Laman

Minggu, 21 Januari 2018

Dari Federation Square Sampai St. Kilda



             Melbourne adalah kota kedua yang ingin kami kunjungi di Australia. Selain memiliki fasilitas pendidikan dan ekonomi, ibu kota negara bagian Victoria ini juga terkenal dengan pusat hiburan dan pariwisata yang lengkap.  Itu sebabnya, walaupun hari sebelumnya kami sudah lelah efek hilang arah, tetap ada keinginan untuk mendata daftar tempat yang akan kami singgahi. Kami hanya punya waktu sehari penuh untuk memilih mana yang menjadi prioritas untuk dilihat.  
Sayangnya, saat kami terbangun sebelum subuh di hari kedua, udara terasa sangat menusuk di kulit. Saya cek suhunya, sekitar 9 derajat Celcius. Kamar apartemen yang dilapisi oleh tembok dan jendela-jendela kaca seolah tak mampu menahan udara dingin dari luar. Awalnya kami ingin berangkat sepagi mungkin dari apartemen. Rencana malam hari yang sudah kami sepakati sedemikian rupa akhirnya sedikit berubah. Kami tidak mungkin keluar dengan hanya melapisi badan berjaket tipis. Bisa mendadak beku sebelum mampu melanjutkan perjalanan.
            Setelah salat subuh, kami terpaksa menarik selimut dan meringkuk kembali di tempat tidur. Saya mencoba menyalakan penghangat kamar. Lumayan, perlahan suhu di kamar apartemen kami menghangat. Namun di luar masih dingin. Kami harus sabar menunggu suhu bergerak naik.

Mampir di Federation Square
            Setelah suhu udara meningkat, kami bergegas meninggalkan apartemen. Dari Southern Cross Station, tujuan pertama kami adalah berhenti di Flinders Street Station yang letaknya dekat dengan semua pusat wisata kota Melbourne.

Tak sah kalau tidak berpose di depan stasiun ini :p
Suasana kota mulai terlihat ramai
            Tiba di stasiun Flinders Street, saya langsung melihat Federation Square yang menjadi tempat pertemuan di kota Melbourne. Tentu saja, karena Flinders Street dan Federation Square terletak di sudut jalan Swanston Street dan Flinders Street yang merupakan jantung dan ikon kota Melbourne. Sementara St Paul’s Cathedral berdiri gagah di depannya. Pagi jelang siang, area itu sudah mulai dipadati oleh para pengunjung, baik penduduk setempat maupun turis dari berbagai negara.  

Federation Square
Berlatar St Paul's Cathedral
Lokasi ini menjadi tujuan prioritas karena merupakan kawasan budaya yang unik dan menggabungkan berbagai tujuan wisata. Mulai dari museum dan galeri sampai aneka restoran, bar serta kafe. Pantas saja, ramai sekali pengunjung di situ. Bahkan anak-anak bebas bermain di area sekitarnya. Federation Square yang mampu menampung 10.000 orang ini dijadikan pusat acara di Melbourne setiap tahunnya. Termasuk festival multi budaya, pemutaran film, pasar, dan olahraga.

Suasana area Federation Square berlatar stasiun Flinders Street
Demi memanfaatkan waktu yang terus bergerak, kami segera mengabadikan beberapa sudut untuk berfoto.  Federation Square yang tata letaknya agak lebih tinggi dari permukaan jalan, menyajikan pemandangan di sekitarnya mampu menjadi latar yang ciamik.  
Setelah puas berfoto, kami mampir ke Visitor Information Centre untuk mencari informasi tempat mana yang berikutnya akan kami kunjungi. Dari sana kami mendapat info tentang moda transportasi umum gratis jika ingin berkeliling kota Melbourne. Alhamdulillah, senang banget rasanya karena tidak perlu merogoh kocek lagi.

Berkeliling kota Melbourne dengan City Cirlce Tram
Saya pernah ke Basel di Switzerland yang menyediakan jalur trem di mana-mana jika ingin menyusuri kotanya. Saya pikir Basel lah yang memiliki jaringan trem terbanyak di dunia. Namun, dari berbagai artikel tentang Melbourne, ternyata hampir semua sependapat jika kota ini lah yang punya jaringan trem terbesar di dunia. 

Horeee ... tremnya sudah dataaang!
Ada dua transportasi umum gratis yang disediakan oleh pemerintah Victoria. Trem dan shuttle bus yang disediakan untuk para turis. Setelah mendapatkan informasi dari Visitor Infromation Centre, kami memilih moda transportasi gratis yang bisa membawa kami berkeliling, yaitu city circle tram. 

Keren kan ya? ;)
Kami bergegas menuju halte yang bertanda “city circle”. City circle tram yang bentuknya mirip dengan kereta itu sudah terlihat di kejauhan. Fisiknya terlihat klasik baik interior dan eksteriornya. Begitu trem berhenti, kami memilih duduk di bangku sebelah kanan dari arah bergeraknya. Trem ini dilengkapi dengan suara rekaman panduan wisata tentang tempat-tempat yang dilewati. Trem ini juga ada lonceng yang memberi kesan kereta zaman tempoe doeloe. Sementara, penumpangnya bebas mau berhenti dan naik di mana saja di setiap pemberhentian bertanda “city circle” yang dilalui trem itu.

Kak Nuraida dan senyumnya ;)
Lihatlah interior tremnya
Ini beberapa lokasi yang dilalui City circle tram
Perjalanan menyusuri kota Melbourne pun dimulai. Satu per satu objek wisata dan lokasi bersejarah dijelaskan oleh suara pemandu wisata dalam trem itu. Karena kami pikir ingin menghemat waktu, maka tidak di semua tempat kami turun walaupun ada halte di situ. Kami terpaksa memilih-milih. Setelah trem mengitari kota, untuk putaran berikutnya kami turun di Docklands drive. Kawasan ini persis di tepi Victoria Harbour yang letaknya antara Collins St dan Bourke St. Area pelabuhan ini diapit oleh gedung-gedung bertingkat mencakup perkantoran, restoran, dan cafĂ©. 

Spot fotonya lumayan bagus
Kawasan Docklands

Daerah ini pernah menjadi sumber pangan bagi suku asli Aborigin. Namun sekarang sudah dihuni oleh orang-orang Eropa. Hari itu kawasan Docklands terlihat sepi. Hanya terlihat ramai saat jam makan siang. Kami menyusuri tepian harbour sambil menikmati udara laut yang sejuk dengan angin sepoi-sepoi. Sesekali kami manfaatkan untuk mengabadikan foto di beberapa spot. Hingga tiba di depan Etihad Stadium yang merupakan salah satu venue olahraga dan hiburan serba guna berteknologi tinggi.



Stadium ini juga dikenal dengan nama Docklands Stadium yang posisinya berada di jantung wilayah Docklands. Kami tidak masuk ke dalam stadium yang selalu menjadi tuan rumah bagi Australian Rules Football (AFL)/ Aussie Rules di setiap akhir pekan selama musim dingin (Maret – September) itu. Hanya berfoto di depannya saja. Dari Jalan Harbour Esplanade ini kami melanjutkan naik trem gratis kembali menuju tempat wisata berikutnya. Trem ini akan beroperasi dari pukul 10:00 sampai 21:00 di hari Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Sementara hari Rabu dan Minggu hanya sampai pukul 18:00 saja.

Berkeliling di Sea Life Melbourne
Dari Docklands drive, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan trem gratis tadi. Tempat wisata berikutnya yang kami kunjungi adalah Sea Life Melbourne yang merupakan rumah bagi lebih dari 10.000 hewan laut. Setelah membayar tiket seharga 45 AUD untuk dewasa, kami bebas berkeliling di area akuarium itu sepuasnya. 
 
Berhenti di Sea Life
Serasa di Sea World
Ubur-uburnya bersinar cantik
Hal pertama yang terbayang saat memasuki akuarium raksasa itu adalah Sea World yang ada di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. Namun saya tidak ingin membanding-bandingkannya karena masing-masing tentu ada keunikan dan kelebihannya sendiri.

Ikannya antik banget (lupa namanya apa)
Tabung akuarium untuk spot foto
Kepitingnya juga unik
Kak Nuraida bercengkerama dengan Nemo ;)
            Dari mulai Bay of Rays yang menampilkan habitat laut seperti ikan pari raksasa, kami terus menyusuri 14 bagian hewan laut dengan masing-masing jenisnya. Ada kuda laut yang bentuknya lucu. Ukuran tubuhnya tidak seperti kuda laut yang saya lihat di tivi dan film selama ini. Saya tekun memerhatikan gerakan kuda laut mungil itu. 

Seahorse yang unik
            Dari seahorse, kami juga melihat buaya besar yang begitu tenang berada dalam akuariumnya. Sedikit merasa cemas, kami mencoba berfoto di atas perahu yang diletakkan persis di atas akuarium tempat buaya itu berada. Tidak berani berlama-lama karena lantainya terbuat dari kaca, kami segera menjauh dari spot foto itu.
 
Buayanya besar banget
Sedikit tegang berpose di atas perahu ini
            Dari sana, kami ikut menonton film 4 dimensi yang menyajikan kisah pendek tentang hewan laut. Sebelum masuk, petugas bioskop membagikan kacamata. Asyik juga menyaksikan film berdurasi sekitar 30 menit itu. Seolah kami benar-benar berada di dalam laut.

Selepas nonton habitat laut
            Demi memanfaatkan waktu yang cukup singkat, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju penguin playground. Lokasi ini pula yang menjadi bagian terakhir yang bisa dikunjungi di Sea Life Melbourne.

Penguinnya sehat dan gembul

            Wah! Girang banget rasanya melihat penguin yang gemuk dan sehat di lokasi ini. Ada banyak penguin yang sedang bermain di situ. Sayangnya, kami tidak bisa bersentuhan dengan penguin-penguin itu. Saya harus puas dengan melihatnya dari jarak dekat saja. Tingkah para penguin itu bikin hati enggan meninggalkannya. Namun kami harus segera melanjutkan destinasi lainnya agar sisa waktu bisa dimanfaatkan maksimal.

Melihat keramaian di tepian Sungai Yarra
            Dari Sea Life Melbourne, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan City Cirlce Tram. Tujuan berikutnya adalah Yarra River, salah satu ikon yang wajib dihampiri saat berkunjung ke Melbourne. Yarra River merupakan sungai lebar dan panjang yang membelah kota Melbourne hingga berpusat pada keramaian jantung kota itu. 

Yang lomba kano terlihat menjauh
Di atas Evan Walker Bridge
Satu kawasan yang selalu ramai, apalagi di hari libur dan saat jam pulang kerja. Kawasan tersebut bernama South Bank. Kami mampir sebelum mengakhiri eksplorasi hingga malam hari di satu tempat berikutnya.
Kami kembali turun di halte yang tepat berada berhadapan dengan Flinders Station. Dari stasiun tersebut kami mencari rute tercepat menuju kawasan South Bank yang disebut-sebut sebagai salah satu tempatnya pusat keramaian di jantung kota Melbourne. Benar saja. Saat kami turun dan keluar dari stasiun, suasana tepian Sungai Yarra sudah mulai dipadati oleh beragam orang. Kami pun menyatu dengan mereka sambil menikmati pemandangan sungai yang tak pernah sepi sepanjang tahun ini. 

Jembatan yang tak pernah sepi
Ada sekelompok orang yang menaiki kano di atas sungai. Seperti sedang berlomba. Saya menikmati pemandangan itu. Setelah itu kami menyusuri bantaran Sungai Yarra yang dijadikan pedestarian bagi pencinta tur jalan kaki. Sambil menikmati suasana sungai yang memiliki sejarah penting bagi warga Australia ini, kamu terus melangkah menuju jembatan yang terbentang di atasnya. Evan Walker Bridge nama jembatan yang sama ramainya dengan pedestarian di tepian sungai tersebut.
Yarra River yang panjangnya sekitar 242 kilometer itu merupakan lokasi sumber makanan bagi warga asli Australia. Sungai yang legendaris ini juga menjadi saksi sejarah lokasi pertemuan utama manusia zaman prasejarah. Nama Yarra konon bermula dari sejarah warga asli bernama Wurundjeri yang pernah tinggal di lembah Yarra. Dulu, Wurundjeri menyebut sungai itu dengan nama Birrarung yang artinya mengalir selamanya. Lalu, seorang warga Eropa dari Asosiasi Port Philip John Helder, menyebut Birrarung sebagai Yarra Yarra. Dari sebutan itu maka hingga saat ini sungai tersebut resmi diberi nama Sungai Yarra.

Siap berkeliling
Saya merasa kurang puas jika hanya menikmati sungai tersebut dari atas dan tepiannya saja. Akhirnya kami memutuskan untuk menaiki kapal berukuran sedang yang siap membawa pengunjung untuk mengitari sungai. Udara yang bersih dengan pepohonan berjajar di sepanjang tepian sungai menyajikan pemandangan eksotis bagi kawasan Yarra River. Dari atas kapal yang melaju dengan kecepatan sedang, saya menyapu pandangan ke pedestarian. Di sana berjajar restoran dan kafe-kafe yang siap melayani para pengunjung dengan hidangan menunya. Perjalanan setengah jam di atas boat berakhir di tepian lokasi yang saya lupa namanya. Pastinya masih menjadi bagian tepian Yarra River.

Kak Nuraida dan nakhoda kapal :p
Masih tersisa satu destinasi lagi yang harus kami kunjungi. Ada makhluk kecil yang ingin kami temui di sana. Dari Sungai Yarra, kami harus segera mencari halte bus yang menuju lokasi tujuan kami itu. Namun tiba-tiba kami ingin sekali mencicipi es krim yang dijual di stasiun Flinders. Kebetulan varian rasa es krim itu diberi label halal. Saya memilih green tea yang dimix rasa cokelat, sementara Kak Nuraida hanya memilih rasa cokelat. Sayang, saya lupa memoto es krim yang lezat itu.

St Kilda Pier sebagai akhir perjalanan
            Setelah mengecek google maps di hape, kami harus sabar melalui perjalanan berdurasi sekitar 40 menit menuju St Kilda Pier itu. Bus yang kami naiki lumayan padat oleh penumpang. Sebagian dari mereka memang bertujuan sama dengan kami. Ada penguin bertubuh mungil yang selalu muncul saat matahari mulai tenggelam di bagian pantai St Kilda.

Di depan pintu masuk Luna Park
            Setelah berdiri di kepadatan bus, akhirnya kami tiba di halte yang dekat dengan kawasan pantai St Kilda. Dari kejauhan, saya melihat Luna Park, salah satu ikon yang juga ramai dikunjungi oleh para turis saat liburan. Luna Park ini merupakan theme park pertama dan tertua di Melbourne. Namun kami tidak punya waktu untuk masuk ke area itu. Cukup berfoto di depannya saja. Setelah itu kami langsung menuju pantai St Kilda.  

Jejak-jejak kaki pengunjung pantai
Taraaa ...!
            St Kilda Beach merupakan salah satu pantai paling terkenal di Melbourne. Pantai ini juga merupakan ikon yang selalu menjadi target kunjungan para turis. Lokasinya sekitar 6 kilometer dari pusat kota Melbourne. Ketika kami tiba, banyak orang sedang menikmati suasana pantai itu. Ada yang sedang bermain voli pantai, sepatu roda, berlayar, dan ada yang sekadar berjemur di pantai sambil menunggu sunset. Kota St Kilda terkenal dengan pantainya, pohon palem yang berjajar di sepanjang pinggir jalan, dan sunset di garis batas pantainya. 

Gak bosan-bosan menikmatinya
Detik-detik sunset
Di atas jembatan St Kilda Pier
            Selain untuk melihat sunset, di St Kilda juga menjadi lokasi para penguin yang berada pada habitatnya. Di St Kilda Pier dibuat sebuah pemecah ombak (breakwater) yang menjadi lokasi bagi koloni penguin. Jumlahnya lebih kurang 1000 ekor dengan jenis blue penguin atau fairy penguin, merupakan jenis penguin terkecil di dunia. 

Siap-siap bertemu little penguin
Bergabung bersama penunggu penguin lainnya
            Untuk melihat penguin-penguin ini mucul ke pantai, kami harus menunggu matahari tenggelam terlebih dahulu. Sebelum melihat penguin-penguin mungil itu, pengunjung harus mematuhi beberapa syarat. Pertama, jangan memotret dengan lampu blitz. Kedua, tidak boleh menyentuh penguin. Namun saat penguin muncul, aturan itu tinggallah aturan. Ada saja yang latah mengambil foto dengan kilatan lampu blitz. Saya kesal juga melihat turis yang melanggar aturan itu. Mungkin karena itu juga, penguin yang naik ke permukaan air jadi takut-takut. Saya sedikit terganggu oleh ulah para pengunjungnya.

Naaah ... penguinnya mulai nongol
Hellooo ...!

Hei! Kamu tersesat! Hahaha ....
            Setelah puas menyaksikan kemunculan penguin-penguin kecil itu, kami harus kembali ke apartemen. Saking asyiknya, kami baru sadar kalau hari sudah malam dan jam di hape saya hampir pukul 10. Kami bergerak pulang dan kembali menyusuri St Kilda Pier. Namun pesona malam di atas jembatan yang menjorok ke lautan itu tak mampu menahan keinginan kami untuk mengabadikan momen.  Beberapa posisi akhirnya kami jadikan spot untuk berfoto.

Sayang melewatkan malam di pantai ini

            Setelah puas berfoto-ria, kami kembali tergesa-gesa menuju halte tempat pertama datang tadi. Ada rasa khawatir jika tidak ada lagi bus yang akan membawa kami ke Flinders Street Station. Alhamdulillah, ternyata bukan kami saja yang menunggu bus di halte itu. Tidak sampai sepuluh menit, bus yang kami tunggu pun tiba. 
Suasana stasiun di malam hari
            Saat tiba di stasiun Flinders Street, suasana sudah tidak seramai siang dan sore hari. Kami segera memilih jalur kereta menuju Southern Cross Station. Hari sudah larut saat kami sampai di stasiun itu. Alhamdulillah, seharian di Melbourne telah menorehkan pengalaman yang menyenangkan bagi kami. [Wylvera W.]

Note:
Cerita sebelumnya ada di sini

Rabu, 10 Januari 2018

Hari Pertama di Melbourne



          Catatan perjalanan di Sydney dan Melbourne masih berlanjut. Waktu enam hari harus kami bagi sedemikian rupa sebab kami juga ingin mampir dan melihat kota Melbourne. Di hari ketiga (Selasa, 5 Desember 2017), kami bersiap terbang menuju Melbourne.

Dapat bangku paling belakang itu serasa lebih lama sampainya ... hihihi
            Jadwal penerbangan pukul 10.05 waktu Sydney. Kami tiba di bandara Sydney satu setengah jam lebih awal. Check in untuk penerbangan yang kami tumpangi belum dibuka. Saya memanfaatkan waktu luang dengan mengamati suasana bandara pagi itu. Wajah-wajah Asia mendominasi antrian di mesin check in. Saya tidak heran karena di Sydney memang banyak tersebar para pendatang berwajah oriental. Bahkan sebagian besar dari mereka menjadi penduduk yang ikut memengaruhi roda perekonomian di kota tersebut.
Sesaat sebelum melakukan check in, seorang petugas menghampiri kami. Ia menanyakan koper yang dibawa oleh Kak Nuraida. Penerbangan domestik di Australia membatasi bagasi yang dibawa penumpang pesawat. Hanya 7 kilogram yang diperbolehkan. Penentuan berat ini sedikit membuat kami terkendala di bandara. Teman traveling saya terpaksa harus membayar kelebihan berat koper yang dibawanya. Syukurlah, kendala itu tidak terlalu membuat kami cemas dan batal terbang. Setelah urusan check in selesai, kami langsung menuju gate untuk menunggu boarding.  


Menunggu boarding

            Sambil menunggu, saya memerhatikan beberapa penumpang yang tas dan kopernya kembali ditakar beratnya oleh petugas maskapai. Ada yang bernasib sama dengan Kak Nuraida dan terpaksa harus membayar. Mungkin mereka melewati meja check in dan melakukannya secara online. Ada juga yang sedikit protes agar tidak dibebankan biaya kelebihan lagi. Namun peraturan tetaplah peraturan, mereka wajib membayar jika ingin terbang bersama Tiger Air.

Pemandangannya bikin seger ;)
            Akhirnya, penerbangan menuju Bandar Udara Tullamarine, Melbourne pun dimulai. Cuaca pagi menjelang siang terlihat lumayan cerah dari balik jendela pesawat. Saya yang tidak bisa tidur, sesekali sibuk mengabadikan panorama di luar jendela pesawat. 

Sampai di bandara Tullamarine, Melbourne
            Tepat pukul 11.40, kami tiba di Melbourne. Saya tak sabar ingin segera melihat suasana ibukota negara bagian Victoria di Australia itu. Selain terkenal sebagai kota terpenting kedua dari segi bisnis, Melbourne juga menjadi kota terbesar di Victoria.

Dari bakso sampai apartemen yang memanjakan
            Ada yang akan menjemput kami di bandara Melbourne. Perempuan cantik mantan pramugari yang juga kerabat Kak Nuraida itu bernama Liza. Dari bandara kami langsung diajak menuju rumah Liza dan keluarga kecilnya di kawasan Shunsine. Mobil berwarna merah milik Liza meluncur dengan kecepatan sedang. Saya duduk di samping Jessica, putri Liza yang sedang tertidur lelap. Sambil menyimak obrolan sarat kerinduan antara Kak Nuraida dan Liza, sesekali saya memotret jalanan yang kami lewati.
Jalan dan awan, kombinasi yang cantik
            Sekitar setengah jam, kami pun tiba di kawasan perumahan yang nyaman. Liza sibuk mempersilakan kami masuk dan melihat-lihat rumah yang baru selesai dibangunnya itu. Diam-diam saya merasa kagum mendengar cerita Liza. Perjuangannya mengumpulkan uang selama bertahun-tahun bekerja di maskapai penerbangan, Liza mampu membeli tanah dan mendirikan rumah bagus di Melbourne. Liza menikah dengan laki-laki berkewarganegaraan Australia.

Bantuin Liza masak bakso
Setelah mengajak kami berkeliling melihat ruang-ruang di dalam rumah itu, Liza mulai sibuk mengolah masakan di dapurnya yang menyatu dengan ruang keluarga. Saya tidak ingin tinggal diam dan ikut membantunya menyiapkan hidangan makan siang untuk kami.
            Aha! Ada bakso urat yang menunggu matang di dalam panci. Sawi yang baru saya potong menjadi pelengkap kuah bakso itu. Sambil menunggu Liza menggoreng ayam, saya mengaduk-aduk bakso yang hampir matang. Setelah masakan selesai, kami pun siap menyantap bakso buatan Liza. Tiba-tiba, Melbourne rasa Bekasi mampir di lidah saya. Maknyuuus …!

Bakso urat dan ayam goreng tepung ala Liza
            Setelah selesai menikmati makan siang di rumah Liza, kami diantar menuju apartemen yang sudah dipesannya. Lokasi Melbourne Short Stay Apartement itu dekat dengan Southern Cross Station.
            Setelah check in, kami diberi kunci oleh petugas apartemen. Begitu menyusuri lorong menuju kamar apartemen, saya sibuk menebak-nebak kondisi di dalam kamar itu. Bangunan apartemen yang lumayan mewah dan berada di jantung kota Melbourne, tentu membuat saya kepo menerka-nerka tarifnya.
Bisa nginap di sini gratis itu ... sesuatu :-D
Serasa apartemen sendiri :-]
Taraaa …!
Mendadak saya terharu begitu memasuki kamar yang dipesan Liza untuk kami. Ukuran dan desain kamar apartemen itu benar-benar memanjakan menurut saya. Kami seolah tidak sedang ingin menginap di kamar hotel.  Kamar itu paket lengkap. Ada dapur dengan perangkat masaknya, ruang santai, meja makan, kamar tidur yang bersih, serta kamar mandi. Saking terharunya, saya tak berani bisik-bisik bertanya ke Kak Nuraida tentang tarif apartemen yang dihadiahkan Liza untuk kami itu. Alhamdulillah … hanya itu yang berulang terucap dalam hati saya.

Ini bukan promo apartemen lho .... ;)
Kamar mandinya haruuum ....
Liza tidak bisa berlama-lama menemani kami di apartemen. Gadis kecilnya yang berparas campuran mulai tidak betah. Liza pun pamit dan lagi-lagi berharap agar kami merasa nyaman selama di Melbourne. Yap! Tentu saja, kami akan merasa nyaman dengan service yang memanjakan ini. Thank you, Liza!

Menahan dingin demi menemukan masjid
            Hari pertama di Melbourne kembali kami awali dengan mencoba menemukan masjid. Setelah selesai menunaikan salat zuhur dan ashar sekaligus di apartemen, kami bergegas menuju stasiun kereta. Saya pun siap mengaktifkan google maps di hape sebagai pemandu jalan. Kami ingin mencari lokasi Shunsine Mosque.
Saya menyimpannya :)
            Dari stasiun Southern Cross yang berjarak sekitar 300 meter dari apartemen, kami mencari kereta menuju Flinders Street Railway Station. Hunting masjid di negeri yang bukan berbasis Islam pun dimulai.
Islam bukanlah agama mayoritas di Australia. Jumlah penduduk yang beragama Islam hanya sekitar 500 ribu atau sekitar 3% dari 24 juta total penduduknya. Namun, Islam telah menjadi bagian dari sejarah warga Australia, terutama jika ditelusuri dari bangsa Aborigin sebagai penduduk aslinya.
            Di Islamic Museum Australia, sejarah mencatat bahwa Islam pertama kali dibawa oleh pelaut dari Makassar ke Australia. Mereka mendarat di negeri itu sekitar tahun 1700-an. Cara mereka datang pun sangat sopan dan melewati izin penduduk asli. Tujuannya sangat sederhana, yaitu ingin mencari teripang di pantai Utara Australia. Mereka menetap beberapa waktu dan berinteraksi dengan warga Aborigin.
Selain dari pelaut Makassar, Islam juga masuk ke Australia melalui pengaruh para penunggang onta dari Afghanistan dan Pakistan sekitar tahun 1870 – 1920. Mereka datang dan bekerja di proyek pembangunan jalur kereta yang sedang dikerjakan oleh pemerintah Inggris pada masa itu. Onta-onta yang mereka tunggangi dibutuhkan sebagai hewan angkut material. Dalam sejarah Australia, mereka ini disebut ‘Camellers’. Keberadaan mereka tentu berpengaruh secara spiritual di Australia.
Setelah itu, di tahun 1900-an, mulailah berdatangan buruh-buruh migran dari berbagai negara Timur Tengah dan Afrika. Bangsa Turki menjadi salah satu pendatang yang kian tersebar di beberapa kota Australia, termasuk Melbourne. Hingga saat ini Islam pun terus berkembang di negeri kangguru itu.
             Kembali ke catatan awal kami mencari masjid yang bernama Shunsine Mosque. Kami sudah tiba di Albion Station. Dari stasiun Albion ini kami harus berjalan kaki sekitar dua menit menuju halte untuk menaiki bus yang menuju Chatsworth Av. Nomor bus yang harus kami naiki adalah 426. Hembusan angin mulai terasa dingin di kulit. Sambil menunggu, saya dan Kak Nuraida lagi-lagi tak lupa mengabadikan lokasi halte. 

Halte di dekat stasiun Albion
            Begitu melihat bus bernomor 426 tiba, kami langsung naik. Lima menit berada di bus, entah kenapa saya ingin sekali melihat rute menuju lokasi masjid yang kami tuju sekali lagi. Alamaaak …! Ternyata bus yang kami naiki salah. Nomornya sama tapi tidak berhenti di halte terdekat dengan masjid. Saya buru-buru mengajak Kak Nuraida turun di halte terdekat.

Kak Nuraida
Mulai tegang diterpa angin dingin
            Kami pun tertegun dan kembali menunggu bus berikutnya di halte tanpa kubikal itu. Angin semakin kencang bertiup. Kami lupa membawa jaket. Padahal sudah diingatkan kalau cuaca di Melbourne memang sulit ditebak. Sesaat hangat, tapi bisa mendadak dingin menusuk kulit. Apa boleh buat. Kami berusaha menahan hawa dingin itu.
Karena mulai tidak kuat menahan dingin, saya kembali me-resert alamat masjidnya. Penasaran. Tiba-tiba Kak Nuraida, berseru, “Itu kubah masjid apa ya, Dek?” Saya tertegun. Tanpa sengaja kami melihat puncak kubah masjid di kejauhan. Diiringi dengan menertawakan keluguan, kami bergegas melanjutkan berjalan kaki mencapai posisi masjid yang puncak kubahnya menyembul dari kejauhan itu.  
Kubah masjidnya semakin terlihat besar
Benar! Itu adalah Shunsine Mosque. Ternyata bus yang kami naiki tadi sebenarnya tidak salah-salah banget. Walaupun tidak turun di halte terdekat, tapi posisi halte yang akan disinggahi bus itu tidak terlalu jauh dari masjid. Kami kembali saling menertawakan (geli kalau ingat momen itu).

Sedih karena tidak bisa sholat di Sunshine Mosque
            Saat kami tiba memang waktu memulai salat ashar sudah berlalu. Dari luar, masjid terlihat lengang. Kami masuk dari samping bangunan masjid yang sepertinya sedang ada pemugaran. Memutari bangunan, saya melihat beberapa kendaraan diparkir di halaman masjid bagian depan. Saya pikir, itu pasti mobil para jema’ah. Saya sudah girang karena meskipun tidak salat wajib, minimal kami bisa melakukan salat sunnah di dalam Shunsine Mosque. 

Masjid Shunsine tampak dari depan
            Sambil berjalan mengitari masjid, kami mencari pintu masuk. Belum sempat membuka pintu masjid, saya melihat beberapa pasang sepatu ditinggalkan di rak sepatu yang letaknya persis di samping pintu. Rasa penasaran lebih kuat dibanding mengurungkan niat untuk masuk ke masjid itu. Benar saja. Di dalam ternyata sedang berlangsung pengajian. Kami gagal masuk. Sedih rasanya. 

Lorong bagian depan masjid
            Sunshine Mosque berada di bawah tanggung jawab Cyprus Turkish atau Turkish Cypriot (sebutan untuk orang Siprus beretnis Turki) yang hijrah ke Australia. Orang-orang Cyprus Turkish yang bermukim di Australia ini sudah menjadi bagian dari warga negara di negeri kangguru itu. Sementara, nama resmi dari masjid ini juga menyandang nama mereka yaitu Cyprus Turkish Islamic Community of Victoria.
Dari pembelian gedung di 588 Rathdowne street, Carlton, mereka membentuk Asosiasi Turki Siprus yang kegiatannya dipusatkan di gedung berbentuk masjid itu. Termasuk untuk salat berjamaah. Pada perkembangannya, bangunan berupa masjid ini kemudian dikenal dengan nama “Shunsine Mosque” atau Masjid Shunsine. Masjid yang pembangunannya dimulai pada tahun 1992 ini adalah masjid terbesar di negara bagian Victoria, Australia. Itu sebabnya mengapa saya ingin sekali melihat masjid ini dari dekat.

Berfoto di halaman masjid sebagai pengobat hati

            Masjid Shunsine memiliki 17 kubah dan berlantai dua. Lantai atas sebenarnya diperuntukkan bagi jema’ah perempuan. Namun sore itu kondisinya terkunci dan digembok. Kami harus menyerah pada rasa penasaran dan niatan untuk melakukan salat di dalam masjid tersebut. Dengan berat hati, kami akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Shunsine Mosque.

Di Albion Station
Keretanya sudah datang!
            Sambil menunggu kereta, kami mengobati hati yang kecewa karena tidak berhasil mengeksplor bagian dalam Masjid Shunsine dengan berfoto-ria di stasiun Albion. Meskipun bibir tersenyum tetap saja ada sisa penasaran itu terlihat di wajah kami. Saya membesarkan hati. Siapa tahu lain waktu saya dan keluarga punya kesempatan untuk kembali ke Melbourne, saya akan tebus rasa penasaran itu. Aamiin.

Euforia membawa lelah
            Tiba di depan gedung apartemen, kami berubah niat. Terlanjur lelah, kami pun memutuskan untuk melengkapi rasa itu dengan mencoba menghabiskan waktu melihat-lihat kota Melbourne. Tujuan pertama ingin melihat toko-toko penjual suvenir. Kami memilih menaiki tram yang melewati halte-halte di sepanjang bangunan apartemen dan gedung-gedung perkantoran lainnya. Puas berkeliling dengan tram, akhirnya kami turun di salah satu halte.
            Rasa kecewa kembali menghampiri. Tak terlihat satu toko pun yang menjual barang-barang suvenir. Bahkan supermarket yang kami kira ramai, justru sudah tutup. Akhirnya kami mencoba menyusuri trotoar sambil menikmati hari yang mulai bergerak senja. Tanpa sengaja saya melihat restoran bertuliskan “Pondok Rempah”. Girang banget rasanya. Perut yang memang sudah terasa lapar bertemu jodohnya. 

Tulisan "Pondok Rempah" di remang senja
            Sebelum masuk saya mencari label halal restoran itu terlebih dahulu. Alhamdulillah, tulisan logo halal itu jelas tertempel di lemari kaca yang berada di bagian depan restoran. Demi meyakinkan hati, saya agak melongokkan kepala untuk melihat sertifikat halal lainnya yang biasa digantung di tembok dekat kasir. 

Ada label halal di sini dan di dalam
Menunya bikin perut tambah lapar
Alhamdulillah ada tapi saya tidak enak hati untuk lancang memotonya. Yang penting jaminan halalnya sudah jelas. Kami pun bergegas masuk dan memilih menu. Kak Nuraida memilih lontong sayur dan saya ingin menikmati kwetiau saja. 

Penginnya mesan yang banyak tapi bayarnya nggak pakai Rupiah sih :p
Yang atas harganya sekitar 11 AUD
Selesai menikmati malam dengan masakan Indonesia itu, kami memutuskan untuk segera kembali ke apartemen. Ampuuun! Kami kehilangan arah. Jalur tram yang tadi membawa kami menuju lokasi supermarket tiba-tiba tidak kami temukan lagi. Saya mencoba mengingat-ingat dari arah mana sebelumnya kami berjalan. Tetap tidak terlihat jalur rel yang dilalui tram. Bahkan nomor bus yang menuju ke alamat apartemen kami pun tidak ada yang melewati jalan itu.
Bolak-balik saya me-resert google maps di hape yang batrenya mulai menyusut, tetap tidak menunjukkan arah dan alamat semula menuju apartemen. Lebih dari sejam kami berkeliling berusaha menemukan arah kembali. Sementara hape Kak Nuraida sempurna mati karena semua power bank yang kami bawa sudah tandas dayanya.
Qadarullah … saya berusaha tenang dan tidak panik. Sesasat setelah itu, akhirnya mengingatkan saya pada stasiun Southern Cross yang tak jauh dari apertemen kami. Sementara hari sudah mulai larut. Mungkin rasa girang menemukan restoran yang menyajikan menu (semuanya) khas Indonesia membuat kami euforia. Bisa-bisanya kami terlupa jalan pulang (pengin ngakak lagi kalau ingat kejadian ini). 

Akhirnya melihat Southern Cross Station lagi
Hape saya yang mulai lowbat pun kembali mengarahkan kami ke jalan yang benar (dilarang ikut menertawakan ya ….). Alhamdulillah, kami sampai juga di apartemen. Malam itu sudah hampir jam sebelas. Rasa lelah lagi-lagi tidak mampu mengalahkan hasrat kami yang ingin menertawakan diri. Kami pun ngikik bersamaan. Malam larut itu ditutup dengan salat dan tidur lelap tanpa mimpi buruk. [Wylvera W.]

Note:
Catatan sebelumnya ada di sini dan si sini