Senin, 18 September 2017

Memanfaatkan Sisa Waktu di London dan Sekitarnya



Traveling bersama suami yang bertugas itu tetap ada ceritanya. Ada yang seru, lucu, dan bikin degdegan. Namun bagi saya, apa pun kondisinya tetap rasa syukur di atas segalanya. Rasa syukur itu pula yang membuat saya semaksimal mungkin menikmati waktu yang ada. Baik itu di sisa-sisa waktu yang saya bisa jalan dengan suami maupun tidak. Inilah cerita versi saya.

Menu sarapan pilihan suami
Sarapan pagi pilihan saya di St. Pancras Renaissance Hotel
            Hari berikutnya selepas sarapan pagi, saya memilih menunggu di kamar hotel sambil menunggu suami dan rekan kerjanya kembali dari jadwal tugas. Waktu yang serba tanggung itu saya manfaatkan untuk merapikan isi koper bawaan saya dan suami. Mumpung di kamar hotel ada setrika (gosokan-red), saya memanfaatkan waktu merapikan baju-baju suami dan pakaian saya agar kembali licin saat dipakai. Ini sih naluri Emak rumahan banget.*jangan protes yaaa ....*

Batal makan malam di Camden Town
            Akhirnya suami saya kembali ke hotel. Namun waktu tidak lagi banyak tersisa. Meskipun cuaca di luar masih terlihat terang, kami tidak mungkin menghabiskan kebersamaan mengitari kota London. Akhirnya karena sama-sama lapar, kami memutuskan untuk menikmati makan malam di Camden Town yang jaraknya tidak begitu jauh dari King's Cross.
            Camden Town adalah kawasan perbelanjaan yang pernah kami jadikan tempat untuk menginap saat berkunjung ke London. Saya dan suami tentunya sudah hapal betul area tersebut. Ada restoran yang menjual ayam goreng bersertifikat halal di sana. Kami ingin mengulang kebersamaan itu sambil menikmati makan malam di restoran tersebut. 
            Sebelum menuju stasiun kereta bawah tanah, saya melihat langit begitu indah menyelimuti kawasan King’s Cross, St. Pancras. Bangunan hotel tempat kami menginap jadi terlihat semakin megah dan elegan. Saya menghentikan langkah suami dan minta diambilkan foto dengan berlatar belakang hotel serta warna langit yang menawan itu. Sinar lampu-lampu menjelang malam menambah keromantisan latar belakangnya. 


Menjelang malam di depan hotel St. Pancras

            Setelah itu, kami kembali pada tujuan semula. Makan malam di Camden Town. Gerbong tube (kereta bawah tanah) yang kami naiki tidak terlalu padat lagi oleh orang-orang yang pulang dari kantor. Tiba di stasiun Camden Town, kami turun dari tube. Saya tersenyum melihat keadaan di luar stasiun.
Saya lirik hape. Sudah jam delapan malam lebih beberapa menit. Sebenarnya waktu itu saya tidak yakin kalau restoran penyaji ayam goreng halal itu masih buka. Saya dan suami tetap berjalan sambil menikmati kawasan yang selama hampir seminggu pernah kami lalui setiap harinya saat menginap di Camden Town. Benar saja. Restorannya sudah tutup. Kami sama-sama tertawa dan memutuskan untuk membeli makanan yang bisa dinikmati di kamar hotel saja.

Cuci mata di Bicester Village
            Hari selanjutnya, saya kembali menunggu di kamar hotel. Alhamdulillah, tidak terlalu lama, suami dan dua rekan kerjanya sudah kembali. Jadwal kami selanjutnya adalah kembali memanfaatkan sisa waktu. Tujuan kami adalah Bicester Village, sebuah kawasan perbelanjaan elit. Mumpung hari masih siang, kami bergegas menuju stasiun.    

Untuk sampai di kawawan perbelanjaan itu, kami harus berangkat dari Marylebone London Station. Selepas membeli tiket kereta antar kota, kami menunggu jam keberangkatan sambil membeli bekal makanan. Perjalanan dari stasiun Merylebone London menuju Bicester Village menghabiskan waktu sekitar satu jam. Begitu sampai di stasiun Bicester, aroma berbelanja langsung menyeruak menusuk hidung. Eh, maksudnya menggoda pandangan. Semua yang turun dari kereta yang kami naiki bertujuan sama, hunting barang bermerek.

Tiba di stasiun Bicester Village
Bicecster Village ini terkenal dengan desa belanja elitnya. Jangan ditanya soal barang branded di factory outlet ini. Mulai dari Coach, Fossil, Gucci, Lacoste, Michael Kors, Ted Baker, Longchamp serta puluhan merek ternama lainnya, ada di pusat perbelanjaan tersebut. Tempat ini adalah surga bagi “The Brand Minded”. Harga diskon di musim-musim tertentu menjadi daya tarik yang memikat para pecinta shopping.

Dari gerbangnya sudah terasa aroma perbelanjaan
Dari sini jalan menuju toko-toko penjual barang bermerek itu
Salah satu barang branded yang diincar
Waktu pertama kali datang ke London, saya pernah menyinggahi factory outlet yang mirip dengan Bicester Village. Nama tempatnya Freeport Braintree. Tidak seperti waktu pertama datang ke Freeport Braintree (outlet shopping village), kesempatan kali ini membuat saya hanya sekadar “cuci mata” saja. Yang dibeli hanya beberapa. Saya dan suami lebih menikmati suasananya. Memerhatikan orang-orang yang hampir semua menjinjing kantung-kantung belanja.Seru rasanya.

Buckingham Palace dan jejak kenangan lainnya
            Hari keempat masih dalam rangka memanfaatkan waktu di antara jadwal suami. Kebetulan hari itu jadwal suami dan teman-temannya dimulai pada siang hari. Sayang jika hanya menunggu dan menghabiskan waktu di kamar hotel. Saya mengajak suami melihat Buckingham Palace. Jika waktunya masih ada, kami bisa menyusuri tempat-tempat lainnya dalam waktu setengah hari itu.

Green Park masih sepi di pagi hari
Dulu tak sempat berfoto berdua di Green Park ini
            Setelah menikmati sarapan pagi di hotel, salah satu teman suami saya ingin ikut bersama kami. Tanpa membuang waktu, kami segera menuju stasiun King’s Cross. Dari stasiun ini kami ambil jurusan menuju Green Park Station. Hanya sekitar sepuluh menit di tube, kami pun sampai di area yang namanya sama dengan nama stasiunnya. Green Park merupakan taman yang ditumbuhi oleh pepohonan besar dan rindang. Lokasinya berdeketan dengan Buckingham Palace.

Saya dan suami nyantai di depan The Queen Victoria Memorial
            Dari Green Park kami terus berjalan. Lagi-lagi dejavu. Walaupun suasananya tidak sama persis, kesempatan kali ini tetap membawa kami pada kenangan waktu itu. Berfoto tetap menjadi pilihan yang tak terlupakan. Bahkan ketika tiba di pintu gerbang istana Ratu Elizabeth, hari masih pagi. Tentu para turis belum memadati landmark yang tak pernah sepi oleh wisatawan ini. Saat itu saya mendadak seperti model yang disibukkan oleh bidikan kamera hape suami. 

Serasa istana di belakang itu milik sendiri euy ...! :p
            Dari Buckingham Palace, kami melanjutkan berjalan kaki menuju St. James’s Park. Sepi, tenang, sejuk, dan nyaman. Suasana itu benar-benar kami nikmati. Masya Allah ... burung, bebek, dan tupai-tupai yang berkeliaran bebas di taman itu menjadi penyedap pandangan.

Bebeknya (foto atas ya bukan yang bawah ... hahaha) terlihat kompak
Kami pun tak mau kalah kompak
Tupainya banci kamera ih ... hahaha
London Eye tampak dari kanal St. James's Park
            Dari St. James’s Park, kami terus berjalan hingga sampai di sebuah monumen. Saya membaca nama-nama yang tertulis di dinding monumen. Di dinding itu tertulis nama para korban tragedi bom Bali yang terjadi beberapa tahun lalu.
Monumen Bom Bali
            Kami kembali melanjutkan jalan-jalan pagi menjelang siang itu menuju Westminster Palace. Di sana lah berdiri Big Ben, nama untuk Great Bell of the clock di ujung Utara Istana Westminster, London. Sayang, kami tak bisa mengambil foto berlatar belakang Big Ben secara utuh. Sedang ada pemugaran, sehingga sebagian menara tertutup oleh besi-besi panjang penyangga menara itu. Kami bergeser ke Jembatan Westminster. Dari atas jembatan yang melintasi Sungai Thames saya bisa kembali menikmati London Eye setelah tiga tahun lamanya.

Big Ben dalam pemugaran
Foto kesekian kalinya tapi tak pernah bosan ;)
            Masih ada waktu. Kami sepakat untuk kembali berjalan menuju Trafalgar Square, alun-alun kota London yang tak pernah sepi. Trafalgar Square yang letaknya di bagian tengah kota London ini didirikan untuk mengenang Pertempuran Trafalgar (1805). Selain sebagai lokasi wisata dan tempat ngumpul, Trafalgar Square juga sering digunakan untuk aksi demonstrasi buruh dan pekerja di London. Dari sini, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel.

Trafalgar Square
Di depan National Gallery Museum
            Saya kembali menunggu hingga sore hari. Sisa waktu sepulang suami dari dinasnya, kami manfaatkan untuk menikmati makan malam bersama di sebuah restoran muslim India. Letaknya masih di sekitar King’s Cross dan berada di tepi jalan utama wilayah itu. Sajian makanannya maknyus. Alhamdulillah … pas di lidah. Piring saya dan suami yang tadinya penuh oleh menu pilihan kami, akhirnya licin saking enaknya. Tapi sangat menyesal, saya dan suami sampai lupa memotonya. Semoga tidak dianggap hoax.
           
Gagal menuju Primark
            Saat kembali dari jalan-jalan pagi menjelang siang sehari sebelumnya, saya sempat menandai lokasi toko murah. Namanya Primark. Toko yang menjual beragam barang dengan harga terjangkau ini juga pernah menjadi pengisi waktu traveling saya saat di London waktu itu. Tentu saja saya ingin kembali ke toko itu jika waktunya memungkinkan.
            Di hari kelima, setelah suami berangkat dinas, saya pun bersiap menuju Primark. Sebenarnya Primark tersebar di beberapa lokasi di London. Saya memilih toko yang berada di area Oxford Street. Pagi itu saya ingin mencoba naik bus. Tanpa pikir panjang dan memerhatikan arah bus, saya naik saja ke bus dengan nomor yang sama saat kami kembali dari Trafalgar Square kemarin.
Awal berada di bus, saya tidak merasa curiga kalau bus yang saya naiki justru arahnya berlawanan. Hingga di pertengahan jalan, saya baru sadar dan yakin jika saya salah naik bus. Ingin menertawakan diri sendiri saat itu. Saya buru-buru menekan tanda stop lalu turun dan menyeberang di pemberhentian bus yang benar. Karena sudah menghabiskan waktu sekitar 40 menit, selera saya lenyap mendadak. Saya memilih turun saja kembali di halte King’s Cross. Saya habiskan waktu memotret suasana “Bazaar tradisional homemade pastries”.

Kue-kuenya bikin ngiler


            Saya sempat ngobrol dengan salah satu peserta bazaar. Mereka menjual mangga organik yang rasanya sedap sekali. Katanya mangga-mangga itu ditanam di tanah perkebunan yang ada di pinggir kota London. Saya tidak ingat nama daerah yang disebutnya. Yang jelas, saya akhirnya membeli potongan buah mangga itu dan jusnya juga sebelum kembali ke hotel.

Mangganya mantap rasanya
Penjualnya senang banget saya tanya-tanya
            Ssst … tapi saya tetap kembali ke Primark di hari lainnya. Nggak mau rugi dong. Minimal ada yang dibeli buat oleh-oleh, walau hanya sekadar kacamata.

Menikmati kesendirian di London Bridge
            Jum’at pagi itu, suami sudah terikat dengan jadwal yang padat hingga sore hari. Saya harus pintar menyiasati kesendirian. Setelah suami berangkat, saya memutuskan untuk naik tube menuju London Bridge. Tidak ada yang rumit untuk memilih rute. Semua sudah jelas tertulis. Harus naik kereta ke arah mana, Insya Allah tidak akan nyasar. Berbeda dengan bus. Saya sedikit lebih kesulitan menandai rute bus di petanya. Buat saya yang paling cepat adalah naik tube.

London Bridge nun jauh di sana
            Sekitar lima belas menit dari stasiun King’s Cross, saya pun sampai di London Bridge Station. Keluar dari stasiun, saya mencoba menggunakan google map untuk memandu ke arah mana saya harus meneruskan berjalan kaki agar tiba di tepi Sungai Thames yang terdekat dengan London Bridge. Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke lokasi tersebut. 

Tongsis beraksi :p
Akhirnya sampai juga setelah berjalan sekitar dua ratus meter. Karena sendiri, akhirnya tongsis yang saya bawa dari rumah berfungsi maksimal. Saat itu, saya benar-benar menikmati kesendirian. Memandangi jembatan megah dari jauh tidak cukup membuat saya puas. Saya mendekatinya sambil menelusuri pinggiran sungai serta mengingat-ingat kembali kebersamaan dengan anak-anak saya kala itu. Jembatan tua yang telah berulang-ulang dibangun di lokasi yang sama ini, London Bridge menjadi salah satu objek yang eksis sejak tahun 50 Masehi. Di sinilah akhirnya saya menghabiskan waktu sendiri dari pagi hingga menjelang siang.

Tak memilih Ted Baker, Harrods pun jadi
            Saat di Bicester, saya belum menemukan model yang pas untuk oleh-oleh yang dipesan anak saya. Akhirnya di sisa-sisa waktu yang ada, saya dan suami kembali mengambil waktu khusus untuk belanja memenuhi beberapa pesanan. Suami mulai bosan berkendara dengan tube, kami memilih naik bus menuju Brompton Rd, Knightsbridge, London. Di kawasan itulah berjajar toko-toko yang menjual barang-barang bermerek. 

Sebelum belanja, kenalan dulu sama dua jagoan ini ;)
Tentu saja harganya sedikit lebih mahal dibanding harga di Bicester Village. Yang menguntungkan, calon pembeli bisa memilih model yang lebih bervariasi. Saya dan suami pun akhirnya keluar masuk toko branded. Kembali “cuci mata”. Awalnya saya ingin membeli tas Ted Baker (menambah koleksi yang sudah ada), tapi karena barang dan harganya belum pas dengan mata dan kantong (diharap jangan tertawa ya … hihi) akhirnya saya pindah ke toko berikutnya.
Setelah puas berkeliling di gedung yang menjual segala model tas Harrods, pilihan saya tetapkan. Tas Harrods untuk putri saya dan beberapa suvenir dengan merek yang sama pilihan suami sampai ke meja kasir. Alhamdulillah, semua itu terbeli karena rezeki dari Allah juga. Harus buru-buru disyukuri dong.

Tak berharap bertemu makhluk astral
            Ada satu tempat yang menjadi tujuan wisata para turis di London, yaitu Kensington Palace. Istana Kensington ini merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan yang berlokasi di Kensington, London, Inggris. Posisinya berdampingan dengan Kensington Gardens. Kengsinton Palace telah menjadi istana kerajaan sejak abad ke-17 dan pernah menjadi tempat tinggal Princess Diana.  Sekarang istana ini menjadi kediaman resmi Duke (Prince William) dan Duchess of Cambridge (Kate Middleton), Duke dan Duchess of Gloucester, dan Prince dan Princess Michael of Kent.
            Istana yang dibuka untuk pengunjung di sepanjang tahun ini tak pernah sepi dari kedatangan wisawatan. Waktu berkunjung dimulai dari pukul 10.00 – 18.00 waktu London. Sementara harga tiket masuk untuk dewasa adalah 15 Poundsterling dan bisa dibeli langsung di pintu masuk istana.
            Tidak seperti biasanya, kali ini saya dan suami mencoba melakukan wisata malam. Awalnya saya masih berharap bisa tepat waktu (jam lima sore), agar bisa masuk ke dalam istananya. Namun, karena memang tidak dijadwalkan serius, kami santai saja. Perjalanan dengan bus dari King’s Cross menuju halte Kensington lumayan lama. Tiba di depan pintu masuk taman, hari sudah gelap.
            Sempat ragu, kami berdiskusi sejenak sebelum memutuskan tetap masuk melewati taman Kensington (Kensington Garden). Kebetulan minggu itu bertetapatan dengan peringatan hari meninggalnya ibu Prince Willam yang sangat kita kenal dengan nama populernya, Lady Di. Itulah yang membuat keinginan kami bulat untuk tetap memasuki taman. 

Entah kenapa, saya tidak bisa menahan rasa merinding di suasana ini
            Akhirnya kami masuk dan berjalan di suasana remang-remang taman itu. Jujur saja, saat suami berkisah tentang tragedi kematian Lady Di, bulu kuduk saya sempat meremang. Saya protes ke suami untuk tidak menakut-nakuti saya yang memang penakut ini. Ia malah tertawa di keheningan suasana malam itu.
Tertawa sambil mikir, adakah yang ikut berfoto di belakang kami? Hiii ....
            Suami tak mau melewatkan momen yang bikin bulu kuduk saya bolak-balik meremang itu. Beliau mengajak saya berfoto bersama dengan latar belakang pintu gerbang yang penuh dengan foto-foto Princess Diana. Dengan setengah hati saya tetap berusaha tersenyum saat kamera hape suami menerangi wajah saya dengan sinar blitz-nya. Padahal jujur saja, saya pengin lari secepat mungkin meninggalkan lokasi itu. Sambil tertawa, akhirnya suami mengajak saya meninggalkan area gerbang Kensington Palace. Untunglah kami tak sempat bertemu makluk astral di sana. Suami saya akhirnya memberi tema wisata kami itu dengan judul “Berfoto dengan Makhluk Astral”.
            Selesai sudah jatah menghabiskan sisa-sisa waktu yang kami punya selama di London. Masih ada cerita perjalanan ke destinasi lainnya yang bukan memanfaatkan waktu tersisa. Tunggu saja kelanjutan catatan ini. Salam. [Wylvera W.]

Note: Semua foto adalah milik penulis (pribadi)

Minggu, 10 September 2017

Kunjungan ke York




York menjadi tujuan destinasi pertama saat kami tiba di London. Pilihan tersebut sudah disepakati sebelum kami terbang beberapa hari sebelumnya.  Saya sejujurnya tidak sempat browsing tentang kota York karena awalnya saya ingin berkunjung ke Stonehenge. Karena jarak London ke Stonehenge lumayan jauh, maka suami memutuskan mencari alternatif jarak tempuh yang lebih dekat. Saya pun mengikut saja.
Perjalanan saya dan suami sekali ini tidak seperti sebelumnya. Kami tidak memiliki waktu longgar yang bisa kami nikmati sesuai dengan keinginan sendiri. Memilih York sebagai kota pertama setelah tiba di London pun karena saat kami sampai masih hari Minggu dan kebetulan belum terlalu siang. Membeli tiket on the spot menjadi alternatif yang fleksibel. Keputusan pun membawa kami meluncur ke York dengan kereta cepat. Jarak tempuh dari Kings Cross ke stasiun York, Inggris Raya menghabiskan waktu sekitar dua jam.

Browsing sambil menikmati camilan di kereta
Saat di kereta saya sempatkan untuk menelusuri sejarah destinasi pilihan suami ini. Saat itulah saya tahu kalau York berada di daerah North Yorkshire, berdekatan dengan Sungai Ouse dan Foss. York didirikan pada tahun 1971 oleh bangsa Romawi sebagai Eboracum (benteng dan kota di Britania Romawi). York merupakan ibukota historis Yorkshire dengan jumlah penduduk sekitar 137.505 jiwa.
Ada artikel yang bercerita bahwa York juga populer sebagai kota yang mendapat julukan “The Most Haunted City in Europe” karena  menyimpan hantu-hantu dari masa lalu. Konon katanya banyak hantu yang bergentayangan di penjuru kota York. Ah! Saya kurang tertarik membaca bagian artikel yang membahas tentang hantu-hantu itu. Mungkin nanti lain waktu jika saya dan keluarga diberi kesempatan mengunjungi York di malam hari, barulah saya perlu membaca lebih jauh. Saya ingin mengenal kota York dari catatan sejarah lainnya saja sambil mencicipi camilan pengganjal perut yang sempat kami beli di stasiun Kings Cross.

Camilan sedarhana di kereta
York yang kaya pesona ini merupakan kota historis Yorkshire. Kotanya dikelilingi oleh tembok yang membentengi pusat kota. Sejak zaman Romawi hingga sekarang, tembok tersebut masih berdiri dengan kokoh. Kota Yorkshire juga disebut sebagai kota kecil dengan banyak bangunan tua yang sarat dengan sejarah. Karena kotanya kecil, maka mengunjungi kota York tidak perlu menaiki bis dari satu tempat ke tempat lainnya. Umumnya semua lokasi bersejarah di kota itu bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dalam waktu satu hari pun kita bisa menghampiri objek wisata seperti National Railway Museum, Yorkshire Gardens, York Minster, Clifford’s Tower, dan lainnya. Semoga waktu kami cukup untuk itu, harap saya dalam hati.
Kereta masih terus melaju. Sesekali saya merekam keindahan pemandangan yang kami lewati melalui kaca jendela kereta. Dejavu! Gumam saya perlahan. Saya seolah mengulang hal yang sama seperti ketika kami sekeluarga melakukan pesiar ke beberapa kota di negara yang pernah kami kunjungi. Bibir saya pun menggurat senyum rindu pada kenangan itu.
Kembali ke kota York. Kota yang jaya di zaman Roman ini dulu dikuasai oleh Anglo-Saxon lalu direbut oleh The Vikings. Anglo Saxon sendiri merupakan negara-negara berbudaya khas dan berbeda sejarah sosial budaya dengan negara-negara di daratan Eropa Barat lainnya yang disebut kontinental. Inggris termasuk negara dengan sebutan Anglo-Saxon.

Mengunjungi National Railway Museum
            Akhirnya kami tiba di stasiun York. Stasiun ini adalah stasiun kereta api tertua di Inggris. Begitu turun dari kereta, kami langsung melanjutkan dengan berjalan kaki menuju sebuah museum. Letaknya tidak begitu jauh dari stasiun York. Begitu sampai di depan bangunan yang dituju, saya langsung menemukan nama “National Railway Museum”. Tidak perlu bayar untuk masuk ke museum ini.

Abaikan tempat sampah di sebelahnya :p

Sesaat sebelum masuk, saya mulai sibuk mengambil foto layaknya fotograper (amatiran … hehe) yang sedang melakukan kunjungan wisata. Tiba di dalam museum, mata saya terbelalak oleh tampilan beberapa jenis kereta api yang dipajang. Semua kereta yang ada di situ merupakan kereta api yang pernah ada sejak zaman kerajaan Inggris dahulu kala hingga sekarang. 




            Menurut Wikipedia, National Railway Museum (NRM) ini adalah sebuah museum di York yang merupakan bagian dari British Science Museum Group of National Museums yang menceritakan tentang transportasi kereta api di Inggris serta dampaknya pada masyarakat. Museum ini telah memenangkan banyak penghargaan, termasuk European Museum of the Year Award pada tahun 2001. Museum ini adalah bangunan tempat koleksi nasional kendaraan perkeretaapian yang terlengkap secara historis.


            Setelah puas berkeliling dan berfoto-ria, kami pun meninggalkan gedung. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan area museum, saya yang tadinya sempat melihat rangkaian gerbong kereta terparkir di luar gedung museum, menyempatkan berfoto. Kereta itu ternyata digunakan untuk tur keliling, mengantarkan para wisatawan yang ingin menikmati kota Yorkshire.

Sesaat sebelum naik kereta berkeliling kota
            Setelah menunggu beberapa saat dalam antrian yang tidak terlalu panjang, kami pun mendapat giliran naik ke kereta (mini train) itu. Perjalanan dengan mini train mengelilingi kota Yorkshire pun dimulai. Di dalam kereta yang gerbongnya sengaja didesain terbuka itu, saya sempat berbagi kisah kepada teman-teman suami. Saya teringat saat yang mirip ketika berkunjung ke Bangka Belitung. 
Saya, Mbak Ari, dan Nupi siap berkeliling dengan mini train
Waktu itu saya dan dua teman lainnya juga sempat naik kendaraan yang mirip seperti mini train ini mengelilingi sebagian kota Belitung. Suara klakson yang tren dengan guyonan lucu “om telolet om” waktu itu membuat kami tertawa. Seandainya masinis mini train ini bisa diminta membunyikan klakson serupa, mungkin tawa kami semakin berkepanjangan.
Kereta mini yang membawa kami mengelilingi Yorkshire akhirnya sampai di batas putarannya. Kami memilih turun untuk melanjutkan dengan berjalan kaki.

Mengitari The Shambles
            Tiba di The Sambles yang merupakan sebuah jalan tua di York, Inggris. Beberapa bangunan berbingkai kayu berasal dari abad ke-14 masih tampak di kiri-kanan jalan yang lebih pas saya sebut gang. Dulu area ini dikenal sebagai The Great Flesh Shambels. Bisa jadi kata itu diambil dari Anglo-Saxon Fleshammels (rak daging), sebutan untuk rak-rak yang biasa digunakan tukang daging untuk menampilkan daging dagangan mereka. Namun, saat ini tukang jagal daging yang dulu masih berada di sepanjang jalan tidak ada lagi.

Salah satu gang di The Shambles
Apakah yang sedang dipandanginya? #The Shambles
            Jalanan yang mengitari The Shambles dipenuhi oleh rumah-rumah yang rapat berjajar di sepanjang gang. Orang-orang yang melintas begitu menikmati bangunan rumah yang sekaligus dijadikan toko itu. Tidak seperti zaman dulu yang katanya di kiri-kanan bangunan sepanjang The Shambles ini dipadati oleh para penjual daging. Sekarang yang terlihat adalah bermacam-macam toko pakaian branded, suvenir, makanan, dan penampilan para seniman jalanan.
            Tidak terasa kami terus berjalan memuaskan pandangan di sepanjang The Sambles yang cukup populer dari kota Yorkshire ini.

Tiba di sisi Clifford’s Tower
Wisata jalan kaki ini akhirnya membawa kami mendekat pada sebuah bangunan mirip tembok berbentuk melingkar penuh. Rumput yang terhampar rapi di sekelilingnya langsung membuat saya ingin sekali mendudukinya. 

Di belakang sana towernya
 Klik!
Pose duduk di atas rumput pun menjadi momen yang sempat diabadikan dalam kamera hape saya. Selepas itu, teman suami saya sangat ingin memasuki tower itu. Ia pun menaiki tangga yang lumayan tinggi. Harus membayar £5 untuk masuk ke tower itu. Karena anak tangganya lumayan banyak, saya menyerah dan tidak ikut naik. Saya memilih menunggu di bawah sambil membidik beberapa objek lainnya untuk difoto. 

Tangga masuk ke Clifford's Tower
Di bawah tangga, ada sejarah singkat yang menceritakan tentang Clifford’s Tower. Menara Clifford merupakan sisa-sisa istana kerajaan York, tempat kekuasaan di Utara sejak William Conqueror. William pulalah yang telah membangun menara bidik empat daun bergaya Prancis ini. Raja-raja berikutnya memegang parlemen di wilayah ini. Interiornya pernah terbakar pada abad ke-17, namun dinding luar dengan beberapa celah dan sebagai cengkraman, telah menjadi lambang kota York yang sangat dikagumi.

Beranjak ke York City Walls dan York Minster
            Hari semakin beranjak sore, namun langit masih cerah dan udaranya sangat bersahabat. Akhir musim kemarau (last summer) memberi keuntungan buat kami. Masih ada waktu untuk melihat bangunan bersejarah lainnya. Kami pun kembali menyusuri Yorkshire dengan berjalan kaki. Tiba di sisi York City Walls, saya memilih berhenti sejenak sambil menikmati pemandangan Sungai Ouse dari atas jembatan York.


Bangunan era Victorian yang masih berdiri gagah di tepi Sungai Ouse dan Foss
            Puas berpose di sisi Sungai Ouse, saya berhenti di depan York Minster, gereja tua yang menjadi icon kebanggaan York. York Minster didirikan di abad ke-13 dan menjadi gereja tertinggi kedua di England. Saya hanya sempat berpose di depan gedungnya saja. Jika ingin melihat-lihat sisi dalam gereja bersejarah ini, harus membayar tiket masuk seharga £9.

York Minster
Di depan York Minster
Dari York Minster, kami masih meneruskan perjalanan. Akhirnya sampai di sisi York City Walls, tembok yang terbentang panjang dan dibangun sejak zaman Roman. Tembok ini dibangun sebagai pertahanan dan berlindung dari serangan musuh. Seiring perkembangan zaman, tembok ini tetap berdiri kokoh karena dirawat. Di sisinya dirancang jalan penghubung bagi para wisatawan maupun penduduk setempat.

Dari sini bangunan York City Walls itu bermula
Jalanan di sisi tembok ini sangat bersih dan nyaman untuk pejalan kaki
Tidak sah rasanya kalau tak kembali berfoto-ria. Kami puaskan berpose di sepanjang jalan yang menempel pada tembok itu. Sesekali senyum para pejalan kaki terlihat mengarah ke kami. Saya menikmati suasana itu meskipun kaki mulai terasa lelah.

Bunga-bunga itu akhir persinggahan kami di York
            Karena hari mulai sore dan kami harus kembali ke London, kunjungan ke York pun segera diakhiri. Sambil berjalan menuju stasiun kereta York, terlihat hamparan bunga-bunga nan cantik di tengah-tengah jalan yang melintasi kota itu. Saya minta izin untuk mengabadikannya. Sayang rasanya kalau sekadar dilihat-lihat saja. 

Bunga asli dan bunga Bekasi ... hahaha, dilarang nimpuk :p
            Selepas itu, kami masih terus berjalan untuk mencapai stasiun. Kursi-kursi taman yang dilewati kembali menjadi objek foto bersama si empunya kamera tentunya. “Gak mau rugi ya!” ujar suami mengomentari tingkah saya. Momen menuju pulang itu, lumayan juga untuk mengurai rasa lelah di kaki.
Kami kembali ke kereta menuju London. Sepanjang jalan pulang, hanya rasa senang yang tersisa sebagai wujud rasa syukur dan kagum pada semua kebesaran Sang Maha Pencipta.
Selamat tinggal, York! Semoga saya bisa kembali lagi bersama kedua anak saya kelak. Aamiin. [Wylvera W.]

Note: 
Semua foto adalah asli milik penulis
Catatan sebelumnya ada di sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...