Rabu, 10 Januari 2018

Hari Pertama di Melbourne



          Catatan perjalanan di Sydney dan Melbourne masih berlanjut. Waktu enam hari harus kami bagi sedemikian rupa sebab kami juga ingin mampir dan melihat kota Melbourne. Di hari ketiga (Selasa, 5 Desember 2017), kami bersiap terbang menuju Melbourne.

Dapat bangku paling belakang itu serasa lebih lama sampainya ... hihihi
            Jadwal penerbangan pukul 10.05 waktu Sydney. Kami tiba di bandara Sydney satu setengah jam lebih awal. Check in untuk penerbangan yang kami tumpangi belum dibuka. Saya memanfaatkan waktu luang dengan mengamati suasana bandara pagi itu. Wajah-wajah Asia mendominasi antrian di mesin check in. Saya tidak heran karena di Sydney memang banyak tersebar para pendatang berwajah oriental. Bahkan sebagian besar dari mereka menjadi penduduk yang ikut memengaruhi roda perekonomian di kota tersebut.
Sesaat sebelum melakukan check in, seorang petugas menghampiri kami. Ia menanyakan koper yang dibawa oleh Kak Nuraida. Penerbangan domestik di Australia membatasi bagasi yang dibawa penumpang pesawat. Hanya 7 kilogram yang diperbolehkan. Penentuan berat ini sedikit membuat kami terkendala di bandara. Teman traveling saya terpaksa harus membayar kelebihan berat koper yang dibawanya. Syukurlah, kendala itu tidak terlalu membuat kami cemas dan batal terbang. Setelah urusan check in selesai, kami langsung menuju gate untuk menunggu boarding.  


Menunggu boarding

            Sambil menunggu, saya memerhatikan beberapa penumpang yang tas dan kopernya kembali ditakar beratnya oleh petugas maskapai. Ada yang bernasib sama dengan Kak Nuraida dan terpaksa harus membayar. Mungkin mereka melewati meja check in dan melakukannya secara online. Ada juga yang sedikit protes agar tidak dibebankan biaya kelebihan lagi. Namun peraturan tetaplah peraturan, mereka wajib membayar jika ingin terbang bersama Tiger Air.

Pemandangannya bikin seger ;)
            Akhirnya, penerbangan menuju Bandar Udara Tullamarine, Melbourne pun dimulai. Cuaca pagi menjelang siang terlihat lumayan cerah dari balik jendela pesawat. Saya yang tidak bisa tidur, sesekali sibuk mengabadikan panorama di luar jendela pesawat. 

Sampai di bandara Tullamarine, Melbourne
            Tepat pukul 11.40, kami tiba di Melbourne. Saya tak sabar ingin segera melihat suasana ibukota negara bagian Victoria di Australia itu. Selain terkenal sebagai kota terpenting kedua dari segi bisnis, Melbourne juga menjadi kota terbesar di Victoria.

Dari bakso sampai apartemen yang memanjakan
            Ada yang akan menjemput kami di bandara Melbourne. Perempuan cantik mantan pramugari yang juga kerabat Kak Nuraida itu bernama Liza. Dari bandara kami langsung diajak menuju rumah Liza dan keluarga kecilnya di kawasan Shunsine. Mobil berwarna merah milik Liza meluncur dengan kecepatan sedang. Saya duduk di samping Jessica, putri Liza yang sedang tertidur lelap. Sambil menyimak obrolan sarat kerinduan antara Kak Nuraida dan Liza, sesekali saya memotret jalanan yang kami lewati.
Jalan dan awan, kombinasi yang cantik
            Sekitar setengah jam, kami pun tiba di kawasan perumahan yang nyaman. Liza sibuk mempersilakan kami masuk dan melihat-lihat rumah yang baru selesai dibangunnya itu. Diam-diam saya merasa kagum mendengar cerita Liza. Perjuangannya mengumpulkan uang selama bertahun-tahun bekerja di maskapai penerbangan, Liza mampu membeli tanah dan mendirikan rumah bagus di Melbourne. Liza menikah dengan laki-laki berkewarganegaraan Australia.

Bantuin Liza masak bakso
Setelah mengajak kami berkeliling melihat ruang-ruang di dalam rumah itu, Liza mulai sibuk mengolah masakan di dapurnya yang menyatu dengan ruang keluarga. Saya tidak ingin tinggal diam dan ikut membantunya menyiapkan hidangan makan siang untuk kami.
            Aha! Ada bakso urat yang menunggu matang di dalam panci. Sawi yang baru saya potong menjadi pelengkap kuah bakso itu. Sambil menunggu Liza menggoreng ayam, saya mengaduk-aduk bakso yang hampir matang. Setelah masakan selesai, kami pun siap menyantap bakso buatan Liza. Tiba-tiba, Melbourne rasa Bekasi mampir di lidah saya. Maknyuuus …!

Bakso urat dan ayam goreng tepung ala Liza
            Setelah selesai menikmati makan siang di rumah Liza, kami diantar menuju apartemen yang sudah dipesannya. Lokasi Melbourne Short Stay Apartement itu dekat dengan Southern Cross Station.
            Setelah check in, kami diberi kunci oleh petugas apartemen. Begitu menyusuri lorong menuju kamar apartemen, saya sibuk menebak-nebak kondisi di dalam kamar itu. Bangunan apartemen yang lumayan mewah dan berada di jantung kota Melbourne, tentu membuat saya kepo menerka-nerka tarifnya.
Bisa nginap di sini gratis itu ... sesuatu :-D
Serasa apartemen sendiri :-]
Taraaa …!
Mendadak saya terharu begitu memasuki kamar yang dipesan Liza untuk kami. Ukuran dan desain kamar apartemen itu benar-benar memanjakan menurut saya. Kami seolah tidak sedang ingin menginap di kamar hotel.  Kamar itu paket lengkap. Ada dapur dengan perangkat masaknya, ruang santai, meja makan, kamar tidur yang bersih, serta kamar mandi. Saking terharunya, saya tak berani bisik-bisik bertanya ke Kak Nuraida tentang tarif apartemen yang dihadiahkan Liza untuk kami itu. Alhamdulillah … hanya itu yang berulang terucap dalam hati saya.

Ini bukan promo apartemen lho .... ;)
Kamar mandinya haruuum ....
Liza tidak bisa berlama-lama menemani kami di apartemen. Gadis kecilnya yang berparas campuran mulai tidak betah. Liza pun pamit dan lagi-lagi berharap agar kami merasa nyaman selama di Melbourne. Yap! Tentu saja, kami akan merasa nyaman dengan service yang memanjakan ini. Thank you, Liza!

Menahan dingin demi menemukan masjid
            Hari pertama di Melbourne kembali kami awali dengan mencoba menemukan masjid. Setelah selesai menunaikan salat zuhur dan ashar sekaligus di apartemen, kami bergegas menuju stasiun kereta. Saya pun siap mengaktifkan google maps di hape sebagai pemandu jalan. Kami ingin mencari lokasi Shunsine Mosque.
Saya menyimpannya :)
            Dari stasiun Southern Cross yang berjarak sekitar 300 meter dari apartemen, kami mencari kereta menuju Flinders Street Railway Station. Hunting masjid di negeri yang bukan berbasis Islam pun dimulai.
Islam bukanlah agama mayoritas di Australia. Jumlah penduduk yang beragama Islam hanya sekitar 500 ribu atau sekitar 3% dari 24 juta total penduduknya. Namun, Islam telah menjadi bagian dari sejarah warga Australia, terutama jika ditelusuri dari bangsa Aborigin sebagai penduduk aslinya.
            Di Islamic Museum Australia, sejarah mencatat bahwa Islam pertama kali dibawa oleh pelaut dari Makassar ke Australia. Mereka mendarat di negeri itu sekitar tahun 1700-an. Cara mereka datang pun sangat sopan dan melewati izin penduduk asli. Tujuannya sangat sederhana, yaitu ingin mencari teripang di pantai Utara Australia. Mereka menetap beberapa waktu dan berinteraksi dengan warga Aborigin.
Selain dari pelaut Makassar, Islam juga masuk ke Australia melalui pengaruh para penunggang onta dari Afghanistan dan Pakistan sekitar tahun 1870 – 1920. Mereka datang dan bekerja di proyek pembangunan jalur kereta yang sedang dikerjakan oleh pemerintah Inggris pada masa itu. Onta-onta yang mereka tunggangi dibutuhkan sebagai hewan angkut material. Dalam sejarah Australia, mereka ini disebut ‘Camellers’. Keberadaan mereka tentu berpengaruh secara spiritual di Australia.
Setelah itu, di tahun 1900-an, mulailah berdatangan buruh-buruh migran dari berbagai negara Timur Tengah dan Afrika. Bangsa Turki menjadi salah satu pendatang yang kian tersebar di beberapa kota Australia, termasuk Melbourne. Hingga saat ini Islam pun terus berkembang di negeri kangguru itu.
             Kembali ke catatan awal kami mencari masjid yang bernama Shunsine Mosque. Kami sudah tiba di Albion Station. Dari stasiun Albion ini kami harus berjalan kaki sekitar dua menit menuju halte untuk menaiki bus yang menuju Chatsworth Av. Nomor bus yang harus kami naiki adalah 426. Hembusan angin mulai terasa dingin di kulit. Sambil menunggu, saya dan Kak Nuraida lagi-lagi tak lupa mengabadikan lokasi halte. 

Halte di dekat stasiun Albion
            Begitu melihat bus bernomor 426 tiba, kami langsung naik. Lima menit berada di bus, entah kenapa saya ingin sekali melihat rute menuju lokasi masjid yang kami tuju sekali lagi. Alamaaak …! Ternyata bus yang kami naiki salah. Nomornya sama tapi tidak berhenti di halte terdekat dengan masjid. Saya buru-buru mengajak Kak Nuraida turun di halte terdekat.

Kak Nuraida
Mulai tegang diterpa angin dingin
            Kami pun tertegun dan kembali menunggu bus berikutnya di halte tanpa kubikal itu. Angin semakin kencang bertiup. Kami lupa membawa jaket. Padahal sudah diingatkan kalau cuaca di Melbourne memang sulit ditebak. Sesaat hangat, tapi bisa mendadak dingin menusuk kulit. Apa boleh buat. Kami berusaha menahan hawa dingin itu.
Karena mulai tidak kuat menahan dingin, saya kembali me-resert alamat masjidnya. Penasaran. Tiba-tiba Kak Nuraida, berseru, “Itu kubah masjid apa ya, Dek?” Saya tertegun. Tanpa sengaja kami melihat puncak kubah masjid di kejauhan. Diiringi dengan menertawakan keluguan, kami bergegas melanjutkan berjalan kaki mencapai posisi masjid yang puncak kubahnya menyembul dari kejauhan itu.  
Kubah masjidnya semakin terlihat besar
Benar! Itu adalah Shunsine Mosque. Ternyata bus yang kami naiki tadi sebenarnya tidak salah-salah banget. Walaupun tidak turun di halte terdekat, tapi posisi halte yang akan disinggahi bus itu tidak terlalu jauh dari masjid. Kami kembali saling menertawakan (geli kalau ingat momen itu).

Sedih karena tidak bisa sholat di Sunshine Mosque
            Saat kami tiba memang waktu memulai salat ashar sudah berlalu. Dari luar, masjid terlihat lengang. Kami masuk dari samping bangunan masjid yang sepertinya sedang ada pemugaran. Memutari bangunan, saya melihat beberapa kendaraan diparkir di halaman masjid bagian depan. Saya pikir, itu pasti mobil para jema’ah. Saya sudah girang karena meskipun tidak salat wajib, minimal kami bisa melakukan salat sunnah di dalam Shunsine Mosque. 

Masjid Shunsine tampak dari depan
            Sambil berjalan mengitari masjid, kami mencari pintu masuk. Belum sempat membuka pintu masjid, saya melihat beberapa pasang sepatu ditinggalkan di rak sepatu yang letaknya persis di samping pintu. Rasa penasaran lebih kuat dibanding mengurungkan niat untuk masuk ke masjid itu. Benar saja. Di dalam ternyata sedang berlangsung pengajian. Kami gagal masuk. Sedih rasanya. 

Lorong bagian depan masjid
            Sunshine Mosque berada di bawah tanggung jawab Cyprus Turkish atau Turkish Cypriot (sebutan untuk orang Siprus beretnis Turki) yang hijrah ke Australia. Orang-orang Cyprus Turkish yang bermukim di Australia ini sudah menjadi bagian dari warga negara di negeri kangguru itu. Sementara, nama resmi dari masjid ini juga menyandang nama mereka yaitu Cyprus Turkish Islamic Community of Victoria.
Dari pembelian gedung di 588 Rathdowne street, Carlton, mereka membentuk Asosiasi Turki Siprus yang kegiatannya dipusatkan di gedung berbentuk masjid itu. Termasuk untuk salat berjamaah. Pada perkembangannya, bangunan berupa masjid ini kemudian dikenal dengan nama “Shunsine Mosque” atau Masjid Shunsine. Masjid yang pembangunannya dimulai pada tahun 1992 ini adalah masjid terbesar di negara bagian Victoria, Australia. Itu sebabnya mengapa saya ingin sekali melihat masjid ini dari dekat.

Berfoto di halaman masjid sebagai pengobat hati

            Masjid Shunsine memiliki 17 kubah dan berlantai dua. Lantai atas sebenarnya diperuntukkan bagi jema’ah perempuan. Namun sore itu kondisinya terkunci dan digembok. Kami harus menyerah pada rasa penasaran dan niatan untuk melakukan salat di dalam masjid tersebut. Dengan berat hati, kami akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Shunsine Mosque.

Di Albion Station
Keretanya sudah datang!
            Sambil menunggu kereta, kami mengobati hati yang kecewa karena tidak berhasil mengeksplor bagian dalam Masjid Shunsine dengan berfoto-ria di stasiun Albion. Meskipun bibir tersenyum tetap saja ada sisa penasaran itu terlihat di wajah kami. Saya membesarkan hati. Siapa tahu lain waktu saya dan keluarga punya kesempatan untuk kembali ke Melbourne, saya akan tebus rasa penasaran itu. Aamiin.

Euforia membawa lelah
            Tiba di depan gedung apartemen, kami berubah niat. Terlanjur lelah, kami pun memutuskan untuk melengkapi rasa itu dengan mencoba menghabiskan waktu melihat-lihat kota Melbourne. Tujuan pertama ingin melihat toko-toko penjual suvenir. Kami memilih menaiki tram yang melewati halte-halte di sepanjang bangunan apartemen dan gedung-gedung perkantoran lainnya. Puas berkeliling dengan tram, akhirnya kami turun di salah satu halte.
            Rasa kecewa kembali menghampiri. Tak terlihat satu toko pun yang menjual barang-barang suvenir. Bahkan supermarket yang kami kira ramai, justru sudah tutup. Akhirnya kami mencoba menyusuri trotoar sambil menikmati hari yang mulai bergerak senja. Tanpa sengaja saya melihat restoran bertuliskan “Pondok Rempah”. Girang banget rasanya. Perut yang memang sudah terasa lapar bertemu jodohnya. 

Tulisan "Pondok Rempah" di remang senja
            Sebelum masuk saya mencari label halal restoran itu terlebih dahulu. Alhamdulillah, tulisan logo halal itu jelas tertempel di lemari kaca yang berada di bagian depan restoran. Demi meyakinkan hati, saya agak melongokkan kepala untuk melihat sertifikat halal lainnya yang biasa digantung di tembok dekat kasir. 

Ada label halal di sini dan di dalam
Menunya bikin perut tambah lapar
Alhamdulillah ada tapi saya tidak enak hati untuk lancang memotonya. Yang penting jaminan halalnya sudah jelas. Kami pun bergegas masuk dan memilih menu. Kak Nuraida memilih lontong sayur dan saya ingin menikmati kwetiau saja. 

Penginnya mesan yang banyak tapi bayarnya nggak pakai Rupiah sih :p
Yang atas harganya sekitar 11 AUD
Selesai menikmati malam dengan masakan Indonesia itu, kami memutuskan untuk segera kembali ke apartemen. Ampuuun! Kami kehilangan arah. Jalur tram yang tadi membawa kami menuju lokasi supermarket tiba-tiba tidak kami temukan lagi. Saya mencoba mengingat-ingat dari arah mana sebelumnya kami berjalan. Tetap tidak terlihat jalur rel yang dilalui tram. Bahkan nomor bus yang menuju ke alamat apartemen kami pun tidak ada yang melewati jalan itu.
Bolak-balik saya me-resert google maps di hape yang batrenya mulai menyusut, tetap tidak menunjukkan arah dan alamat semula menuju apartemen. Lebih dari sejam kami berkeliling berusaha menemukan arah kembali. Sementara hape Kak Nuraida sempurna mati karena semua power bank yang kami bawa sudah tandas dayanya.
Qadarullah … saya berusaha tenang dan tidak panik. Sesasat setelah itu, akhirnya mengingatkan saya pada stasiun Southern Cross yang tak jauh dari apertemen kami. Sementara hari sudah mulai larut. Mungkin rasa girang menemukan restoran yang menyajikan menu (semuanya) khas Indonesia membuat kami euforia. Bisa-bisanya kami terlupa jalan pulang (pengin ngakak lagi kalau ingat kejadian ini). 

Akhirnya melihat Southern Cross Station lagi
Hape saya yang mulai lowbat pun kembali mengarahkan kami ke jalan yang benar (dilarang ikut menertawakan ya ….). Alhamdulillah, kami sampai juga di apartemen. Malam itu sudah hampir jam sebelas. Rasa lelah lagi-lagi tidak mampu mengalahkan hasrat kami yang ingin menertawakan diri. Kami pun ngikik bersamaan. Malam larut itu ditutup dengan salat dan tidur lelap tanpa mimpi buruk. [Wylvera W.]

Note:
Catatan sebelumnya ada di sini dan si sini

Kamis, 28 Desember 2017

Gerimis di Sydney



              Saya dan Kak Nuraida sudah sepakat untuk memulai hari kedua di Sydney dengan berangkat di waktu yang lebih pagi. Lokasi yang ingin kami kunjungi jaraknya lumayan jauh. Kami telah memasukkan Taronga Zoo (kebun binatang yang cukup populer di Sydney) dalam daftar destinasi. Kebun binatang ini berlokasi di daerah pesisir pantai pelabuhan Sydney (Sydney Harbour). Tempatnya bernama Mosman.

Sarapan pagi yang aduhai lezatnya
            Senin pagi itu, selepas menikmati hidangan sarapan yang lezat buatan Laila, kami siap berangkat dari stasiun Punchbowl menuju Circular Quay Station. Di tengah perjalanan dalam kereta, gerimis pun turun. Kami mulai ragu untuk tetap meneruskan rencana menuju Taronga Zoo dengan kapal Feri. Sambil berdoa agar hujan reda, kami akhirnya tiba di Stasiun Circular Quay. Kami langsung menuju loket penjualan tiket. Wah! Lumayan mahal ternyata paket tur menuju Taronga Zoo. Apalagi jika memaksakan ke sana dalam kondisi gerimis. Tidak bisa menikmati.

Rute kereta menuju CQ
            Setelah menghitung-hitung dan melihat cuaca juga kurang bersahabat, akhirnya kami membatalkan perjalanan menuju kebun binatang itu. Kami sempat berdiskusi sebentar sebelum memutuskan ke mana akan mengalihkan rute. Saya mencoba menawarkan ke Kak Nuraida untuk berkeliling naik kapal feri di atas Sydney Harbour. Tidak perlu menunggu lama, beliau menyetujui. Sebelum membeli tiket, saya terpaksa harus membeli jaket untuk berlindung dari gerimis yang masih betah membasahi kota Sydney. Jaket sederhana seharga 20 dollar Australia akhirnya jadi pilihan saya.
            Batal menuju kebun binatang, kami tak patah semangat. Masih ada alternatif lain yang bisa dinikmati dengan bujet murah. Sebenarnya banyak pilihan untuk menikmati Sydney di atas perairannya. Bisa dengan berlayar, ikut cruise trip atau naik jet boat. Dari semua pilihan itu, tetap saja yang paling murah adalah dengan transportasi umum (kapal feri). Tiketnya bisa dibeli terpisah atau terusan. Feri di Sydney tidak besar dan tidak mengarungi lautan lepas. Ukurannya kecil dan hanya menampung orang saja sebagai penumpangnya.
            Kami pun bergegas menuju loket penjualan tiket. Saya mencoba menawar tarif feri yang akan kami naiki. Siapa tahu bisa. Aha! Dari harga 30 dia memberi diskon dan meminta kami membayar 23 dollar Australia saja. Saya belum sempat ngecek apakah harga 23 dollar itu termasuk murah atau masih tergolong mahal. Pilihan mengalihkan rencana yang mendadak itu akhirnya kami nikmati saja dengan harga 23 dollar. Penjual tiket memberi informasi bahwa harga yang kami bayar akan membawa kami menyinggahi beberapa pelabuhan seperti Fort Denision, Watson Bay, Q Station, dan Manly lalu kembali lagi ke Circular Quay.

Gerimis di atas Manly Fast Ferry
            Perjalanan dengan Manly Fast Ferry pun dimulai. Kapal feri kami bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan di kawasan Circular Quay.  Awalnya kami ragu untuk naik ke anjungan kapal. Khawatir basah. Namun saya tidak bisa menahan diri terlalu lama untuk duduk manis di lantai bawah feri. Saya memutuskan naik ke lantai atas. Gerimis yang masih betah membasahi Sydney Harbour tak membuat saya berhenti untuk mengabadikan objek.

Ini feri yang akan kami naiki
Dengan jaket murah-meriah dan sesekali berpayung, saya berhasil membidik spot-spot cantik yang sedikit diselimuti kabut. Opera House yang sehari sebelumnya sempat kami lihat, kini lebih jelas tampak bangunan fisiknya. Sydney Harbour Bridge pun terlihat megah dari atas anjungan kapal. Kak Nuraida akhirnya pun menyusul saya ke atas. Gerimis dan udara yang semakin dingin menembus jaket terpaksa kami abaikan demi merekam momen. 

Wefie di antara gerimis yang ... mengundang :v
Sydney Opera House tampak dari sisi laut
Berpose di depan Sydney Harbour Bridge
          Rute feri yang kami naiki tidak mengecewakan. Meskipun cuaca di atas pelabuhan bergerimis, kami tetap menikmati perjalanan di atas air yang sesekali berombak itu. Dari Circular Quay, feri melewati Fort Denision, sebuah  pelabuhan kecil yang dulunya lokasi bekas pertahanan, terletak di pusat Pelabuhan Sydney. Jarakanya dekat sekali dengan Botanic Garden. Fort Denision menjadi salah satu objek wisata utama di Sydney. Buat saya, perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar dua jam itu, menyuguhkan keindahan Sydney Harbour dari sisi lain. 

Feri melaju semakin menjauhi dua ikon Sydney itu
Kabutnya bikin suasana jadi terkesan romantis
"Pegang yang kuat ya, Kaaak ...!" :v
Feri terus bergerak dan akhirnya mampir di Watsons Bay, merupakan perpaduan unik dari pantai terpencil dan menjadi salah satu lokasi populer bagi wisatawan.  Kemudian feri melewati Manly Warf. Saya memerhatikan kapal-kapal kecil yang banyak berlabuh di sana. Ingin rasanya singgah dan menjelajah di sana tapi cuaca dan kapal feri tidak berhenti di dermaga itu. 
 
Ferinya mampir sebentar di sini lalu melaju lagi
Kapal-kapal kecil d sekitar Manly Warf

Rute Manly Fast Ferry yang kami naiki arahnya menuju Utara. Sesuai dengan namanya, feri ini akan bergerak menuju Manly. Di Manly ini terdapat pantai yang sesuai dengan namanya yaitu Manly Beach dan merupakan pantai paling populer di Australia. Letaknya persis di bentangan sepanjang pesisir Utara Sydney. Sayangnya kami tidak bertujuan turun di pantai itu karena kapal feri hanya berhenti sebentar saja katanya. 
 
Berusaha senyum saat ombak menggoyang kapal
Gak turun, fotoan pun jadi lah .... ;)

Dari Manly, feri kembali lagi menuju Circular Quay, tempat awal kami naik. Kali ini, saya hanya menikmati saja pemandangan dari dalam feri. Gedung-gedung, kota di sebelah Timur Sydney dan kapal-kapal kecil yang sedang berlayar menjadi pelengkap pemandangan di siang bergerimis itu.

Menuju Masjid Auburn Gallipoli
            Gerimis masih bertahan membasahi Sydney. Kami belum menunaikan salat Zuhur. Selesai menikmati pemandangan dari atas kapal feri, saya kembali mengajukan usul untuk mencoba mencari lokasi Masjid Gallipoli, masjid terbesar di Australia. Lokasinya berada di kawasan Auburn yang padat dengan komunitas muslimnya. Masjid Gallipoli ini katanya menjadi ikon bagi umat muslim di Auburn.
Ibu yang berdua itu senyum-senyum melihat model dadakan :p

Kami kembali memasuki area stasiun dan memilih platform yang menuju ke Auburn Station. Karena keretanya belum datang, kami menyempatkan berfoto-ria. Dua ibu yang duduk menunggu kereta mendadak tersenyum melihat tingkah kami. Salah satunya malah menawarkan diri ingin memoto saya dan Kak Nuraida. Dengan balas memberi senyum kami dengan halus menolak. Khawatir mendadak jadi model pula di Aussie. *dilarang ngikik*
Kereta pun tiba. Kami memilih duduk di gerbong bawah. Hanya beberapa saat berhenti, kereta kembali melaju menuju stasiun-stasiun kecil untuk berhenti menghantarkan para penumpangnya. Stasiun Auburn masih jauh. Kami kembali menikmati pemandangan dari balik kaca jendela kereta. Setengah jam kemudian, kereta pun berhenti di Auburn Station. 


Dari stasiun Auburn harus jalan lagi

Begitu turun dari kereta, saya kembali mengaktifkan google maps. Menurut google maps, untuk mencapi masjid, kami harus melanjutkan berjalan kaki sekitar enam menit dari stasiun. Sambil memegang hape dan mengikuti petunjuk arah, saya sesekali memotret spot menarik yang kami lewati dengan kamera kecil yang sengaja saya bawa.

Kota Auburn yang tenang
Tamannya basah jadi fotoan saja ya
Melewati toko cokelat Turki
Sambil mengamati sekitar saya memerhatikan pertokoan di pinggir jalan. Di kawasan Auburn ternyata tidak sulit menemukan restoran halal dan toko-toko yang menjual perlengkapan umat muslim. Namun kami tidak bertujuan mencari itu. Kami hanya ingin melihat masjidnya saja. Kami masih terus berjalan mengikuti petunjuk arah di hape saya. Mendekati area masjid, nuansa pemukiman muslim Turki semakin terlihat. Saya sempatkan untuk memotret beberapa rumah dan bangunan itu.

Salat di Masjid Gallipoli
            Kami pun sampai di depan masjid yang bangunannya didominasi cat berwarna biru. Saya yang senang browsing masjid-masjid dari negara-negara lain, langsung merasakan kemiripan antara Masjid Gallipoli dengan Masjid Biru di Istanbul, ibu kota Turki. Sambil mengambil foto bangunan masjid, saya memerhatikan model bangunannya yang memiliki gaya arsitektur Turki dan Ottoman. 


            Kami bergegas masuk karena ingin sekali salat di dalamnya. Seorang pria setengah baya mempersilakan kami menaiki tangga menuju tempat salat perempuan. Suasana masjid terlihat sepi karena waktu zuhur sudah berlalu. Setelah berwudhu di kamar mandi yang lumayan bersih, kami langsung menuju ruang salat yang dikhususkan untuk jema’ah perempuan.

Lantai atas tempat jema'ah Akhwat
Lantai bawah tempat jema'ah Ikhwan
            Masya Allah, ketenangan dan kenyamanan begitu terasa ketika saya melihat kebersihan tempat salat masjid itu. Setelah salat, rasanya tak ingin buru-buru meninggalkan masjid. Sambil memoto bagian-bagian masjid, saya juga sibuk browsing tentang sejarah masjid ini.

Lengkungan di bawah kubah yang indah
            Masjid Gallipoli ternyata dibangun oleh komunitas imigran asal Turki yang menetap di Auburn. Sementara nama masjid diambil dari kata Gallipoli yang merupakan sebuah kawasan di Turki. Saat Perang Dunia I, di tempat ini pernah terjadi perang yang melibatkan Turki dan Australia. Maka nama Gallipoli pun diambil sebagai upaya mempertahankan sejarah yang sama-sama pernah dirasakan oleh Turki dan Australia. 

Rasanya ingin berlama-lama di dalam masjid ini
Berfoto sekali lagi sebelum meninggalkan masjid
            Selanjutnya saya sibuk memerhatikan ukiran-ukiran kaligrafi yang bertuliskan “Allah”, “Muhammad”, dan potongan ayat-ayat Al Qur’an. Kekaguman dan rasa syukur karena diberi kesempatan untuk salat di masjid ini membaur dalam hati saya. Betapa Allah selalu memberi nikmat pada hamba-Nya. Saya berulang mengucap syukur dalam hati. 

Lokasi perumahan komunitas muslim Turki
Sambil menunggu kereta tiba
Karena sudah sore dan harus kembali ke Punchbowl, dengan berat hati kami akhirnya meninggalkan masjid. Kami kembali menyusuri jalan menuju stasiun Auburn. Langit masih mendung tapi gerimis sudah berhenti. Jalanan yang basah oleh gerimis meninggalkan kesejukan di hati saya. Sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya pada hari ketiga. Salam! [Wylvera W.]

Note: Catatan sebelumnya ada ada di sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...