Laman

Sabtu, 07 Desember 2019

Brugge, Kota Paling Romantis di Belgia


Baiklah … mari kita awali dengan proses perjalanan menuju Brugge. Selesai menghabiskan kebersamaan merayakan hari pernikahan di Luxembourg, kami pun kembali bergegas menuju destinasi berikutnya. Tiket Eurail Pass yang merupakan paket hemat untuk bepergian ke penjuru Belgia, Belanda dan Luxembourg (Benelux-red), kembali kami gunakan semaksimal mungkin. Kami akan menempuh jarak dengan waktu sekitar empat jam lebih.


            Saat memutuskan akan mengantar si Kakak (putri sulung kami) untuk study exchange ke Leiden, Brugge menjadi destinasi pilihan yang menyertainya. Sekali terbang, dua tiga negara terlampaui. Begitu niat kami. Tidak mau kecolongan lagi seperti tahun 2015 lalu. Waktu itu saking semangatnya pengin melihat Brussel, Brugge pun jadi terlupakan. Padahal saya sempat menelusuri laman website tentang kota yang katanya paling romantis di Belgia itu.
            Kunjungan kali ini, kami menempatkan Brussel sebagai destinasi alernatif. Karena si Kakak belum pernah berkunjung ke kota itu. Kami pun mengatur perjalanan sedemikian rupa. Yuk! Saya mulai ceritanya.

Tiba di Brugge
            Kali ini kereta kami tepat waktu. Totalnya sekitar empat jam. Perjalanan dari stasiun Luxembourg dengan tambahan transit di Stasiun Brussel Midi akhirnya tiba di Stasiun Brugge. Tidak lagi mengecewakan seperti perjalanan sebelumnya.


Saat kami tiba, gerimis mengundang menyambut kedatangan kami. Saya berharap hujan ini tidak lama agar kami masih punya kesempatan menikmati kotanya. Dari stasiun kami harus menaiki bis menuju hotel tempat menginap. Di dalam bis saya sudah merasakan keindahan dan ketenangan kota ini. Pantaslah hampir semua wisatawan yang pernah mampir, sepakat menyebut Brugge sebagai kota teromantis di Belgia.
Sungguh Allah Maha Kaya. Dia tebar keindahan di setiap bumi-Nya agar kita selalu ingat akan kebesaran-Nya. Saya bangga dengan alam Indonesia karena begitu banyak keindahan yang diberikan Sang Maha Pencipta di bumi leluhur saya. Namun Allah juga menebar keindahan lainnya di belahan bumi milik-Nya. Semua itu semata agar kita bisa memaknai setiap keagungan-Nya sebagai hamba yang berpikir.
            Kembali ke kota romantis ini. Brugge adalah kota wisata yang menjadi ibu kota Provinsi West-Flanders. Letaknya di bagian Barat Laut Belgia. Karena keindahan kanal yang sangat mencolok, Brugge juga disebut sebagai Venice of the North. Konon katanya, Brugge merupakan kota tua yang sudah ada sejak zaman Romawi. Perkembangan kota ini dimulai pada abad ke-4 dan akhirnya dikenal sebagai salah satu kota perdagangan utama Eropa kuno.

            Mata saya tak mau lepas memandangi sudut-sudut kota yang dilalui bis. Begitu memasuki kawasan kota tuanya, saya setuju dengan sebutan romantis itu. Dari model bangunan, Brugge mewarisi gaya arsitek medieval (abad pertengahan) yang ditandai dengan lengkungan setengah lingkaran. Gaya bangunan ini terlihat hampir di seluruh sudut kotanya. Menurut saya, kalau ingin berfoto tidak perlu bingung mencari spot. Hampir semua lokasi bisa dijadikan latar yang menarik.
            Di pusat kota Brugge, banyak tempat yang bisa dilihat. Antara lain Belfry, Menara Lonceng Brugge, dan Church of Our Lady. Museum Groeninge yang menyuguhkan banyak karya seni seniman Flemish. Kota Brugge juga menjadi bagian dari UNESCO Heritage site pada tahun 2000. Banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi di kota ini. Rasanya memang tak cukup sehari untuk menghampiri semua sudut kota. Semoga kami bisa menikmati bagian-bagian terindahnya.

Menyusuri kanal Brugge yang eksotik
            Sekitar 15 menit, bis yang kami naiki pun tiba di halte terdekat dengan hotel yang kami pesan. Kami akan menginap di Canalview Hotel Ter Reien Langestraat I, Historic Centre of Brugge, 8000 Brugge, Belgia (hahaha …lengkap). Hotelnya tidak terlalu besar. Tempat tidurnya unik. Kami refleks tertawa melihat tingginya permukaan tempat tidur ini.
“Kayaknya kita harus lompat ini naiknya,” komentar si Kakak bikin kami ngakak.


Yang menarik bagi saya saat memasuki kamar hotelnya, terdengar seperti aliran air yang sangat dekat menempel di dinding kamar. Saya buka jendela kamar. Wuaaah! Kanalnya persis di sebelah tembok kamar hotel. Sesuai dengan nama hotelnya. Suara aliran kanal yang terdengar tadi ternyata dari gerakan laju perahu para turis yang melintas.


Kecewa karena tidak ada termos untuk memasak air di kamar, mendadak hilang. Selain itu, pasti selalu ada kurang dan lebihnya. Kami akan menginap di hotel ini selama 3 hari 2 malam. Dibawa nyaman sajalah. Suasana teduh dari desiran air kanal sudah mampu menepisnya. Lebaaai … hahaha.
Biermuseum
Toko Renda yang unik
Salah satu toko cokelat
Cuaca kembali terang. Kami tak mau melewatkan waktu. Keinginan untuk menyusuri kanal begitu menggebu-gebu. Kami pun bergegas meninggalkan hotel menuju kota tua Brugge. Di sepanjang jalan yang diapit oleh bangunan-bangunan etnik, saya melihat beberapa yang khas dari Brugge. Makanan dan oleh-olehnya. Ada toko yang menjual aneka macam bahan renda khas Brugge. Aneka cokelat Belgia, permen, dan yang tak kalah populer adalah wafel tradisionalnya serta mussel (masakan dari kerang khas Belgia).



Menurut saya, tidak akan pernah bosan mengelilingi kota ini. Karena setiap sudutnya mampu menebar kecantikan alami dalam balutan nuansa yang romantis. Setelah puas menyusuri sebagian kota tuanya, kami memutuskan untuk naik perahu. Obsesi yang sudah saya bawa sejak sebelum berangkat dari Luxembourg. Untuk naik perahu (boat tour) mengelilingi kanal yang ada di Brugge, kami harus membayar  8 Euro per orang.




Bukan saya saja yang bersemangat untuk naik perahu ini. Sebagai kota yang kanalnya menjadi pemandangan utama, berperahu adalah pilihan yang paling diminati oleh para wisatawan. Terbukti dari panjangnya antrean. Selama tur dengan perahu, pengemudi perahu akan menjelaskan objek-objek yang dilewati.


Church of Our Lady tampak dari kejauhan
Groeninge Museum tampak belakang
Dari atas kanal, perahu akan melewati beberapa bangunan bersejarah. Salah satunya tentang Menara Lonceng Brugge yang letaknya di pusat kota Brugge. Menara ini merupakan salah satu simbol kota Brugge. Di dalamnya terdapat perbendaharaan dan arsip kota itu. Menaranya berfungsi sebagai salah satu pendeteksi kejadian yang berbahaya. Misalnya kebakaran. Ada 366 anak tangga yang harus dilewati jika ingin melihat puncak menaranya. Sementara tinggi menaranya 83 Meter dengan struktur miring 87 Centimeter ke arah Timur. Menara ini juga merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO.



 BelfryBrugges Tower (Menara Lonceng Brugge)

Simon Stevin, ahli Matematika, Fisika, dan Insinyur Flemish
Untuk berkeliling di kota Brugge, selain naik perahu sebenarnya turis juga bisa menyewa sepeda di stasiun Brugge. Atau menyewa kereta kuda. Namun harganya lumayan, yaitu mulai dari 20 Euro, tergantung dari durasi yang diminta. Kami cukup memilih naik perahu saja untuk menikmati kota dari arah kanalnya.

Melengkapi hari dengan romansa kota Brugge
            Puas mengelilingi kanal, kami kembali berjalan kaki melihat bagian sudut kota yang lainnya. Beberapa kedai yang menjajakan wafel khas Belgia menggoda selera. Kami pun mencoba membeli dan mencicipinya di tepi kanal. Benar! Kelembutan wafel dan legitnya lelehan cokelat membuat kami sayang menyisakan potongan terakhir.




            Sambil meresapi setiap kunyahan wafel berbalut cokelat, mata saya memandangi orang yang lalu-lalang. Setelah menghabiskan wafel, kami kembali melanjutkan berjalan kaki. Tiba-tiba suara alunan musik klasik yang biasa digunakan untuk mengiringi dansa mengusik pendengaran kami.
            Arah langkah pun kami bawa mendekati sumber suara itu. Alamaak …! Benar saja dugaan saya. Beberapa pasangan separuh baya sedang menikmati tarian dansa mereka. Musik pengiring seolah menghanyutkan mereka dalam dekapan bersama pasangannya. Entah apa yang sedang mereka pikirkan di setiap gerakan kaki dan dekapan itu. Saya ikut tersenyum sambil mengabadikan pemandangan yang belum tentu bisa saya jumpai di kota asal saya.


            Dari arena dansa itu, kami memutuskan untuk kembali sebentar ke hotel demi menunaikan kewajiban salat. Musim panas yang hampir berakhir membuat kami lebih leluasa untuk menikmati cuaca. Durasinya cukup panjang menuju gelap. Meskipun sesekali hujan turun membasahi tanah Brugge, namun tidak menyurutkan para wisatawan untuk meninggalkan kota itu. Mereka melipir ke restoran-restoran yang tersebar di sudut kota.

Foto dulu biar nggak lupa sama restonya :p

            Selepas salat dan hujan reda, kami kembali meninggalkan hotel untuk mencari restoran halal. Setelah browsing untuk menemukan nama dan lokasi restoran halal tersebut, akhirnya kami menemukan satu yang cocok dengan selera. Walaupun hanya satu dua restoran saja, alhamdulillah … tidak terlalu sulit menemukannya.


            Suami saya yang suka banget iga bakar, seperti bertemu mutiara di dasar laut dengan selera yang pas. Sementara saya dan putri kami memilih yang standar saja. Fish and chips seperti yang ada di restoran-restotan penjual makanan serupa di tanah air. Hanya porsinya yang berbeda dan cukup mengenyangkan. Kami nikmati hidangan yang disajikan dengan pelayanan yang sangat ramah dari penjual berwajah Timur Tengah itu (saya lupa minta izin untuk memoto wajahnya … hehehe).

Selamat tinggal Brugge!
            Kami masih menginap di kota Brugge. Namun di hari kedua, kami samasekali tidak melanjutkan menjelajah kota itu. Kami pindah sejenak menuju Brussel. Bagian perjalanan di Brussel ini akan saya ceritakan di postingan berikutnya. Sabar yaaa ….
            Hari terakhir di Brugge menjadi hari yang bikin hati berat meninggalkannya. Saat menunggu di halte bis yang letaknya persis berhadapan dengan kanal, saya puaskan pandangan menyapu semua keindahan itu. Bis yang kami tunggu belum datang juga. Gerimis kembali membasahi bumi Brugge. Sesekali kereta kuda melintas. Hentakan kakinya memberi irama yang justru menenangkan.
            Di saat menunggu itu, beberapa kali momen yang sarat hikmah terjadi. Pertama, suami saya membantu menopang tubuh laki-laki tua yang akan menaiki bis. Dengan kondisi fisiknya yang bagi orang normal, rasanya tidak mungkin lagi untuk dibiarkan bepergian sendiri. Laki-laki tua itu masih terlihat bersemangat.


                                                           
Mengisi waktu saat  menunggu bis
Kedua, masih tentang laki-laki renta dengan kondisi kesehatan yang tak lagi prima. Saya memerhatikan langkahnya yang gemetar tapi tetap konsisten. Luar biasa! Saya bisikkan ke suami “Kenapa bisa begini ya? Brugge dengan suasana alamnya yang romantis dari kemarin menyuguhkan kejadian-kejadian yang bikin hati kita ikut bergerimis.” Suami saya hanya tersenyum sambil berkomentar “Hitung-hitung kita bisa melihat seperti apa hari tua kita nanti.”

Di stasiun Brugge
Sesaat setelah itu, bis pun muncul. Kami bergegas naik dan bis melaju menuju stasiun kereta. Semoga Allah masih memberi kesempatan kami kembali lagi ke kota ini dengan paket lengkap, saya, suami, si Kakak, dan si Adik (putra bungsu kami). Semoga! [Wylvera W.]
             
Note:
Cerita sebelumnya ada di sini

Senin, 02 Desember 2019

Berkunjung ke Pemukiman Suku Baduy


            Entah sudah berapa kali saya membaca cerita-cerita tentang masyarakat Baduy. Namun baru kemarin muncul keinginan kuat untuk melihat secara langsung. Kata orang Melayu “pucuk dicinta ulam pun tiba.”
            Selain itu, sudah beberapa bulan terakhir ini saya rutin mengikuti kelas tahsin di rumah kakak kelas saya. Jarak Bekasi – Serpong tidak menjadi halangan bagi saya. Seperti kata suami, “Dirimu mendapat bonus pahala sekaligus lho. Pertama, ikhlas mengantar dan menjemput aku ke dan dari kantor. Kedua, semangat menempuh jarak yang lumayan macet dari Bekasi – Jakarta – BSD.” Saya tersenyum mengaminkannya. Semoga apa yang dikatakan suami saya itu menjadi doa. Aamiin.
            Siang itu setelah pulang dari tahsin, ada pesan masuk di HP saya. Kak Endang (nama kakak kelas saya yang rumahnya rutin dijadikan tempat kami mengaji), menanyakan tentang buku-buku saya. Katanya ia dan anggota (ummahat) masjid ingin mengisi Taman Bacaan di Kampung Mualaf Baduy dengan buku-buku bacaan Islami. Saya pun mendadak sibuk mengumpulkan setiap judul buku saya yang masih beredar. Beberapa eksemplar dari buku-buku karya saya dan satu teman penulis pun terpilih untuk disumbangkan. Setelah itu, obsesi saya ingin berkunjung ke pemukiman suku Baduy pun semakin kuat tak tertahankan.
            Dari interaksi saat tahsin, saya mendapat informasi bahwa para Ummahat Masjid Al Aqsha Delatinos akan melakukan kunjungan untuk kedua kalinya ke sana. Mereka sudah sering melakukan bakti sosial. Dan kunjungan yang merupakan salah satu program bakti sosial ini sangat pas dengan keinginan saya. Mereka ingin menyumbang buku-buku (pelajaran dan fiksi) baik untuk dewasa, remaja maupun anak-anak.  Buku saya ada bersama buku-buku lainnya. Akhirnya saya pun nekat menawarkan diri untuk ikut.
            Sayangnya, seat sudah penuh. Sedih banget rasanya. Untung masih ada harapan. Sambil menunggu daftar waiting list anggota yang akan ikut rombongan bakti sosial, saya terus berharap agar bisa mendapatkan kesempatan. Qadarullah … satu peserta akhirnya membatalkan diri. Maka saya lah yang menggantikan untuk menempati seat-nya di dalam bis. Senangnyaaa! Mimpi saya segera terkabul. Alhamdulillah.

Berangkat menuju Kampung Landeuh
            Setelah mendapat izin dari suami dan menginap di rumah Kak Endang, keesokan paginya kami pun siap-siap berangkat. Selepas Subuh, saya pun bergabung bersama 29 pengurus Ummahat Masjid Al Aqsha lainnya. Tidak semuanya perempuan. Ada lima bapak yang ikut mendampingi perjalanan kami menuju kampung Baduy.


            Sebelum berangkat, sesi foto tentu tidak dilewatkan. Saya yang baru pertama kali bergabung dengan mereka, mendapat sambutan hangat. Kak Endang mengenalkan saya sebagai calon warga baru di Delatinos. Aamiin … semoga semakin dipercepat ya kepindahannya. Hehehe ….
            Sekitar empat jam durasi yang kami habiskan untuk menuju perkampungan Baduy Islam itu. Satu hal yang membuat saya nyaman. Saya seolah sudah menjadi bagian dari Ummahat Al Aqsha saja. Mereka sangat ramah dan sama sekali tidak membuat saya merasa asing dan canggung selama di perjalanan. Alhamdulillah … sesungguhnya berkumpul dengan hamba-hamba Allah yang soleh dan soleha itu menjadi sebuah berkah.
            Sekilas tentang masyarakat Baduy. Katanya mereka ini sudah terpecah menjadi dua. Satu Baduy dalam, satunya lagi Baduy luar. Begitu sebutan populernya. Suku Baduy atau orang Kanekes adalah etnis masyarakat adat suku Banten yang tinggal di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Yang disebut dengan istilah sebagai suku Baduy dalam adalah mereka yang masih mengisolasi diri dari dunia luar. Pemukiman mereka terletak di Gunung Baduy Lebak, Banten.
Mereka (suku Baduy dalam) masih memegang kentalnya adat istiadat. Tidak boleh sekolah, pelarangan menggunakan peralatan modern (seperti hape maupun alat elektronik lainnya). Tidak boleh menggunakan alat transportasi, bahkan tidak boleh memakai alas kaki. Mereka juga tidak akan bersedia difoto jika kita datang ke perkampungannya. Berbeda jika saat mereka keluar dari lingkungannya. Urusan berfoto dengan mereka masih diizinkan.
Satu hal yang membuat mereka tetap bisa hidup rukun adalah masalah toleransi. Baduy luar yang sebagian sudah memeluk Islam tetap bisa menjalin silaturahmi dengan mereka yang masih memegang kepercayaan Sunda Wiwitan atau yang belum memiliki agama sekalipun. Kuncinya, tidak saling intervensi atau memaksa satu sama lainnya.
Hingga saat ini, masyarakat Baduy yang sudah memeluk Islam jumlahnya bertambah terus. Mereka sangat senang ketika ada yang memberikan tempat tinggal khusus untuk para mualaf ini. Forum Masjid dan Mushola BSD (FMMB) dari Serpong, Tangerang Selatan, telah mengalokasikan tempat tinggal bagi warga Baduy yang mualaf. Ke lokasi itulah Ummahat Al Aqsha berkunjung untuk memberi santunan berupa sembako, lemari buku beserta buku-bukunya, dan kipas angin untuk masjidnya.
            Di dalam perjalanan, Kak Endang sesekali bercerita tentang kegiatan senada yang sudah pernah mereka lakukan. Diam-diam cerita itu membuat saya ingin sekali segera membaur dengan mereka. Kunjungan ke masyarakat Baduy ini pun dalam rangka santunan lanjutan. Kali ini mereka ingin mengajak para mualaf Baduy itu agar semakin kuat niatnya untuk mempelajari Islam. Baik dari menyimak kajian-kajian secara langsung dari para ulama atau ustadz, maupun lewat bahan bacaan.
            Ide untuk menyumbang dan mengisi Taman Bacaan di pemukiman mualaf Baduy menjadi salah satu prioritas para Ummahat Al Aqsha. Saya terkagum-kagum melihat niat mulia itu. Saya mendadak merasa kecil sekali saat menyimak semua yang sudah dilakukan para muslimah ini. Maka, janganlah pernah merasa telah melakukan hal besar, sebab di luar sana masih banyak hamba Allah yang telah berbuat hal positif yang lebih dahsyat dari dirimu. Yang terpenting, teruslah menebar kebaikan.
Kembali ke pemukiman mualaf Baduy ini. Seandianya jarak tidak sejauh itu dari tempat tinggal saya, rasanya saya ingin sekali mengabdikan diri mengajarkan baca tulis untuk anak-anak mualaf Baduy itu. Semoga niat tulus saya ada yang menggantikan, seseorang atau siapa pun yang mampu dan tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari perkampungan Mulaf Baduy itu. Aamiin ….

Disambut irama musik marawis
            Bis yang membawa kami dari Perumahan D’Latinos pun akhirnya sampai di area perkampungan Landeuh. Perempuan-perempuan muda suku Baduy yang rata-rata sudah mengenakan hijab, sibuk menyambut kedatangan kami. Setelah saling sapa dan berfoto sebentar, mereka meminta kami menaiki tangga masjid. Masjid tersebut juga merupakan sumbangan dari donatur (saya lupa namanya).

Masjidnya bagus banget 😍



            Begitu kami sampai di lantai masjid yang dibangun dengan menggunakan kayu kelapa itu, suara gendang marawis pun membuat hati saya terharu. Kami disambut sedemikian rupa. Sangat sederhana tapi saya menangkap ketulusan yang luar biasa dari sorot mata mereka.

Bersama perempuan Baduy yang sudah menjadi mualaf

Pak Khairul
            Setelah itu, kami dipersilakan duduk untuk menyimak sambutan Pak Khairul (semoga tidak salah cara menuliskan namanya). Pak Khairul ini adalah salah satu orang yang sudah berjuang untuk membuat sebagian lahan di Landeuh menjadi tempat bermukim para mualaf suku Baduy. Menyimak kisah dan latar belakang yang disampaikan Pak Khairul, lagi-lagi saya merasa sangat kecil karena belum mampu memberikan sumbangsih sebegitu besar.

Mengisi Taman Bacaan dengan buku-buku Islami
            Setelah acara sambutan selesai, saya tak sabar ingin melihat pemukiman dengan bentuk rumah sederhana yang sama modelnya. Dari lantai masjid yang desainnya dibuat terbuka, saya sudah memerhatikan rumah-rumah beratap jerami itu.

Pemukiman Mualaf Baduy
Buku-buku karya saya 



            Lemari dan buku-buku yang dibawa pun diangkut menuju salah satu rumah. Rumah itu lah yang akan dijadikan Taman Baca bagi masyarakat mualaf Baduy. Memang buku-buku yang diberikan jumlahnya belum maksimal dan belum memenuhi 4 lemari yang dibawa. Semoga dengan membaca tulisan saya ini, teman-teman penulis ada tergerak untuk ikut menyumbangkan buku-buku Islami yang masih layak baca. Aamiin.

Rumah Bacanya sudah rapi 😍
            Satu per satu kerdus pun dibuka. Buku-buku yang dibawa diletakkan dan disusun sesuai dengan pengelompokannya. Ada buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita. Dari salah satu warga, saya sempat bertanya tentang kemampuan mereka membaca. Ternyata mereka belum bisa membaca dan menulis dengan baik. Begitu juga dengan anak-anaknya. Ini juga menjadi salah satu program yang sedang dilakukan oleh forum pembina keluarga mualaf Baduy ini.   Semoga ada yang terus berdatangan dan bisa memberi perhatian lebih di bidang kemampuan baca tulis ini. Untuk apa buku-buku yang dipajang di lemari itu jika mereka tidak bisa membacanya. Minimal untuk anak-anak, ada yang mendampingi serta membantu menyampaikan isi buku-buku cerita anak sesuai dengan usia mereka lewat story telling atau atau mendongeng. Semua seolah berjejal di kepala saya saat ikut membantu meletakkan buku-buku itu di lemari.           

Salat berjemaah dan makan siang beralas daun pisang
            Setelah puas melihat-lihat area pemukiman mualaf Baduy, saya juga menyempatkan melihat cara menenun selendang. Alat menenunnya sangat sederhana tapi hasilnya lumayan bagus. Untuk selendang/syal harganya pun tidak terlalu mahal. Sekitar 35 sampai 50 ribu. Namun untuk kain tenunnya berbeda-beda. Harganya ada yang 200 sampai 600 ribuan.


            Teman-teman seperjalanan pun sibuk memilih kain dan selendang tenun. Anak muda suku Baduy yang melayani para ibu itu terlihat sumringah. Dagangannya laku keras. Saya juga tak mau ketinggalan. Kain tenun berwarna kotak-kota hitam menjadi pilihan saya. Bukan hanya kain dan selendang tenun yang dijual di pemukiman itu. Ada madu dan gula merah juga. 
              Selain di lokasi pemukiman mualaf Baduy ini, katanya variasi kain dan selendang tenun bisa dijumpai di perkampungan Baduy dalam. Waktu tempuh ke lokasi itu sekitar setengah jam.

Madunya asli



            Tiba waktu Zuhur. Kami pun kembali ke masjid untuk melakukan salat berjema’ah. Nikmatnya ketika ibadah utama ini dilakukan secara berjema’ah. Saya merasakan nuansa yang khusyuk dan benar-benar menyentuh kalbu.
            Selesai salat, kami diajak kembali ke pemukiman mereka untuk menikmati santap siang. Saya tersenyum melihat hidangan makan siang yang sederhana beralaskan daun pisang. Para ummahat Al Aqsha sudah siap duduk berhadapan untuk menyantap lauk pauk yang memancing selera itu. Ada tahu tempe, ikan asin, rebus daun singkong dan sambal terasi serta ayam goreng untuk yang membawa anak. Semua itu terlihat nikmat ketika disajikan dengan nasi putih hangat. 

Siap menyantap


      Tidak hanya lauk pauk yang dihidangkan untuk kami. Masih ada buah yang menyusul setelah acara makan bersama beralas daun pisang usai. Alamaaak … siang yang lumayan panas itu pun berbaur dengan rasa kenyang dan menyenangkan.

Menyusuri perkampungan Baduy
            Perjalanan kami belum usai. Dari pemukiman Mualaf Baduy, kami lanjutkan menuju lokasi perkampungan suku Baduy yang masih hidup membaur antara pemeluk Islam dan Sunda Wiwitan.




            Begitu sampai, saya dan teman-teman langsung memasuki area pemukiman mereka. Jalannya menanjak. Sebagian dari kami membeli tongkat kayu yang dijajakan di pintu masuk. Tongkat kayu itu lumayan membantu menopang berat badan saat melangkah menanjak. Sementara saya yang baru pertama berkunjung, samasekali tidak terpikir untuk membelinya. Hahaha … sukseslah kaki ini menahan beratnya beban hidup tubuh sendiri.

Sebagian dagangan masyarakat Baduy luar
Jarak antar rumah mereka
Jalanan menaik dan bebatuan
     Ternyata untuk mencapai perkampungan Baduy dalam tidak semudah yang saya bayangkan. Butuh waktu 3 sampai 4 jam lagi. Obsesi itu kami tunda. Cukuplah melihat-lihat tempat tinggal para Baduy luar saja sambil berbelanja kain, madu dan cinderamata yang dijajakan di sepanjang sisi kiri kanan jalan.

Sebelum menjadi kain tenun, benang-benang ini dipintal terlebih dahulu
            Yang paling membuat saya gembira adalah saat melihat beberapa orang suku Baduy dalam yang hilir mudik di area itu. Kesempatan untuk berfoto bersama mereka tentu tidak saya lewatkan. Sebab jika di pemukiman mereka (Baduy dalam), kesempatan itu tidak akan mungkin saya dapatkan.

Nenek ini tidak bisa berbahasa Indonesia tapi ramah sekali
Perempuan Baduy itu cantik-cantik
            Lagi-lagi saya menangkap rasa nyaman dari cara mereka berinteraksi. Bersahaja, ramah, sopan, dan sedikit malu-malu. Tidak ada terlihat sikap intoleransi atau sarkas saat menerima ajakan kami untuk berkomunikasi. Walaupun tidak semua mereka fasih berbahasa Indonesia namun mereka menyambut kami seperti layaknya keluarga sendiri.


Bersama anak suku Baduy dalam

          Begitulah, pengalaman pertama saya mengunjungi suku Baduy yang mengesankan. Semoga tidak untuk sekali ini saja. Saya masih berharap untuk berkesempatan mengunjungi perkampungan suku Baduy dalam yang masih kental dengan adat istiadat itu. Semoga! [Wylvera W.]