Jumat, 25 Desember 2015

Menikmati Sensasi Empat Hari di Bali

#Part 4
            Masih di hari ketiga (18 November 2015). Setelah puas menikmati objek wisata di kawasan Tanjung Benoa, rombongan kami (ibu-ibu pengurus Persatuan Istri Pegawai BI Pusat) memutuskan untuk menikmati makan siang. Setelah itu kami langsung menuju destinasi berikutnya. Sstt ... katanya butuh energi banyak untuk mencapai lokasi wisata tersebut. Di mana sih? Sabaaar ....
          Sehabis makan siang pasti disusul oleh rasa kantuk. Agar mata tetap melek, kami meminta kenek bus untuk memutar lagu-lagu karaoke. Betul saja! Tanpa menunggu waktu lama, ibu-ibu langsung “on” menikmati alunan lagu. Yang bisa berkaraoke pun tak mau menyia-nyiakan mic yang menganggur. Yihaaa! Rame deh di bus.

Tertipu oleh anak tangga pantai Padang-Padang
            Perjalanan dilanjutkan menuju pantai Padang-Padang yang juga dikenal dengan nama pantai Labuan Sait. Pantai ini sering dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Lokasinya terletak di Jalan Labuan Sait, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung Bali.
            Kabarnya, lokasi pantai ini menjadi unik karena berlatar belakang perbukitan yang rindang dan batu karang terjal. Yang paling membuat saya penasaran bahwa pantai Padang-Padang tersebut merupakan salah satu lokasi syuting film Eat Pray Love, yang dibintangi oleh Julia Robets. Apanya sih yang membuat kru film Hollywood sampai bela-belain pantai itu menjadi lokasi setting film mereka? Penasaran saya jadinya.
            Tidak perlu menunggu lama, akhirnya kami pun tiba di area parkir menuju pantai Padang-Padang. Melihat cuaca yang lumayan terik, awalnya ibu-ibu pada ragu untuk turun dari bus. Tidak dengan saya. Justru saya ingin melihat, seperti apa tantangan menuju pantai itu. *sombongnya kumat*
Airnya yang bersih begitu menggoda untuk disentuh. Halaaah ....

Begitu melihat beberapa anak tangga yang mengarah turun menuju pantai, saya tidak merasakan tantangan apa pun. Ibu-ibu yang lainnya pun menyusul menuruni anak tangga itu. Hingga tiba di jalan menurun mirip goa, seukuran lebar satu badan orang dewasa dengan anak tangga yang kecil-kecil, saya mulai berpikir. “Turunnya saja sudah heboh begini, gimana nanti naiknya ya?” Sudah kepalang tanggung, kami tetap meneruskan menuruni jalan setapak itu.

Para model bergaya ... hahaha
            Wow! Para turis dari luar negeri memadati kawasan pantai itu. Saya dan ibu-ibu lainnya menyempatkan untuk mengambil momen berfoto. Kawasan pantai dengan pasir putih dan ombak yang tenang, memang menjadi daya tarik tersendiri dari pantai ini. Hmm ... namun buat saya pribadi, dalam hati saya berjanji tidak akan membawa anak-anak ke tempat ini. Mungkin buat orang dewasa tidak masalah. Eh, tapi terserah saja ya buat yang lainnya. Ini kan menurut saya pribadi saja. *kacamata kuda mana kacamata kuda?* ^_^


Walau lelah, kami harus naik dan kembali ke bus 
            Kami tidak berlama-lama di pantai itu dan bersiap-siap menuju bus. Tantangan pun dimulai! Semua pada ngos-ngosan menaiki tangga. Tidak terkecuali saya. Body sudah sempura bermandikan keringat. Luar biasaaa! Betul! Butuh energi ekstra menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit itu. Pfiuuuh ...!

Menuju pantai Pandawa
            Setelah bermandikan keringat di pantai Padang-Padang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pandawa. Letak pantai itu ada di kawasan bukit yang diberi nama Secret Beach (pantai tersembunyi). Pantai Pandawa terletak di Desa Kutuh, Kabupaten Badung, Bali. Letaknya yang persis di belakang perbukitan menyebabkan pantai ini diberi nama “Pantai Tersembunyi”. Pasir putih dan ombaknya yang tenang menjadi pemikat pantai ini.      

Hanya ini bisa saya rekam di kamera hape. Hikks .... *efek karaokean*
            Saat bus melaju menuju pantai, kami melewati tebing kapur di sisi kiri dan kanan jalan. Beberapa patung, yang kata tour guide kami jumlahnya ada lima, terlihat di celuk-celuk tebing kapur menuju lokasi pantai. Sementara saya lupa untuk mengabadikannya dalam kamera. Aaargh!

Penampakan Pantai Pandawa
Yang di belakang ikut ngeksis :p
             Di kisah Mahabhrata, kehidupan Sang Panca Pandawa pernah dikurung dalam goa Gala-Gala. Akhirnya keluarga Pandawa membuat terowongan untuk jalur keluarga Pandawa menyelamatkan diri. Setelah berhasil menyelamatkan diri, Panca Pandawa (Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa) membuka sebuah kawasan hutan belantara sebagai daerah kekuasaan mereka.
Diberi nama Pantai Pandawa karena ada kemiripan cerita yang ditulis dalam epos Mahabharata dengan fakta perjalanan hidup masyarakat desa Kutuh. Sehingga awalnya masyarakat memberi nama pantai tersebut sebagai Pantai Melasti (Secret Beach). Kisahnya pun tetap dikenang oleh masyarakat Bali hingga sekarang. Dan akhirnya, pemerintah Bali menetapkan namanya menjadi Pantai Pandawa yang sebelumnya bernama Pantai Melasti (secret beach) pada tanggal 27 Desember 2012.

Gak sah kalau gak foto-fotoan :p


              Begitu tiba, kami pun bergegas turun dari bus. Lagi-lagi cuaca terik matahari menyengat di kulit. Namun, kebersamaan seolah tidak mampu mengalahkan sengatan panas itu. Kami tetap enjoy berfoto-foto dengan bermacam gaya ala model tahun ‘70an.

Tidak bisa pakai kacamata di Uluwatu
            Tujuan akhir kami di hari ketiga adalah Pura Uluwatu. Kami ingin melihat sunset di sana sambil menikmati pertunjukan tari Kecak.
            Pura yang terletak di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kahyangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9  mata angin. Pura ini pada mulanya digunakan menjadi tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Pura ini juga dipakai untuk memuja pendeta suci berikutnya, yaitu Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali pada akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan apa yang dinamakan Moksah atau Ngeluhur di tempat ini. Kata inilah yang menjadi asal nama Pura Luhur Uluwatu. - Wikipedia -
            Kami pun tiba di Uluwatu. Tour guide membagikan selendang kuning kepada kami untuk diikatkan di pinggang. Begitu memasuki lokasi, saya melihat pura yang berdiri kokoh di atas ujung tebing yang curam. Letaknya menonjol ke lautan dengan pemandangan laut lepas. Sungguh memesona.

Puranya ada di atas sana
            Sebelum masuk, kami sudah diingatkan untuk melepas asesoris seperti, bros, kacamata, dan barang bawaan lainhya, seperti kamera. Di kawasan Pura Uluwatu yang dikelilingi oleh hutan kecil, dihuni oleh ratusan kera. Tidak jarang pengunjung harus legowo kehilangan barang-barang tadi, jika bertahan memakai atau membawanya dengan tidak berhati-hati. Seperti salah seorang teman saya yang mau tidak mau harus merelakan kacamatanya ditarik dan diambil oleh kera.

Menikmati pertunjukan "Tari Kecak" dalam kisah Rama dan Shinta



            Selanjutnya kami pun berjalan beriringan menuju lokasi pertunjukan tari Kecak. Hari semakin sore saat pertunjukan dimulai. Sambil menikmati tarian Kecak kami juga menunggu matahari perlahan terbenam. Suasana jadi begitu romantis dengan latar belakang sunset yang indah.

Menanti detik-detik sunset
Bersama Hanoman ^_^
            Berakhirlah kunjungan kami di hari ketiga di Bali. Selanjutnya makan malam bersama melengkapi kebersamaan kami di hari itu. Esoknya, kami tidak punya jadwal kunjungan lagi selain membeli oleh-oleh sebelum menuju bandara. Maka, sampai di sini saja cerita saya. Sampai jumpa di cerita wisata berikutnya.  [Wylvera W.]


15 komentar:

  1. aduh baca ini jadi pengen liburan sekeluarga. hiks, ngumpulin duitnya lama banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, masih ada waktu di liburan berikutnya. :)

      Hapus
  2. Seru banget jalan-jalannya, Mbak Wik. Aku belum pernah ke Pantai Pandawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Fit. Seru karena bareng ibu-ibu. Hahaha

      Hapus
  3. wah, asyik ya! jadi pengen ke Bali lagi

    BalasHapus
  4. Seru banget, suka deh gaya ibu-ibu yang super hehhehe, mupeng juga ke Bali lagi :)

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Kami memang begitu. Kompak, apalagi saat jalan-jalan dan makan-makan, Mbak. ;)

      Hapus
  6. Itu ga mau bawa anak-anak, maksudnya karena banyak bulenya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak bule berbusana minim, Hay. Hihihi ....

      Hapus
  7. women in blue ya mbak temanya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Lid. Setiap hari ada dc nya. :)

      Hapus
  8. Btw, maafin ya. Lama mereply komentar teman-teman. *sok sibuk yang punya blog sih* ^_^

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...