Laman

Kamis, 30 Mei 2019

Dari Wellington Menuju Christchurch

   Efek gagal mendarat di bandara Wellington hingga dialihkan ke bandara Auckland, membuat rencana perjalanan kami sedikit berantakan. Namun rasanya tidak ada yang perlu disesali sebab semua Allah yang mengatur dan membuat ketetapan itu. Kami menikmatinya saja dan membuang jauh-jauh rasa kesal yang sesaat muncul.

Di depan konter penyewaan mobil (pic. pribadi)
   Kelelahan masih sangat terasa ketika kami tiba di Wellington Internasional Airport. Setelah melewati imigrasi dan mengambil koper, kami buru-buru mencari konter tempat penyewaan mobil yang sudah disepakati sebelum keberangkatan dari Indonesia. Saya sesekali melirik wajah suami. Wajarlah, namanya juga manusia. Ternyata masih tersisa rasa kecewa itu efek buyarnya rencana ingin mengeksplorasi kota Wellington. Hari yang sudah mulai gelap tentu saja tidak memungkinkan buat kami mengitari ibukota New Zealand itu. 

SIM kami (pic. pribadi) 
      Proses penyerahan kunci mobil yang kami sewa selama berada di Selandia Baru tidak terlalu bertele-tele. Setelah melakukan scan pada SIM Internasional saya dan suami, akhirnya kunci mobil diberikan kepada kami. Simpel dan lumayan membuat kami puas. Hanya saja, pilihan mobil yang diminta suami saya ternyata tidak ada. Kami dikasih mobil yang sedikit berbeda namun kondisinya justru masih baru. 

Kegamangan mendadak muncul
       Petugas penyewaan mobil mengantarkan kami ke area parkir bandara. Pemuda berwajah Asia itu menunjukkan mobil mana yang akan kami pakai selama seminggu ke depan. Wajah suami saya mengguratkan rasa puas. Mobilnya bersih karena masih baru. Untuk memandu rute perjalanan, kami diberikan alat GPS (Global Positioning System) agar tidak tersesat di negeri orang. Hehehe ….

Ini mobil yang menemani kami selama di New Zealand - pic. pribadi 
    Beda dengan saya. Menyetir di luar negeri sebenarnya bukan pertama kali bagi suami saya. Sepuluh tahun lalu, saat kami tinggal di Urbana, Amerika, suami sangat piawai dalam urusan menyetir ini. Bahkan lima belas hari perjalanan mengunjungi kota-kota di benua Amerika pernah dijajalnya. Namun, setiap hal baru tentu saja memberi efek berbeda. Apalagi saat ini, kami mengawalinya di malam hari dengan iringan angin kencang dari udara laut yang berada di tepi bandara. 

    Sekitar lima belas menit kami diam dalam mobil yang sudah menyala. Suami dan saya harus memahami betul semua fitur di mobil agar tidak terjadi kesalahan di tengah perjalanan. 
    “Bismillah, semoga perjalanan ke hotel dilancarkan,” ujar suami saya sebelum menginjak pedal gas mobil.
     “Aamiin …,” balas saya menekan sedikit rasa cemas.

Berharap pada bantuan GPS itu
Ì
     Perjalanan malam hari menuju hotel pertama tempat kami menginap pun dimulai. Beda dengan di Amerika, model setir kanan seperti di tanah air sungguh sangat membantu. Hanya saja karena suami saya baru pertama kali menyetir di negara ini, kegamangan mendadak muncul. Beberapa kali suami saya salah memasuki jalur sehingga membuat kami memutar lagi untuk mengulang rute menuju alamat hotel. 

     Rasa kantuk yang memuncak memancing adrenalin untuk mudah emosi. Manusiawi! Situasi yang tidak nyaman itu tentu saja memunculkan sedikit perdebatan. Ditambah kondisi fisik kami yang sedang berada di puncak kelelahan. Saya mengatakan A suami malah merasa pilihan B lah yang benar. Untunglah saya cepat menyadari keadaan. Berdebat tidak akan membawa kami ke alamat yang tepat. Saya biarkan suami memahami arah jalan yang ditunjukkan GPS tanpa menimpalinya. 

                                     Berusaha senyum padahal sudah lelah to the max 

      Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di West Plaza Hotel. Saat tiba di hotel hari sudah cukup malam. Tidak ada yang bisa yang kami lalukan lagi selain istirahat. Setelah membersihkan diri dan merapikan koper serta pakaian dan perlengkapan yang akan dipakai dan dibawa esok hari, tidur adalah pilihan paling tepat. Sungguh ini adalah 24 jam yang sangat melelahkan bagi kami.

Menyeberang dengan kapal feri
      Keesokan paginya, kami harus bergegas menuju dermaga tempat penyeberangan kapal feri. Wellington Interislander Ferry Terminal, namanya. Suami saya sudah memesan tiket feri secara online sesaat sebelum kami tertidur. Sarapan pagi yang disediakan hotel tidak terlalu kami nikmati dengan santai, sebab kami harus tiba sejam sebelum feri berangkat.

Ini tiketnya 
Antreannya tertib banget
          Kami tinggalkan hotel yang nyaman itu dan bergerak menuju dermaga. Padahal masih pagi, tapi kenderaan roda empat yang antri di dermaga sudah mengular. Pelajaran pertama langsung kami dapat. Kedisplinan dan kepatuhan para pengendara pada komando petugas membuat kami salut. Semua mengikuti arahan untuk menunggu di jalurnya yang membuat antrian terlihat sangat tertib. Waktu menunggu memasuki feri yang hampir dua jam tidak terlalu membuat jenuh. Hanya saja perut kami sudah mulai tersa lapar lagi karena tidak sarapan dengan sempurna.

Menuju jalur pakir di dalam feri
Mobilnya sudah naik feri 
"Let's start the journey ...!" ;) (pic. pribadi) 


      Singkat cerita, kami sudah berada di dalam kapal feri yang nyaman. Feri Interislander ini memberikan jasa penyeberangan ke Selat Cook di New Zealand, antara Wellington dan Picton. Menjembatani celah antara pulau-pulau yang ada di Utara dan Selatan Selandia Baru. Interislander sendiri telah melintasi rute 92 kilometer, lebih dari 50 tahun. Mentransportasikan lebih dari satu juta penumpang setiap hari. Termasuk kendaraan.

Salah satu ruangan di feri ini serasa milik berdua :p 

Kalau mau nge-charge, bisa di sini
Mau beli makanan yang halal harus lihat-lihat dulu ya ;)
Ruangan ini bersebelahan dengan ruang tunggu kami
Foto-foto biar nggak bosan :) 
         Ada tiga feri besar yang beroperasi dan memiliki teknologi tinggi, yaitu Aratere, Kaitaki dan Kaiarahi. Fasilitas yang disediakan cukup sebanding dengan harga tiket. Ada bioskop, ruang bersantai yang mewah, live band dan hiburan yang ramah anak, serta Wi-Fi gratis yang kencang sinyalnya. Tidak menyesal telah membayar harga $273.000 untuk kami berdua. Perjalanan yang menghabiskan durasi 3 jam 30 menit itu kami nikmati dengan nyaman sambil menyambung sarapan pagi serta berfoto ria di dalam feri.

Memeluk sisa duka di Christchurch
       Setelah tiba di Picton, kami langsung menyetir mobil menuju Christchurch, kota terbesar di South Island, Selandia Baru. Jarak dan waktu tempuh menuju kota tersebut adalah 439 km, 7 jam 59 menit. Petualangan dengan menyetir sendiri pun dimulai. Tidak ada lagi rasa lelah yang tertinggal. Semua berganti dengan menikmati keindahan panorama alam di kanan dan kiri jalan yang kami lewati. Masya Allah, indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Menakjubkan!
Ini yang bikin energi full terus saat menyetir (pic. pribadi) 
Bersih dan tenang 
     Sebelum sampai di Christchurch, tentu saja kami melewati beberapa kota dan desa terlebih dahulu. Salah satunya Kaikoura, kota pesisir yang kaya akan kehidupan bahari serta burung-burung yang berterbangan bebas. Kota ini juga kaya akan kebudayaan Maori. Namun karena mempertimbangkan waktu agar tidak merusak jadwal perjalanan yang sudah ditetapkan, terpaksa kami hanya melewatinya saja. Hanya sesekali mampir untuk mengisi bahan bakar dan menambah stok makanan halal di perjalanan. 
          Tidak menemukan kemacetan samasekali :) 
Istirahat sejenak meluruskan kaki ;)

          Dari Kaikoura menuju Christchurch sekitar 2 jam 20 menit. Kami masih menikmatinya dengan semangat menyetir yang stabil. Mungkin saja energi itu didapat dari efek indahnya setiap hamparan pemandangan yang kami lewati. Sehingga kami lupa dengan lelah.
Gantian ya Bang nyetirnya, biar Adek bisa selfie-an. Wkwkwkwk 
    Mendekati Christchurch pemandangan laut semakin mendominasi. Christchurch memang dikelilingi oleh Samudera Pasifik dan Southern Alps yang megah. Kota ini juga merupakan pusat region Canterbury, dan didiami oleh sekitar 381 penduduk. Di bagian kota ini mengalir sebuah sungai yang bernama Sungai Avon (Avon River). Sementara dalam Bahasa Maori, kota ini bernama Otautahi. Sebutan untuk Christchurch sangat unik dan singkat, Chch. Karena letaknya di belahan bumi Selatan, kota ini sering dijadikan pintu masuk bagi ekspedisi ke Antartika. 

      Untuk meluruskan punggung dan meregangkan otot kaki, kami pun memilih mampir sejenak, menghirup udara laut yang segar. Di akhir musim semi di sana membuat udara tidak terlalu dingin. Kami tidak perlu memakai jaket tebal untuk melindungi kulit. Mirip dengan udara puncak di kota Bogor lah rasanya. 
Sayang kalau pemandangannya gak ada artisnya :p 
                

      Perjalanan panjang akhirnya membawa kami tiba di kota Christchurch sekitar jam 5 sore. Kami menginap di Arthurs Court Motor Lodge. Lagi-lagi penginapan yang dipesan suami saya kali ini memberikan suasana nyaman yang sangat memanjakan. Sayang saya tidak sempat memotonya secara detil. 
Pintu masuk penginapan kami 
Kamar mandinya bersih banget 


     Banyak landmark yang menarik di Christchurch. Bahkan Sungai Avon yang tersohor itu sebenarnya sudah menjadi obsesi saya untuk mengarunginya dengan duduk cantik di atas kano. Namun sayang, kami tidak datang ke kota ini untuk mengunjungi tempat-tempat menarik itu. Tujuan kami hanya ingin melihat masjid yang baru saja diguncang oleh tragedi penembakan terhadap puluhan jema’ahnya. Di Masjid An Nur dan Linwood Islamic Centre Christchurch, Selandia Baru tersebut telah terjadi peristiwa tragis dan sadis. Merupakan serangkaian serangan teror supremasis kulit putih. Sedikitnya 50 orang tewas dan 20 lainnya terluka akibat serangan brutal itu.
Suasana Masjid An Nur dari luar (pic. pribadi) 
Dari pintu ini lah penembak itu menyerang 
Menuju tempat salat pria 

Boneka-boneka dari para penyelawat 
        Hari mulai gelap namun kami tetap ingin melihat suasana masjid tersebut. Alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan untuk menunaikan salat Magrib dan Isya di sana. Suasana haru masih terasa pasca penembakan oleh teroris terhadap para jema’ah masjid ini. Bunga dan ucapan belasungkawa pun masih digelar di depan masjid.



        Saya dan suami tidak banyak bicara. Kami sama-sama merasakan keharuan yang bercampur aduk dengan rasa amarah terhadap kesadisan yang dilakukan penembak tak berhati itu. Saya bilang ke suami agar besok subuh, kami harus kembali lagi sebelum meninggalkan kota Christchurch. Akhirnya kami kembali ke penginapan dengan membawa sejuta rasa yang sulit dilukiskan. 
Tanda belasungkawa ini datang dari beragam agama 
         Keesokan paginya, suami memenuhi keinginan saya untuk sekali lagi melaksanakan salat di Masjid An Nur. Setelah merapikan isi koper, kami buru-buru memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Kami tidak ingin ketinggalan salat Subuh berjema’ah di masjid itu. Jarak masjid dengan penginapan kami tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima belas menit saja ditempuh dengan kendaraan.

      Masjid masih dijaga oleh para polisi. Kami meminta izin untuk menumpang salat Subuh. Ternyata masjid belum dibuka. Pemegang kuncinya belum datang. Kebetulan ada warga setempat yang berperawakan tinggi besar dengan penampilan nyentrik. Kepalanya ditutupi oleh topi koboi. Kami mengira dia adalah intelijen. Dugaan kami salah. Bapak berkumis tebal itu juga warga yang ingin salat di masjid yang sama.

         Syukurlah, pemegang kunci yang kebetulan orang Indonesia juga, akhirnya datang. Kami pun bergegas masuk. Hanya saya jema’ah perempuan yang ada saat itu. Saya kembali menuju ke ruangan yang disekat oleh pintu lipat pemisah jema’ah laki-laki dan perempuan. Sambil menyimak lantunan suara azan yang syahdu, tiba-tiba saya merinding membayangkan para syuhada yang tertembak. 

Di sinilah saya salat 

Suami diam-diam mengambil momen ini :'(
Kursi bekas peluru nyasar 
       Di tempat saya duduk dan di balik dinding ruangan tempat saya salat, telah terjadi serangan sadis. Kursi bekas tembakan peluru yang dilontarkan dari mulut senapan pun masih berada di sana. Ya Allah, semoga Engkau menempatkan mereka yang wafat di tempat terindah di sisi-Mu. Aamiin.

Pelukan hangat yang menggetarkan hati
      Selesai salat Subuh, saya menyempatkan untuk memoto beberapa lokasi. Selanjutnya kami meninggalkan masjid menuju Christchurch Botanic Gardens. Meskipun kota ini banyak menyuguhkan tempat-tempat bersejarah dan lokasi wisata, kami tidak bisa berlama-lama. Masih ada beberapa kota lagi yang harus kami kunjungi. Lagipula, tujuan kami ke New Zealand adalah untuk merasakan sensasi menyetir sendiri sambil menikmati panorama alamnya di sepanjang pinggir jalan yang kami lewati. Tidak untuk menyinggahi dan mengeksplor kotanya.

      “Jika ingin melihat kota-kotanya, nanti in shaa Allah kita ulang perjalanan ini bersama anak-anak,” ujar suami saya menjanjikan. 

Itulah sebabnya saya harus menahan diri meminta suami mengikuti keinginan saya untuk melihat-lihat sudut-sudut kota yang banyak menyuguhkan tempat-tempat wisata yang menarik.

Di bagian depan Botanic Garden
       Tiba di halaman Botanic Garden, tiba-tiba saya dihampiri seorang perempuan separuh baya. Perempuan itu langsung memeluk saya sambil mengatakan, “We are so sorry to what happened. This is so terrible. You know, I am from America, but not all of American like *rum*.” Saya merasakan keharuan sekaligus kemarahan itu sungguh-sungguh nyata dalam pelukannya. Lalu saya pun membalasnya dengan mengatakan, “Thank you, Ma’am. We really appreciate it.”


           Rasa simpati yang begitu tulus benar-benar kami lihat di sana. Mereka tidak berpura-pura. Saya bisa melihat dan merasakan dari mata serta pelukannya. Setelah itu, suami mengajak saya mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan. Sekali lagi kami dikejutkan oleh sepasang suami istri yang berjalan cepat mendekati kami. Istrinya merentangkan tangan, sambil mengatakan, “We are so sorry.” Lalu dengan cepat ia memeluk saya erat. Berulang-ulang kata maaf itu ia ucapkan dengan suara parau. Dengan menahan haru yang luar biasa, saya berusaha bertahan untuk tidak menangis. 

Ucapan belasungkawa tidak hanya ada di depan masjid saja 
         Ya Allah … begitu hebat dukungan itu kami rasakan. Maka, teroris bukanlah manusia bertuhan. Sebab manusia yang memiliki Tuhan tentu tidak akan sanggup melakukan kekejian itu. 

Singgah sejenak di New Regent Street 
         Sebelum benar-benar meninggalkan Christchurch, kami mencuri waktu sebentar untuk menyinggahi New Regent Street yang legendaris itu. New Regent Street merupakan mal pejalan kaki di Christchurch. Dibangun sebagai pengembangan pribadi pada awal 1930-an dengan 40 toko bergaya arsitektur Misi Spanyol. 


Suasana New Regent Street


          New Regent Street adalah salah satu tempat wisata utama kota Christchurch. New Regent Street dianggap sebagai cikal bakal mal-mal perbelanjaan modern di kota ini. Karena karakter arsitekturnya yang menyatu, bangunan-bangunan di jalan-jalan ini terdaftar sebagai barang warisan kategori I oleh Heritage New Zealand.


     Tidak bisa berlama-lama di sini, setelah sekali menelusuri jalannya lalu suami saya menyempatkan membeli kopi khas Selandia Baru. Aroma kopi kami bawa ke dalam mobil untuk menemani perjalanan selanjutnya. 

        Selepas itu, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan kota Christchurch menuju destinasi berikutnya. Tunggu catatan lanjutan dari cerita perjalanan kami ini hingga tuntas ya. Sabar menunggu karena rentang waktunya tidak bisa saya pastikan. See you ….


NB: