Kamis, 31 Maret 2016

Melengkapi Kunjungan di Washington DC


 
            Hari ketiga kami masih di Washington DC. Masih ada beberapa objek sejarah dan wisata yang belum sempat kami singgahi. Akhirnya setelah berpamitan pada teman suami saya, kami masih menyempatkan untuk melengkapi kunjungan ke beberapa objek sejarah dan wisata lainnya.

Washington Monument, monument batu tertinggi di dunia
Karena begitu banyaknya objek bersejarah yang terdapat di kawasan National Mall, kami terpaksa membagi-bagi waktu kunjungan. Di hari pertama sebenarnya kami sudah berjalan di samping Washington Monument tersebut, namun akhirnya memilih ke lokasi yang lain.

Washington Monument
Wuiiih ... berrraaat! :p

            Saat mengitari National Mall, monument yang menjulang sekitar 169 meter selalu terlihat.  Letaknya ke arah Barat dari gedung US Capitol, persis di seberang Lincoln Memorial. Monumen yang pembangunannya dimulai sejak 1848 ini dipersembahkan untuk George Washington (presidan pertama Amerika). Monumen ini resmi dibuka pada tanggal 9 Oktbober 1888.


            Ada yang sedikit berbeda di monumen ini. Jika diperhatikan, warna batu di bagian bawah lebih gelap dari yang di atas. Perbedaan tersebut akibat sempat terjadi pemberhentian pembangunan karena masalah dana (1861 – 1865). Namun perbedaan warna fisik batu monumen tidak mengurangi keindahan dan tetap menjadikannya sebagai salah satu ikon kota Washington DC.

Akhirnya mendekat ke Thomas Jefferson Memorial
            Di hari pertama, saya sempat mengulas sedikit tentang bangunan bersejarah, Thomas Jefferson Memorial. Namun, karena di hari pertama kami tidak sempat untuk melihat lebih dekat, maka di hari ketiga kami kembali ke sana. 

Thomas Jefferson Momerial

            Thomas Jefferson (presiden ke-3 Amerika) adalah salah satu American Founding Fathers yang berperan penting dalam penulisan Declaration of Independence. Monumen yang didedikasikan untuk Thomas Jefferson ini dibangun pada tahun 1939 dan selesai di tahun 1943 (saat berlangsungnya Perang Dunia II).



            Di dalam gedung tersebut terdapat patung Jefferson yang terbuat dari perunggu setinggi 6 meter. Posisinya seolah melihat ke arah gedung putih. Thomas Jefferson dikenal sebagai sosok yang pintar. Kepintaran itu dilambangkan oleh tiga benda yang ada di bagian kaki patung beliau, yaitu jagung, buku, dan kolom. Jagung melambangkan bahwa Thomas Jefferson adalah seorang agronomist handal. Buku melambangkan bahwa Thomas Jefferson merupakan founding father sebuah universitas di DC. Sementara kolom melambangkan bahwa beliau adalah seorang arsitek yang mumpuni.

Khalid serius banget. Memandang apa ya itu? ^_^

            Di depan bangunan ini ada kolam jernih dan taman yang cantik. Kami memuaskan kesempatan untuk merekam beberapa objek di area Thomas Jefferson Memorial Park. Yang paling menyenangkan, tidak perlu membayar untuk bisa masuk ke gedungnya.

Merekam sejarah di area Franklin Delano Roosevelt Memorial
            Satu lagi saksi sejarah yang bisa kami temukan di seputar National Mall, yaitu Franklin Delano Roosevelt Memorial. Presiden Amerika Serikat yang ke-32 ini lebih dikenal dengan sebutan FDR. Roosevelt terpilih menjadi presiden pada tahun 1932. Dia menjadi satu-satunya presiden yang menjabat selama 4 periode sebelum kematiannya saat masih menjabat pada tahun 1945.

Franklin Delano Roosevelt Memorial
Saya (endut ya:p) dan Patung Anna Eleanor Roosevelt
            Franklin Delano Roosevelt dikenang sebagai presiden yang mengeluarkan Amerika Serikat dari Depresi Besar dan Perang Dunia II. Beliau juga dikenang atas kontribusi dan perjuangannya mengatasi berbagai masalah kesehatan. Namun, pada satu musim panas, FDR mengalami sakit polio. 

Man at the radio W.O. II waiting for (good) as a newsletters
Istrinya Anna Eleanor Roosevelt membantu FDR berjuang melawan penyakit yang sangat melemahkannya itu. Saat kondisinya mulai membaik, FDR bergerak dalam bidang kemanusiaan, di samping bidang politik yang dijalankannya.

ILL-Housed, ILL-Clad, ILL-Nourished (atas dan bawah)

Pernyataan Franklin Delano Roosevelt yang terkenal pada upayanya mengeluarkan Amerika dari Depresi Besar (1933) adalah “I see one-third of a nation ill-housed, ill-clad [poorly clothed], ill-nourished.” Saat itu Roosevelt berjanji untuk memimpin Amerika maju dalam mengejar pemulihan ekonomi penuh.

Tidak mau terlewat dari National Museum of Natural History
            Di komplek Institute Smithsonian, yang paling banyak dikunjungi dan diminati adalah National Museum of Natural History. Mungkin karena museum ini paling atraktif dan menyediakan berbagai fasilitas umum. Tidak sedikit pengunjung yang melakukan penelitian di sana, terutama di bidang biologi, ilmu kebumian, dan antropologi.

Komplek Institute Smithsonian

            Awalnya saya ingin mengajak segera kembali ke Urbana, namun anak-anak kami bersikeras untuk masuk ke dalam National Museum of Natural History. Museum yang terdiri dari tiga lantai itu memajang ragam temuan fosil tumbuhan dan hewan seperti mamalia, dinosaurus, serangga, burung, reptil, dan kehidupan laut zaman purba. Ada laboratorium fosilnya juga.

Di salah satu pintu masuk museum
Bayangkan kalau gajahnya tiba-tiba hidup. Hihihi ....
Bapak dan Khalid *abaikan yang motret itu* ^_^
            Tidak hanya memamerkan beragam fosil, museum ini juga memajang pengetahuan budaya bangsa-bangsa di dunia. Mulai dari budaya Asia dan Afrika sampai legenda ekspedisi Viking di Amerika Utara. Banyak pengetahuan yang bisa ditemukan di dalam museum yang luas itu.

Khalid betah banget di sini

            Waktu itu saya merasakan pebedaan kondisi museum di Indonesia dengan Amerika. Di sana, museum menjadi salah satu tujuan wisata warga. Itu sebabnya brosur-brosur yang ditawarkan tidak hanya mempromosikan tempat wisata alam tapi justru dilengkapi dengan promosi museum-museumnya. Di hari biasa saja museum selalu ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan, termasuk para orangtua. Apalagi saat musim libur, kita akan takjub melihat orang-orang yang memadati museum di sana.

Meninggalkan DC
            Sudah cukup jatah liburan kami di Washington DC. Suami saya pun memutuskan untuk segera meninggalkan kota yang telah memberikan banyak pengetahuan serta pengalaman manis itu. Kami harus kembali ke Urbana. 

Detik-detik meninggalkan DC
Pemandangan yang tertinggal dan terlihat dari tepi jalan
            Sambil  berjalan menuju area parkir, Mira dan Khalid seakan enggan meninggalkan kota itu. Tapi, kami harus kembali. Masih ada satu agenda lagi yang harus kami penuhi. Sebelum berangkat menuju DC, suami saya berencana untuk berburu koper murah. Sebelum hari beranjak malam, kami harus menyusuri kota-kota kecil di luar DC untuk menemukan toko murah itu.

Bye DC ...!
Mira menggantikan posisi saya mendampingi Bapaknya ;)
            Usailah sudah catatan perjalanan kami sekeluarga di Washington DC. Terima kasih saya ucapkan kepada Mas Agus Firman Syah dan Mbak Dewi untuk tumpangan menginapnya yang sangat nyaman buat kami. Semoga suatu hari nanti, kami diberi rezeki dan kesempatan kembali lagi ke sana. Aamiin. [Wylvera W.]

Note:
Yang belum membaca catatan perjalanan di Washington DC dari awal, bisa lihat di sini dan sini
Postingan hari ke-5 untuk One Day One Posting Fun Blogging (tema bebas)  
         

8 komentar:

  1. waaah museum fossilnya menarik ... aku selalu suka dtg ke museum2 kalo lg traveling.. pasti yg aku browsing pertama kali itu themepark dgn wahana2 extreme, baru yg kedua museum:)... di indo itu aku prnh baca jumlah museum masih dikiiiit bgt, ga nyampe 100... sementara di LN, museum dijadiin tmpat wisata dan biasanya rame malah . Padahl kan dari museum kita bisa bljr banyak sejarah dengan cara gampang dan asyik ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Indonesia bisa saja mencontoh cara orang Amrik mengelolal museumnya agar memberi daya tarik yang kuat bagi masyarakat untuk berkunjung. :)

      Hapus
  2. seru banget perjalanannya mba...

    salam kenal yaa.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, alamhamdulillah.
      Salam kenal kembali. :)

      Hapus
  3. Khalid masih keliatan unyu banget. Memang ya, Mbak, museum di LN lebih tertata dan jadi tujuan wisata. Semoga Indonesia segera menyusul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Indonesia bisa kok kalau mau dan konsisten ya. Btw, itu kenangan kami beberapa tahun lalu, Mbak. :)

      Hapus
  4. Perginya pas zaman belum ditemukan tongsis ini, kan Mbak? Penasaran, pas foto berempat, siapa yang ambil gambarnya?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...