Jumat, 13 November 2015

Frankfurt di Hari Pertama

#Part 2
Lokasi Deutsche Bundesbank

            Masih menunggu lanjutan catatan perjalanan kami ‘kan? Yuk, mariii ....

            Dari Frankfurt Flughafen, suami memutuskan untuk naik taksi menuju Deutsche Bundesbank, di Wilhelm-Epstein-Straße 14 60431 Frankfurt am Main Germany. Selama taksi melaju, sesekali mata saya melirik argo. Maklumlah namanya juga emak-emak, suka merinding kalau melihat harga dan tarif yang bergerak cepat. *bukan pelit, hanya belajar berhemat, hahaha ....*

            “Kenapa? Nggak usah takut, nanti diganti kok sama panitianya,” celetuk suami, menangkap kecemasan saya pada angka yang bergerak terus dalam hitungan Euro di argo taksi yang kami naiki. *Idiiih ... jadi malu* ^_^

            Sekitar lima belas menit, kami pun sampai di depan pintu masuk The Bundesbank's Central Office itu. Penjagaan yang super ketat pun harus kami lewati. Setelah lolos sampai di halaman parkir, suami tidak serta-merta bisa secepat itu melakukan pelaporan diri. Selain paspor suami, paspor saya pun ikut dipertanyakan. *padahal saya nggak ikutan seminar juga, hihihi*

Sementara proses lapor itu berjalan, taksi yang membawa kami harus menunggu di parkiran dengan argo yang tentunya tetap berjalan. Duh! Kembali otak saya berputar menghitung jumlahnya. Masih tidak yakin kalau totalnya diganti penuh sama panitia. *dasar naluri Emak-emak, jangan diejekin yach ...:p*

            Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya suami mendapat izin untuk mengambil kunci apartemen selama beliau mengikuti seminar. Dari sana kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Bundesbank apartemen house di Flullerstrase 54 Frankfurt am Main. Setelah mengecek kamar apartemen jatah suami, kami harus check in di hotel tempat saya menginap juga. 
Di sinilah kami menginap selama empat malam di Frankfurt (dokpri)

Dari apartemen itu lagi-lagi kami memilih naik taksi. Untunglah lokasinya tidak terlalu jauh. Advena Motel Frankfurt letaknya di Eschersheimer Landstrasse 204, kawasan Dornbusch. Kalau berjalan kaki pun (sekitar 15 menitan katanya) sebenarnya bisa, tapi dengan membawa dua koper dalam kondisi kurang tidur, mending saya mengalah sama suami yang memilih naik taksi lagi.

Awalnya saya kira, saya akan menginap sendiri, ternyata suami berubah pikiran. Selama tiga hari mengikuti seminar, dia memilih untuk menenami saya menginap bersama di motel Advena. Ehem! Namanya juga sayang istri ... dia enggak tega juga ternyata membiarkan saya tidur sendirian di  motel yang cukup nyaman itu. *hahaha ....*

“Aku ikut menginap di hotel ini. Tapi, setiap pagi aku harus ke apartemen karena dari sana kami dijemput menuju lokasi seminar,” ujar suami saya memutuskan. Saya manut sajalah.


Kembali merasakan naik kereta di Frankfurt

            Setelah check in dan meletakkan koper di kamar, saya dan suami menyempatkan diri bersih-bersih. Selama di pesawat ‘kan tidak bisa mandi, jadi badan rasanya sudah mulai lengket. Seusai mandi, akibatnya mata diserang rasa kantuk. Namun, rasa kantuk itu terkalahkan oleh lapar yang kian menyerang. Akhirnya kami sepakat memilih keluar lagi untuk mencari makanan halal yang mengenyangkan. Beruntungnya, lokasi motel Advena tempatnya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Apalagi jika ditempuh dengan kereta, hanya sekitar sepuluh menit saja. 
Stasiun Dornbusch yang bersih (dokpri)
Beli tiket sekali jalan menuju Hauptbahnhof 

            Berhubung suami sudah mendapatkan tiket moda transportasi umum selama di Frankfurt dari pihak penyelenggara seminar, jadi hanya perlu membeli tiket untuk saya. Saya tersenyum ketika akhirnya kami kembali bersentuhan dengan mesin penjual dan pencetak tiket kereta. Setelah membeli tiket sekali jalan menuju central station, kami pun menunggu kereta di peron Dornbusch. Tidak perlu menunggu lama, kereta pun tiba dan membawa kami menuju Frankfurt Central Station (Frankfurt Hauptbahnhof). Tidak ada kereta yang langsung menuju ke sana. Kami harus transit di Willy-Brandt-Platz station. 
Tinggal baca rute kereta atau tram, nggak bakal nyasar (dokpri)
Ini jenis tiket untuk seminggu (dokpri)
        Dari sini hanya sekali menuju Frankfurt Hauptbahnhof. Pokoknya gampanglah kalau rajin membaca peta. Kemana-mana ada petunjuknya. Apalagi Frankfurt tidak terlalu luas kotanya.


Melepas lapar dengan makanan halal

            Begitu keluar dari stasiun sentral, bibir saya lagi-lagi tersenyum. Enam tahun lalu, saya dan anak-anak juga pernah berfoto di depan stasiun besar dengan ornamen gedung yang klasik ini. Tidak banyak yang berubah sebenarnya. Hanya dulu ketika kami datang, musim dingin tengah menyelimuti kota ini. 
Di depan stasiun sentral FRA (dokpri)
             Sekarang, saya tidak perlu membalut tubuh dengan busana berlapis-lapis, sebab udara musim panas mirip dengan Jakarta. Bedanya, di musim panas terangnya lebih panjang dibanding musim dingin. Jam delapan malam saja masih seperti sore hari di Jakarta. Jadi bakal puaslah menikmati sudut-sudut kota tanpa khawatir keburu gelap.


Menunggu pesanan dengan mata sembab ^_^ (dokpri)

            Setelah berfoto ria di depan stasiun, kami kembali fokus pada perut yang lapar. Banyaknya wajah Timur Tengah membuat kami selalu merasa nyaman. Karena itu berefek pada restoran yang menyajikan makanan halalnya. 
Vegetarian Kebab (dokpri)
           Bahkan tidak jauh dari stasiun, merupakan kawasan pemukiman muslim. Di sepanjang jalan itu pula restoran berlabel halal berderet-deret menyajikan tampilan menu yang membuat perut semakin terasa lapar. Harganya juga tidak terlalu mahal. Ini yang membuat saya senang ketika suami mengajak ke Frankfurt.


Menelusuri sebagian jejak kenangan

            Setelah kenyang, kami kembali menelusuri jalan. Niat pertama saya ingin sekali melihat kawasan Römerberg (alun-alun di kawasan kota tua) yang tidak pernah sepi dari wisatawan. Tidak jauh dari situ, saya juga ingin kembali melihat jembatan yang terbentang kokoh di atas sungai Main. Namun, karena waktu yang tersisa di hari pertama itu begitu sempit, akhirnya kami memutuskan untuk melihat yang sempat terlewati saja. 
 
Jangan mandang lama-lama ke patung di belakang ya. :p (dokpri)


            Mungkin bagi sebagian orang, Frankfurt tidak begitu populer sebagai destinasi wisata. Kalah jauh dibanding München, Berlin, Heidelberg, dan beberapa kota lainnya di Jerman. Sebagian beranggapan bahwa Frankfurt tak lebih dari sebuah kota yang kaku karena lebih populer sebagai kota bisnis. Apalagi melihat banyaknya kantor pusat bank terbesar di Jerman yang berdiri gagah di kota ini. Namun, buat saya bertandang ke negeri orang tetaplah harus  menemukan sisi yang berbeda. Selain gedung-gedung bisnis bertingkat itu, tentu Frankfurt juga menyimpan bangunan bersejarah lainnya yang layak untuk dijadikan objek wisata.

Lambang Euro yang berdiri gagah di depan Eurotower (dokpri)


            Salah satunya yang terpusat di kawasan Römerberg. Itu yang membuat saya tetap menyimpan rasa ingin kembali ke sini. Sambil terus berjalan bersama suami, matahari pun perlahan meredup. Hingga saya begitu girang ketika akhirnya kembali melihat lambang mata uang Euro yang masih berdiri gagah di depan European Central Bank . Menurut informasi di google, lambang mata uang Euro ini adalah yang terbesar di Eropa. Di sinilah kami menyudahi hari pertama menginjakkan kaki di kota Frankfurt. Masih ada hari berikutnya untuk kembali memuaskan mata dan mengabadikan objek lainnya di Frankfurt. Tunggu ya catatan berikutnya. ^_^ [Wylvera W.]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...