Jumat, 13 November 2015

Heidelberg, Kota Romantis di Jerman

#Part 3
Menunggu kereta di stasiun Dornbusch
            Hari ketiga tidak saya habiskan di Frankfurt. Sementara suami mulai mengikuti jadwal seminar, saya tidak ingin menunggu dan hanya diam di motel. Sehari sebelumnya, saya sudah menyusun rencana. Kebetulan ada anak teman saya yang kuliah di Darmstadt. Wisnu nama anak muda yang santun dan baik hati itu. Mamanya memberi saya nomor Wisnu. Jadilah kami saling menyapa lewat whatsapp dan menyusun rencana perjalanan di hari Rabu, 29 Juli ’15 itu.

Sarapan pagi di motel bersama suami
            Singkat cerita, pagi itu setelah menemani suami menikmati jatah sarapan di motel, saya pun minta izin untuk mengunjungi Heidelberg. Suami saya yang baik hati dan pemurah itu, langsung memberi izin. Duh! Senangnyaaa....
            Setelah selesai sarapan dan melepasnya seminar, saya pun bersiap-siap menuju Frankfurt Hauptbahnhof kembali. Bismillah ....
Siap menuju Heidelberg
            Saya dan Wisnu sepakat untuk bertemu di Frankfurt Hauptbahnhof jam 9 pagi. Sementara kereta yang akan membawa kami berangkat pukul 10:10 waktu Frankfurt. Hmm... harga tiketnya lumayan juga. Berdua totalnya 56 Euro (sstt ... jangan dikonversikan ke rupiah ya, bakal nggak nyaman perjalanannya. Hahaha....). Tapi, tidak apa-apa, demi memuaskan hati yang pengin banget melihat Heidelberg. 

Stasiun kereta di Frankfurt yang tak pernah sepi (dokpri)
           Waktu tempuh dari Frankfurt ke Heidelberg menghabiskan durasi sekitar satu setengah jam. Untunglah teman seperjalanan saya ini tipe anak kuliahan yang tidak pendiam. Hingga waktu selama itu tidak terlalu membosankan. Ada saja yang ingin dijelaskan Wisnu kepada saya. Sesekali saya menimpali dan selebihnya memilih menyimak. 

Selfie di kereta menuju Heidelberg
            Tiba di stasiun Heidelberg, kami harus melanjutkan perjalanan dengan bis menuju lokasi kastil dan kota tuanya. Wisnu ternyata sudah lebih dulu menghubungi temannya yang sedang melanjutkan kuliah di kota tua yang romantis itu. Awalnya saya pikir, temannya itu laki-laki juga. Begitu turun dari bis, kami disambut cewek manis berjilbab yang sudah sabar menunggu di bawah rintik hujan.
            “Kenalkan, Tante. Ini Arin, temanku,” ujar Wisnu.
            Perkenalan singkat itu pun akhirnya membawa saya, Wisnu, dan Arin dalam suasana keakraban. Seolah kami sudah lama saling mengenal. Setelah itu, Arinlah yang mengambil alih menjadi tour guide kami.
Memutuskan naik kereta menuju kastil
            Ada momen lucu yang sepertinya bolehlah buat saya ceritakan di catatan ini. Entah segan, atau apalah namanya. Wisnu dan Arin agak lama memberi keputusan tentang cara supaya sampai ke Schloss Heidelberg atau yang lebih populer disebut Heidelberg Castle itu. Pasalnya, mereka khawatir saya tidak mampu mendaki bukit kalau tidak naik kereta. Nah, untuk naik kereta tarifnya per orang sekitar 4 Euro untuk mahasiswa yang kuliah di sana, 6 Euro untuk turis. Ini yang membuat mereka segan.
Wisnu dan Arin di dalam kereta (dokpri)
Itu jalur yang dilewati kereta menuju bukit kastil (dokpri)



             Saya geli melihat kecanggungan mereka. Maklumlah, anak kuliahan. Saya paham sekali kalau uang 4 Euro itu sangat berarti buat mereka. Dan, tidak mungkin saya membiarkan mereka menanggung biaya itu demi memuaskan rasa ingin tahu saya. Sayalah yang bertanggung jawab untuk itu. Nah, setelah membeli tiket, kami pun menuju kereta yang akan membawa kami mendakit ke puncak bukit dimana istana tua itu berada. 
Menelusuri simbol utama kota Heidelberg nan romantis
            Heidelberg merupakan kota otonom (Kreisfreie Stadt) yang terletak di Baden – Wurttemberg, Jerman. Letaknya di tepi sungai Neckar. Kastil, kota tua, dan universitas tertua (Universitas Heidelberg) membuat daya tarik tersendiri bagi Heidelberg. Heidelberg adalah salah satu kota besar di Jerman yang tidak hancur dilanda perang dunia kedua. Heidelberg juga merupakan bagian kawasan padat yang dikenal sebagai Wilayah Rhein-Neckar Raya.

Berpose di salah satu sudut kota tua (dokpri)
            Salah satu sudut pandang menarik dari Heidelberg adalah kota tua yang sudah ada dari zaman Barok (Barocke Altstadt). Uniknya, jalan utama sepanjang 1,6 km (terpanjang di Eropa) yang ada di kota tua hanya dikhususkan untuk para pejalan kaki. Di sepanjang jalan ini berdiri bangunan-bangunan penting bersejarah.
            Dari sekian banyak bangunan bersejarah itu, tujuan utama saya mengunjungi kota ini adalah Schloss Heidelberg atau Heidelberg Castle (Kastil Heidelberg). Inilah yang menjadi simbol utama kota Heidelberg serta membuatnya mendapat julukan kota paling romantis di Jerman. Selain naik kereta (funicular railway), mencapai kastil yang berada di atas bukit dengan bangunan setinggi 80 meter pada tebing gunung bisa juga dengan berjalan kaki. Tapi, saya lebih memilih naik keretanya sajalah. Kasihan kalau Wisnu dan Arin nanti menjadi terbebani jika tiba-tiba saya gempor. *hahaha ....*
Ini tempat pemberhentian keretanya
            Tak sampai 5 menit, kereta kami pun tiba di jalur masuk menuju Kastil Heidelberg. Saya pun menyiapkan kamera DSLR Nikon kesayangan suami. Begitu menapakkan kaki di bukit itu, mata saya langsung tersedot oleh bangunan bergaya gothic dan renaissance itu. Kastil Heidelberg dibangun pada abad 13 di atas bukit Koenigstuhl oleh Prince Rupert I yang juga dikenal sebagai pendiri Uni Heidelberg. Kastil ini sarat dengan sejarah. Berkali-kali hancur akibat perang, dibakar pasukan Prancis, disambar petir, dan dihajar meriam pasukan Swedia. Belum lagi ketika penduduk Heidelberg beramai-ramai mengambil batu kastil untuk mendirikan rumah baru mereka. Berkat jasa Charles de Graimberg (bangsawan Prancis), bangunan kastil pun bisa diselamatkan dan dipromosikan sebagai objek wisata hingga saat ini.
Pintu masuk menuju Kastil Heidelberg
            Kami terus berjalan menelusuri bangunan kastil. Diam-diam saya masih memikirkan sebutan “romantis” itu. Kira-kira dari sudut mana ya sebutan itu dipopulerkan? Namun, sebelum usai, saya tak mau mempertanyakannya kepada Arin yang sudah lebih dari dua tahun kuliah di Heidelberg.
Selain mengagumi kemegahannya, tiba-tiba saya disuguhi sebuah bangunan yang letaknya menyatu dengan kastil itu sendiri. Di depan sudah jelas diletakkan papan nama. Deutsches Apotheken Museum dan Keller (ruang bawah tanah) tempat menyimpan gentong wine

Pintu masuk ke museum apotek (dokpri)

Wadah tempat menumbuk bahan obat-obatan (dokpri)

            “Kalau mau moto, jangan pakai flash ya, Tan,” pesan Arin mengingatkan saya.
            Saya mengangguk saja, padahal dalam hati ada rasa tidak puas jika mengambil gambar di ruang tertutup dengan pencahayaan yang tidak maksimal tanpa blitz. Sesekali melanggar aturan saya pikir tak masalah asal jangan ketauan. Kapan lagi saya bisa masuk ke museum pembuatan obat-obatan yang super lengkap ini. *hahaha... don’t try ini ya*

Ada ruang apotek tempat anak-anak belajar meracik obat (dokpri)
            Saya pun memuaskan mata dengan bidikan kamera di setiap objek yang bisa saya ambil. Silakan nikmati hasilnya di bawah ini. 
Lemari tempat penyimpanan obat-obatan (dokpri)

            Selesai mengitari museum apotek tua itu, kami pun ke luar dan melanjutkan eksplorasi ke sisi lain dari Schloss Heidelberg. Begitu menaiki tangga menuju teras atas, barulah saya percaya kalau kastil ini mampu meniupkan aura romantisme yang sesungguhnya. 

dokpri
  Pemandangan dari atas pelataran kastil (dokpri)

Saya membayangkan, jika matahari senja turun di atas sana, maka duduk di atas teras kastil dengan batu dinding batanya yang kemerah-merahan ini sambil memandang kota Heidelberg di bawah sana bersama pasangan, tentulah mampu menghadirkan keromantisan tersendiri. 

Dari sini kami menuruni kastil (dokpri)
            Karena tiket funicular railway yang kami beli hanya untuk sekali jalan, maka ketika menuruni bukit kastil kami harus berjalan kaki. Lumayanlah untuk saya. Untungnya Wisnu dan Arin mau menyamakan langkahnya dengan derap perlahan kedua kaki saya yang mulai senja ini. *lebay .... hahaha *
Menyusuri Altstadt hingga ke Old Bridge
            Saat pertama masuk sebenarnya kami sudah melewati kota tua (Altstadt), namun karena tujuan pertama adalah kastil, saya masih mengabaikannya. Saat turun dari kastil itulah saya merasa seolah dibawa ke alam pada kisah-kisah zaman kerajaan di Eropa. Di sepanjang kota tua Heidelberg ini tersedia kafe, restoran (ada yang halal juga lho), toko-toko suvenir, butik, museum, gereja, monumen, market square, dan balai kota. Saya sempat membayangkan wajah suami saat itu. Sayang dia tidak bisa ikut serta menikmati keromantisan kota Heidelberg bersama saya.

Toko cokelat Lindt yang populer itu berdiri megah di Heidelberg
            Sesaat sebelum menuju jembatan tua yang juga menjadi ikon kota Heidelberg, perut kami tak bisa lagi diajak berdamai. Arin mengajak saya dan Wisnu untuk menikmati kebab. Di restoran Turki itulah kami melepas lelah sambil mengisi perut yang mulai keroncongan. Sambil menikmati kebab pilihan masing-masing, Arin bercerita tentang jurusan yang diambilnya.
            Kalau tidak salah dengar, Arin mengambil jurusan BioKimia. Dia juga bercerita bahwa saat mengukur tekanan air, tangga menuju bukit kastil pernah dijadikan tempat praktik. Mereka, teman-teman mahasiswa Arin estafet mengantarkan air sampai ke tangga atas. Saya tersenyum menyimak cerita-cerita Arin dan Wisnu. Terbayang, jika anak-anak saya kelak ada yang pengin kuliah di Heidelberg. 
Hotel Ritter di kawasan kota tua(dokpri)

Eiiits, ada Hardrock Cafe juga di sini (dokpri)
           Selepas makan siang, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju jembatan yang terbentang di atas Sungai Neckar. Sesekali saya singgah dan membidik objek yang saya sukai. Salah satunya kedai eskrim yang kata Arin murah banget harganya. Cukup 1 Euro, kita bisa menikmati satu scoop eskrim sesuai pilihan rasa yang kita suka. Namun karena saat itu udaranya lumayan dingin, kami mengurungkan selera untuk mencicipinya. 

Di sini kalau mau mencicipi eskrim murah itu (dokpri)
Akhirnya sampailah kami pada jalan menuju gerbang dari Jembatan Tua. Nama resmi dari jembatan tua yang terkenal dengan nama Alten Brücke itu adalah Jembatan Karl Theodor. Jembatan ini adalah bangunan jembatan tertua di Jerman (1248). Dulunya masih berupa jembatan kayu, hingga akhirnya dibangun secara permanen pada tahun 1788.

Pemandangan dari jembatan (dokpri)
Alten Brucke nan indah (dokpri)
Kalau dizoom, tahunnya pasti keliatan ^_^ (dokpri)
 Ada penampakan angka-angka di dinding jembatan yang membuat saya penasaran. Menurut Arin, itu adalah tahun yang menunjukkan kalau pernah terjadi banjir (sungai meluap) di Heidelberg dan letak penulisan tahun itu menunjukkan ketinggian air.   Saya belum mengecek kebenaran sejarah itu. Tolong bantu cek ya. *hahaha ... dasaaar*
Wisnu dan saya
Bukan yang ini penjaga jembatan lho ya :p
Satu lagi yang tak luput dari bidikan kamera saya adalah patung kera yang terbuat dari logam. Lagi-lagi Arin sambil bercanda mengatakan bahwa patung kera itu dilambangkan sebagai penjaga jembatan. Baiklah kalau begitu... saya harus berfoto dengan patung keranya. *hahaha... eksis sih kudu tetap*
Waktu memaksa saya harus kembali ke Frankfurt
            Sebelum benar-benar berpisah dari Arin, kami sempat dibawa melihat perpustakaan tua yang ada di Heidelberg. Arin juga tidak lupa mengingatkan saya.

Mampir ke perpustakaan (dokpri)
            “Jangan lupa titipkan novel karya Tante ke Wisnu ya, Tan. Dia mau liburan ke Indonesia. Aku penasaran pengin baca cerita “Geranium Blossom”,” ujar Arin yang ternyata memiliki hobi menulis juga. Bahkan beberapa cerpennya pernah dimuat di media asal kota kelahirannya (Padang).
            Terima kasih, Arin. Semoga kita bisa bertemu lagi. Tante tidak akan lupa menitipkan novel itu buatmu. Bahkan satu ide kisah romantis pun sudah tersimpan rapi di kepala ini, Rin. Selamat meneruskan kuliahmu di Heidelberg.
            To be continued .... [Wylvera W.] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...