Rabu, 17 April 2019

New Zealand, Here We Come!




      Beberapa tahun lalu, saya sempat terobsesi ingin mengunjungi sebuah negara yang dijuluki sebagai “Negeri Kiwi”. Yup! Negeri itu adalah New Zealand. Saking inginnya saya ke sana, saya begitu bersemangat mengikuti kompetisi dari salah satu produk susu bersama beberapa teman. Sayangnya, kami belum beruntung menjadi pemenang untuk mendapatkan tiket gratis ke negara itu. Saya simpan lagi obsesi saya. Keinginan itu pun kembali teralihkan oleh destinasi lain.
Hingga akhirnya awal Februari 2019 lalu, saya tiba-tiba mencetuskannya kembali saat suami berencana mengajak saya ke luar negeri. Meskipun ada satu negara lagi yang menjadi pilihan selain Selandia Baru, yaitu Swiss. Namun karena saya sudah 3 kali ke Swiss dan suami malah sudah 5 kali, maka New Zealand pun menjadi pilihan kuat.  Akhirnya New Zealand menjadi alternatif untuk menghabiskan cuti besar suami saya.
Saya pun kembali melakukan browsing tentang negara kepulauan yang berada di sebelah Selatan Samudera Pasifik itu. Saya pikir travelling kami kali ini sama dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Naik pesawat ke negara tujuan lalu naik kereta atau tram dan bis untuk mengeksplorasi kota-kotanya.
            “Aku pengin mengulang perjalanan kita dengan driving seperti di Amerika dulu,” ujar suami membuat saya sedikit terperanjat.
            “Betul! Ini serius. Kita urus SIM Internasional,” lanjutnya tanpa menunggu reaksi saya.
        Kami pun mulai mengurus semua persyaratan yang dibutuhkan. Dari menyusun itinerary (rencana perjalanan) untuk pengurusan visa dan pemesanan tiket pesawat, hingga pembuatan SIM Internasional. Waktu yang diperlukan untuk semua itu sekitar satu setengah bulan. Sangat cukup untuk mempersiapkan semuanya.
            Untuk pengurusan visa, kami dibantu oleh rekan yang biasa mengurus visa dinas di kantor suami. Sementara untuk SIM Internasional, saya memakai jasa petugas yang selama ini membantu mengurus perpanjangan STNK mobil dan SIM kami. Alhamdulillah, tidak terlalu lama, visa kami pun akhirnya keluar dengan masa berakhir yang lumayan lama. Menyusul SIM Internasional yang hanya memerlukan dua hari kerja.
            Rencana perjalanan sudah disusun dan disiapkan. Suami saya pun menyelesaikan pembelian tiket pesawat dan penyewaan mobil untuk perjalanan kami selama di New Zealand. Kami bersyukur karena mendapatkan harga promo untuk pesawat Garuda dan Qantas yang akan membawa kami ke negara beribukota Wellington itu.

Saya dan suami (foto pribadi)
            New Zealand merupakan negara tetangga Australia yang letaknya sama-sama di kawasan Oceania. Berstatus sebagai negara persemakmuran Inggris dengan mayoritas penduduk keturunan imigran Eropa dengan penduduk aslinya adalah suku Maori. Saya ingin membuktikan apa yang menjadi keunikan negara tersebut. Terutama yang paling tenar bahwa New Zealand merupakan negara kaya yang terkenal dengan keramahtamahan masyarakatnya. Mari kita buktikan di cerita-cerita saya berikutnya tentang negeri ini.

Spot jantung sebelum mendarat.
            Kami memilih mendarat di Bandar Udara Internasional Wellington. Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 25 Maret 2019 dengan pesawat Garuda. Transit di Melbourne untuk menyambung rute dengan pesawat Qantas menuju Wellington.
            Tidak pernah terbayangkan akan ada momen menegangkan di perjalanan awal kami ini. Durasi terbang yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam (dengan perbedaan waktu) itu menjadi waktu yang cukup panjang dan menegangkan di akhirnya. Awal yang indah mendadak berubah jadi mengkhawatirkan.
Ketika diumumkan bahwa pesawat akan mendarat dalam waktu 20 menit di bandara Wellington, saya lega. Hingga tersisa sekitar delapan menit, ketegangan itu pun dimulai. Awan dan angin kencang di atas permukaan laut, membuat pesawat yang kami tumpangi tertahan untuk mendarat. Saya melihat dari jendela pesawat. Sulit menembus jarak pandang akibat awan tebal yang menyelimuti langit.
Bolak-balik guncangan yang sangat kuat begitu terasa dan membuat jantung saya berdetak lebih kencang. Saya lirik wajah penumpang di sebelah bangku kami. Belum terlihat tegang seperti saya. Atau mereka pintar menyembunyikannya ya? Sementara saya sibuk melafazkan doa dan zikir. Suami yang menyadari kalau istrinya mulai cemas, sibuk menenangkan dengan menggenggam jemari saya.
“Berdoa saja dan jangan pikirkan yang negatif,” bisiknya lumayan menenangkan.
Di enam menit terakhir, pesawat kami kembali naik dan mencoba untuk turun lagi. Gagal! Hingga akhirnya keluarlah pengumuman kalau pilot akhirnya memutuskan mengalihkan pendaratan di Bandara Internasional Auckland. Wajah suami saya langsung tegang. Saya mengira dia mendadak takut akibat pengalihan tempat mendarat itu. Ternyata bukan itu penyebabnya. Beliau cemas membayangkan jadwal penyewaan mobil dan rencana perjalanan awal kami di Wellington. Tentu saja semua ikut berubah dan sedikit berantakan. Apa boleh buat. Kita berencana, Allah lah Maha Penentunya. Pada akhirnya kami pasrah dan mengikuti saja kondisi yang ada.

Makan siang penuh keramahan
Akhirnya kami tiba di bandara Auckland. Kelelahan mulai terasa. Transit yang cukup lama (sekitar tiga jam) membuat perut dan mata seperti bedebat minta dimanjakan. Kami memilih makan siang dengan menahan kantuk yang luar biasa. Mata saya sesekali mengawasi para penumpang yang satu pesawat dengan kami. Kasihan melihat anak-anak yang ikut di penerbangan tersebut. Kerewelan khas anak-anak tidak bisa dihindari. Ada yang menangis, ada yang merengek-rengek menunjukkan rasa lelah dan bosan mereka. Saya yang juga lelah jadi terlupa untuk mengambil foto saat di bandara ini. 
Di tengah situasi yang tidak nyaman itu, ada satu hal yang mulai menyentuh hati saya. Setiap kali duduk berdekatan dengan mereka yang mengaku tinggal di Selandia Baru, selalu saja ada kehangatan dan keramahan di awal. Sapaan “Hi” berkali-kali saya terima sebagai sinyal bersahabat. Terlebih saat saya dan suami menikmati makan siang di area foodcourt bandara, saya duduk di sebelah meja dua perempuan separuh baya.
Ough! Sorry Madam. My old hand wanna say hello with your skirt. Hahaha,” ujarnya mengekspresikan rasa sungkan karena tangannya tidak sengaja menjepit pinggiran rok saya.
Keramahan itu tentu saya respon dengan sikap yang tak kalah ramah. Ia bertanya dari mana kami berasal. Ia mengira kami dari Malaysia. Begitu saya sebut Indonesia, mata tuanya berbinar, lalu berkata, “Wow! Indonesia…!” Lalu ia bilang kalau sudah pernah berkunjung ke Indonesia. Meskipun ia hanya menyebut Bali, saya tetap menghargai penilaiannya terhadap negara saya. Minimal, kata indah untuk Indonesia lumayan terwakili oleh Pulau Dewata itu.
Saya sengaja tidak meneruskan untuk mengenalkan keindahan alam dari gugusan pulau-pulau yang terhampar di bumi pertiwi tanah negeri saya. Sebab, rasa nyeri di sudut perut saya mulai tidak bisa diajak kompromi. Begitu suami saya selesai memesan dan membawa makanan, saya beri sinyal meminta izin kepada wanita yang wajahnya diwarnai oleh “full smile” itu. Saya biarkan ia menggangguk-angguk dalam senyumnya. Kami kembali menikmati pesanan makan siang kami masing-masing.

Ketegangan belum usai
         Tibalah waktu untuk penerbangan menuju bandara Wellington. Wajah-wajah penumpang yang tadinya lelah, terlihat sedikit lebih segar. Tidak dengan saya dan suami. Justru kami mulai diserang rasa kantuk yang luar biasa. Kami memilih menonton film. Siapa tahu, kantuknya hilang. Namun ternyata justru kami berdua tidak sadar kalau film sudah bergerak ke durasi yang hampir menyelesaikan alur cerita. Hahaha ….
            “Semoga pendaratan kali ini aman ya,” gumam saya tiba-tiba saat terbangun.
            “Berdoa saja,” ujar suami lagi-lagi menenangkan.


      Hingga sampai pada menit-menit menuju pendaratan, ketegangan kembali menyerang. Saya tidak paham mengapa area permukaan laut menuju landasan bandara Wellington itu dua kali diterpa angin kencang yang membuat pesawat kami kesulitan mendarat. 
     Saya kembali melirik penumpang di sebelah kami. Sangat berbeda. Wajah mereka berubah ikut tegang. Tidak ada lagi obrolan dengan istrinya yang duduk persis di tepi jendela pesawat. Tangannya membuat gerakan seperti yang dilakukan umat Nasrani. Saya tahu bahwa mereka sedang meminta kekuatan agar bisa lebih tenang merasakan guncangan pesawat.
            Kali ini, suami saya juga ikut tegang. Itu terbukti dari kencangnya genggaman yang ia lakukan pada jemari saya. Tidak ada percakapan setelah itu. Kami sama-sama memohon kepada Allah untuk memberi keselamatan. Doa saya mungkin lebih spesifik, sebab tidak ada ilmu dan ketangguhan yang mampu melebihi ilmu Allah, termasuk ilmu pilot pesawat itu. Itulah yang saya panjatkan. Agar pesawat yang kami tumpangi dan sudah berputar sekian menit lamanya di atas permukaan laut melawan kuatnya terpaan angin, diberi kemudahan oleh Allah untuk segera mendarat.
            “Yaaay …! Yeee …!” seruan dari ekspresi rasa lega anak-anak dan para penumpang akhirnya memenuhi pesawat ketika rodanya berhasil menyentuh permukaan landasan bandara.
            “Allahu Akbar! Alhamdulillah …,” bisik saya dan suami bersamaan.
            Sungguh! Awal perjalanan yang diwarnai alur pembukaan, isi dengan klimaks serta ending anti klimaks yang bikin saya seperti menorehkan kisah drama. Padahal ini fakta dari catatan travelling kami menuju New Zealand, negeri yang baru pertama kali kami singgahi. Kisah di akhir yang menegangkan itu pun akhirnya mengantarkan kami menginjakkan kaki di bandara Wellington, New Zealand.
          Cerita selanjutnya, tunggu di judul berikutnya ya. Jangan bete dan sabarlah menunggu. Setelah ini, in shaa Allah, foto akan lebih banyak. Hehehe … see you!
           

Sabtu, 24 Maret 2018

Memilih Target Destinasi di Sydney


            Beberapa rencana sudah kami susun sebelum terbang ke Sydney. Namun tidak semua bisa terpenuhi. Banyaknya tempat-tempat menarik tidak sebanding dengan waktu yang kami miliki. Jadi, mari kita lupakan untuk memenuhi angan-angan mengunjugi Blue Mountains di kawasan Katoomba. Jum’at pagi itu adalah hari terakhir kami di Sydney setelah malamnya kembali dari Melbourne. Karena masih ada rencana membeli oleh-oleh di pasar murah, kami terpaksa mencoret Katoomba dan Blue Mountains dari daftar. Khawatir pasarnya tutup sebelum kami kembali dari Katoomba.

Menghabiskan waktu di area Opera House dan The Royal Botanic Gardens
            Seperti di cerita saya sebelumnya tentang tuan rumah sekaligus sahabat yang memberi tumpangan penginapan. Kami kembali dibekali sarapan pagi yang komplit sebelum memulai jadwal jalan-jalan di Sydney. Jadilah perjalanan di Jum’at pagi itu diawali dengan perut kenyang dan energi yang maksimal. 
Kalau sepi begini, puas fotoannya ;)
            Perjalanan menuju Opera House dan The Royal Botanic Gardens pun dimulai dari stasiun Punchbowl. Kurang dari setengah jam, kami tiba di Circural Quay Station. Dari stasiun itu kami menyusuri tepian pelabuhan. Masih sepi dan tidak banyak orang yang berlalu-lalang. Kami bisa menghirup udara laut di pagi itu dengan leluasa. Hingga sampailah kami di depan gedung Opera House yang menjadi salah satu ikon kota Sydney.

Opera House dari dekat
            Gedung yang bentuknya mirip cangkang raksasa ini tidak pernah sepi dari pengunjung di sepanjang tahun. Opera House yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia Unesco di tahun 2007 ini, menjadi tempat beragam pertunjukan. Mulai dari teater, balet, dan seni lainnya. Dari Wikipedia yang saya baca, desain bangunan yang unik dari Opera House diperoleh dari sebuah kompetisi. Jorn Utzon dari Denmark lah yang memenangkan desain tersebut pada tahun 1955. Utzon sendiri pula yang datang ke Sydney untuk melakukan pengawasan pada proses pembangunannya di tahun 1957.

Puas jadi "model" :p
            Seolah ingin melakukan pemotretan khusus, kami pun berlagak seperti foto model. Beberapa spot kami manfaatkan untuk berpose. Saya tersenyum-senyum menyadari tingkah sendiri. Setelah melihat hasilnya, ternyata sungguh berbeda dari pengambilan foto yang kami lakukan di hari pertama tiba di Sydney. 
Menuju The Royal Botanic Gardens

Bangku taman yang pas untuk menikmati sekitar
            Letak Opera House bersebelahan dengan lokasi The Royal Botanic Gardens. Kebun botani ini dibuka untuk umum dan gratis pula. Kami sangat menikmati sisi luar taman yang asri ini. Letaknya menghadap Farm Cove di Timur Sydney Opera House, Circural Quay, dan Macquarie Street. 
Kebun, laut, dan modelnya - Padanan yang serasi :p
Kak Nuraida - teman traveling saya
            The Botanic Gardens didirikan oleh Gubernur Macquarie pada tahun 1816. The Botanic Gardens merupakan institute ilmiah tertua di Australia yang menampung ragam tanaman baik dari Australia maupun daerah lainnya. Kami tidak menyusuri sampai ke bagian dalam kebun tersebut karena lagi-lagi dibatasi oleh waktu.

Menuju Darling Harbour yang terkenal itu
            Dari The Botanic Gardens kami memutuskan untuk mampir ke Darling Harbour. Sebab tidak lengkap rasanya ke Sydney tanpa mengunjungi lokasi ini. Darling Harbour merupakan salah satu kawasan di Teluk Sydney. Nama Darling Harbour diambil dari nama Ralph Darling, seorang gubernur Jenderal New South Wales (1825 – 1831). Dari informasi yang saya baca, selama puluhan tahun pusat pelabuhan Sydney ini dikembangkan sebagai peringatan dua abad berdirinya Australia pada tahun 1988.
Sisi lain dari Darling Harbour

Pengunjung yang ramai di kawasan ini bukan turis dari luar melainkan warga setempat. Mereka betah ke Darling Harbour karena di sini banyak tersedia restoran seafood dan kafe. Selain menikmati kuliner, pengunjung juga bisa memuaskan diri berbelanja di Harbourside Shopping Centre. 

Bagian dari Museum Kelautan Australia
Di depan Australian National Maritime Museum
Di depan Hard Rock Cafe Sydney
Bagi yang membawa anak, bisa bermain di Tumbalong Park, ruang publik ramah anak yang menyediakan aneka permainan untuk mengasah kemampuan motorik. Di lokasi Darling Harbour juga terdapat sebuah gedung museum. Namanya Australian National Maritime Museum. Kami tidak masuk, sekadar berfoto di luarnya saja. Kami juga menyempatkan berfoto di depan gedung Hard Rock Café yang selalu ada di hampir setiap destinasi/negara yang saya kunjungi.

Jembatan pejalan kaki yang nyaman banget
Sinar matahari di siang menjelang sore itu lumayan menghangatkan kulit. Saya jadi teringat pesan teman yang mengingatkan bahwa untuk berkunjung ke Darling Harbour di musim panas, lebih baik sore hari. Selain udaranya tidak panas, sinar matahari sore yang berada tepat di kawasan itu, memberi kesan ciamik untuk mengambil foto.

Menikmati pemandangan dari Pyrmont Bridge
Dari Darling Harbour kami memilih berjalan kaki menyusuri Pyrmont Bridge. Jembatan Pyrmont merupakan jembatan berukuran besar dan lebar yang disediakan untuk para pejalan kaki. Kami bisa menikmati area Darling Harbour dari atas Pyrmont Bridge ini. Cantik! Gumam saya berulang sambil jeprat-jepret. 
Pyrmont Bridge masih lengang
Istirahat sejenak
Pemandangan sisi lain Darling Harbour dari Jembatan Pyrmont
Jembatan ini cukup lebar buat para pejalan kaki. Sesuai peruntukannya, tidak satu pun yang nekat menerobos jembatan ini dengan kendaraan. Kedisplinan warga patut jadi contoh bagi yang hobi melakukan pelanggaran.

Berburu barang murah di Paddys Market
Waktu semakin bergerak menuju sore hari. Tujuan akhir kami adalah Paddy’s Market. Sebelum tutup, kami mempercepat langkah. Dari Pyrmont Bridge kami kembali melanjutkan berjalan kaki hingga memasuki kawasan China Town. Tidak heran jika mulai terlihat toko-toko berjajar di sepanjang jalan yang menjajakan kebutuhan pakaian dan makanan. Bangsa Cina memang ahlinya berdagang. Di Beberapa negara yang saya kunjungi, mereka selalu membuka kawasan perdagangan yang memancing turis untuk berbelanja.
“Kalau tidak berniat hunting barang branded, pergilah ke Paddys Market. Di sana kalian akan menemukan barang-barang yang sangat terjangku harganya,” begitu pesan salah seorang teman sebelum kami berangkat ke Sydney.

Penampakan Paddys Market yang menyatu dengan Market City
Letak Paddys Market tidak jauh dari George Street yang sempat kami lewati sehari sebelum menuju Melbourne. Kami juga sempat mampir di Market City yang berdampingan dengan Paddys Market di hari itu. Paddys Market sendiri berada di dalam gedung kuno berwarna merah bata. Posisinya bersisian dengan kawasan China Town. 
Harganya murah - meriah
Bayangan lokasi yang kotor tidak terbukti. Lumayan bersih dan nyaman untuk berkeliling melihat-lihat barang yang dijual. Jarak antara satu toko dengan toko lainnya pun lebih lebar sehingga tidak khawatir saling senggol saat sibuk memilih. Namun jangan harap menemukan barang bermerek di Paddys Market. Tidak ada. Saya memilih barang-barang semacam suvenir yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh saja. Termasuk tas-tas, dompet/pouch lucu yang terbuat dari kain, dan beberapa suvenir dengan lambang Australia. 

Burungnya pada lapar :'(
Melepas penat bermain bersama burung-burung liar ini
Setelah puas memilih oleh-oleh murmer di Paddys Market, kami memutuskan kembali ke Punchbowl. Beberapa ratus meter lagi menuju stasiun, rasa lelah mulai menghampiri. Kami sempatkan beristirahat sejenak di taman (saya lupa namanya). Yang saya ingat, saya sempat bermain dengan burung-burung di taman itu. Lumayan untuk mengusir rasa pegal di kaki dan tangan yang menenteng barang belanjaan.

Selamat tinggal Sydney
            Pagi menjelang kepulangan kami, ada rasa haru yang menyelinap di hati saya. Kenyamanan, keakraban, serta pelayanan yang super hangat penuh kekeluargaan dari Fendi dan Leila (dua sahabat yang baik hati) selama kami di rumah mereka, menjadi pemberat hati kami meninggalkannya. Namun kami harus pulang. Ada keluarga yang sudah menunggu kami di Jakarta dan Bekasi. 
Berpisah itu memang nggak enak banget :'(
           Masih tidak puas memberi kenyamanan, keluarga Fendi mengantarkan kami sampai ke bandara. Putri bungsunya terlihat berat melepas kepulangan saya dan Kak Nuraida. Setelah memeluk kami sekali, dia kembali ke Ibunya. Tanpa diduga Amira berlari kembali mendekati kami dan memeluk dengan hangat. Saya bisikkan di telinganya, “In shaa Allah, Tante akan datang lagi ya.” Bibirnya tersenyum walaupun ia tidak bisa berhasa Indonesia. 
Menunggu menit-menit kepulangan ke tanah air
            Inilah akhir dari catatan saya selama berada di Sydney dan Melbourne. Jika ingin mengikuti rangkain catatan dari awal, silakan mampir di beberapa link yang ada di blog saya ini. [Wylvera W.]

Note:
1. http://www.wylveraleisure.com/2017/12/hari-pertama-di-sydney.html
2. http://www.wylveraleisure.com/2017/12/gerimis-di-sydney.html
3. http://www.wylveraleisure.com/2018/01/hari-pertama-di-melbourne.html
4. http://www.wylveraleisure.com/2018/01/dari-federation-square-sampai-st-kilda.html
5. http://www.wylveraleisure.com/2018/03/dari-melbourne-zoo-ke-roxy-kebabs.html



Kamis, 01 Maret 2018

Dari Melbourne Zoo ke Roxy Kebabs



Di hari ketiga, sebelum kembali ke Sydney, kami diajak teman mengunjungi Melbourne Zoo. Mendengar nama kebun binatang, hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah kangguru. Selain penguin, kangguru menjadi hewan kedua yang ingin saya lihat langsung di Australia sebagai negara asalnya. 

Di depan Melbourne Zoo
Karena hari ketiga ini adalah hari kepulangan kami ke Sydney, kami harus benar-benar memanfaatkan sisa waktu. Setelah berkemas dan check out dari apartemen, kami langsung menuju Melbourne Zoo. Hanya sekitar setengah jam waktu yang kami habiskan untuk tiba di kebun binatang tertua di Australia itu. Melbourne Zoo dibuka pada tanggal 6 Oktober 1862. 

Peta lokasi Melbourne Zoo
Awalnya saya pikir kami harus antre membeli tiket masuk. Ternyata gratis. Ada teman Liza – kerabat teman traveling saya – yang bekerja di kebun binatang ini. Yang saya ingat, ia adalah orang Philipina, saya lupa namanya. Liza sudah mengurus semuanya dengan orang Philipina itu. Alhamdulillah … kami bisa menikmati kebun binatang tertua ini tanpa harus merogoh kocek. Rezeki Emak soleha. Aamiin .... *senyum manis*

Sayang ya, nggak bisa fotoan sama kanggurunya :'(
Koalanya sedang bobok cantik :)
Karena hari kerja jadi tidak terlalu ramai pengunjung di kebun binatang ini. Kami pun bebas mengeksplor. Dari informasi yang diberikan, ada lebih dari 320 jenis spesies asli Australia dan binatang lain dari seluruh dunia di Melbourne Zoo. Hewan spesial mereka seperti kangguru, koala, wombat (hewan herbivora berkaki empat dengan panjang kira-kira satu meter dan ekor yang sangat pendek), echidna (hewan bermoncong panjang dengan cakar melengkung dan punggung berselimut duri), penguin, lemur ( hewan dari Madagaskar, Afrika), anjing dingo, platipus, dan walabi, menjadi objek kunjungan terbanyak dari wisatawan.

Si Lemur yang lucu
Anjing Dingo
Jerapah dan Zebranya kompak
            Kami menyusuri jalan-jalan mirip labirin dengan petunjuk arah lokasi ragam binatang yang dipamerkan. Selain binatang yang saya sebut di atas, tentu ada binatang lainnya, seperti anjing laut, bermacam unggas, gajah, gorilla, singa, orang utan, beberapa jenis katak, hingga taman khusus untuk kupu-kupu, dan masih banyak lagi jenis reptil lainnya.Tidak diposting di sini ya, nanti mereka ikutan tebar pesona. *ngikik*

Tasmania Devil lagi istirahat
            Tidak semua binatang yang ada di sana yang saya tahu persis. Malah beberapa baru pertama kali saya lihat. Seperti Tasmanian Devil yang merupakan karnivora keluarga Dasyuridae. Binatang yang memiliki arti nama sebagai Iblis Tasmania ini pernah ditemukan habitat aslinya di daratan Australia. Sekarang mereka bisa ditemukan juga hanya di alam liar negara bagian Tasmania, termasuk pulau Maria pantai Timur. Pokoknya kebun binatang ini menyuguhkan paket komplit untuk ragam binatangnya.
Di dalam gedung ini, jenis reptilnya buanyaaak
Ini salah satunya saya lupa namanya
Kodok ijo ... hahaha
Halo ...! Saya bebek berparuh biru
            Kebun binatang yang berjarak 4 kilometer dari kota Melbourne ini juga dikenal dengan nama The Royal Melbourne Zoological Garden. Melbourne Zoo menjadi anggota institusi penuh dari Zoo and Aquarium Association (ZAA) dan World Association of Zoo and Aquarium (WAZA). Rasanya tidak cukup waktu sejam untuk mengitari kebun binatang yang memilik luas sekitar 22 hektar ini.

Lion King ... eh, singanya nggak sopan ya boboknya ... hihihi
Tapir tampak samping
#Bukanibutapir :p
Berada di Melbourne Zoo tidak terasa panas sebab areanya dikelilingi oleh taman-taman bunga yang asri. Kebun binatang ini sangat memenuhi syarat standar tempat wisata. Selain taman bunga, mereka juga menyediakan area tempat makan. Hanya sayang, hayalan saya yang ingin berfoto berdampingan dengan kangguru tidak tercapai. Area kangguru dan koala tidak memberi fasilitas berfoto bersama pengunjung seperti di kebun binatang Australia lainnya. Namun tiga jam di sana, saya bisa menyimpulkan bahwa Melbourne Zoo sangat pas untuk destinasi kunjungan keluarga. Banyak pelajaran tentang hewan yang bisa didapat dari kebun binatang ini.

Makan siang terakhir di Melbourne
            Setelah puas berkeliling di Melbourne Zoo, Liza mengajak kami makan di Roxy kebab. Lokasinya di daerah Roxyburgh Park. Padahal perut kami baru saja diisi oleh kentang goreng yang berukuran besar di kebun binatang tadi. Kami menurut saja demi memuaskan rasa penasaran. Menurut Liza, kami harus mencicipi kebab di restoran ini sebelum terbang kembali ke Sydney. Begitu sampai, saya tidak melihat tampilan restoran yang mewah. Terlihat sederhana saja.

Dijamin halal katanya ini. Alhamdulillah
Menu ekstra yang terpaksa dibawa sampai ke bandara :)
            Setelah memarkirkan mobil di area parkir yang lumayan luas, kami pun masuk. Saya masih berpikir di mana letak istimewa dari restoran ini. Begitu duduk, seorang pelayan perempuan Turki langsung menyuguhkan segelas air dingin. Ia juga menyodorkan buku menu. 

Ini dia pilihan saya - Grilled Chicken and French Fries
            Saya memilih grilled chicken dan kentang goreng. Kak Nuraida (teman traveling saya), memilih grilled chicken, salad dan sausnya (saya lupa nama saus itu). Dari pesanan itu kami mendapat ekstra potongan roti Turki yang ukuran lumayan besar. Meskipun kami memilih ukuran kecil, tetap saja terasa besar buat kapasitas perut kami. Bersusah payah lah kami menghabiskannya. Namun tidak dengan Liza yang sudah bertahun-tahun tinggal di Melbourne. Ia terlihat santai saja melahap menu pilihannya. Pantas saja Liza sedikit memaksa kami untuk mampir di restoran ini. Rasa makanannya memang pas dan tidak terlalu asing di lidah saya. Entah kalau Kak Nuraida ya ... sebab saya lihat dia agak kesulitan menikmati menu pilihannya. *hihihi ....*

Ini pilihan teman saya yang akhirnya tidak habis ... hahaha


            Pertemuan dan kebersamaan itu terpaksa kami sudahi. Kami harus berpisah. Jadwal keberangkatan pesawat yang akan membawa saya dan Kak Nuraida kembali ke Sydney tinggal dua jam lagi. Liza mengantarkan kami sampai di depan pintu keberangkatan Bandar Udara Tullamarine. Ada rasa berat untuk meninggalkan kota itu karena kami belum menikmati semua lokasi wisata yang ada di sana. Insya Allah, kami punya kesempatan lagi untuk kembali. Aamiin. [Wylvera W.]

Note: Catatan sebelumnya ada di sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...