Jumat, 18 Desember 2015

Menikmati Sensasi Empat Hari di Bali


#Part 3
Pantai Tanjung Benoa (dokpri)

            Sebelumnya saya mohon maaf, karena terlalu lama melanjutkan catatan ini. Semoga saya dimaafkan ya ... ya ... ya. *drama itu asyik juga ternyata ^_^ *
              Baiklah, mari kita lanjutkan.
            Esoknya di hari ketiga (18 November 2016), kami akan diajak untuk mengunjungi kawasan Tanjung Benoa. Selain terdapat penangkaran penyu di sana, Tanjung Benoa adalah sebuah kelurahan yang letaknya di sebelah Tenggara pulau Bali yang sangat terkenal dengan aktivitas rekreasi air dan wisata baharinya. Tanjung Benoa Watersport namanya.
Saya belum pernah berkunjung ke sana. Makanya saya tidak sabar ingin segera sampai. Namun, seperti biasa, pagi kami selalu diawali dengan sarapan bersama di kafe hotel. Setelah itu kami pun kembali berkumpul di halaman parkir untuk bersiap menaiki bis.

Menuju penangkaran penyu di Deluang Sari
            Perjalanan menuju pantai Tanjung Benoa, tempat perahu bermesin yang akan membawa kami ke Deluang Sari, sangatlah singkat. Tidak sampai setengah jam, kami sudah tiba di sana. Saya membayangkan pantai dengan gemuruh ombak yang memecahnya. Namun, begitu sampai, bayangan saya lenyap. Tidak ada air yang bergulung-gulung di tepi yang katanya pantai itu. Hanya pasir yang lebih tepatnya seperti tanah becek yang kekeringan.
            “Kita menunggu di sini ya sampai air lautnya pasang. Kalau tidak, boatnya tidak bisa bergerak,” ujar salah satu teman di rombongan kami.
            Ternyata penampakan pantai yang kering itu akibat air lautnya surut. Kami pun harus menunggu sekitar satu jam. Setelah itu, perlahan-lahan air laut naik ... naik ... naik, lalu berhenti sebelum menyentuh bibir pantai. Tiga perahu bermesin yang sudah disewa untuk menyeberangkan kami ke lokasi penangkaran penyu pun siap menunggu. 

Kami terpaksa harus berjalan menembus air setinggi mata kaki hingga lutut itu
            Tidak ada jalan lain, kami harus siap berbasah-basah. Perahu-perahu bermesin itu tidak bisa menepi lebih dekat ke arah kami, sebab dasar perahu sudah nyaris menyentuh tepian laut yang berair. Tingginya dari semata kaki hingga selutut orang dewasa. Semua pada sibuk menggulung celana. Saya memilih pasrah berbasah-basah. Seru saja rasanya. 

Seni memancing yang unik (dokpri)
            Perahu bermesin pun melaju menuju penangkaran penyu. Goyangan ombak sesekali memainkan perahu. Saya benar-benar menikmati perjalanan laut itu. Hingga tanpa sengaja mata saya tertambat pada sosok lelaki yang sedang mencari ikan. Tubuhnya dibiarkan terbenam setinggi pinggang. Barulah saya sadar kalau air laut yang kami sebrangi tidak semuanya dalam. Itu yang menyebabkan perahu bermesin yang kami naiki sesekali tersendat.

Perahu bermesin kami melaju meninggalkan ombak di belakang sana
            Setelah menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit, kami pun tiba di pantai berikutnya. Dari kejauhan tampaklah orang ramai berdiri di pintu masuk lokasi penangkaran penyu. Kami kembali berjalan di atas air laut. Kali ini, saya tak ingin menyia-nyiakan momen. Kami memuaskan mengabadikan keunikan cara menempuh lokasi itu. Sesi foto kembali menjadi momen heboh yang menyenangkan.

Walau berbasah-basah, sesi foto jangan terlewatkan ^_^ (dokpri)
Awalnya, kawasan Tanjung Benoa hanyalah perkampungan nelayan. Sejak tahun 1980, di Nusa Dua (kawasan yang terdekat dengan Tanjung Benoa) dibangun kawasan wisata Bali Tourism Development Corporation  (BTDC). Berdirilah hotel-hotel mewah yang hampir seluruhnya berbintang lima. Semakin hari kawasan itu semakin berkembang sehingga mengimbas ke kawasan Tanjung Benoa.

Selamat datang di Deluang Sari (dokpri)

            Akhirnya Pemda Bali menetapkan kawasan Tanjung Benoa menjadi pusat wisata bahari di Bali. Sejalan dengan perkembangannya, pemerintah juga membuat tempat penangkaran penyu hijau (termasuk satwa langka yang dilindungi) di Tanjung Benoa. Tempat penangkaran ini lebih dikenal dengan nama “Pulau Penyu”.  Lokasinya terletak di delta kecil bernama Deluang Sari. Kawasannya ditumbuhi hutan bakau dengan pantai berpasir putih yang menghadap ke Pelabuhan Benoa.


Bak tempat menangkar penyu-penyu itu
Di antara penyu ini ada yang berumur 70 tahun

            Di Deluang Sari terdapat beberapa kolam atau bak penampungan khusus untuk merawat penyu-penyu mulai dari yang baru menetas sampai penyu dewasa. Uniknya, umur penyu di Deluang Sari ini ada yang mencapai 70 tahun. Hebat ya?

Menahan sakit kena tamparan penyu
            Urusan tiket masuk sudah diatur oleh tour guide kami. Tinggal masuk, tapi tetap mengantri. Kami pun langsung disuguhi oleh ramainya pengunjung yang sibuk berpose bersama penyu. Awalnya saya geli dan ragu-ragu ingin berfoto. Tapi, sayang rasanya kalau sudah sampai di situ, tidak ada bukti otentiknya. *jiaaahahaha ... mulai lebay lagi kan *

Selepas ini, senyum di wajah itu sirna seketika:p
            Setelah memerhatikan beberapa orang yang berfoto sambil memegang penyu, saya pun jadi kepengin. Tour guide kami membantu mengambilkan penyu dan mennyerahkannya ke tangan saya. Kaki yang saya sebut seperti sayap tapi keras milik penyu di tangan saya, terus saja mengepak-ngepak. Sementara kamera hape sudah siap menangkap momen kebersamaan saya dengan penyu itu.
            Plak!
          Kepakannya menampar ujung jari jempol saya. Rasa perih tiba-tiba menyengat. Wajah saya yang tersenyum saat difoto berubah nyengir menahan rasa sakit akibat tamparan penyu itu. Untung saja saat tombol perekam gambar di kamera hape ditekan oleh teman saya, wajah saya masih dalam pose tersenyum. Alhamdulillah ... pencintraan itu tidak bocor.  *bwuahahaha ...*

Burung pun pengin pakai kacamata
            Udara panas begitu menyengat, bukan hanya di kulit tapi sampai ke tenggorokan. Saya tidak tahan untuk tidak menikmati air kelapa muda sebenarnya. Namun, masih ada momen yang sayang untuk dilewatkan, yaitu berpose dengan burung (maaf, lupa nama burungnya). 

Eiiits ...! Jangan diambil dong, kacamatanya ^_^
            Sambil menunggu giliran, mata saya sesekali melihat ke arah teman-teman yang sudah duduk menunggu pesanan kelapa muda. Akhirnya giliran saya pun tiba. Pawang burung (memang ada ya pawang burung ... entahlah), meletakkan kaki burung itu di lengan kiri saya. Aaah, mengapa hewan kedua di tempat penangkaran penyu ini pun bertingkah aneh? Saat gambar siap diambil, kepala burung sibuk ingin mematuk kacamata saya. Terpaksa posenya diulang lagi demi mendapatkan hasil yang bagus. *jiaaahaha ... ngarteees banget dah*
Akhirnya, kami pun berdamai ^_^
            Selesai sesi foto dengan burung, saya pun bergabung dengan ibu-ibu lainnya. Air kelapa muda dan sebotol air mineral rasanya harus segera membasahi kerongkongan saya yang nyaris kering-kerontang.

Ularnya menggeliat
            Selesai menikmati air kelapa muda, saya melihat segelintir pengunjung mendekati sebuah area. Wah! Ternyata di situ ada ular yang siap diajak berpose dengan para pengunjung. Saya tidak serta-merta berfoto dengan ular yang dipegang pawangnya itu. Awalnya ada rasa geli. Namun, ketika saya melihat mulut ular itu dibalut oleh perekat, logika saya pun jalan. Itu artinya ular tersebut tidak akan mampu menyemburkan lidahnya yang berbisa dan melukai hatiku  menyengat saya.

Ular juga bisa jadi model :p
            “Bantu ya, Bli. Naruhnya pelan-pelan,” ujar saya meminta pawang ular yang masih sangat muda itu melilitkan badan ular ke leher dan pundak saya.
Saat saya pegang bagian kepalanya, ular itu tiba-tiba menggeliat manja, membuat saya nyaris menahan napas. Tidak harus berlama-lama, yang penting ada fotonya. Saya pun buru-buru menyerahkan ular itu kembali ke pawangnya.

Serunya bermain parasailing
            Waktu untuk berfoto dengan bermacam hewan yang dilindungi di penangkaran penyu usai. Kami pun kembali ke tempat awal. Sepanjang perahu bermesin melaju, saya sempat melihat beberapa orang yang menaiki parasailing. Seru sekali. Teman saya bilang kalau dia ingin menaiki itu. 

Seruuu ...!
            Begitu tiba di bibir pantai tempat awal kami tiba, kami pun disuguhi kertas pendaftaran. Yang ingin menikmati sensasi parasailing, diminta mencantumkan namanya di kertas itu dengan membayar uang seratus ribu. Cukup murah, karena itu di bawah tarif umum.
           Seperti sebelumnya, saya tidak buru-buru menyatakan ikut. Saya ingin melihat dan beradaptasi terlebih dahulu. Uji nyali boleh, tapi ‘kan nggak harus gegabah. Setelah melihat beberapa yang naik dan terlihat nyaman di atas sana, barulah saya mantapkan hati mendaftar. Sstt ... bukan apa-apa, ini pengalaman pertama buat saya. Wajarlah kalau pakai ancang-ancang dulu. *ngeleeess ....*

Sesaat sebelum melambung tinggi ke atas permukaan laut
        Saya dan teman lainnya pun siap dengan atribut parasailing, menunggu giliran. Sambil menunggu, satu orang dari petugasnya memberikan arahan.
            “Nanti saat berlari dan naik, tangannya diletakkan di sini. Jangan sekali-sekali menarik atau menyentakkan tanda biru dan merah di tali yang ibu-ibu pegang nanti. Lihat aba-aba dari bendera berwarna merah dan biru yang dipegang teman saya itu,” ujarnya sambil menunjuk salah satu teman yang memegang kedua bendera yang disebutnya.
“Jika bendera merah dan biru disilangkan oleh teman saya, maka lepaskan pegangan pada kedua tali atau boleh tetap dipegang, asal tidak ditarik atau disentak-sentakkan. Saat menjelang turun, perhatikan bendera biru yang diangkat. Itu artinya, ibu-ibu harus menarik sekencang-kencangnya tali yang berwarna biru sampai tanda dilepaskan diberikan. Mengerti ya?” ujar anak muda itu menjelaskan.
Siap terbang tinggi
            Tibalah giliran saya. Jujur saja, agak berdebar juga jantung ini. Namun saya sudah memilih untuk diangkat tinggi-tinggi oleh parasut yang dihubungkan dengan tali yang dikendalikan oleh pengemudi speed boat di laut sana. Saya pun siap berparasailing, berlari, naik ... naik ... tinggi ... tinggi ... melihat hamparan laut bebas dari ketinggian. Masya Allah, indah sekali!

Semakin tinggi hingga tak tertangkap bidikan kamera lagi ^_^
            “Yuhuuu ...!” seru saya di atas sana tanpa didengar oleh siapa pun. Lepas rasanya. Saya benar-benar menikmati saat-saat melayang di atas hamparan laut yang terbentang di bawah saya. Hingga akhirnya saya menarik tali biru untuk perlahan-lahan mendarat kembali. Haaap ...! Saya berhasil mendarat dengan cantik selamat.

Alhamdulillah, mendarat dengan mulus
            Setelah itu, berakhirlah kebersamaan kami di Tanjung Benoa. Tujuan selanjutnya di hari yang sama akan saya ceritakan di bagian berikutnya. Tunggu ya! [Wylvera W.]


8 komentar:

  1. Wiiiih, seruuuu ya mak :)
    AKu sampe detik ini belum berani olahraga ekstrem kayak parasailing dll itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya kalau sudah di atas, semua rasa takut itu hilang. Seru aja rasanya, Mak. :)

      Hapus
  2. Bali selalu eksotis untuk selalu dijelajahi.. nice petualangannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya para turis senangnya ke sana ya. :)

      Hapus
  3. Pantai selalu seru untuk liburan. Setelah capek, bisa menikmati seafood, hhmmm.

    BalasHapus
  4. wiiish, keren euy, boleh juga tuh wisata ke penangkaran penyu, sambi mengasah kepekaan kita pada cinta alam semesta yaa.
    Olahraga sedot adrenalin begitu, aku belum pernah coba, mudah-mudahan satu saat berani deeh

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...