Laman

Sabtu, 01 Oktober 2016

Menuju Tanah Haram dengan Visa Ziarah #2



            Saya dan suami beserta 41 jema’ah serta dua orang pendamping siap terbang dari Bandara Udara Soekarno Hatta menuju destinasi pertama, Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Dari KLIA pesawat yang kami naiki (Malaysia Airlines) bertukar menjadi Saudi Arabian Airlines menuju Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino, Manila, Filipina.
Penerbangan yang menghabiskan waktu sekitar 3 jam 45 menit itu kami gunakan untuk beristirahat. Saya sendiri tidak bisa memejamkan mata dengan sempurna. Jujur saja, meskipun pemilik travel sudah menjelaskan dengan rinci bahwa akan aman-aman saja, kecemasan yang sempat terjadi di bandara Soeta sebelumnya masih menyisakan kekhawatiran. Terlebih destinasi berikutnya yang akan kami singgahi adalah Manila, Filipina. Hanya nasihat suami untuk tetap berprasangka baik kepada Allah SWT yang menjadi penguat hati saya. Ditambah keyakinan bahwa jika Allah sudah memilih hamba-Nya menjadi tamu di Baitullah, maka Insya Allah aral dan rintangan akan teratasi. Aamiin.

Tiba di bandar udara Manila, Filipina
            Akhirnya kami sampai di Bandar udara Filipina. Begitu masuk, mata saya langsung awas melihat sekitarnya. Di mana para jema’ah yang batal diberangkatkan itu? Begitu benak saya bertanya dengan lugu. Keresahan itu akhirnya tertepis dengan kewajiban sholat yang harus kami segerakan.
            Tidak ada tempat untuk sholat yang resmi. Akhirnya saya bertanya kepada salah seorang petugas dan meminta mereka memberi kami izin untuk memakai sebagian area yang biasa digunakan melintas oleh penumpang pesawat yang baru tiba. Alhamdulillah, laki-laki berseragam security bandara itu memberikan izin. Kami pun bergegas untuk sholat berjema’ah. 

Wajah berusaha tersenyum walau duduk terdampar di lantai bandara
            Setelah sholat, kecemasan baru mulai mengusik. Paspor yang saya tahu sempat diserahkan oleh pendamping (dari pihak travel) ke petugas imigrasi belum dikembalikan. Padahal kami sudah menunggu sekitar satu jam. Sesekali saya melihat kegelisahan di sikap pendamping kami (pemilik travel yang ikut mendampingi). Bisa dibayangkan, melihat sikapnya yang tak bisa menutupi kegelisahan itu, tentu akan berefek pada calon jema’ah yang jeli memperhatikan. Terutama saya yang memang sudah sempat mengalami kendala di Soeta. Namun lagi-lagi, kepasrahan dan doa-doa yang tak putus terus saya sisipkan di hati. Tidak ada yang bisa menandingi kehendak Allah SWT. Itu saja yang menguatkan hati saya dan suami.
            Demi menghalau rasa gelisah, para jema’ah mencari kesibukan masing-masing. Ada yang mengobrol, menikmati camilan yang dibawa dari tanah air, ada juga yang sekadar duduk bersimpuh di lantai bandara dan bersandar ke tembok untuk istirahat. Sementara saya, suami, dan beberapa teman jema’ah, memilih menikmati camilan ringan yang kami bawa sambil sesekali saling berucap semoga paspor dan izin melanjutkan penerbangan ke Riyadh segera diserahkan oleh petugas bandara.   


Tiba di Riyadh
            Setelah kurang lebih tiga jam menunggu dalam rasa cemas, akhirnya paspor dan izin melanjutkan penerbangan pun kami terima. Kami bergegas mengantri menuju pesawat. Ucapan syukur kembali berulang-ulang saya lantunkan di hati dan kembali berdoa semoga penerbangan menuju Riyadh yang akan menghabiskan waktu sekitar sebelas jam itu diberi kelancaran oleh Allah. Sementara untuk waktu sholat - alhamdulillah - bisa dikerjakan dengan baik dalam pesawat. 

Pemandangan lapangan udara di luar bis menuju pesawat
Kembali duduk di pesawat menuju Riyadh

            Layaknya penerbangan panjang, suasana di dalam pesawat hampir seragam. Tidak ada yang aneh untuk saya ceritakan. Hanya saja, beberapa calon jema’ah yang mungkin baru pertama kali menjalani penerbangan jarak jauh seperti itu, tentulah ada kecanggungan. Terlebih mereka yang sudah tua. Namun, alhamdulillah, masih bisa dimaklumi.   
Singkat cerita, kami pun tiba di Bandar Udara Internasional Raja Khalid (King Khalid International Airport). Semua penumpang pesawat diminta masuk dalam antrian pengecekan imigrasi bandara. Lumayan panjang antrian yang harus kami lewati. Pelajaran sabar dan ikhlas lagi-lagi diuji.
Tibalah giliran pengecekan paspor dan visa untuk saya dan suami. Ya Allah, kesabaran dan berusaha berprasangka baik kepada Allah kembali menguji kami. Saat tiba giliran saya, tiba-tiba petugas imigrasi meminta saya untuk duduk kembali di kursi yang terletak di belakang antrian. Sementara suami saya yang berdiri di belakang saya pun ternyata ikut diminta duduk kembali. Petugas imigrasi justru memanggil dua orang ibu yang membawa anak-anaknya serta satu keluarga untuk diperiksa paspor dan visanya.
Kecemasan baru tidak bisa saya bendung. Sampai akhirnya saya mengeluarkan usulan ke suami agar ia mencoba memberitahukan kalau kita adalah suami istri. Tidak akan membantu sebenarnya, tapi rasa cemas yang semakin kuat menguasai saya yang mendorong memberi usulan itu ke suami.
“Tolong, simpan prasangka negatif yang muncul di hatimu itu. Jangan menebak-nebak. Kita belum tahu kan alasan kenapa kita diminta duduk lagi. Tunggu saja dengan sabar dan tetap berprasangka positif. Ini sudah mendekati tanah haram. Prasangka kita adalah doa kita,” ujar suami menenangkan saya.
Setelah suami saya mengatakan nasihat panjang itu, saya tidak berani lagi berkomentar. Justru saya berusaha beristighfar sebanyak-banyaknya. Pendamping sekaligus pemilik travel yang mengetahui kalau kami masih tertahan di meja pemeriksaan imigrasi tiba-tiba muncul dari balik kaca pembatas antrian. Wajahnya kembali tegang melihat kami. Saya pasrah dan berserah diri sepenuhnya pada ketentuan Allah. Berusaha menepis rasa takut akan dipulangkan ke tanah air.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, akhirnya petugas imigrasi kembali memanggil saya terlebih dahulu. Saya berdiri sambil berdoa melangkah ke arah kubikal yang membatasi kami. Terjawablah kembali kecemasan saya tadi. Mengapa kami ditunda untuk diperiksa, ternyata petugas imigrasi itu ingin mendahulukan ibu-ibu yang membawa anak dan keluarga yang membawa anak kecil. Alhamdulillah….
Tidak banyak tanya, dia meminta saya meletakkan tiga jari untuk stempel jari tangan. Hanya saja, walau tidak begitu paham bahasa Arab yang mereka gunakan, sedikitnya saya bisa mengerti ketika ia mengatakan ke temannya bahwa visa ziarah yang kami gunakan sah karena diberikan langsung oleh kerajaan Arab. Kira-kira begitulah isi obrolan mereka tentang visa kami.
Setelah semua calon jema’ah haji di rombongan kami selesai melewati pintu imigrasi bandara Riyadh, kami diminta untuk berkumpul pada satu tempat untuk menunggu bis jemputan. Kami harus pindah ke bandara yang melayani penerbangan domestik. Perjalanan kami berikutnya memang masuk dalam penerbangan domestik, yaitu dari Riyadh menuju Jeddah.

Tertinggal rombongan
Setelah kami menunggu hampir setengah jam, tiba-tiba saya dan dua orang teman dalam rombongan jema’ah ingin ke toilet. Inilah awal ketegangan baru yang akhirnya muncul kembali. Sebelum ke toilet saya sempat berpamitan pada suami. Tidak ada perasaan apa-apa saat itu. Kami pun bergegas menuju toilet bandara. Namun, saat keluar dari toilet dan kembali ke tempat berkumpul tadi, kami tidak lagi melihat rombongan calon jema’ah haji ada di sana, termasuk suami saya. Ya Allah, kepanikan baru tidak bisa terbendung. Kami ditinggal!
Saya berusaha menahan rasa panik dan mencoba berpikir jernih. Mengingat tidak semua orang di bandara itu yang lancar berbahasa Inggris, saya semakin berpikir keras untuk mencari jalan agar kami bisa terhubung dengan rombongan. Jangan ditanya tentang komunikasi via hape. Tidak mungkin, karena kami belum sempat menukar nomor atau fasilitas yang bisa digunakan di sana. Dua teman saya juga terlihat panik namun tetap berusaha tenang untuk membantu saya mencari jalan keluarnya.
Akhirnya saya mencoba menanyakan petugas bandara. Dia memberi hapenya untuk menghubungi suami saya. Tetap saja tidak bisa, karena suami saya juga belum mengaktifkan nomor yang bisa digunakan di sana. Saya menyerah dan meninggalkannya. Dalam kesulitan dan doa-doa, Allah selalu ada. Itu yang saya yakini sepenuh hati. Saya yakin, Allah jugalah yang mempertemukan kami dengan laki-laki berwajah Asia yang bisa berbahasa Inggris. Ternyata dia sempat melihat rombongan kami naik ke atas bis tadi. Ia mengatakan bahwa ada satu orang laki-laki yang masih menunggu dan kembali masuk ke dalam. Menurutnya, bis akan tiba sebentar lagi.
Dari informasi yang diberikannya, saya dan satu teman lagi mencoba mengikuti petugas angkut bandara yang membawa kami kembali naik ke lantai atas tempat penjemputan penumpang. Sementara teman saya yang satu lagi, saya minta tetap menunggu di bawah. Tiba-tiba saya sadar kalau bis yang akan menjemput itu pasti akan melewati tempat rombongan kami lagi. Tanpa menghiraukan panggilan petugas angkut itu, saya memutuskan untuk kembali ke tempat semula secepat mungkin. Teman saya berlari mengikuti saya menuruni tangga.
Ya Allah, prakiraan saya didengar Allah. Begitu kami turun, bis yang tadi menjemput rombongan jema’ah kami kembali datang. Laki-laki berwajah Asia tadi menyuruh kami bergegas naik karena bis itulah yang tadi telah menjemput rombongan kami. Tanpa berpikir panjang, kami setengah berlari menuju tempat pemberhentian bis itu dan melompat ke dalamnya. Saat menghela napas, kecemasan kami sempuran menguap. Pendamping (pemilik travel) ternyata ada di bis itu. Dan ia memastikan kalau kami bertiga adalah rombongan yang terpisah tadi kepada sopir bis.
Alhamdulillah … kami akhirnya bisa kembali pada rombongan. Saat itu, tidak ada yang tahu apa yang sudah kami alami barusan, termasuk suami saya. Saya sengaja menyimpan semua tragedi tertinggal di bandara internasional Riyadh itu demi menenangkan hati saya juga. Ada waktunya saya akan menceritakan semuanya. Dan inilah saatnya. Bisa jadi kalau kejadian itu termasuk ujian Allah. Saya harus perbanyak istighfar.

Tiba di Jeddah dan dam untuk yang pertama
            Penerbangan domestik tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar satu jam, kami pun tiba di bandara Jeddah (King Abdulaziz International Airport). Kelelahan sangat jelas tergambar pada wajah-wajah teman satu rombongan kami. Sambil menunggu bagasi, saya berusaha meluruskan badan dan mengumpulkan energi. Perjalanan kami masih jauh menuju Mekkah. Ya, kami tidak ke Madinah tapi langsung ke Mekkah karena jadwal keberangkatan yang kami gunakan masuk dalam gelombang kedua. Jadi rutenya ke Mekkah terlebih dahulu untuk beberapa hari kemudian ke Madinah.

Masih harus naik bis bandara menuju pengambilan bagasi
Masih bisa tersenyum di dalam bis
            Tiba di Jeddah, tentulah yang dipertanyakan adalah tentang miqat. Ada beberapa pendapat yang berbeda dalam menjelaskan tentang wilayah miqat bagi jema’ah haji yang menggunakan penerbangan dan tiba di Jeddah. Tapi, pembimbing haji kami memilih bahwa Jeddah adalah berada dalam wilayah miqat. Orang yang datang ke Jeddah pasti telah melalui salah satu miqat yang telah ditetapkan Rasulullah saw. (berada dalam posisi sejajar dengannya baik di darat, laut maupun udara). Oleh sebab itu, tidak boleh melewati miqat itu tanpa pakaian ihram bagi laki-laki jika berniat menunaikan ibadah haji dan umrah.

Menunggu pengambilan bagasi
Saya tidak begitu memperhatikan apakah informasi untuk itu sudah disampaikan kepada seluruh calon jema’ah haji di rombongan kami atau tidak. Namun, saat landing, beberapa dari jema’ah calon haji ternyata telah mengambil miqat, termasuk saya dan suami. Inilah awal kendala dalam proses berhaji dengan visa ziarah. Visa yang kami gunakan tidak memperkenankan kami untuk berihram dari Jeddah. Oleh sebab itu, walaupun sudah mengambil miqat tidak satu pun laki-laki di rombongan kami yang diizinkan mengenakan pakaian ihram. Ini akan mempersulit kami ketika melewati pos-pos pemeriksaan saat memasuki Mekkah.
Satu-satunya solusi adalah jema’ah laki-laki di rombongan kami harus siap membayar dam (denda yang harus dibayar berupa biaya untuk hewan qurban karena melanggar amalan wajib, baik disengaja maupun tidak).  Dam (denda) tersebut tidak terkena pada jema’ah perempuan karena tidak ada ketentuan mengenakan pakaian ihram khusus pada perempuan. Begitu keterangan yang saya pahami.

Jantung bagai di roller coaster menuju Mekkah
            Semua jema’ah di rombongan kami sudah siap di dalam bis. Kami pun siap melanjutkan perjalanan dari Jeddah menuju Mekkah. Alunan talbiyah mulai terdengar di dalam bis.
“Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaikala Syarikalaka Labbaik, Innal hamda wanni’mata laka waal mulka La Syarikalak.”
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi pangilan-Mu. Sesungguhnya segala puji nikmat, dan segenap kekusaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Syahdu dan membuat hati saya bergerimis. Saya sangat menikmatinya dan tiba-tiba rasa rindu itu menyusup kuat.
            Ya Allah, kesyahduan itu tiba-tiba terusik. Mutawwif dan pendamping rombongan kami memberi aba-aba bahwa kami harus tetap tenang karena beberapa saat lagi akan mendekati pos pemeriksaan. Bisa saja petugas naik ke bis dan memeriksa secara acak paspor-paspor kami. Atau jika beruntung, kami bisa lewat dengan cepat dan nyaman.
            Betul saja. Bis kami pun berhenti di pos pemeriksaan pertama. Alhamdulillah, tidak terjadi sesuatu yang menyulitkan kami. Sambil menunggu pos pemeriksaan berikutnya, saya tetap melantunkan kalimat talbiyah dalam hati dan sesekali menyerukannya pelan. Demikian juga dengan suami saya dan beberapa jema’ah lainnya.
            Tibalah pada pemeriksaan paspor di pos kedua. Agak menegangkan karena beberapa dari kami diminta untuk menunjukkan paspornya. Setelah menunggu beberapa saat dengan jantung berdebar-debar, akhirnya paspor kami dikembalikan. Bis melaju lagi. Masih ada satu pos pemeriksaan lagi. Serasa naik roller coaster, jantung saya berlomba-lomba antara meresapi alunan kalimat talbiyah dan rasa cemas. Seperti inikah berhaji dengan visa ziarah? Pertanyaan itu tidak bisa saya tepis dari kepala. Begitu selamat dari pos pemeriksaan yang ketiga, semua jema’ah di dalam bis spontan mengucap, “Alhamdulillah … Allahuakbar!”
Masya Allah, saya benar-benar berusaha mulai menikmati setiap kejutan yang kami temukan dalam perjalanan awal berhaji ini. Bagi saya … pasrah, berserah, berdoa, berprasangka baik kepada Allah SWT benar-benar penolong yang mampu menguatkan dan meluruskan niat. Terlepas dari visa ziarah yang kami gunakan, saya tetap mengembalikan niat semula bahwa saya dan suami sungguh-sungguh ingin menggenapi rukun Islam yang kami yakini demi meraih ridho Allah dalam mengerjakan rukun haji ini. Selama di sana, saya terus memanjatkan doa agar Allah memudahkan proses pelaksanaan rukun haji berikutnya agar niatan kami tersampaikan dan bisa meraih haji mabrur. Aamiin.
 Salam…. [Wylvera W.]

Kamis, 29 September 2016

Memilih Visa untuk BerHaji #1




          Setiap umat Islam yang memahami kewajibannya dalam memenuhi rukun Islam, tentulah menginginkan semua rukun tersebut bisa dipenuhi agar dirinya sempurna menjadi seorang muslim. Dari semua rukun Islam yang kita pahami, berhaji adalah sebuah pelengkap yang menjadi dambaan umat yang mampu memenuhinya. Saya dan suami pun menyimpan niat itu baik-baik dalam hati. Hingga pada waktunya, keinginan itu kian memuncak.
            Mengingat pendaftar untuk kuota calon Jemaah haji di Indonesia yang begitu banyak dan harus menunggu antrian panjang (5 – 10 tahun), kami akhirnya terus menimbang-nimbang. Jika ingin berangkat mengikuti prosedur yang ditetapkan secara resmi oleh pemerintah (Departemen Agama), kami harus sabar menunggu antrian yang sangat lama itu. Jika ingin memangkas waktu agar lebih cepat, kami mau tak mau dihadapkan pada pilihan cara keberangkatan dengan menggunakan visa di luar kuota.
Sebelum bercerita lebih panjang tentang perjalanan haji saya dan suami, saya akan mengawalinya dengan pilihan visa yang kami ambil. Kebetulan ada teman yang punya koneksi (travel) untuk bisa mengurus visa di luar kuota ini dengan jaminan keamanan yang membuat kami yakin untuk memilihnya. Dan, cara itulah yang kami ambil setelah melakukan browsing tentang segala konsekuensi yang bakal kami hadapi, termasuk biayanya yang cukup besar. Intinya, informasi yang kami terima bahwa selama ini belum ada yang terkendala dengan penggunaan visa ini. Kami pun percaya dan akhirnya berani mencoba. Semua berangkat dari niat tulus yang suci. Itu saja.

Berangkat Haji dengan Visa Ziarah
            Tahun 2015, saya dan suami serta pasangan suami istri (teman kantor suami yang istrinya juga sahabat saya), sempat mendapat tawaran berhaji dengan visa undangan khusus dari Kerajaan Arab Saudi. Sayangnya waktu itu, hanya visa suami saya dan suami teman saya yang keluar. Dengan beberapa pertimbangan (termasuk kembali pada niat awal yang ingin berhaji bersama), akhirnya kami membatalkannya.
            Setelah itu, kami pun kembali ditawari apakah mau mengulang proses berhaji dengan cara berangkat yang lebih cepat tahun depan. Karena keinginan dan niat yang sudah sedemikian kuat ingin menunaikan rukun Islam kelima ini, suami saya pun menerima tawaran itu. Demikian juga dengan pasangan suami istri (teman kami tadi).
Pemilik travel pun kembali meminta paspor kami untuk diproses. Namun waktu itu saya terpaksa mengambil paspor tersebut karena ingin melakukan perjalanan ke Frankfurt dan beberapa negara lainnya. Sekembalinya dari pesiar, saya menyetor paspor saya lagi ke pemilik travel tersebut. Sejak itu (akhir November 2015), paspor saya dan suami ada di tangan mereka. Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya di penghujung bulan Maret 2016, visa ziarah yang dijanjikan pun resmi menempel di lembaran paspor kami. Namun, paspor masih dipegang oleh pihak travel. Saya bahkan tidak sempat melihat status paspor saya (termasuk batas masa berlakunya).
Singkat cerita, tibalah waktu keberangkatan yang telah ditetapkan, yaitu tanggal 30 Agustus 2016. Mendapat kabar baik ini (baik menurut versi kami yang saat itu memang sungguh-sungguh ingin beribadah ke tanah suci-red), saya pun mulai mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan selama melaksanakan ibadah di tanah haram. Kami tidak lagi mencemaskan status visa ziarah yang sudah kami terima. Niat tulus kami yang ingin sekali menunaikan rukun Islam kelima itu, jauh lebih kuat dibanding pertimbangan berangkat dengan visa yang notabene kabarnya tidak disarankan oleh pemerintah Indonesia itu. Terlebih, jaminan keamanan yang dijanjikan sudah bulat menguatkan tekat kami.

Pertanyaan yang muncul di acara walimatus safar
Visa Ziarah yang sudah kami dapatkan tidak lagi menjadi pemikiran saya waktu itu. Saya pun mengabarkan kepada tetangga terdekat bahwa kami telah resmi akan berangkat menunaikan rukun haji. Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap warga yang akan berangkat ke tanah suci dalam rangka berhaji, jema’ah masjid di lingkungan kami selalu menggelar acara pelepasan calon jema’ah haji. Tradisi ini pun akhirnya bergilir ke saya dan suami. Namun, waktu itu suami saya tidak pernah mendapat kesempatan untuk hadir di acara pelepasan yang dua kali dilakukan (masjid RW dan masjid komplek), karena harus dinas keluar kota memenuhi tugas kantornya. Sayalah yang selalu mewakili beliau. 

Walimatus Safar di rumah kami

Setelah acara pelepasan oleh para jema’ah di tempat tinggal saya, kami pun berniat menggelar acara walimatus safar di rumah sendiri. Sebelumnya, perlu kita lihat apa itu makna walimatus safar. Secara harfiah, walimatus safar memiliki makna “menjamu” atau “pesta” sebelum melakukan perjalanan jauh (safar). Sebagai warga masyarakat (dengan status perantau) yang hidup bertetangga dengan baik, tentunya kami tidak ingin pergi berhaji begitu saja tanpa berpamitan. Kami pun ingin mengundang tetangga untuk hadir memenuhi niat “berpamitan” sebelum meninggalkan tempat tinggal menuju tanah suci. 

Idem

         Sebenarnya tradisi walimatus safar ini tidak dikenal dalam manasik haji, karena tidak ada hubungannya sama sekali dengan tata cara ibadah Rasulullah saw. Dikhawatirkan juga ghairu masyru’ (tidak disyari’atkan/tidak boleh). Kami memohon ampunan kepada Allah SWT. Niat kami untuk melaksanakan walimatus safar semata-mata hanya ingin menguatkan silaturahmi, mensyukuri nikmat Allah yang telah membukakan jalan untuk kami berhaji, berbagi kebahagiaan seperti firman-Nya yang artinya; “dan terhadap nikmat Rabb-mu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya”, menyampaikan permohonan maaf, berpamitan, serta menitipkan keluarga yang akan kami tinggalkan untuk rentang waktu yang cukup lama. Tidak lebih dari itu (tidak untuk pamer dan riya).

Nyaris pulang ke rumah
Seperti yang saya katakan tadi bahwa saya tidak lagi terlalu memikirkan status visa ziarah yang kami pilih untuk berhaji. Namun, saya tidak bisa mencegah pertanyaan tetangga. “Kloter berapa?” Ini salah satunya. Tentu saya tidak bisa menjawabnya, sebab kami berangkat dalam status non kuota yang bukan masuk dalam sebuah kloter. Untunglah yang bertanya tidak terlalu menginginkan jawabannya. Saya pun tetap menyimpan proses kami mendapatkan visa tersebut. Namun, saya sudah menyimpan niat bahwa setelah saya pulang, saya memang ingin sekali berbagi tentang status visa ziarah ini. Saya belum berani bercerita karena saya dan suami belum menjalani proses keseluruhannya.
Alhamdulillah … saya dan suami sekarang sudah kembali ke tanah air dan telah menunaikan semua rukun haji selama di tanah suci. Semoga Allah SWT melimpahkan kemabruran pada status haji kami. Aamiin Ya Rabb.
            Lalu, inilah saatnya. Saya sempat berpikir berulang-ulang, apakah ini pantas saya sharing atau saya simpan saja sebagai catatan hati. Sempat galau. Namun, masukan dari teman-teman terhadap postingan saya di facebook, akhirnya menguatkan niat saya untuk berbagi cerita ini.
Kembali ke proses keberangkatan kami. Tibalah waktu yang kami tunggu-tunggu sejak visa keluar. Dengan dilepas oleh kedua orangtua saya, kedua anak kami, dan asisten rumah tangga kami serta suami dan anak-anaknya, Senin, 29 Agustus 2016, pukul 22.30 WIB, mobil carteran yang membawa kami pun bergerak menuju bandara Internasional Soekarno Hatta.

Menunggu keberangkatan di bandara Soeta
Tiba di bandara, kami langsung bergabung dengan para calon jema’ah haji dari beragam domisili. Ada yang dari Kalimantan Timur, Makassar, Jambi, Karawang, dan Jakarta. Jumlah kami 43 orang. Menurut informasi travel yang bertanggung jawab memberangkatkan, rute penerbangan yang akan kami tempuh adalah Jakarta - Kuala Lumpur – Filipina – Riyadh – Jeddah – Mekkah.
Awalnya, saat mendengar kata Filipina, kecemasan saya dan suami kembali mencuat. Mengingat berita yang sedang hangat tentang calon-calon jema’ah haji asal Indonesia yang batal diberangkatkan dari Bandar Udara Internasional Ninoy Aquino, Manila, Filipina itu, saya pun langsung mencari kepastian jaminan dari pihak travel. Namun, pihak travel memberi jawaban yang cukup meyakinkan bahwa paspor yang kami gunakan berbeda dengan paspor calon jema’ah haji yang batal berhaji di Filipina. Mereka menggunakan paspor ganda (paspor Filipina).  Kecemasan saya kembali menguap.
Pesawat Malaysia Airlines yang akan kami naiki berangkat jam lima pagi. Inilah awal munculnya kembali kecemasan saya. Ketika penantian menunggu keberangkatan tiba pada ujungnya, saya melihat sesuatu yang janggal. Semua calon jema’ah sudah menerima paspor dan tiket untuk melewati jalur imigrasi menuju boarding. Sementara saya dan pasangan suami istri (sahabat kami tadi) masih menunggu di pintu masuk resmi.
Ada apakah?
Tim travel dan sahabat saya yang sebenarnya sudah mengetahui kendala apa yang sedang terjadi sehingga kami masih tertahan di luar, seolah sengaja menyembunyikan sesuatu. Saya tidak bisa menyembunyikan kecemasan dan kecurigaan yang mendesak-desak di dada. Untunglah suami saya tidak terpengaruh dengan situasi yang membuat saya tegang itu. Itu semata-mata karena ia memang tidak paham apa yang sedang terjadi.
Sambil menekan kecemasan, saya berusaha untuk terus berdoa agar awal keberangkatan dari tanah air ini diberi kelancaran oleh Allah SWT. Saya terus berdoa di sela-sela rasa cemas yang kian memuncak. Akhirnya, Allah menjawab doa saya. Paspor dan tiket kami pun keluar dan diserahkan ke saya dan suami. Namun, tanda tanya besar yang tadi sempat menggumpal di benak saya masih belum terjawab. Mengapa kami tertunda sekian lama di luar sementara calon jema’ah lainnya sudah duduk manis di pesawat? Dan, mengapa pasangan suami istri (sahabat kami) juga ikut menunggu di luar?
Begitu duduk di peswat, istri teman suami saya pun meminta saya melihat paspor kami. Terjawablah semuanya. Masa berlaku paspor saya dan suami ternyata hanya tinggal lima bulan lebih beberapa hari lagi. Sementara syaratnya minimal enam bulan. Ya Allah, mengapa ini bisa terjadi pada saya dan suami yang selama ini sangat teliti untuk hal-hal terkait dengan perjalanan ke luar negeri? Ternyata, kesalahan ada di pihak travel. Dan, inilah salah satu kendala awal saat memilih visa ziarah. Alhamdulillah, Allah masih menolong kami.
Saya tiba-tiba ingat kalau sekitar bulan Januari – Februari, saya sempat meminta paspor saya dan suami untuk dicek lagi. Namun pihak travel mengatakan tidak perlu karena tidak ada masalah. Jadi, kesalahan mutlak ada di pihak mereka sehingga merekalah yang bertanggung jawab penuh. Setelah itu, saya bolak-balik mengucap syukur pada kasih sayang Allah SWT. Tidak bisa saya bayangkan kalau kami tidak bisa berangkat dan harus kembali ke rumah saat itu. Apa kata suami saya ketika itu? “Berprasangka baiklah kepada Allah, maka Dia akan menolongmu sesulit apa pun situasimu.” Saya berjanji akan terus mengingat kata-katanya ini.
Catatan perjalanan haji dengan visa ziarah ini masih panjang. Insya Allah, saya akan melanjutkannya. Mohon maaf jika catatan pengalaman berhaji ini akan terbagi pada beberapa postingan. Semoga bermanfaat. Salam…. [Wylvera W.]


Jumat, 22 Juli 2016

Restoran Lengkap ala Grand Nikko Bali



            Halo Sobat Traveler dari seluruh Indonesia…!
Sudah berpetualang ke mana saja? Saya adalah salah satu Traveler yang suka melihat keindahan Indonesia. Tapi mungkin pengalaman berpetualangnya lebih banyak kalian daripada saya.
            Sudah pernah ke Bali, belum? Saya mau bercerita tentang satu restoran dengan fasilitasnya yang lengkap. Restoran itu ada di hotel yang saya singgahi saat di Bali. Siapa tahu, bisa menjadi referensi buat Sobat yang belum atau ingin bermain ke Bali.
            Grand Nikko Bali namanya. Hotel ini didirikan oleh perusahaan Japan Airline Development Company (JDC). Saat ini hotel nikko sudah tersebar di seluruh dunia dan salah satunya ada di Bali. Letak hotel berbintang lima ini ada di Jl. Raya Nusa Dua Selatan, Bali. Grand Nikko Bali menyediakan sekitar 389 kamar dengan berbagai tipe, fasilitas, dan harga yang beragam. Sobat Traveler bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan dan isi kantong.

Sumber: grandnikkobali.com

            Selain fasilitas kamar, Grand Nikko Bali juga menyewakan 19 villa mewah dengan konsep kontemporer. Sobat Traveler bisa menginap bersama keluarga dan teman-teman di villa itu. Hotel ini sangat menarik di penyediaan kulinernya. Sobat Traveler bisa memanjakan lidah dan perut dengan sajian makanan serta minuman di banyak tempat.           
Inilah beberapa restoran yang saya jelajahi di dalam hotel.

Brasserie de Celebrities Restaurant

Sumber: galahotels.com

Restoran ini sangat luas dan keren. Biasanya, restoran ini digunakan untuk menyantap hidangan sarapan dan makan malam. Ada sekitar 206 kursi makan yang tertata rapi. Terdiri dari 132 kursi indoor dan 74 kursi outdoor. Letak Restoran ini pun gampang dijangkau. Lokasinya ada di lobi hotel.

Delicatesson Lounges
Tempat ini merupakan salah satu bar yang dimiliki Grand Nikko Bali. Bar ini
letaknya juga di lobi lantai dasar. Berfungsi sebagai ruang tunggu untuk tamu yang berkunjung. Sayangnya, di sana hanya tersedia 16 kursi saja.
Di bar ini hanya menyediakan makanan ringan saja. Jadi, jika Sobat Traveler benar-benar lapar, jangan ke bar ini, langsung saja ke restoran yang ada. Bar ini juga hanya dibuka pada waktu tertentu saja, yaitu pada pukul 11.30 15.00 waktu Bali. Lalu dibuka kembali pada 17.00 – 23.00 waktu Bali.

Benkey Japanese Restaurant
Ini dia yang menjadi ciri khas dari semua hotel Grand Nikko, Sob! Restoran ini menyediakan berbagai makanan Jepang dengan menggunakan teknik penyajian ala Jepang pula. Sobat Traveler yang menyukai masakan Jepang, wajib untuk makan di restoran ini. Dari makanan lunch hingga dinner disediakan. Terdapat 121 kursi duduk yang sudah terfasilitasi.

The Shore Restaurant
Restoran ini menyajikan menu ringan dan minuman seperti es krim dan lainnya. Yang menyenangkan, restoran ini menyajikan keindahan panorama Pantai Nusa Dua yang letaknya berada di depannya. Restoran ini dibuka pada jam 10 pagi hingga 10 malam.
Itulah beberapa restoran yang saya ketahui, Sob! Mungkin terdapat restoran maupun bar lainnya yang belum saya jajahi di hotel ini. Satu lagi, kalau kamu mau sekalian menginap di hotel ini, kamu bisa coba booking pakai situs travel online seperti traveloka. Menurut saya cara itu akan memudahkan, enggak pakai ribet.
Cukup lengkap, bukan? Selain letaknya di dekat Pantai Nusa Dua, sekitar 2,43 km dari hotel, kamu akan menemukan Pantai Mengiat, Sob!
Pantai yang tak kalah indahnya dengan Pantai Nusa Dua. Pantai ini mendapatkan julukan sebagai pantai yang paling bersih di Bali. Kamu akan betah berlama-lama menikmati keindahan pantainya. Sebab akan terasa sangat nyaman. Pasir pantai yang berwarna putih membuatnya semakin cantik.
Di Pantai Mengiat, terdapat titik selam untuk kegiatan snorkeling. Kamu akan melihat keindahan bawah laut dari sana, Sob! Bermacam-macam ikan dan bentuk karang akan terlihat jelas dari bawah air. Silakan coba, lalu rasakan sensasi yang menyenangkan.
Pantai Mengiat juga sering dikenal dengan Pantai Nelayan. Kamu akan melihat perahu-perahu nelayan yang diparkir dengan rapih di tepi pantai. Yang lebih mengasyikkannya lagi, kalau kamu datang pagi-pagi hanya untuk melihat sunrise, dari sana akan terlihat jelas. Menakjubkan!
Tunggu apa lagi? Kamu harus berkunjung ke Bali dan rasakan sensasinya!