah satu landmark kota New York yang terkenal selain patung Liberty dan Broadway.

Belanja cokelat Hersey's dulu
Ngantri masuk gedung Empire State-nya
Teropong dari ketinggian gedung
Di gedung ini ada ruang observasi yang letaknya di lantai 86 ke atas. Pengunjung bisa melihat suasana di sekitar kota New York dari ruang indoor maupun outdoor.Tapi untuk mencapi puncak gedung Empire State ini, kami harus sabar antri berbaris di antrian yang lumayan panjang dan memakan waktu.
Kota New York terlihat dari Empire State Building
Sesaat sebelum menuruni ketinggian
Harga tiket masuknya lumayan mahal . Untuk lantai 86 harus membayar $29. Sementara jika sampai ke lantai 102, harus membayar $67. Karena sudah membayar sejumlah itu, kami puas-puasin menikmati kota New York dari atas Empire State Building.  

Dari Charging Bull hingga Brooklyn Bridge
            Pagi berikutnya, kami ditemani oleh istri teman kantor suami saya. Rencana di hari berikutnya kami ingin melihat patung Liberty. Mbak Heni – begitu namanya – menemani kami untuk memesan tiket menuju lokasi patung Liberty. Namun sebelum sampai ke tempat pemesanan tiket, kami beberapa kali berhenti di lokasi-lokasi yang perlu diabadikan. Sayangnya cuaca hari itu sedikit bergerimis. Untung kami sudah menyiapkan payung.

Gerimis di Charging Bull
            Mbak Heni mengajak berjalan menuju lokasi Charging Bull, patung yang lumayan popular bagi para wisatawan kota New York. Kami harus berhenti dan berfoto sejenak bersama patung yang didirikan sekitar tahun 1989 itu. Letak patung banteng yang terbuat dari tembaga ini berada di depan New York Stock Exchange. Patung ini didesain oleh Arturo Di Modica, seniman asal Italia. Kata Mbak Heni, tidak akan lengkap mampir di New York jika belum berfoto dengan Charging Bull. Dan, kami sudah mengabadikannya dalam foto.

Di depan National Museum of American Indian
            Puas berfoto dengan banteng tembaga itu, kami melanjutkan perjalanan menuju gedung National Museum of American Indian. Setelah mempertimbangkan waktu, kami memilih tidak masuk. Hanya berfoto di depan gedungnya.
Cuaca semakin kurang bersahabat dan seperti berkabut. Namun, Mbak Heni tetap membawa kami mendekat ke lokasi Brooklyn Bridge (Jembatan Brooklyn). Jembatan ini merupakan jembatan kabel baja pertama dan terpanjang di dunia yang menghubungkan Manhattan dan Brooklyn di New York City.
Gaya Khalid berlatar belakang Brooklyn Bridge
Di bawah Brooklyn Bridge mengalir sungai East. Jalur di atas jembatan dibuka sejak Mei 1883. Jembatan Brooklyn ditetapkan sebagai National Historic Landmark padah tahun 1964 dan National Historic Civil Engineering Landmark pada tahun 1972. (Wikipedia – red).

Di area ini kapal feri yang membawa kami ke tempat wisata berikutnya
Di tepi sungai East, kami bisa memandangi kapal (water taxi) dan kapal lainnya yang bersandar di dermaga. Hari yang semakin mendung membatasi gerak langkah kami. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan Mbak Heni kembali ke rumah dinasnya.
Setelah ini, masih ada dua lokasi wisata lagi akan saya bagi untuk pembaca blog saya ini. Insya Allah, akan saya lanjutkan di part berikutnya. Tunggu saja ya. Salam. [Wylvera W.]

Note: Semua foto adalah milik penulis
           

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...