Laman

Selasa, 24 September 2019

Mencuri Rehat di Grand Hyatt Jakarta


Bagi pasangan yang mulai menua seperti saya dan suami, memilih waktu berdua itu tanpa terasa menjadi semakin sering. Kedua anak kami sudah kuliah di luar Jakarta dan memilih tinggal (indekos) dekat kampus mereka. Maka tidak ada alasan lagi bagi saya untuk menolak ajakan suami menginap di hotel. Suami saya yang bekerja full time, sementara saya memiliki jam kerja yang sangat fleksibel. Sebagai penulis, tentu saja saya lebih banyak memiliki waktu luang. Kami harus pintar menyelaraskannya. 


Beberapa waktu lalu, saya dan suami menginap di Hotel Grand Hyatt Jakarta. Bagi saya, kesempatan menginap di hotel berbintang lima yang tidak jauh dari tempat tinggal kami, tetaplah terasa seperti menikmati liburan saja. Selain mengeksplorasi suasana hotel, saya juga bisa mengamati kuliner yang disajikan di kafenya. Kali ini, kuliner yang disajikan di salah satu kafe Grand Hyatt, menjadi perhatian saya.

Grand Hyatt di antara hiruk pikuk Jakarta
Setiap memasuki jalan Sudirman – Thamrin Jakarta Pusat, saya selalu melewati hotel berbintang lima ini. Grand Hyatt berdiri di antara hiruk pikuk lalu lintas jalan utama di ibu kota. Pernah terpilih sebagai salah satu dari enam hotel bisnis terbaik kategori Best Business Hotel dalam ajang Business Traveller Awards Asia Pacific 2013, membuatnya semakin bersinar.
Ini bukan pertama kali kami menginap di hotel Grand Hyatt. Siang itu, suami menawarkan kepada saya untuk menginap di hotel tersebut. Saya memenuhi ajakannya. Dua malam menginap di Grand Hyatt membuat saya ingin mengulas momen yang saya rasakan.
Grand Hyatt yang berlokasi tepat di jantung Kawasan bisnis sentral Jakarta ini memberikan fasilitas setara dengan bintang lima yang disandangnya. Posisi gedung menghadap Patung Selamat Datang dan terhubung dengan pusat perbelanjaan Plaza Indonesia. Jika ingin ke bandara Internasional Soekarno – Hatta pun hanya menghabiskan durasi waktu sekitar 45 menit dengan mobil.

Lobi hotel Grand Hyatt
Grand Hyatt dibuka sejak bulan Juli 1991. Berhasil mempertahankan posisinya sebagai hotel berbintang lima terdepan di industri perhotelan. Sempat berturut-turut meraih rekor pendapatan per kamar tertinggi di antara hotel bintang lima di Jakarta. Grand Hyatt Jakarta dikelola oleh Hyatt International, menawarkan fasilitas dan pelayanan terbaiknya. Bangunan yang terdiri dari 28 lantai ini menyediakan fasilitas 428 kamar, 6 restoran kelas atas, sebuah lounge mewah, sebuah ballroom utama, sebuah pusat bisnis canggih, beberapa ruang pertemuan, klub kebugaran, pelayanan untuk acara pesta yang berkelas, taman yang asri dengan kolam renang bersih, serta masih ada beberapa fasilitas lainnya.
Layaknya hotel berbintang lima yang berlokasi di kawasan elit Jakarta, saat memasuki lobi hotel saja, saya langsung merasakan nuansa berkelas dari Grand Hyatt ini. Hiruk pikuk dan ramainya lalu lintas jalan protokol Jakarta di luar Grand Hyatt begitu kontras menyergap raga saat saya memasuki hotel. Magnet dari suasana itu lah yang menjadi nilai lebih hotel ini.



Sementara menunggu suami check in, mata saya memandangi tamu-tamu yang keluar masuk hotel. Penilainan saya kembali tentang hotel ini. Lokasi Grand Hyatt yang strategis dipadu dengan akomodasi mewah, restoran kelas dunia, pelayanan yang ramah, serta yang utama adalah fasilitas bisnis yang menjual, hotel ini menjadi pilihan utama para pelaku bisnis. Tamu-tamu internasional dan lokal kelas atas pun kerap memilih hotel ini sebagai tempat yang pas untuk kepentingan mereka.
Grand Hyatt yang dikenal sebagai salah satu hotel papan atas di Jakarta sudah banyak mendapatkan penghargaan. Salah satunya adalah penghargaan yang selama 7 tahun berturut-turut diraih yaitu sebagai hotel bisnis terbaik di Jakarta oleh Majalah Business Traveller. Grand Hyatt Jakarta juga menjadi hotel pilihan para pejabat luar negeri.  Sementara bagi saya pribadi,  hotel ini menawarkan tempat peristirahatan yang elegan dan mewah dengan fasilitas modern.

Kamar hotel yang nyaman
Pikiran saya terputus sejenak. Kami sudah harus menuju kamar hotel. Dari lobi kami menuju ke lantai delapan. Masih seperti pertama kali saya menginap di hotel ini. Kamarnya selalu nyaman. Kali ini kamar kami persis menghadap ke jalan utama kota Jakarta. Ada Bundaran Hotel Indonesia dengan air mancurnya yang terlihat berbeda dilihat dari lantai delapan hotel.









Saya selalu tertarik untuk memoto kondisi kamar jika menginap di hotel. Tipe deluxe room yang kami tempati dilengkapi oleh interior kontemporer dengan hiasan dinding yang elegan membuat mata semakin merasakan kemewahan. Fasilitas kamar bertaraf internasional pun tersedia di kamar ini. Dilengkapi dengan AC, TV satelit layer datar, alat pembuat teh/kopi, minibar, brankas pribadi dan setrika. Kamar mandinya juga dilengkapi dengan bathtub dan shower air panas/dingin, serta serangkaian perlengkapan mandi gratis.

Restoran berkelas dengan sajian kuliner menggoda
            Paket menginap kami dilengkapi dengan makan pagi dan malam. Ada pilihan untuk tempat bersantap di Grand Hyatt. Antara lain C’s Restaurant yang menyajikan berbagai hidangan laut segar dan steak siap saji, Simre Restaurant menyediakan masakan khas Jepang, Grand Café dan Burgundy Bar menyajikan kopi dan minuman dengan beragam makanan ringan, Seafood Terrace menyediakan menu masakan Barat dan Indonesia. Selain itu ada juga Fountain Lounge, tempat makan sekaligus menikmati suasana rehat di tengah keramaian ibu kota.


Grand Cafe










            Kami memilih menikmati ragam menu di Grand Café. Tampilan interior yang homey. Penataan ruang makannya sangat rapi dan elegan. Ruangan makan yang terbagi menjadi beberapa area (bagian seperti teras, area utama, ruang baca, dan area balkon), memberi kesan seolah tamu hotel sedang berada di rumah sendiri. Makanan di Grand Café selalu tersaji hangat karena kita pesan terlebih dahulu baru dimasak.




Silakan memilih menu yang ragamnya banyak di café ini. Ada sop buntut, mie ayam, roasted beef and duck, fresh seafood, sushi, sashimi, siomay, sate, martabak, kue-kue jajanan pasar, es campur, es krim, buah, kopi, dan masih banyak lagi pilihan lain. Untuk rasa makanannya, buat saya pas di lidah. Beberapa yang saya coba, tidak ada yang mengecewakan.

Kolam renang, lapangan tenis, dan pemandangan Jakarta
            Selepas menikmati sarapan pagi, suami menyempatkan diri mengajak saya berkeliling di area taman Grand Hyatt. Ada kolam renang dengan airnya yang bersih. Area yang dikelilingi oleh taman mini ini cukup fresh untuk beristirahat sambil berenang.









            Kami memilih naik ke atas pelataran yang luamyan luas. Dari atas kami bisa melihat kota Jakarta dari sudut berbeda. Setelah puas berfoto, suami mengajak saya turun dan berjalan dari jalu berbeda saat masuk tadi. Ternyata ada lapangan tenis juga di area tersebut. Grand Hyat memang memanjakan tamu-tamunya dengan menyuguhkan fasilitas dengan paket lengkap.

Pengin booking?
            Nah! Tertarik mencoba menginap di Grand Hyatt. Anda ingin menginap di Hotel Grand Hyatt yang mana? Selain di Jakarta, Grand Hyatt juga ada di Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Silakan booking hotel ini melalui aplikasi Pegipegi. Baca dulu sebelum memesan. Pegipegi merupakan perusahaan yang melayani booking hotel murah, tiket pesawat, dan tiket kereta api melalu web situs. Ada aplikasi gratis juga di Android dan iOS.
            Pegipegi adalah biro perjalanan (travel agent) berbasis online yang bertujuan memberi kemudahan dalam mengatur dan merancang perjalanan Anda baik untuk transportasi maupun akomodasi yang dibutuhkan. Anda bisa melakukan reservasi hotel dan tiket pesawat dengan bujet terjangkau. Pegipegi terhubung dengan lebih dari 7000 hotel di Indonesia, dengan lebih dari 20.000 pilihan rute penerbangan terpacaya di Indonesia, serta 1.600 pilihan rute perjalanan kereta api.
            Anda tidak perlu khawatir dalam melakukan transaksi pemesanan penginapan dan akomodasi. Pegipegi menawarkan beragam kemudahan untuk mendapatkan tempat yang tepat dan nyaman sesuai yang Anda butuhkan.
            Bagaimana? Ingin mencoba mencuri waktu untuk rehat dan menikmati kuliner di hotel berbintang lima ini? Silakan dicoba di Hotel Grand Hyatt Jakarta. [Wylvera W.]

Grand Hyatt Jakarta
Jl. M.H. Thamrin No.Kav. 28-30, RT.9/RW.5,
Gondangdia, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10350.
Telp. (021) 299211234

Kamis, 12 September 2019

Cerita Kami Tentang Leiden

Silakan baca cerita sebelumnya di sini





     Kami masih di Hotel Manofa, Amsterdam. Masih ada sekitar tiga jam lagi waktu untuk menempati kamar di hotel itu. Si Kakak (sebutan pada putri sulung saya) mengajak untuk melihat-lihat suasana di sekitar hotel.
Si Kakak
Salah satu penampakan kanal di Amsterdam
Bangunan bergaya gotic (seni abad pertengahan)

              Amsterdam pagi itu tidak seramai sore sebelumnya saat kami tiba. Ibu kota Belanda itu masih seperti empat tahun lalu saat saya dan suami berkunjung. Jaringan kanalnya yang panjang dan luas masih eksis menyajikan “Amsterdam Canal Cruise”.

Gedung Madam Tussaud-nya Belanda
Si Kakak fokus memotret


Kami mulai pagi dengan menikmati bangunan-bangunan khas bergaya gotic. Namun kali ini fokus kami bukan ingin menjelajah kota Amsterdam. Maka, waktu yang sempit itu kami manfaatkan sekadar memotret apa yang terlihat. Setelah puas membidik objek-objek yang ingin difoto, kami kembali ke hotel untuk check out.

Menunggu kereta menuju Leiden
            Sebelum berangkat, suami saya sudah memesankan penginapan untuk kami lewat aplikasi AirBnB. Lebih mudah dan kami selalu mendapatkan penginapan yang nyaman dan homy banget. Kali ini kami akan menginap di Hooigracht 67 Appartement E, Leiden, Zuid-Holland 2312 KP, Belanda.

Stasiun Kereta Amsterdam
       Jarak tempuh dari stasiun Amsterdam ke stasiun Leidan dengan naik kereta hanya sekitar setengah jam. Pemilik apartemen akan menemui kami sekitar jam dua siang waktu Leiden. Saya dan si Kakak tidak ingin terlalu cepat tiba di sana. Mengingat koper yang kami bawa lumayan berat, maka kami harus tiba tepat waktu. Agar bisa langsung masuk ke apartemen dan terbebas menarik-narik koper lagi.

Kalau mau top up kartu kereta ya di sini
            Sebelum memutuskan memilih jadwal kereta, kami harus melakukan top up saldo kartu OV anonim. Saat di bandara sehari sebelumnya, kami sempat ditawari jenis kartu OV ini oleh penjual pulsa. Ia menjelaskan, lebih baik memilih yang versi anonim agar tidak terikat nama. Bisa dipakai teman jika sudah tidak memerlukannya lagi. Saldo minimal kartu OV anonim, 4 Euro untuk angkutan dalam kota (bus dan tram). Sementara untuk kereta harus mengisi minimal 20 Euro. Untuk mengecek sisa saldo kartu kita, ada mesin di setiap stasiun. Jadi tidak harus menebak-nebak. Gampang kan? Hehe ….

Siap menuju Leiden
Kembali ke tujuan awal. Kami memilih jadwal keberangkatan kereta dari Amsterdam ke Leiden di jam 12 siang dengan memperhitungkan bahwa kami akan menyambung naik bus lagi menuju apartemen. Alhamdulillah, keretanya sudah ada. Kami kembali menarik koper untuk mencari bangku kosong di dalam gerbong. Tidak terlalu banyak penumpang. Jadi kami bisa meletakkan koper sedikit lebih leluasa. Si Kakak malah memilih dua bangku untuknya. Kereta melaju dengan kecepatan sedang. Tidak terlalu lama, kami pun tiba di stasiun Leiden.

Tiba di kota Leiden
Pada abad ke-17, Leiden merupakan salah satu kota terpenting dan terkaya di Belanda. Letaknya berada di antara Amsterdam dan Den Haag. Saat browsing, dugaan saya tidak meleset. Kota ini tidak terlalu luas. Yang membuatnya menjadi ramai, salah satunya adalah Universitas Leiden (Universiteit Leiden) yang cukup ternama.  Universitas Leiden sudah ada sejak tahun 1575 dan merupakan universitas tertua di Belanda.
Begitu memasuki kotanya, saya langsung merasakan atmosfir historis masa lalu. Kota ini menjadi rumah bagi para pelukis ternama zaman dahulu. Salah satu yang cukup terkenal adalah Rembrandt. Mata saya dan si Kakak langsung dimanjakan oleh kanal, museum, dan kafe-kafe yang sempat kami lihat dari balik kaca bus.
Karena baru pertama berkunjung ke kota ini, kami tidak bisa tepat memilih halte pemberhentian yang lebih dekat dengan alamat apartemen. Dengan wajah lesu kami harus rela kembali menarik tiga koper di trotoar jalan. Dengan panduan penunjuk arah di hape si Kakak, kami harus sabar berjalan sambil diringi oleh suara gesekan roda koper dan aspal jalanan. Untungnya, tidak ada yang peduli dengan suara berisik dari roda koper kami. Hahaha ….
Dengan kesabaran level dewi-dewi tingkat tinggi, akhirnya kami menemukan alamat apartemen itu. Sudah lewat dari jam dua siang. Pemilik apartemen mungkin sudah pergi. Kami harus meneleponnya kembali. Sepuluh menit kemudian, laki-laki bernama Gertjan itu pun muncul. Sedikit terburu-buru ia memberikan kunci kepada kami. Ia minta maaf karena tidak bisa menemani sampai ke dalam apartemen. Di mobil yang di parkir di tepi jalan itu, anak bayinya sedang tertidur. Ia harus segera kembali ke mobil setelah memberi penjelasan tentang fasilitas yang tersedia di dalam apartemen miliknya itu.
“Ya Allah … belum berakhir juga ternyata penderitaan kita dengan koper-koper ini,” ujar si Kakak dengan roman muka yang enggak banget.

Meja makannya
Dapur yang bersih dan lengkap

Kamar di lantai 2 ini modelnya unik

Saya tidak bisa berkomentar lagi. Beberapa anak tangga menuju kamar apartemen harus segera kami taklukkan sambil mengangkat koper-koper yang aduhai beratnya itu. Begitu membuka pintunya, hati kami langsung terobati. Apartemennya lumayan luas dan bersih. Ada dua lantai. Ruang bawah adalah ruang santai, meja makan dan dapur yang lengkap dengan perlengkapan memasak. Sementara kamar tidurnya ada di lantai berikutnya.

Tangga menuju kamar
Sudut kamar yang tenang
Kamar mandi di dalam kamar pun bersih

Setelah merapikan koper dan isinya, kami memilih istirahat sejenak. Sambil istirahat, si Kakak kembali mengatur jadwal.

Mencari alamat kostan
            Tenaga kami sudah pulih. Cuaca di luar juga masih cerah. Penghujung kemarau memang selalu pas untuk melakukan traveling. Selain cuacanya mendukung, durasi waktunya pun lebih panjang. Kami memutuskan untuk mencari alamat tempat kost si Kakak. Nanti, di sanalah ia akan menetap sementara selama enam bulan ke depan.
Menyusuri gang perumahan yang tenang
            Leiden dengan jumlah penduduk sekitar 150.000 jiwa sangat pas dengan luas kotanya. Jika tidak manja, berjalan kaki saja sudah cukup puas untuk menjelajah sudut-sudut kotanya. Dari apartemen, kami hanya perlu mengeluarkan energi untuk jarak tempuh sekitar 1,2 Kilometer. Kali ini tanpa koper tentunya. Saya mulai suka dengan kota kecil yang tenang ini. Mata kami selalu dimanja oleh bentangan kanal-kanal yang tidak tahu ujung dan pangkalnya bermula. Cantik! Itu saja yang sempat saya ucapkan.
Di sini si Kakak ngekost
            Tempat kost itu pun akhirnya kami temukan. Letaknya di pinggir jalan. Sedikit jauh dari keriuhan area kampus. Namun berjalan kaki sekitar 1,6 km dengan udara segar kota Leiden, in shaa Allah tidak membuat si Kakak lelah dan bosan. Kami belum bisa masuk karena perjanjian penyerahan kunci masih menunggu esok harinya.

Menelusuri kota Leiden
            Dari tempat kost, kami melanjutkan berjalan kaki untuk menemukan lokasi kampus. Melewati pusat kota, semakin banyak orang yang menikmati waktu petang dengan menyesap kopi atau bahkan menikmati menu-menu favorit mereka. Kami tidak bisa bergabung di kafe-kafe itu karena belum menemukan label halalnya. Hehehe ….


Menyusuri kanal-kanal bersih ini bikin hati tenang

Semakin sore bertambah ramai saja
            Tadaaa …!
            Kami sudah sampai di area Universitas Leiden. Ketika si Kakak memilih Universitas Leiden untuk program Student Exchange jurusan Hukum Universitas Indonesia Kelas Internasional, tentu saya sangat senang. Ternyata pilihan si Kakak tidak salah. Leiden bukan kota yang asing bagi masyarakat Indonesia. Terlebih buat mereka yang masih hidup dan menjadi saksi sejarah. Banyak hal yang bisa ditelusuri di kota ini jika si Kakak ingin lebih jauh mengenal kota Leiden.



Area kampus 
Kalau dari cuplikan sejarahnya, kekuasaan Belanda atas Indonesia selama tiga setengah abad, telah memberi ikatan kuat antara Indonesia dan Belanda. Sementara Leiden merupakan salah satu kota di Belanda yang menyimpan beberapa catatan sejarah yang masih dikenang sampai sekarang. Leiden menjadi saksi sejarah lahirnya organisasi Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging, 1908) yang diprakarsai oleh para pelajar Indonesia yang pada masa itu mengambil studi di Belanda. Organisasi inilah yang banyak melakukan gerakan perlawanan atas pendudukan Belanda di Indonesia pada masa itu. Lalu pergerakan ini banyak mendapat perhatian dari dunia Internasional. Dan masih banyak lagi kepingan sejarah terkait Indonesia yang diabadikan di kota Leiden ini.


Hortus Botanicus Leiden

Sebut saja Ali Sastromidjojo, Nazir Pamoentjak, dan Sutan Sjahrir, tiga tokoh pendiri pergerakan kemerdekaan Indonesia. Yang senang membaca sejarah Indonesia, pasti akrab dengan nama-nama ini. Mereka dulu kuliah di jurusan yang sama dengan putri sulung saya. Fakultas Hukum Universitas Leiden. Selain itu, nama besar yang pernah menjadi wakil kepala negeri ini, Mohammad Hatta juga sempat kuliah di Universitas Leiden. Namun akhirnya beliau pindah ke Economische Hogeschool yang sekarang dikenal dengan Universitas Erasmus di Rotterdam.

Museum Volkenkunde 

Silakan telusuri rekam jejak serta catatan sejarah Indonesia yang tersimpan rapi di Leiden. Salah satu museum yang terkenal adalah Museum Volkenkunde yang memiliki ruang koleksi khusus tentang Indonesia. Kami belum sempat masuk, Hanya melihat-lihat bangunannya saja dari luar.
Ada hal yang menarik perhatian saya dan si Kakak. Katanya di dinding-dinding tembok bangunan kota Leiden ada terpajang dan tersebar 107 puisi dengan 30 bahasa berbeda yang ditulis dengan abjad aslinya. Proyek penulisan puisi itu diinisiasi oleh Yayasan Tegen – Beeld dengan dukungan pemerintah kota Leiden beserta masyarakatnya sendiri. Sip! Nanti akan kita cari puisi itu.

Mengisi hari di Leiden
            Letak apartemen yang kami sewa dekat dengan supermarket. Albert Heijn namanya. Supermarket ini merupakan salah satu tempat belanja yang terbaik di Leiden. Lumayan lengkap dan harganya tidak terlalu mahal. Maka setelah menikmati sarapan pagi dengan roti dan selai cokelat, kami memutuskan kembali ke Albert Heijn untuk membeli segala kebutuhan anak kost yang belum dilengkapi.
Tempat kami mencari camilan ringan tanpa harus khawatir dengan label halal 
Di hari kedua, kami tidak bisa pergi jauh-jauh. Ada janji penyerahan kunci tempat kost di jam sebelas. Setelah merapikan barang belanjaan, kami bersiap kembali ke tempat kost untuk menerima kunci dari agennya. Tidak lama menunggu, perempuan cantik bernama Cyntia itu muncul dan menyapa kami dengan salam hangat. Ia membuka pintu utama kostan itu lalu mengajak kami menuju kamar yang akan ditempati si Kakak.


Ini kamar kost si Kakak beserta kondisi di dalamnya
Model kamarnya unik
Ada balkon di depan pintu kamar kostnya
Dapur mini 
Ampuuun … lagi-lagi tangga! Perut saya langsung sesak melihat anak tangga menuju lantai tiga. Kembali terbayang perjuangan yang akan kami lakukan untuk membawa dua koper si Kakak ke lantai ini. Pasrah…! Setelah tekun menyimak semua penjelasan tentang aturan penyewaan, kami tidak buru-buru memutuskan untuk mengambil koper-koper itu. Kami memilih melanjutkan eksplorasi di kota Leiden.
Jembatan cantik dekat Molen De Put

Kincir angin - Molen De Put


Dari informasi teman saya yang pernah mengambil program S2 di Leiden, kami pun mencoba menemukan tempat-tempat yang beliau sebutkan. Salah satunya adalah Molen De Put. Kincir angin yang klasik dan terletak di tepi kanal dengan jembatan yang menawan. Dekat lokasi kincir angin ini kami juga menemukan semacam tugu untuk mengenang pelukis Rembrandt. Meskipun saya tidak begitu mengenal sejarah tentang pelukis ini, saya sempatkan berfoto juga dengannya dan beragam objek foto di area ini.


Bersama patung Rembrandt
            Kami juga mampir di Molen de Valk, yang dikenal dengan sebutan “The Falcon”. Sebuah kincir angin yang dibangun pada tahun 1785. Molen de Valk merupakan salah satu situs paling terkenal di kota Leiden. Lokasinya tidak jauh dari Stasiun Central Leiden. Kincir angin ini akan selalu dilewati saat perjalanan menuju kota Leiden. Kincir angin ini diubah menjadi museum kota pada tahun 1966. Di dalamnya banyak tersimpan benda-benda yang digunakan dalam proses penggilingan serta alat dan catatan dari pemilik terakhir kincir angin tersebut.


Molen de Valk

            Tanpa sadar, waktu di jam tangan saya sudah hampir jam delapan malam. Namun jam delapan malam saja langit masih cerah dan orang-orang ramai menikmati kopi serta camilan di kafe-kafe yang tersebar di sepanjang pinggiran kanal. Kami habiskan sisa hari yang masih terang dengan menyusuri kanal Leiden. Lalu mampir kembali ke Albert Heijn untuk membeli makan malam buat berdua.
Salad is our favourite menu
Hari selanjutnya kami masih belum selesai mengelilingi Leiden. Teringat kembali tentang 107 puisi yang bertebaran di kota Leiden. Sebagai orang Indonesia yang senang menulis (semoga bisa diartikan ada hubungannya dengan puisi ya … hehehe), kami sangat penasaran untuk menemukan karya bangsa sendiri. Sebab dari 107 puisi yang tersebar itu, ada 3 puisi karya sastrawan Indonesia. Dari 3 puisi itu, 1 puisi tentu sangat kami kenal dan di zaman sekolah dulu, saya pun pernah membacakannya di depan kelas. Ya! Puisi berjudul “Aku” karya Chairil Anwar (1922 – 1949).

Di sini puisi "AKU" nya
Kami pun sibuk menjelajah dan mencari puisi-puisi itu. Hingga akhirnya kami menemukan puisi “Aku” yang terselip di salah satu tembok rumah penduduk. Puisi itu ditulis pada tanggal 17 Agustus 1995 untuk memperingati 50 tahun kemerdekaan Indonsesia. Posisi puisi melekat di tembok rumah yang beralamat di Keernstraat 17a. Puisi “Aku” ini menggambarkan perlawanan atas pendudukan Jepang dan Belanda pada masa itu.

Horeee …! Bapak Datang!
          Di cerita saya sebelumnya, saya mengatakan bahwa suami saya akan menyusul. Alhamdulillah, hari ke-5 adalah hari kedatangannya ke Leiden. Kami bersiap untuk menjemput si Bapak di stasiun Leiden. Si Kakak bertanbah semangat karena bapaknya (penyandang dana) akan tiba. Begitu bertemu, si Kakak langsung nyerocos tentang Leiden dan hari-hari yang kami lakukan sebelum si Bapak datang.
            Berlagak seperti pemandu wisata, kami pun membawa si Bapak naik bus menuju apartemen. Lalu mempersilakannya istirahat demi membayar waktu kurang tidur selama perjalanan dari Jakarta – Leiden. Ternyata tidak bisa berlama-lama tidur, suami saya merasa lapar.


Menyusuri pertokoan dan kafe 
            Kami mengajak si Bapak ke restoran milik orang Indonesia yang menyajikan menu khas tanah air. Restoran Bungamas namanya. Pemiliknya ramah, pelayanannya juga cepat  dan menyenangkan. Masalah harga juga relatif murah. Pemilik resto menyebutnya harga student.

Seperti memilih di warung makan dekat rumah sendiri kan?



Restonya sederhana tapi menunya komplit



            Kami menyantap hidangan yang kami pilih dengan lahap. Seperti makan di rumah saja rasanya. Selepas itu, kami mengajak si Bapak berkeliling di pusat keramaian kota Leiden. Sampai lewat sore hari, si Bapak mengajak kami untuk menikmati udara di tepi kanal sambil menyesap kopi.


            Untuk cerita Leiden, sampai di sini dulu ya. Tunggu lanjutan perjalanan kami berikutnya sebelum saya dan suami meninggalkan si Kakak di kota itu. [Wylvera W.]