Senin, 17 Juni 2019

Keromantisan Whanganui dan Auckland


        Whanganui memiliki tempat-tempat menarik bagi para turis. Namun apa daya, tujuan kami traveling ke Selandia Baru bukanlah untuk menyinggahi tempat-tempat wisata di kota-kota yang kami singgahi. Kami memilih kota-kota itu hanya untuk beristirahat dari kelelahan menyetir sekian ratus sampai ribuan kilometer.
         Jujur, namanya traveling ke negara yang segala sesuatunya relatif mahal, ada rasa sedikit kecewa di hati. Biasanya kami melakukan perjalanan ke negara di luar Indonesia, selalu ada cerita yang saya bawa pulang tentang tempat-tempat khusus yang menjadi tujuan wisatawan ke negara tersebut. Kali ini, sangat berbeda. Tidak ada dalam rencana perjalanan kami untuk menyinggahi tempat-tempat wisata itu.
      Begitu pula ketika memasuki Whanganui dan menginap di kota yang merupakan salah satu destinasi dengan panorama alam sangat indah itu. Saya harus ingat pada komitmen awal dengan suami bahwa tidak ada jadwal berwisata atau mampir-mampir syantik menghabiskan waktu.

Just driving along the road
         Dari Whanganui, kami kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan-jalan yang tenang dan menyejukkan mata. Memasuki kota-kota kecil dengan nama yang agak sulit saya mengingatnya karena hampir semua menggunakan Bahasa Maori. Kota-kota itu selalu terlihat cantik dengan rumah-rumah yang tertata rapi, tenang, dan tertib.

Ups! Bu Sopir lagi serius menatap masa depan 😝

Gantian yang serius nyetir. 😎

             Ditambah peraturan lalu lintas yang dipatuhi sedimikian taat oleh setiap pengguna kendaraan. Membuat kami tidak pernah khawatir disalib tiba-tiba di tikungan atau keluar dari jalur dan marka jalan. Ketika menyetir, satu hal yang sangat membuat saya percaya diri adalah adanya alat pengontrol kecepatan di mobil yang kami sewa. Saya tidak terlalu khawatir akan terlena dan lupa diri untuk menekan pedal gas menanjak dalam putaran kecepatan di luar batas ketentuan.

Tidak akan jenuh menyetirnya

         Betapa ini menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi saya. Dulu saat di Amerika, saya ingin sekali mengganti posisi suami menyetir saat kami melakukan perjalanan panjang selama 15 hari. Namun itu tidak terjadi. Waktu itu saya belum punya SIM Internasional yang saya tahu bahwa Amerika sangat ketat dengan peraturan menyetir ini. Meskipun di salah satu blog pelancong yang pernah menyetir di New Zealand, kata penulisnya ia tidak perlu mengurus SIM Internasional. Namun suami saya lebih memilih yang pasti dan aman. SIM Internasional yang kami miliki lebih membuat kami percaya diri ketika menyetir dari kota ke kota di negara itu.

Tariiik, Bu Piiir ...! 😀

            Menyetir di jalanan yang mulus, tenang, panjang serta nyaris tidak ada saingan kendaraan lain membuat jarak tempuh seolah begitu dekat. Yang perlu diwaspadai hanyalah hewan yang mungkin saja tiba-tiba menyeberang sebab di beberapa tempat ada sign board bergambar hewan. Ini menunjukkan pengendara harus berhati-hati terhadap hewan (domba atau sapi) yang mungkin saja terlepas dari pembatasnya lalu melintas di jalan. Untunglah, selama di sana kami tidak pernah melihat hewan-hewan yang melintas.

Serasa jalanan milik sendiri ini 😋

        Kami kembali memulai perjalanan menuju Auckland. Di pertengahan jarak, ada pesan dari teman saya yang pernah tinggal di New Zealand. Sekarang mereka menetap di Sydney. Katanya dari Whanganui, sebelum tiba di Auckland, sempatkanlah mampir ke Lake Taupo. Walau rutenya sedikit memutar dan agak jauh.


Menepi sejenak bikin foto ini 😘 

          Saya bacakan pesan yang masuk ke hape saya itu ke suami. Tidak ada jawaban pasti. Walaupun kepengin, kita terpaksa harus kembali melihat kemungkinan dan kesempatan. Seperti apa Lake Taupo itu? Tentu saja sangat indah. Saya sudah melakukan penulusuran tentang New Zealand sebelum kami berangkat. Termasuk keindahan Lake Taupo. Namun lagi-lagi, tempat wisata terkenal itu tidak masuk dalam list perjalanan kami.

Honeymooon?       
    Setiap traveling berdua, ada saja pertanyaan tentang honeymoon. Maka jika ditanya, kali ini honeymoon yang keberapa, saya terpaksa harus mengintip album foto perjalanan yang lainnya. Sebab setiap kali terbang ke luar negeri atau domestik berdua, kami seolah-olah sedang menikmati bulan madu saja. Jadi perjalanan ke Selandia Baru ini entah bulan madu yang keberapa yang pernah kami nikmati berdua. Saya lupa. Hahaha ….

Spot foto yang bikin buru-buru nginjak rem

Puas banget foto-foto di alam bebas ini 


              Karena kami tidak punya rencana untuk mampir di setiap tempat wisata kota-kota yang kami lalui, sebagai alternatifnya kami benar-benar menikmati setiap kilometer panorama yang kami lewati. Merasa bebas menentukan kapan harus berhenti di pinggir jalan yang rasanya semua layak untuk dijadikan latar belakang foto berdua. Suasana itulah yang membuat kami merasa sedang menikmati bulan madu yang unik.

Pak Suami candid ini

Dombanya somse, pada menjauh 😁


Lumayanlah bisa foto dengan mereka itu 👆😄
         Ketika melihat pantai yang sunyi, suami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Lazimnya orang yang beristirahat di dekat pantai dan tepat di bawah pohon yang rindang, tentu memilih menggelar matras atau alas duduk yang memadai. Karena kami tidak membawa matras apalagi karpet terbang ala Aladin dan Jasmine, maka sajadah pun jadi alternatif alas duduk kami berdua. Otomatis jarak duduk pun semakin merapat. Jadi tak perlu mengatur kemesraan sedemikian rupa. Semua terjadi alami ala suami istri. Catat ya ... suami - istri - halal. Hihihi ….
Pantainya sepi dan bersih

Camilan sederhana yang in shaa Allah halal

             Tidak adanya persiapan membawa alas duduk justru membuat suasana di antara kami semakin romantis, layaknya pasangan yang sedang menikmati suasana honeymoon. Hahaha … dilarang ikutan ngikik.
     Dari lokasi kami duduk, ada juga keluarga yang sedang mampir di tepi pantai itu. Hanya bedanya dengan kami, mereka membawa perlengkapan lengkap hingga alat untuk memanggang pun benar-benar disiapkan. Saya dan suami sebaliknya. Kami cukup menikmati camilan yang sempat kami beli di supermarket. Ngirit? Enggak juga sih. Sekadar menikmati nuansa yang berbeda saja, kata suami saya. Dan, inilah honeymoon ala kami.

Tiba di Auckland
       Menyetir bergantian yang kami lakukan, akhirnya membawa kami tiba di Auckland menjelang senja. Suami memilih Grand Millennium sebagai tempat penginapan kami. Kami disambut oleh resepsionis yang ramah. Begitu ia tahu kalau kami dari Indonesia, tidak ada lagi dialog dalam Bahasa Inggris. Ternyata anak muda itu anak Bandung yang sedang mengadu keberuntungan dengan bekerja di Selandia Baru.


Lobi hotel
                 Keramahannya membuat rasa lelah kami setelah menempuh jarak dan waktu yang panjang, hilang seketika. Tanpa menunggu proses penyerahan kunci yang bertele-tele, anak muda yang saya lupa namanya itu pun menyerahkan kunci kamar ke suami saya. Melihat penampakan lobi hotel yang lumayan mewah, saya sudah bisa menebak kalau kamar yang dipesan suami untuk kami berdua juga tidak jauh berbeda dengan hotel atau penginapan sebelumnya.

Restorannya

        Dugaan saya tidak meleset. Suami seperti menebak pikiran saya. Bibirnya tersenyum dan berkata, “Please my queen ….” sambil kembali merentangkan sebelah tangannya mempersilakan saya masuk. Masya Allah …. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Saya terharu dengan cara suami menyenangkan hati saya. Meskipun saya tidak pernah meminta hal-hal seperti itu. Saya sangat menghargai upayanya selama perjalanan di negeri yang dalam bahasa Maori disebut sebagai Aotearoa (tanah berawan putih panjang) ini. Thank you ya, Abang ….

Tempat tidurnya menggoda buat langsung pules 😅

Kamar mandi paket komplit

           Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan badan, suami mengajak saya keluar untuk jalan-jalan melihat suasana di luar hotel. Ia tidak memberitahukan akan ke mana. Saya mengikuti saja. Ternyata suami membawa saya ke lokasi yang lumayan populer.

Mengunjungi salah satu Ikon di Auckland
         Auckland merupakan “rumah” bagi lebih dari 1, 4 juta orang (sepertiga dari populasi di Selandia Baru). Kota yang besar, sibuk, multikultur, penuh semangat, dan menyenangkan. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dilakukan di kota Auckland. Karena kami hanya punya waktu semalam, maka suami memilihkan satu tempat yang menjadi icon kota ini. Sky Tower namanya. Bangunan dengan struktur tertinggi di Southern Hemisphere dan menyajikan lebih dari seratus pemandangan yang dapat dilihat dari puncaknya. Masya Allah ….


         Setelah membeli tiket masuk, kami ditawari untuk berfoto di depan beberapa latar terkait dengan penampakan menara. Jadilah tiga foto ini hasilnya. Saat menyelesaikan catatan ini, saya baru ingat belum sempat mengunggahnya di website yang mereka berikan ketika itu. Untung belum lewat tanggal batas unggahnya. Selebihnya kami menggunakan kamera hape untuk melengkapi foto kenangan lainnya. Hehehe ... ngirit sih kalau ini.




           Pembangunan Sky Tower dimulai pada tahun 1994. Pada saat itu dianggap sebagai penggunaan dana terbesar di Selandia Baru. Seperti banyak bangunan besar lainnya, Sky Tower juga mengalami kontroversi. Banyak yang mengira bahwa menara itu akan merusak pemandangan dan tidak akan menarik cukup banyak pengunjung. Namun setelah bangunannya selesai dan dibuka untuk umum dan pengunjung pada bulan Agustus 1997, Sky Tower dengan cepat membalikkan opini publik. Sejak itu mereka tidak pernah mau mundur lagi. Hingga hari ini, Sky Tower menjadi salah satu ikon Selandia Baru yang paling dicintai oleh penduduk setempat dan terkenal ke seluruh penjuru dunia.

Foto pakai tongsis sendiri
             Sky Tower dilengkapi dengan sistim hidran kebakaran yang dapat memompa 2400 liter air per menit. Bangunannya akan tetap berdiri jika gempa berkekuatan 8.0 Skala Richter terjadi dalam jarak 20 Kilometer dari Sky Tower. Ada 1267 anak tangga mengarah dari dasar menara menuju sky deck-nya. Buat saya ini sangat menakjubkan.
             Alhamdulillah, kami bisa sampai di puncak tertingginya malam itu. Meskipun kami tidak mendapatkan pemandangan yang lebih jelas jika dilihat pada siang hari, tetap saja rasa syukur saya tak henti melihat kemegahan bangunan ini. Allah sudah memberi kami kesempatan untuk menginjakkan kaki di sana. In shaa Allah, bisa kami ulang kembali bersama anak-anak tercinta. Aamiin.

Pemandangan dari lantai 52


          Setelah puas berfoto dengan latar pemandangan yang penuh diwarnai oleh cahaya lampu-lampu dari kota Auckland, suami mengajak saya bersantai di restorannya. “This is the real honeymoon,” candanya setelah memesan makanan untuk kami. Dua gelas affogato dan satu tuna sandwich yang cukup kami nikmati berdua pun sudah terhidang di meja.

Yang gak kuat lihat ini, diskip aja ya. Wkwkwkwk
            Di awal, kami sibuk memanfaatkan tongsis untuk mengabadikan momen berdua saat berada di puncak menara. Kali ini, saya memberanikan diri meminta jasa pelayan restoran untuk memoto kami. Alhamdulillah, pelayannya welcome banget dan sigap memoto dengan arahan yang bikin kami tertawa bersama.



          Kami habiskan malam sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Bahagia itu memang sangat sederhana. Semua muaranya ada di pikiran dan hati. Jika keduanya merasakan nyaman, maka tidak ada alasan untuk menggerutu saat menjelang tidur. Justru doa dan ucapan rasa syukurlah yang layak kami pilih sebagai penutup malam di Auckland ketika itu.
    Esoknya kami akan menempuh perjalanan yang in shaa Allah lebih seru lagi. Siap-siap ya para penggemar film "The Lord of the Rings". Tunggu lanjutannya. Yang sabaaar ….😘

Note:
Cerita sebelumnya ada di:
1. sini
3. sini

Senin, 10 Juni 2019

838 Kilometer Menuju Nelson – Whanganui


         Kami tinggalkan kota Christchurch dengan perasaan yang masih menyisakan perih mengingat tragedi penembakan itu. Sementara kami harus menyiapkan stamina kembali untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Saya dan suami harus siap bergantian menyetir dalam perhitungan waktu 5 jam 19 menit menuju Nelson. Kali ini giliran saya yang menyetir. Ashiaaap!

Sopir AKAP ambil alih. Hahaha
Tujuan kami sebenarnya bukan kota Nelson melainkan Auckland. Namun karena jarak tempuh yang lebih dari 1000 kilometer, suami terpaksa memecahnya menjadi 2 persinggahan, Nelson dan Whanganui. Sementara itu, jarak tempuh yang harus kami lalui menuju Nelson mencapai 415 kilometer. Dalam perkiraan waktu, kami akan tiba di Nelson pada malam hari. 

Tinggal tekan pedal gas ... cuuuzzz! 
Bu Sopir rehat sejenak :p
Tidak ada waktu luang yang bisa membuat kami menyinggahi tempat-tempat tertentu di antara jarak tempuh Christchurch dan Nelson. Hanya memuaskan hati menikmati panorama alam Selandia Baru yang bersih, tenang, dan nyaman. Sesekali kami ge-er kalau jalanan mulus yang kami lewati serasa milik berdua saja. Saking sedikitnya kendaraan yang melintas.

Sesama sopir harus mesra. Hahaha
Sopir merangkap model. Hihihi
            Mengingat New Zealand dijuluki sebagai negeri kiwi, saya dan suami semakin penasaran ingin melihat letak kebun kiwi itu. Sejauh mata memandang dari balik kaca jendela mobil, kami tidak melihatnya. Yang ada hanya pohon-pohon anggur serta domba-domba dan sapi-sapi yang bebas dilepas di padang rumput dengan pembatas pagar setinggi pinggang orang dewasa. Mungkin karena kami tidak mampir di sudut-sudut kota dan desanya kali ya. Jadi enggak menemukannya.

Gak pernah bosan menyetir di jalanan seperti ini

            Saya ingin sekali mendekati domba-domba yang lucu itu dan berfoto. Sementara suami selalu mengingatkan saya pada durasi dan jarak yang masih harus kami tempuh. Saya harus mengalah untuk mengambil kesempatan itu di rute lainnya. Kami hanya menyempatkan diri menepi sejenak untuk memberikan jejak bahwa kami telah melewat jalan itu. Selebihnya kami hanya singgah untuk menambah bahan bakar dan camilan pengisi perut.

Kamarnya selalu bersih
Akhirnya kami tiba di Century Park Motor Lodge, 197 Rutherford Street, Nelson City Center, Nelson 7010, New Zealand. Waktu sudah lumayan larut. Untung saja stok makanan yang kami beli di perjalanan masih memadai. Setelah bersih-bersih badan dan menyantap makan malam yang ala kadarnya, saya dan suami terlelap hingga menjelang subuh.

Kelokan mendebarkan hingga udara laut yang menenangkan
            Demi mengejar jadwal keberangkatan kapal feri dari terminal di Picton, kami harus pagi-pagi sekali meninggalkan Century Park Motor Lodge di Nelson. Suami lupa mengatakannya ke petugas penginapan tersebut. Setelah ditelepon berulang-ulang tidak ada yang menyahuti, kami terpaksa meninggalkan kunci motel di gagang pintu kamar. Hingga hari ini ternyata tidak bermasalah. Namun jika tidak terdesak, jangan ditiru ya cara seperti ini. Hehehe .... .


Menitipkan kunci 
            Perjalanan di hari yang masih gelap pun dimulai. Awalnya masih tenang dan lurus-lurus saja. Tidak sampai lima belas menit, kami mulai dikejutkan oleh jalur yang harus kami tempuh di kegelapan itu. Sekitar 150 Kilometer jarak tempuh yang kami lalui membuat detak jantung lebih cepat dua kali. Pengalaman pertama ini membuat kami benar-benar merasa seperti turis yang sedang diplonco di negeri orang. Ya Rabb … kami tidak bisa mundur lagi. Tidak ada jalur alternatif. Sementara tiket feri sudah dipesan dan harganya lumayan mahal.


Awalnya masih tenang
Kelokan pun dimulai
            Jalan berkelok tajam, menanjak dan menurun dengan berharap pada penerangan lampu mobil sendiri itu sangat membuat kami berdua menahan napas. Saya sebagai navigator suami, tetap berusaha mengatur ritme jantung dan tak lepas dari zikir panjang agar Allah selalu melindungi perjalanan kami. Sesekali kami berpapasan dengan truk yang membawa kontainer besar. Atau sesekali kami harus mengalah untuk membiarkan kenderaan besar itu mendahului kami. 
       Saya teringat pengalaman yang mirip saat kami terjebak di badai salju ketika menuju Washington DC. Bedanya saat itu musim salju dan masih ada kendaraan yang sedikit membuat kami tenang. 

Kelokannya tajam dan pendek-pendekk :'(
            Kembali ke jalan berkelok-kelok yang belum berakhir. Minim komunikasi di dalam mobil. Konsentrasi suami saya penuh pada arah jalan. Hanya suara kecemasan saya kerap mengingatkan suami untuk berhati-hati ketika tikungan tajam di jalan yang hanya cukup untuk dua kendaraan. Belum lagi satu dua bangkai hewan yang masih tergeletak di tengah jalan yang harus kami hindari. Sementara kami tidak tahu seperti apa tepian jalan yang kami lalui. Jurangkah atau lembah-lembah tempat binatang buas hidup bebas. Saya membayangkan kelok 9 yang ada di Sumatera Barat. Apakah kelokan itu lebih tajam dan lebih panjang serta mendebarkan? Entahlah, saya belum pernah melewati kelok 9 itu. Dan kami harus menuntaskan rute ini di saat hari masih gelap.

Di sebelah kanan itu curam banget
            Alhamdulillah, spot jantung itu akhirnya usai juga. Kami tiba di terminal feri tepat waktu. Perut saya terasa agak mual ditambah kepala yang sedikit pusing. Mungkin itu dobel efek. Satu karena belum sempat sarapan dengan sempurna saat berangkat tadi, kedua pengaruh kecemasan di sepanjang jalan yang mendebarkan.
Ngisi amunisi dulu di feri sebelum melanjutkan perjalanan darat
Selfie lagi
            Mobil kami sudah berada di dalam kapal feri. Muatan feri lebih ramai dari feri pertama yang pernah kami naiki. Kami turun dari mobil dan memilih mengambil tempat di dekat restorannya. Menyambung sarapan yang belum sempurna saat berangkat adalah pilihan tepat. Kami menikimati makanan yang lebih tepat disebut brunch (breakfast and lunch) itu karena waktunya di antara jam sarapan dan makan siang. Hehehe ….
           Penumpang didominasi oleh mereka yang berusia 50 - 80an tahun. Mungkin saat itu adalah waktu liburannya penduduk usia lanjut. Senyum ramah kembali saya lihat saat berpapasan dengan mereka. Ciri khas orang Selandia Baru yang sudah saya buktikan sendiri sejak menjejakkan kaki di ibukota negara ini.

Mumpung dermaganya masih jauh :)

Puasin selfie. Hahaha
            Karena waktu tiba di dermaga masih lama, saya mengajak suami melihat-lihat laut dari dek feri. Suami saya menolak karena ia kurang nyaman dengan angin laut. Saya keluar sebentar sambil mengambil beberapa foto. Suami saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan laut. Saya sebaliknya. Walaupun tidak begitu jago berenang, saya sangat suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan air, termasuk laut. Kontras ya? Hehehe ….


Sedikit maksa suami berfoto sesaat sebelum turun. Hahaha
            Penyeberangan yang menghabiskan waktu sekitar tiga jam itu akhirnya berakhir juga. Kami kembali mengikuti antrian kendaraan untuk keluar dari feri. Setelah keluar dari feri, tujuan utama kami adalah menuju penginapan. Tidak bisa berpura-pura tidak capek, stamina kami memang sudah mulai menurun. Setelah suami menyetir sekian kilometer, saya kembali mengambil alih.

Nyetirnya jadi ketagihan
            Untunglah, jarak penginapan dengan dermaga feri tidak terlalu jauh. Akhirnya kami sampai juga di Aotea Motor Lodge. Masya Allah, saya tidak menduga kalau kamar yang dipesan suami saya ini sangat bagus. Atau mungkin umumnya penginapan di kota yang penuh dengan ketenangan ini  selalu menyajikan pelayanan kamar yang nyaman? Ah, entahlah. Yang pasti, kejutan-kejutan kecil dari suami selama perjalanan di New Zealand ini sungguh menyenangkan bagi saya. 
Kamar itu dilengkapi dengan jacuzzi dalam ukuran kecil. Jacuzzi ini adalah tempat pemandian seperti kolam dengan pancaran air hangat di bagian bawahnya untuk merelaksasi otot yang kaku serta meningkatkan denyut jantung sehingga aliran darah menjadi lancar.


Jacuzzi yang dianggurin :'(
            Saya sudah berangan-angan untuk mencoba fasilitas jacuzzi itu. Namun persediaan makanan kami sudah habis. Tidak bisa berlama-lama istirahat di kamar yang nyaman itu. Kami harus keluar lagi mencari camilan dan mengisi bahan bakar mobil. Saat kembali ke penginapan, hari sudah malam dan kelelahan membuat rencana berantakan karena tertidur hingga menjelang Subuh. Bye jacuzzi …!
            Sampai di sini dulu ya. Cerita perjalanan berikutnya akan saya lanjutkan di postingan setelah ini. Tetaplah sabar menunggu.


Note:
Cerita sebelumnya bisa cek di:
1.di sini
2. di sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...