Laman

Selasa, 27 Agustus 2019

Good Bye, New Zealand!


      Hujan deras yang tiba-tiba mengguyur area Hobbiton, membuat durasi waktu yang kami jadwalkan bergeser beberapa jam. Walaupun sebenarnya belum hilang rasa keterpanaan kami melihat keunikan kampung para Hobbit ini. Perjalanan harus segera dilanjutkan menuju destinasi berikutnya.
            Dari kampung Hobbit, The Shire, Hobbiton Movie Set, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan menyetir mobil sewaan menuju kota berikutnya. Peta penunjuk jalan (GPS) mengatakan bahwa jarak tempuh yang harus kami lalui adalah 412 Kilometer atau sekitar 5 jam 20 menit lagi. Saat itu waktu di sekitar area Hobbiton menunjukkan pukul dua siang. Sudah pasti kami akan tiba malam hari di kota berikutnya.
            “Siapkan stamina lagi!” seru suami saya sengaja agar kami berdua tetap bersemangat untuk bergantian menyetir.
Bismillah … perjalanan selanjutnya pun dimulai.

Tiba di Art Deco Napier
            Udara siang menjelang sore yang baru saja diguyur hujan, membuat hati ikut sendu. Kami kembali menikmati pemandangan yang dilewati dengan selingan obrolan tentang banyak hal. Yang bikin hati saya damai haru, saat suami berkhayal tentang hari tua kami kelak ketika kedua anak kami benar-benar bermukim di kota yang jauh. Atau mereka memilih untuk menetap di luar negeri.
Suami saya pun berangan-angan untuk pindah dan tinggal di dekat mereka sambil membuka warung kopi. New Zealand termasuk salah satu negara impiannya. Saya tidak banyak menanggapi, hanya mengaminkan saja sambil menahan senyum membayangkan warung kopi seperti apa yang sedang dibayangkannya. Sementara mobil kami terus melaju melewati alam yang selalu damai untuk dipandang.

Tiba di Art Deco Napier
Perjalanan kami hampir berakhir di New Zealand. Suami saya memilihkan Napier sebagai destinasi penutup sebelum kembali ke Wellington. Napier yang dalam Bahasa Maori disebut Ahuriri adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di Hawke's Bay, pantai Timur Pulau Utara, Selandia Baru. Napier merupakan daerah metropolitan terbesar kelima di Selandia Baru. Napier juga tersohor dengan penghasil anggur merah. Sementara Hawke’s Bay merupakan tempat yang menjadi satu koloni Gannet, burung laut yang putih besar dengan kepala kekuningan, ujung sayapnya hitam, dan paruh yang panjang.
            Pada tahun 1931, bencana nasional gempa bumi berskala 7,9 Richter pernah terjadi dan mengguncang Hawke's Bay di Napier. Menyusul kebakaran besar menimpa kota ini. Bencana ini mengakibatkan Napier menjadi salah satu kota Art Deco yang termurni di dunia. Art Deco sendiri adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II.
Tidak menunggu lama setelah bencana melanda. Pembangunan kembali dimulai. Sebagian besar dirampungkan dalam dua tahun. Berdirilah bangunan-bangunan baru yang mencerminkan gaya arsitektur pada masa itu. Seperti Stripped Classical, Spanish Mission, dan Art Deco. Motif-motif suku Maori juga direkatkan demi memberikan karakter Selandia Baru untuk kota itu. Intinya, arsitektur era 1930-an yang dilestarikan dengan sangat indah menjadi kekhasan istimewa Napier.

Pinttu masuk hotel Art Deco Masonic
Lantai ruang depan hotel yang ciamik
Karpet tangga hotelnya bikin iseng minta difoto, cantik
      Senja dan kelelahan yang sempurna akhirnya membawa kami tiba di kota Napier. Karena belum menemukan area parkir hotel tempat kami menginap, suami saya memilih tempat parkir umur di tepi jalan. Suami saya memasukkan beberapa koin untuk durasi parkir yang kami pakai.
           Sambutan ramah resepsionis Art Deco Masonic Hotel membuat rasa lelah kami sedikit berkurang. Setelah memastikan semua reservasi yang sudah dilakukan suami saya sebelumnya, pria bertubuh jangkung itu memberitahu kami agar memarkirkan mobil di area parkir milik hotel mereka. “Di sana Anda bisa gratis memarkirkan mobil selama Anda menginap di hotel kami,” ujarnya sedikit bercanda.
            Setelah urusan check in hotel selesai, kami kembali mengambil mobil untuk dipindahkan ke parkiran hotel tersebut. Untuk kembali ke hotel, kami harus berjalan sekitar 500 meter sambil menarik koper. Sampai di kamar hotel, saya serta suami tidak ingin membandingkan dengan kamar-kamar hotel dan penginapan yang kami sewa sebelumnya. Kota ini termasuk mahal karena memang dijuluki kota makmur di Selandia Baru. Untuk kamar hotel sederhana ini saja, kami harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Yang penting bersih dan nyaman serta bisa terlelap melepas lelah.

Kamarnya imut tapi bersih dan nyaman
Malam di Napier
Bebersih sebentar, perut pun menuntut untuk diisi. Suami mengajak saya keluar untuk mencari makanan halal. Tentu saja hari sudah gelap. Tidak banyak yang bisa kami nikmati lagi. Hanya ingin mencari restoran yang menjual makanan halal. Alhamdulillah, kami menemukan satu restoran Turki yang masih buka hingga jam sembilan malam.

Cafe Anatolia 
Interior cafenya
Menunya

Selagi suami memesan menu, saya ambil kesempatan memoto buku menu dan dekorasi interior restoran tersebut. Iseng yang membawa untung. Fotonya bisa saya simpan untuk melengkapi catatan ini. Hehehe ….
Pusat kota di keremangan malam
Santap malam di balkon kamar hotel
Kami kembali ke hotel. Ternyata di luar pintu kamar kami ada balkonnya. Di situ ada beberapa kursi yang disediakan untuk tamu yang menginap. Kami pun menikmati santap malam sambil menghirup udara di atas balkon hotel sambil memandang Hawkes Bay di remang-remang cahaya lampu kota itu. Malam itu hanya kami nikmati dengan makan malam di balkon hotel. Rasa kantuk dan lelah tidak bisa diajak kompromi. Tidur adalah pilihan pamungkas untuk menutup malam di Napier.

Singkatnya waktu untuk Napier yang indah
            Bangun pagi, tubuh sudah segar kembali. Sebelum memutuskan untuk keluar hotel, kami merapikan isi koper terlebih dahulu. Sebab waktu kami untuk New Zealand semakin sempit. Inginnya saat tiba di Wellington, urusan merapikan koper tidak menjadi urutan pertama dan menyita tenaga serta waktu lagi.

Omeletenya segede gaban 😅
Sarapan
          Kami mendapat jatah sarapan. Setelah rapi, kami memutuskan untuk mengambil jatah itu di restoran hotelnya. Saya memilih omelet berisi sayuran yang katanya halal. Sementara suami saya memilih roti gandum dengan olesan nutella dilengkapi secangkir kopi khas Napier.
            Sesungguhnya Napier sangat indah untuk dijelajahi. Pusat kota Napier dengan bagunan-bangunnya yang berarsitektur 1930-an patut untuk dinikmati sepanjang hari dengan berjalan kaki. Cukup membawa peta, kita bisa menelusuri sudut-sudut kotanya dengan nyaman. Belum lagi perkebunan anggur yang tersebar di pingiran kotanya. Namun sayang, kami selalu tidak punya waktu untuk menikmati semua keindahan itu. Semua berpulang kepada komitmen kami yang sejak awal hanya ingin menguji stamina untuk menikmati alam New Zealand lewat perjalanan dengan menyetir mobil. Durasi waktu menjadi taruhannya untuk jangka waktu cuti yang diambil suami.


Gedungnya dekat parkiran persis
Humm .....
The Sound Shell and New Napier Arch
Bagian dari dermaga Hawkes Bay





            Demi memanfaatkan waktu sebelum check out, suami mengajak saya berjalan mengitari beberapa lokasi yang bisa kami jangkau tanpa harus menghabiskan waktu menginap kami di hotel Art Deco Masonic. Lumayanlah, ada beberapa objek yang menjadi ikon kota Napier yang bisa kami abadikan.


Monumen Lord Plunket, Gubernur di 1906
The Dome Art Deco


            Kami masih sempat menikmati sisi pantai yang merupakan ujung dari lokasi pelabuhan kota itu. Bertemu dengan beberapa pejalan kaki dan orang-orang yang sedang lari pagi. Sapaan mereka kembali mengingatkan saya bahwa penduduk Selandia Baru ini memang cukup ramah dan murah senyum.




            Seandainya kami masih punya waktu semalam lagi, saya ingin mengajak suami melihat kebun-kebun anggur itu. Sayang sekali, kami harus melanjutkan perjalanan ke Wellington agar esoknya tidak ketinggalan pesawat menuju Jakarta. “Selamat tinggal Napier! Tunggu kedatangan kami kembali bersama anak-anak, in shaa Allah kalau ada rezeki ya,” bisik saya disambut senyum oleh suami.

Kembali ke Wellington lalu pulang ke Jakarta
Saatnya untuk check out dari hotel. Ketika itu jam 11 siang waktu Napier. Setelah semua urusan administrasi selesai, kami menggeret koper lagi menuju parkir. Suami saya kembali mengambil alih menyetir. GPS pun diaktifkan. Kami harus menempuh jarak 327 km, 4 jam, 16 menit lagi dari Napier menuju Wellington.

Menuju Wellington


Rute kali ini adalah perjalanan terakhir kami dengan menyetir mobil di negeri Kiwi. Kami bergerak dari kota Napier sekitar jam 12 siang. Kalau tidak mampir-mampir lagi, diperkirakan kami akan tiba di Wellington sekitar jam setengah lima sore. Saya berharap jika tiba di ibu kota Selandia Baru itu, kami masih bisa menghabiskan waktu terakhir sambil menikmati sudut kotanya.





Wellington merupakan kota yang masuk dalam kawasan pasifik, memiliki banyak lokasi indah dan menarik untuk dikunjungi oleh turis. Kota ini juga merupakan rumah bagi pusat produksi dan fasilitas efek khusus kelas dunia serta beberapa pembuat film yang berbakat.
Selain itu, Wellington juga dikenal sebagai ibu kota Selandia Baru yang memiliki beberapa kopi terbaik di dunia. Kota ini juga merupakan daerah urban terbesar kedua di New Zealand yang menjadi ibu kota nasional terpadat di Oseania. Sebelum terbang menuju NZ, saya sempat membaca bahwa di Wellington ada museum nasional bernama Te Papa. Di museum itu tempatnya jika ingin mengenal Selandia Baru secara lebih jauh. Museumnya gratis.



Harapan saya sepertinya kembali kandas. Begitu sampai di Wellington, kami disambut hujan yang lumayan deras. Namun saya masih juga berharap hujannya tidak berlama-lama mengguyur kota itu. Agar setelah check in di Intercontinental Wellington Hotel, kami masih bisa sekejap menyesap aroma udara kotanya.
Hujannya bikin mager 😌
Lelah dan keinginan beradu kuat setelah kami tiba di kamar yang lumayan mewah. Tarikan magnet untuk beristirahat jauh lebih kuat. Sementara masih ada sebagian isi koper yang belum dirapikan karena beberapa belanjaan untuk oleh-oleh yang bertambah. Betul! Ternyata godaan untuk tidak mampir selama menempuh perjalanan dari Napier ke Wellington sulit dihalau. Hehehe ….


Sambutan hangat di layar televisi kamar hotel 😚
Suami memilih packing sebagai prioritas. Saya pun mengalah. Setelah itu baru kami memutuskan untuk keluar sebentar untuk mencari santap malam. Tentu saja, angan-angan ingin mampir di museum pupus sudah. Kami hanya berjalan kaki di sekitar kota lalu kembali lagi ke kamar. Malam terakhir di Wellington sekaligus menutup perjalanan kami di negeri Selandia Baru.
Keesokan paginya, kami bersiap menuju bandara untuk kembali menuju Jakarta. Tiba di Bandara Wellington, saat menunggu check in, kami bertemu Smaug. Karakter naga merah yang luar biasa dari sekuel The Hobbit “The Desolation of Smaug”. Walaupun sosok Smaug ini hanya patung biasa, namun saya seperti ada ketakutan juga mendekatinya saat suami menyuruh saya berfoto bersama naga merah itu. Hehehe … cemen ya.


Bersama Smaug 😀
Baidewei, Smaug yang luar biasa ini, katanya dianggap sebagai yang terakhir dari naga-naga besar di dunia. Pihak bandara menaruhnya sedemikian nyaman berada di Bandara Wellington. Smaug dengan ekspresi dinginnnya sambil mengawasi para penumpang pesawat yang melakukan check in dengan mata kuning tajamnya. Lumayanlah ada satu foto lagi untuk oleh-oleh dokumentasi. Hahaha.




Well … akhir cerita, banyak pengalaman yang bisa kami ambil dari perjalanan dengan mengemudi mobil selama di Selandia Baru ini. Semoga jika Allah memberi kesempatan kami untuk mengulang perjalanan bersama anak-anak, kami akan memperpanjang waktu kunjung agar keindahan alam Selandia Baru tidak hanya bisa dinikmati di sepanjang sisi jalan.


Bye, New Zealand!
Terima kasih bagi yang sudah setia mengikuti catatan perjalanan kami ini. Semoga ada manfaat yang bisa diambil. Sampai jumpa di catatan traveling berikutnya ya.