Kamis, 28 Desember 2017

Gerimis di Sydney



              Saya dan Kak Nuraida sudah sepakat untuk memulai hari kedua di Sydney dengan berangkat di waktu yang lebih pagi. Lokasi yang ingin kami kunjungi jaraknya lumayan jauh. Kami telah memasukkan Taronga Zoo (kebun binatang yang cukup populer di Sydney) dalam daftar destinasi. Kebun binatang ini berlokasi di daerah pesisir pantai pelabuhan Sydney (Sydney Harbour). Tempatnya bernama Mosman.

Sarapan pagi yang aduhai lezatnya
            Senin pagi itu, selepas menikmati hidangan sarapan yang lezat buatan Laila, kami siap berangkat dari stasiun Punchbowl menuju Circular Quay Station. Di tengah perjalanan dalam kereta, gerimis pun turun. Kami mulai ragu untuk tetap meneruskan rencana menuju Taronga Zoo dengan kapal Feri. Sambil berdoa agar hujan reda, kami akhirnya tiba di Stasiun Circular Quay. Kami langsung menuju loket penjualan tiket. Wah! Lumayan mahal ternyata paket tur menuju Taronga Zoo. Apalagi jika memaksakan ke sana dalam kondisi gerimis. Tidak bisa menikmati.

Rute kereta menuju CQ
            Setelah menghitung-hitung dan melihat cuaca juga kurang bersahabat, akhirnya kami membatalkan perjalanan menuju kebun binatang itu. Kami sempat berdiskusi sebentar sebelum memutuskan ke mana akan mengalihkan rute. Saya mencoba menawarkan ke Kak Nuraida untuk berkeliling naik kapal feri di atas Sydney Harbour. Tidak perlu menunggu lama, beliau menyetujui. Sebelum membeli tiket, saya terpaksa harus membeli jaket untuk berlindung dari gerimis yang masih betah membasahi kota Sydney. Jaket sederhana seharga 20 dollar Australia akhirnya jadi pilihan saya.
            Batal menuju kebun binatang, kami tak patah semangat. Masih ada alternatif lain yang bisa dinikmati dengan bujet murah. Sebenarnya banyak pilihan untuk menikmati Sydney di atas perairannya. Bisa dengan berlayar, ikut cruise trip atau naik jet boat. Dari semua pilihan itu, tetap saja yang paling murah adalah dengan transportasi umum (kapal feri). Tiketnya bisa dibeli terpisah atau terusan. Feri di Sydney tidak besar dan tidak mengarungi lautan lepas. Ukurannya kecil dan hanya menampung orang saja sebagai penumpangnya.
            Kami pun bergegas menuju loket penjualan tiket. Saya mencoba menawar tarif feri yang akan kami naiki. Siapa tahu bisa. Aha! Dari harga 30 dia memberi diskon dan meminta kami membayar 23 dollar Australia saja. Saya belum sempat ngecek apakah harga 23 dollar itu termasuk murah atau masih tergolong mahal. Pilihan mengalihkan rencana yang mendadak itu akhirnya kami nikmati saja dengan harga 23 dollar. Penjual tiket memberi informasi bahwa harga yang kami bayar akan membawa kami menyinggahi beberapa pelabuhan seperti Fort Denision, Watson Bay, Q Station, dan Manly lalu kembali lagi ke Circular Quay.

Gerimis di atas Manly Fast Ferry
            Perjalanan dengan Manly Fast Ferry pun dimulai. Kapal feri kami bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan di kawasan Circular Quay.  Awalnya kami ragu untuk naik ke anjungan kapal. Khawatir basah. Namun saya tidak bisa menahan diri terlalu lama untuk duduk manis di lantai bawah feri. Saya memutuskan naik ke lantai atas. Gerimis yang masih betah membasahi Sydney Harbour tak membuat saya berhenti untuk mengabadikan objek.

Ini feri yang akan kami naiki
Dengan jaket murah-meriah dan sesekali berpayung, saya berhasil membidik spot-spot cantik yang sedikit diselimuti kabut. Opera House yang sehari sebelumnya sempat kami lihat, kini lebih jelas tampak bangunan fisiknya. Sydney Harbour Bridge pun terlihat megah dari atas anjungan kapal. Kak Nuraida akhirnya pun menyusul saya ke atas. Gerimis dan udara yang semakin dingin menembus jaket terpaksa kami abaikan demi merekam momen. 

Wefie di antara gerimis yang ... mengundang :v
Sydney Opera House tampak dari sisi laut
Berpose di depan Sydney Harbour Bridge
          Rute feri yang kami naiki tidak mengecewakan. Meskipun cuaca di atas pelabuhan bergerimis, kami tetap menikmati perjalanan di atas air yang sesekali berombak itu. Dari Circular Quay, feri melewati Fort Denision, sebuah  pelabuhan kecil yang dulunya lokasi bekas pertahanan, terletak di pusat Pelabuhan Sydney. Jarakanya dekat sekali dengan Botanic Garden. Fort Denision menjadi salah satu objek wisata utama di Sydney. Buat saya, perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar dua jam itu, menyuguhkan keindahan Sydney Harbour dari sisi lain. 

Feri melaju semakin menjauhi dua ikon Sydney itu
Kabutnya bikin suasana jadi terkesan romantis
"Pegang yang kuat ya, Kaaak ...!" :v
Feri terus bergerak dan akhirnya mampir di Watsons Bay, merupakan perpaduan unik dari pantai terpencil dan menjadi salah satu lokasi populer bagi wisatawan.  Kemudian feri melewati Manly Warf. Saya memerhatikan kapal-kapal kecil yang banyak berlabuh di sana. Ingin rasanya singgah dan menjelajah di sana tapi cuaca dan kapal feri tidak berhenti di dermaga itu. 
 
Ferinya mampir sebentar di sini lalu melaju lagi
Kapal-kapal kecil d sekitar Manly Warf

Rute Manly Fast Ferry yang kami naiki arahnya menuju Utara. Sesuai dengan namanya, feri ini akan bergerak menuju Manly. Di Manly ini terdapat pantai yang sesuai dengan namanya yaitu Manly Beach dan merupakan pantai paling populer di Australia. Letaknya persis di bentangan sepanjang pesisir Utara Sydney. Sayangnya kami tidak bertujuan turun di pantai itu karena kapal feri hanya berhenti sebentar saja katanya. 
 
Berusaha senyum saat ombak menggoyang kapal
Gak turun, fotoan pun jadi lah .... ;)

Dari Manly, feri kembali lagi menuju Circular Quay, tempat awal kami naik. Kali ini, saya hanya menikmati saja pemandangan dari dalam feri. Gedung-gedung, kota di sebelah Timur Sydney dan kapal-kapal kecil yang sedang berlayar menjadi pelengkap pemandangan di siang bergerimis itu.

Menuju Masjid Auburn Gallipoli
            Gerimis masih bertahan membasahi Sydney. Kami belum menunaikan salat Zuhur. Selesai menikmati pemandangan dari atas kapal feri, saya kembali mengajukan usul untuk mencoba mencari lokasi Masjid Gallipoli, masjid terbesar di Australia. Lokasinya berada di kawasan Auburn yang padat dengan komunitas muslimnya. Masjid Gallipoli ini katanya menjadi ikon bagi umat muslim di Auburn.
Ibu yang berdua itu senyum-senyum melihat model dadakan :p

Kami kembali memasuki area stasiun dan memilih platform yang menuju ke Auburn Station. Karena keretanya belum datang, kami menyempatkan berfoto-ria. Dua ibu yang duduk menunggu kereta mendadak tersenyum melihat tingkah kami. Salah satunya malah menawarkan diri ingin memoto saya dan Kak Nuraida. Dengan balas memberi senyum kami dengan halus menolak. Khawatir mendadak jadi model pula di Aussie. *dilarang ngikik*
Kereta pun tiba. Kami memilih duduk di gerbong bawah. Hanya beberapa saat berhenti, kereta kembali melaju menuju stasiun-stasiun kecil untuk berhenti menghantarkan para penumpangnya. Stasiun Auburn masih jauh. Kami kembali menikmati pemandangan dari balik kaca jendela kereta. Setengah jam kemudian, kereta pun berhenti di Auburn Station. 


Dari stasiun Auburn harus jalan lagi

Begitu turun dari kereta, saya kembali mengaktifkan google maps. Menurut google maps, untuk mencapi masjid, kami harus melanjutkan berjalan kaki sekitar enam menit dari stasiun. Sambil memegang hape dan mengikuti petunjuk arah, saya sesekali memotret spot menarik yang kami lewati dengan kamera kecil yang sengaja saya bawa.

Kota Auburn yang tenang
Tamannya basah jadi fotoan saja ya
Melewati toko cokelat Turki
Sambil mengamati sekitar saya memerhatikan pertokoan di pinggir jalan. Di kawasan Auburn ternyata tidak sulit menemukan restoran halal dan toko-toko yang menjual perlengkapan umat muslim. Namun kami tidak bertujuan mencari itu. Kami hanya ingin melihat masjidnya saja. Kami masih terus berjalan mengikuti petunjuk arah di hape saya. Mendekati area masjid, nuansa pemukiman muslim Turki semakin terlihat. Saya sempatkan untuk memotret beberapa rumah dan bangunan itu.

Salat di Masjid Gallipoli
            Kami pun sampai di depan masjid yang bangunannya didominasi cat berwarna biru. Saya yang senang browsing masjid-masjid dari negara-negara lain, langsung merasakan kemiripan antara Masjid Gallipoli dengan Masjid Biru di Istanbul, ibu kota Turki. Sambil mengambil foto bangunan masjid, saya memerhatikan model bangunannya yang memiliki gaya arsitektur Turki dan Ottoman. 


            Kami bergegas masuk karena ingin sekali salat di dalamnya. Seorang pria setengah baya mempersilakan kami menaiki tangga menuju tempat salat perempuan. Suasana masjid terlihat sepi karena waktu zuhur sudah berlalu. Setelah berwudhu di kamar mandi yang lumayan bersih, kami langsung menuju ruang salat yang dikhususkan untuk jema’ah perempuan.

Lantai atas tempat jema'ah Akhwat
Lantai bawah tempat jema'ah Ikhwan
            Masya Allah, ketenangan dan kenyamanan begitu terasa ketika saya melihat kebersihan tempat salat masjid itu. Setelah salat, rasanya tak ingin buru-buru meninggalkan masjid. Sambil memoto bagian-bagian masjid, saya juga sibuk browsing tentang sejarah masjid ini.

Lengkungan di bawah kubah yang indah
            Masjid Gallipoli ternyata dibangun oleh komunitas imigran asal Turki yang menetap di Auburn. Sementara nama masjid diambil dari kata Gallipoli yang merupakan sebuah kawasan di Turki. Saat Perang Dunia I, di tempat ini pernah terjadi perang yang melibatkan Turki dan Australia. Maka nama Gallipoli pun diambil sebagai upaya mempertahankan sejarah yang sama-sama pernah dirasakan oleh Turki dan Australia. 

Rasanya ingin berlama-lama di dalam masjid ini
Berfoto sekali lagi sebelum meninggalkan masjid
            Selanjutnya saya sibuk memerhatikan ukiran-ukiran kaligrafi yang bertuliskan “Allah”, “Muhammad”, dan potongan ayat-ayat Al Qur’an. Kekaguman dan rasa syukur karena diberi kesempatan untuk salat di masjid ini membaur dalam hati saya. Betapa Allah selalu memberi nikmat pada hamba-Nya. Saya berulang mengucap syukur dalam hati. 

Lokasi perumahan komunitas muslim Turki
Sambil menunggu kereta tiba
Karena sudah sore dan harus kembali ke Punchbowl, dengan berat hati kami akhirnya meninggalkan masjid. Kami kembali menyusuri jalan menuju stasiun Auburn. Langit masih mendung tapi gerimis sudah berhenti. Jalanan yang basah oleh gerimis meninggalkan kesejukan di hati saya. Sampai jumpa di catatan perjalanan berikutnya pada hari ketiga. Salam! [Wylvera W.]

Note: Catatan sebelumnya ada ada di sini

6 komentar:

  1. Alhamdulillah lanjutan tulisanya.
    Walau berhujan2an kita tetap menikmatinya suasana
    Masjidnya bagus banget rekomendasi buat yg mau ke sydney
    Syukron buat laila utk makananya. Afwan lidah masih Indonesia banget
    ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita kan memang gitu. Wonder women. Hahahaha

      Hapus
  2. Mbaa, aku mau banget ksana. .
    Ya Allah masjidnya, mupeng sujud disitu hehe..
    Auburn...

    BalasHapus
  3. Waaahhh, kakak enak bgt disana, pengen merasakan di mesjidnya juga :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...