Senin, 25 September 2017

Perjalanan Panjang Menuju Edensor




Hari ketujuh (Sabtu, 26 Agustus 2017), saya dan suami sudah berpindah penginapan. Kami menyewa sebuah kamar di apartemen yang tidak jauh dari stasiun King’s Cross. Pagi-pagi sekali kami sudah sampai di apartemen. Selepas itu kami sebenarnya ingin melanjutkan perjalanan menuju Edensor, sebuah desa yang masih membuat saya penasaran. Sayangnya, kami tidak bisa buru-buru masuk ke apartemen karena petugas adiministrasi baru datang tepat jam sembilan pagi. Banyak waktu yang terlewati dengan penantian yang bikin mood sempat turun.
Tentang Edensor sebenarnya semua bermula dari membaca novel Andrea Hirata. Sejak itu, saya jadi menyimpan rasa penasaran itu berlama-lama. Puncak rasa penasaran itu ketika suatu hari saya melihat foto-foto Edensor di akun facebook milik Rahmadiyanti Rusdi (Promotion and Marketing Noura Books). Dari chatting dengan beliau pulalah, akhirnya saya membujuk suami agar mau mengantarkan saya ke sana. Alhamdulillah, mimpi itu akhirnya terwujud.
Setelah menunggu, akhirnya kami bisa memasukkan koper ke kamar. Tanpa membuang waktu lagi, saya dan suami langsung menuju stasiun dan membeli tiket.

Di kereta yang padat menuju Sheffield
            Tidak ada kereta yang langsung menuju Edensor. Kami harus ke Sheffield terlebih dahulu. Harga tiket kereta dari London ke Sheffield, £75.50 (return) per orang. Sheffield sendiri adalah ibukota South Yorkshire dan merupakan kota terbesar nomor lima di United Kingdom. Di sana pula letaknya dua universitas terkenal bernama University of Sheffield dan Sheffield Hallam University.  

Ini tiket kereta dari London - Sheffield
            Begitu naik ke kereta, kami tidak mendapatkan kursi. Keterlambatan memang menjadi taruhan setiap kali bepergian ke antar kota di Inggris. Beda kondisinya kalau sudah memesan kursi. Risiko seperti itu harus diterima. Kami harus rela berdiri dan berdesakan dengan penumpang lain yang bernasib serupa. Tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selama perjalanan. Kami harus sabar menunggu dua jam setengah waktu tempuh menuju Sheffield.
            Awalnya kami ingin menyisakan waktu sedikit untuk menjelajahi kota Sheffield. Keinginan itu terpaksa dilupakan. Waktu keberangkatan yang sudah melewati batas rencana kami, tidak lagi memungkinan. Maka niat utama menuju Edensor yang harus kami dahulukan. Sebagai pengobat hati, kami tetap menikmati perjalanan di dalam kepadatan kereta.

Hampir menyerah gara-gara informasi yang salah
            Kami tiba di stasiun Sheffield. Untuk mencapai Edensor, kami harus melanjutkan perjalanan dengan bus dari Sheffield Interchange (terminal terpadu di City Center). Lokasinya dekat stasiun. Sedikit berjalan kaki saja. Sementara bus yang harus kami naiki adalah jurusan Bakewell dengan nomor 218. Bus ini akan berangkat setiap satu jam sekali. Harus tepat waktu jika tak ingin kehilangan waktu sejam kalau terlambat. 

Tiba di stasiun Sheffield
Suami saya melepas lelah sesaat di depan stasiun Sheffield
            Setelah melihat jalur kedatangan dan keberangkatan bus, kami pun bergegas menuju platform D3. Untuk memastikan, kami mencoba bertanya kepada petugas. Betapa terkejutnya saya ketika petugas mengatakan bahwa tidak ada lagi bus yang berangkat menuju Bakewell karena waktunya sudah lewat. Rasanya sia-sia waktu yang sudah kami habiskan selama dua setengah jam dari London tadi. Kami tidak akan sampai ke Edensor.
            Dengan sisa harapan, saya tidak mau menyerah. Saya mengajak suami untuk bertanya kepada petugas yang lainnya. Alhamdulillah, ia mengatakan bahwa busnya sepuluh menit lagi akan datang. Kami bisa membeli tiket langsung pada sopirnya. Suami saya sempat marah dan ingin kembali ke petugas sebelumnya. Untung saya bisa mencegahnya. Repot urusannya kalau terjadi perdebatan. Mungkin saja tadi terjadi kesalahpahaman dan petugas terminal itu tidak paham dengan pertanyaan kami. Uh! Ternyata di negara maju seperti itu pun ada saja petugas yang tidak memberi informasi yang tepat.

Berhenti di Chatsworth House sebelum ke Edensor
            Tiket seharga £5.80 untuk pergi dan pulang sudah kami beli. Kami sudah berada di bus bertingkat (double-decker bus). Saya mengajak suami duduk di atas, bangku terdepan. Begitu melewati perkotaan, bus akhirnya memasuki jalanan menanjak dengan tebing sebagai tepiannya. Pemandangan dari balik kaca bus bertukar dengan hamparan rumput yang dilengkapi oleh sapi-sapi dan sekawanan domba. Laju bus terus melewati ketenangan alam pedesaan Derbyshire.

Harga tiket busnya nggak mahal kan?
Suasana alam yang menyejukkan mata itu, membuat suami saya lupa pada rasa kesalnya ke petugas terminal tadi. Ia malah sibuk merekam setiap kecantikan alam pedesaan yang kami lewati. Jalanan yang lurus dan sesekali berkelok membuat saya berulang-ulang tertegun. Bukit-bukit dan hamparan padang rumput hijau beserta domba-domba yang asyik menikmati santapannya sangat menyegarkan mata. Betapa cantik ciptaan Allah ini. 
Di dalam bus menuju Chartsworth - Bakewell
Bagian jalan yang terfoto, sisanya direkam
       Rasa penasaran saya pada Edensor sebentar lagi akan menguap. Seperti apakah cantiknya desa itu? Apakah serupa seperti yang digambarkan Andrea dalam novelnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuat dada saya berdebar-debar. Tak sabar ingin segera tiba di desa tujuan. Meskipun dari salah satu artikel menyebutkan bahwa Edensor adalah desa buatan pemilik Chatsworth House, rasa penasaran saya tetap ingin melihat lokasi desa itu dari dekat.
Sebenarnya sebelum sampai di Chatsworth House, kami bisa berhenti di pemberhentian bus tepat di depan desa Edensor. Tapi pesan Rahmadiyanti yang selalu saya ingat. Agar tidak bablas ke Bakewell kami bisa turun di pemberhentian area mansion itu. Saya memilih mengikuti pesan teman saya itu saja. 

Bangunan yang terletak di sisi Chatsworth House

Sekitar satu jam dibuai oleh keindahan alam dari balik kaca bus, akhirnya membawa kami ke area Chatsworth House. Bus berhenti di lapangan parkir Chatsworth. Ternyata pilihan saya mengikuti saran teman tidak ada ruginya. Rasa penasaran pada Edensor sekaligus membawa kami pada Chatsworth House, sebuah mansion milik Duke of Devonshire ke-6. Rumah ini pula yang pernah dijadikan lokasi syuting film Pride and Prejudice (2005).

Chatsworth House dari kejauhan
Kami berlatar belakang Chatsworth House
Sayangnya kami tidak punya waktu lebih lama. Chatsworth House hanya menjadi bagian tersingkat dari cerita tentang Edensor. Saya dan suami hanya sempat berfoto di sekitar rumah megah itu saja. Itu pun dari jarak jauh. Agar sempat melihat Edensor, kami segera melanjutkan berjalan kaki.

Welcome to Edensor, desa mungil yang memesona
            Edensor adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Peak District, Sheffield. Menara Gereja St. Peter yang merupakan landmark desa Edensor menjadi pemandu arah kami. Melalui jalan setapak yang membelah perbukitan akhirnya menghantarkan saya dan suami ke depan gerbang Edensor. Sungguh! Desa di lereng bukit Derbyshire ini memang indah dan memikat. Meskipun masih banyak desa-desa cantik lainnya yang ada di Inggris, Edensor tentu saja menjadi pelengkapnya.   

Dua puluh menit menelusuri jalan ini
Dan akhirnya mendekati Desa Edensor
Kedatangan kami seolah disambut oleh domba-domba gemuk yang ramah. Saya tak ingin membuang kesempatan untuk berpose bersama domba-domba cantik yang bebas berkeliaran di depan desa Edensor. Setelah itu, saya dan suami memasuki desa melalui pintu gerbang yang terbuka ramah bagi pengunjungnya. 
Disambut Shaun the sheep :)
Gerbang Desa Edensor
Ada dua arah jalan saat ingin menelusuri Desa Edensor. Jalan yang di sebelah kiri Gereja St. Peter akan melewati area pemakanan dan berakhir di jalan buntu. Sementara jalan di sebelah kanan gereja adalah jalan yang akan membawa kami menuju pemandangan yang menakjubkan. 

Pilih kiri atau kanan?
            Kedatangan kami bertepatan dengan akhir musim panas dan menjelang musim gugur. Desa Edensor menjadi tampak menawan dengan pepohonannya yang masih menyisakan warna kemerahan pada daun-daunnya. Rumah-rumah petani terbuat dari batu tanpa cat dengan atap kayu berdiri kokoh melengkapi keindahan alam Edensor. 

Mengawali pandangan dengan permulaan yang indah
Keindahan, ketenangan, dan kenyamanan berpadu serasi
            “Ensor”, begitu cara mengucapkan Edensor. Cara pengucapan itu pula yang saya pakai saat bertanya pada sopir bus. Anehnya, tidak banyak turis lokal yang mengenal dan paham letak lokasi Edensor. Ketika tiba di Chatsworth House, saya melihat para turis lebih memilih menghabiskan waktu luang mereka di sana. Padahal letak Edensor tidak begitu jauh dari mansion itu. Hanya satu dua pengunjung berwajah Eropa yang terlihat oleh saya ketika menelusuri jalan-jalan Edensor. Kami malah bertemu dengan rombongan keluarga turis dari Indonesia.

Saya membayangkan kenyamanan di dalam rumah itu
Ketenangan desa ini membuat hati enggan meninggalkannya
            Hanya ada sekitar tiga puluh rumah di Edensor. Sebagian penduduknya adalah karyawan Chatsworth Estate atau para pensiunan dari sana. Desa ini memang sepi dan tenang. Jalanan yang sedikit menanjak dihiasi pepohonan oak samasekali tidak membuat kami lelah. Malah mata mendadak fresh oleh pemandangan deretan rumah-rumah unik dan cantik di kiri kanan jalan. Rumah-rumah itu dibangun sekitar tahun 1839. Wow! Sudah tua juga ya?

Serasa ingin mengabadikan setiap momen

          Rumah-rumah di Desa Edensor merupakan gabungan dari gaya bebatuan Tudor, pintu busur Normandy. Sementara atapnya mengambil gaya Swiss dan jendelanya mengadopsi gaya Italia. Bentuk rumah itu membawa kaki kami terus berjalan hingga di penghujung desa yang tak ada lagi rumah-rumah terlihat. Hanya tampak padang rumput berlatar belakang bukit-bukit. 

Sesaat sebelum tiba di penghujung desa
Sampai di sini, yang tersisa hanyalah hamparan padang rumput dan kami :p
            Setelah puas mengitari Edensor selama sekitar satu jam lebih, kami memutuskan untuk kembali ke arah pintu gerbang desa itu. Sebelum benar-benar meninggalkan Edensor, saya melihat papan persegi empat bertuliskan “Edensor Tea Rooms and Shop” yang disandarkan pada batang pohon. Ada tanda panah penunjuk arah menuju kedai teh itu. Karena tidak berniat ingin menikmati teh dan kue-kue yang disajikan, saya dan suami hanya sekadar melewatinya saja.

Objek terakhir yang sempat saya simpan
            Itulah akhir dari pemuas rasa penasaran saya. Edensor bukanlah desa khayalan Andrea Hirata. Desa itu benar-benar ada. Saya sudah sampai di sana.  Keindahannya pun sempurna “membius” saya hingga ingin berlama-lama menikmatinya. Jika waktu tidak membatasi, rasanya saya ingin bermalam di sana. Ingin melihat suasana Edensor di waktu malam. 

Saya sempat memoto bus stop di depan Desa Edensor di awal
Apa boleh buat, saya dan suami harus bergegas menunggu bus di halte yang berada tepat di depan gerbang Edensor. Kami harus kembali ke London sebelum gelap menyergap. Sebab esoknya akan ada satu destinasi lagi yang akan kami kunjungi. Selamat tinggal Edensor. Semoga saya bisa kembali bersama anak-anak saya suatu hari nanti. Aamiin. [Wylvera W.]
             
Note: 
Semua foto di artikel ini adalah milik penulis/pribadi
Yang ingin baca catatan dari awal perjalanan di UK, silakan mampir di sini, ini, dan ini

2 komentar:

  1. What Edensor? Kereeen!...Ternyata nggak salah penggambaran di ceritanya :)
    Bukan hanya negeri khayalan semata...Duh, kapan ya bisa kesana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak.
      Bahkan lebih indah jika dilihat langsung. :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...