Laman

Kamis, 06 Februari 2020

Ghent, Kota Tua yang Memikat Hati


          Melanjutkan catatan yang tertunda lama memang sedikit menurunkan mood. Namun sayang jika tidak dituntaskan. Sebelum memutuskan untuk berangkat ke Leiden, kami sudah menyusun daftar destinasi. Salah satunya adalah berkunjung ke negara yang dekat dengan Belanda. Yap! Belgia menjadi pilihan yang tepat. Kami pilih pula Brugge sebagai tempat menginap agar mudah mencapai kota-kota terdekatnya.
            Setelah puas merekam keindahan kota Brugge, di hari kedua kami memilih Ghent sebagai destinasi lanjutan untuk Belgia. Pagi itu udara sedang-sedang saja. Tidak terlalu cerah dan tidak pula hujan. Kami bersiap menuju stasiun kereta Brugge. Jaraknya yang dekat membuat kami tidak terlalu terburu-buru. Sekitar setengah jam perjalanan dengan kereta dari Brugge, kami pun tiba di Ghent-Sint-Pieters, stasiun kereta Ghent.
            Penyebutan Ghent berasal dari Bahasa Inggris. Sedangkan dalam Bahasa Belanda disebut Gent, Bahasa Prancis menyebutnya Gand. Baiklah, kita pakai sebutan yang umum saja yaitu Ghent. Kota Ghent terletak di wilayah Flemish yang dekat dengan perbatasan Prancis, sekitar 57 kilometer dari Brussels. Mungkin karena Brussels lebih terkenal, maka Ghent sebagai salah satu kota di Belgia ini terlupakan oleh sebagian wisatawan yang berkunjung ke Belgia.

Di depan stasiun kereta Gent-Sint-Pieters
Pic: dokumen pribadi

           
Begitu sampai, sangat jelas terlihat bahwa kota ini sudah sangat tua. Namun bangunannya justru menyimpan daya magnet untuk ditelusuri. Peradaban di Ghent sudah diawali sejak abad keenam. Bangunan-bangunan megah yang mendominasi sudut-sudut kota telah berdiri sejak abad pertengahan. Kota ini ternyata tidak kalah memikat dari Brugge maupun Brussels yang pernah kami kunjungi. Gaya arsitektur dari abad pertengahan menjadi magnet sudut-sudut kota Ghent.
            Selain naik bus untuk mencapai pusat kotanya, kita bisa melanjutkan wisata dengan berjalan kaki atau menyewa sepeda. Jika ingin menikmati kota dalam nuansa yang sedikit romantis, silakan memilih berperahu di sepanjang Sungai Leie untuk menyusuri keindahan kota Ghent. Saya, suami dan putri kami Yasmin lebih memilih berjalan kaki.

Katedral St. Bavo
Bangunan pertama yang kami lihat adalah Katedral St. Bavo yang bergaya Gothic dan Baroque. Katedral ini memiliki menara setinggi 89 meter. Di dalamnya tersimpan karya seni terkenal yang disebut sebagai Altar Gent. Menurut Wikipedia, altar dari abad ke-15 yang sangat besar dan disimpan di Katedral ini, mulai dibuat oleh seniman bernama Hubert dan Jan van Eyck pada abad pertengahan (1420-an). Diselesaikan sebelum tahun 1432. Katedral ini juga merupakan tempat Keuskupan Ghent.
Katedral St. Bavo tampak samping atau belakang ya ini. 😊
Kami tidak masuk ke dalam Katedral karena ingin memanfaatkan waktu untuk melihat bangunan bersejarah lainnya di Ghent. Karena jarak antara bangunan satu dan lainnya tidak begitu berjauhan, kami tetap berjalan kaki untuk menyusuri kota Ghent yang hari itu ramai dikunjungi wisatawan.

 Belfort van Gent
            Dari gedung Katedral berpindah ke Belfort Van Gent, warisan dunia UNESCO yang memiliki menara setinggi 91 meter. Menara ini menjadi salah satu menara tertinggi di Belgia dan Prancis. Awalnya menara ini dibangun sebagai menara pengawas. Kemudian berubah fungsinya menjadi menara lonceng dan menara jam.
Velfort van Gent (pic: pribadi)


            Menara ini dibangun pada tahun 1313 dan selesai pada tahun 1380. Naga perunggu yang diletakkan di puncak menara kabarnya dibawa dari Brugge. Menariknya, jika memiliki waktu panjang, pengunjung bisa naik ke atas menara untuk menikmati pemandangan kota Ghent. Kami memilih memandang ketinggian menara dari luar saja. Sebab kami ingin melanjutkan melihat bangunan bersejarah lainnya.

Graventeen Castle yang menyimpan kisah panjang.
            Sambil menikmati kota dengan berjalan kaki, kami pun sampai di landmark kota Ghent, Gravensteen Castle. Kastil ini merupakan tempat wisata paling populer di Ghent. Kastil yang berlokasi di tengah kota ini dibangun pada abad ke-21 oleh Count Philippe dari Alsace. Philippe dari Alsace merupakan seorang Comte Flandria dari tahun 1168 sampai 1191.

Graventeen Castle (pic: dokpri)


Gravensteen dikenal sebagai “Castil of the Count”. Count sendiri maksudnya adalah wilayah atau yang dikenal sebagai county atau sub unit dari pemerintahan daerah yang memiliki yurisdiksi sendiri. Kalau di Indonesia kita mengenal sebutan “Keresidenan” yang pada zaman kolonial Belanda sebelum berdirinya Republik Indonesia Serikat.

Menyimak sambil menunggu arahan tur

         Kembali ke niatan kami mengunjungi landmark ini. Ada paket tur yang menyajikan kisah tentang kastil ini. Kisahnya diceritakan oleh dua tokoh sejarah, novelis Chretien de Troyes dan aristocrat Simon Saphi. Panduan di tur ini membantu pengunjung mengeksplorasi sejarah kastil. Suara di headphone menjelaskan berbagai aspek tradisi dan budaya  abad pertengahan. Tur ini tentu sangat interaktif untuk para wisatawan. Kami memutuskan untuk mengambil paketnya.
Lumayan puas karena durasi yang diberikan hampir sekitar dua jam. Sejarah pun dimulai dan kami menyimak dengan baik dari alat bantu dengar yang diberikan. Kastil ini pernah menjadi penjara dengan ragam praktik penyiksaan. Bukti-bukti dari sejarah itu tersimpan rapi di dalamnya.
            Kastil Gravensteen dibangun pada tahun 1180. Philippe meniru kastil-kastil Tentara Salib yang dilihatnya selama Perang Salib Kedua. Sebelum kastil ini didirikan, di lokasi yang sama sudah ada kastil kayu yang telah ada dari sekitar abad ke-9. Kastil tersebut berfungsi sebagai rumah Count Flandria, sebelum ditinggalkan pada abad ke-14.

Ada beberapa tangga seperti ini untuk ruang-ruang lainnya
            Gravensteen merupakan benteng abad pertengahan yang khas. Pangeran Flanders, Philippe dari Alsace, membangun benteng pertahanan ini di akhir abad ke-12. Dilengkapi oleh tangga berputar yang sedikit bikin saya pusing saat menaikinya. Ditambah dengan ruang bawah tanah yang dikelilingi oleh tembok tinggi dan parit pelindung. Bangunan ini kemudian berfungsi sebagai penjara dan kompleks industri yang diawali pada abad ke-19. Kastil ini akhirnya dibuka untuk umum pada tahun 1907.
        Yang bikin merinding berada di bekas ruang siksaan kastil. Sekarang berfungsi sebagai museum yang didedikasikan untuk benda-benda yudisial. Antara abad ke-14 dan ke-18, kastil ini digunakan untuk penyiksaan, penghakiman dan eksekusi tahanan. Kami melihat baju besi, berbagai senjata, busur besar yang kokoh dan beragam sisa peninggalan yang dijadikan koleksi museum. Menarik tetapi sempat bikin bulu kuduk berdiri membayangkan penyiksaan seperti apa yang pernah dilakukan di kastil ini.

Berat juga ternyata baju besi ini
            Kami terus menikmati announcer di headphone yang memaparkan sejarah kastil secara runut. Dari ruang satu ke ruang lainnya, tak satu pun yang kami lewatkan. Akhirnya kami sampai pada bagian atas bangunan yang terbuka. Dari sana, pemandangan kota Ghent yang eksotis pun terlihat dengan sempurna. Tidak mungkin untuk tidak mengabadikan momen ini dalam kamera. Klik! Klik! Puluhan foto pun tersimpan rapi di smartphone kami.

Pemandangan dari Rooftop 


Another view from rooftop
            Jangan takut ketinggalan momen tur. Gravensteen dibuka setiap hari sepanjang tahun. Gratis hanya untuk anak di bawah 13 tahun. Usia di atasnya tentu saja berbayar. Hehehe ….

Groot Vleeshuis
            Hari masih terang. Kami melanjutkan eksplorasi kota Ghent. Ketika menyusuri tepian kanal, kami menemukan Groot Vleeshuis, gedung dengan arsitektur unik yang merupakan bekas pasar tertutup serta guild house (rumah serikat sekerja). Bangunan ini juga dijadikan tempat pasar daging dan pemotongan hewan. Pada abad pertengahan, penjualan daging dipusatkan di aula atau rumah daging untuk mengendalikan penjualan daging.  Penjualan daging di rumah dilarang pada masa itu. Setiap kota di abad pertengahan memiliki satu atau lebih rumah daging seperti ini.


Sisi sebelah kiri itu Groot Vleeshuis 
Kanal cantik di Ghent yang tak sempat kami susuri
         Bangunan aula yang unik ini dilindungi sebagai monumen pada tahun 1943 dan mengalami restorasi pada akhir tahun 90-an. Bangunan ini sekarang digunakan sebagai pusat promosi untuk produk regional Flemish Timur.

Makan siang sebagai penutup perjalanan di Ghent.
            Setelah mengakhiri eksplorasi, hari sudah sore. Kami baru sadar kalau belum makan siang. Pantaslah suara-suara aneh mulai terdengar sesekali dari perut ini. Hahaha ….
Kami lanjutkan perjalanan kembali mencari restoran halal yang pas untuk kami. Sambil melihat-lihat kembali beberapa arsitektur bangunan dan kafe-kafe yang ramai. Akhirnya kami menemukan “Restoran Ali Baba” yang lokasinya masih di seputar kota.

Ekspresi lapar itu memang aneh 🤭

Diizinkan moto sama chefnya

            Perut yang sudah lapar tidak bisa lagi diajak kompromi. Kami masuk ke restoran lalu memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Dengan pelayanan yang sangat ramah, rasanya menu yang memancing selera di buku daftar menu pun ingin dipesan segera. Hidangan di restoran ini dijamin kehalalannya.

Siap disantap 😅
            Santap siang yang mengenyangkan dan sangat memuaskan selera. Kami seolah lupa bahwa lidah kami lidah Asia. Habisnya sedap sih semua yang dipesan. Hahaha ….
Dan inilah akhir kunjungan kami ke Ghent. Setelah ini, in shaa Allah saya lanjutkan dengan Brussels dan Antwerpen, mungkin dalam satu catatan sekaligus.
Sabar menunggu ya. [Wylvera W.]