Laman

Senin, 25 September 2017

Edensor, Perjalanan Panjang Akhirnya Usai




Hari ketujuh (Sabtu, 26 Agustus 2017), saya dan suami sudah berpindah penginapan. Kami menyewa sebuah kamar di apartemen yang tidak jauh dari stasiun King’s Cross. Pagi-pagi sekali kami sudah sampai di apartemen. Selepas itu kami sebenarnya ingin melanjutkan perjalanan menuju Edensor, sebuah desa yang masih membuat saya penasaran. Sayangnya, kami tidak bisa buru-buru masuk ke apartemen karena petugas adiministrasi baru datang tepat jam sembilan pagi. Banyak waktu yang terlewati dengan penantian yang bikin mood sempat turun.
Tentang Edensor sebenarnya semua bermula dari membaca novel Andrea Hirata. Sejak itu, saya jadi menyimpan rasa penasaran itu berlama-lama. Puncak rasa penasaran itu ketika suatu hari saya melihat foto-foto Edensor di akun facebook milik Rahmadiyanti Rusdi (Promotion and Marketing Noura Books). Dari chatting dengan beliau pulalah, akhirnya saya membujuk suami agar mau mengantarkan saya ke sana. Alhamdulillah, mimpi itu akhirnya terwujud.
Setelah menunggu, akhirnya kami bisa memasukkan koper ke kamar. Tanpa membuang waktu lagi, saya dan suami langsung menuju stasiun dan membeli tiket.

Di kereta yang padat menuju Sheffield
            Tidak ada kereta yang langsung menuju Edensor. Kami harus ke Sheffield terlebih dahulu. Harga tiket kereta dari London ke Sheffield, £75.50 (return) per orang. Sheffield sendiri adalah ibukota South Yorkshire dan merupakan kota terbesar nomor lima di United Kingdom. Di sana pula letaknya dua universitas terkenal bernama University of Sheffield dan Sheffield Hallam University.  

Ini tiket kereta dari London - Sheffield
            Begitu naik ke kereta, kami tidak mendapatkan kursi. Keterlambatan memang menjadi taruhan setiap kali bepergian ke antar kota di Inggris. Beda kondisinya kalau sudah memesan kursi. Risiko seperti itu harus diterima. Kami harus rela berdiri dan berdesakan dengan penumpang lain yang bernasib serupa. Tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selama perjalanan. Kami harus sabar menunggu dua jam setengah waktu tempuh menuju Sheffield.
            Awalnya kami ingin menyisakan waktu sedikit untuk menjelajahi kota Sheffield. Keinginan itu terpaksa dilupakan. Waktu keberangkatan yang sudah melewati batas rencana kami, tidak lagi memungkinan. Maka niat utama menuju Edensor yang harus kami dahulukan. Sebagai pengobat hati, kami tetap menikmati perjalanan di dalam kepadatan kereta.

Hampir menyerah gara-gara informasi yang salah
            Kami tiba di stasiun Sheffield. Untuk mencapai Edensor, kami harus melanjutkan perjalanan dengan bus dari Sheffield Interchange (terminal terpadu di City Center). Lokasinya dekat stasiun. Sedikit berjalan kaki saja. Sementara bus yang harus kami naiki adalah jurusan Bakewell dengan nomor 218. Bus ini akan berangkat setiap satu jam sekali. Harus tepat waktu jika tak ingin kehilangan waktu sejam kalau terlambat. 

Tiba di stasiun Sheffield
Suami saya melepas lelah sesaat di depan stasiun Sheffield
            Setelah melihat jalur kedatangan dan keberangkatan bus, kami pun bergegas menuju platform D3. Untuk memastikan, kami mencoba bertanya kepada petugas. Betapa terkejutnya saya ketika petugas mengatakan bahwa tidak ada lagi bus yang berangkat menuju Bakewell karena waktunya sudah lewat. Rasanya sia-sia waktu yang sudah kami habiskan selama dua setengah jam dari London tadi. Kami tidak akan sampai ke Edensor.
            Dengan sisa harapan, saya tidak mau menyerah. Saya mengajak suami untuk bertanya kepada petugas yang lainnya. Alhamdulillah, ia mengatakan bahwa busnya sepuluh menit lagi akan datang. Kami bisa membeli tiket langsung pada sopirnya. Suami saya sempat marah dan ingin kembali ke petugas sebelumnya. Untung saya bisa mencegahnya. Repot urusannya kalau terjadi perdebatan. Mungkin saja tadi terjadi kesalahpahaman dan petugas terminal itu tidak paham dengan pertanyaan kami. Uh! Ternyata di negara maju seperti itu pun ada saja petugas yang tidak memberi informasi yang tepat.

Berhenti di Chatsworth House sebelum ke Edensor
            Tiket seharga £5.80 untuk pergi dan pulang sudah kami beli. Kami sudah berada di bus bertingkat (double-decker bus). Saya mengajak suami duduk di atas, bangku terdepan. Begitu melewati perkotaan, bus akhirnya memasuki jalanan menanjak dengan tebing sebagai tepiannya. Pemandangan dari balik kaca bus bertukar dengan hamparan rumput yang dilengkapi oleh sapi-sapi dan sekawanan domba. Laju bus terus melewati ketenangan alam pedesaan Derbyshire.

Harga tiket busnya nggak mahal kan?
Suasana alam yang menyejukkan mata itu, membuat suami saya lupa pada rasa kesalnya ke petugas terminal tadi. Ia malah sibuk merekam setiap kecantikan alam pedesaan yang kami lewati. Jalanan yang lurus dan sesekali berkelok membuat saya berulang-ulang tertegun. Bukit-bukit dan hamparan padang rumput hijau beserta domba-domba yang asyik menikmati santapannya sangat menyegarkan mata. Betapa cantik ciptaan Allah ini. 
Di dalam bus menuju Chartsworth - Bakewell
Bagian jalan yang terfoto, sisanya direkam
       Rasa penasaran saya pada Edensor sebentar lagi akan menguap. Seperti apakah cantiknya desa itu? Apakah serupa seperti yang digambarkan Andrea dalam novelnya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuat dada saya berdebar-debar. Tak sabar ingin segera tiba di desa tujuan. Meskipun dari salah satu artikel menyebutkan bahwa Edensor adalah desa buatan pemilik Chatsworth House, rasa penasaran saya tetap ingin melihat lokasi desa itu dari dekat.
Sebenarnya sebelum sampai di Chatsworth House, kami bisa berhenti di pemberhentian bus tepat di depan desa Edensor. Tapi pesan Rahmadiyanti yang selalu saya ingat. Agar tidak bablas ke Bakewell kami bisa turun di pemberhentian area mansion itu. Saya memilih mengikuti pesan teman saya itu saja. 

Bangunan yang terletak di sisi Chatsworth House

Sekitar satu jam dibuai oleh keindahan alam dari balik kaca bus, akhirnya membawa kami ke area Chatsworth House. Bus berhenti di lapangan parkir Chatsworth. Ternyata pilihan saya mengikuti saran teman tidak ada ruginya. Rasa penasaran pada Edensor sekaligus membawa kami pada Chatsworth House, sebuah mansion milik Duke of Devonshire ke-6. Rumah ini pula yang pernah dijadikan lokasi syuting film Pride and Prejudice (2005).

Chatsworth House dari kejauhan
Kami berlatar belakang Chatsworth House
Sayangnya kami tidak punya waktu lebih lama. Chatsworth House hanya menjadi bagian tersingkat dari cerita tentang Edensor. Saya dan suami hanya sempat berfoto di sekitar rumah megah itu saja. Itu pun dari jarak jauh. Agar sempat melihat Edensor, kami segera melanjutkan berjalan kaki.

Welcome to Edensor, desa mungil yang memesona
            Edensor adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Peak District, Sheffield. Menara Gereja St. Peter yang merupakan landmark desa Edensor menjadi pemandu arah kami. Melalui jalan setapak yang membelah perbukitan akhirnya menghantarkan saya dan suami ke depan gerbang Edensor. Sungguh! Desa di lereng bukit Derbyshire ini memang indah dan memikat. Meskipun masih banyak desa-desa cantik lainnya yang ada di Inggris, Edensor tentu saja menjadi pelengkapnya.   

Dua puluh menit menelusuri jalan ini
Dan akhirnya mendekati Desa Edensor
Kedatangan kami seolah disambut oleh domba-domba gemuk yang ramah. Saya tak ingin membuang kesempatan untuk berpose bersama domba-domba cantik yang bebas berkeliaran di depan desa Edensor. Setelah itu, saya dan suami memasuki desa melalui pintu gerbang yang terbuka ramah bagi pengunjungnya. 
Disambut Shaun the sheep :)
Gerbang Desa Edensor
Ada dua arah jalan saat ingin menelusuri Desa Edensor. Jalan yang di sebelah kiri Gereja St. Peter akan melewati area pemakanan dan berakhir di jalan buntu. Sementara jalan di sebelah kanan gereja adalah jalan yang akan membawa kami menuju pemandangan yang menakjubkan. 

Pilih kiri atau kanan?
            Kedatangan kami bertepatan dengan akhir musim panas dan menjelang musim gugur. Desa Edensor menjadi tampak menawan dengan pepohonannya yang masih menyisakan warna kemerahan pada daun-daunnya. Rumah-rumah petani terbuat dari batu tanpa cat dengan atap kayu berdiri kokoh melengkapi keindahan alam Edensor. 

Mengawali pandangan dengan permulaan yang indah
Keindahan, ketenangan, dan kenyamanan berpadu serasi
            “Ensor”, begitu cara mengucapkan Edensor. Cara pengucapan itu pula yang saya pakai saat bertanya pada sopir bus. Anehnya, tidak banyak turis lokal yang mengenal dan paham letak lokasi Edensor. Ketika tiba di Chatsworth House, saya melihat para turis lebih memilih menghabiskan waktu luang mereka di sana. Padahal letak Edensor tidak begitu jauh dari mansion itu. Hanya satu dua pengunjung berwajah Eropa yang terlihat oleh saya ketika menelusuri jalan-jalan Edensor. Kami malah bertemu dengan rombongan keluarga turis dari Indonesia.

Saya membayangkan kenyamanan di dalam rumah itu
Ketenangan desa ini membuat hati enggan meninggalkannya
            Hanya ada sekitar tiga puluh rumah di Edensor. Sebagian penduduknya adalah karyawan Chatsworth Estate atau para pensiunan dari sana. Desa ini memang sepi dan tenang. Jalanan yang sedikit menanjak dihiasi pepohonan oak samasekali tidak membuat kami lelah. Malah mata mendadak fresh oleh pemandangan deretan rumah-rumah unik dan cantik di kiri kanan jalan. Rumah-rumah itu dibangun sekitar tahun 1839. Wow! Sudah tua juga ya?

Serasa ingin mengabadikan setiap momen

          Rumah-rumah di Desa Edensor merupakan gabungan dari gaya bebatuan Tudor, pintu busur Normandy. Sementara atapnya mengambil gaya Swiss dan jendelanya mengadopsi gaya Italia. Bentuk rumah itu membawa kaki kami terus berjalan hingga di penghujung desa yang tak ada lagi rumah-rumah terlihat. Hanya tampak padang rumput berlatar belakang bukit-bukit. 

Sesaat sebelum tiba di penghujung desa
Sampai di sini, yang tersisa hanyalah hamparan padang rumput dan kami :p
            Setelah puas mengitari Edensor selama sekitar satu jam lebih, kami memutuskan untuk kembali ke arah pintu gerbang desa itu. Sebelum benar-benar meninggalkan Edensor, saya melihat papan persegi empat bertuliskan “Edensor Tea Rooms and Shop” yang disandarkan pada batang pohon. Ada tanda panah penunjuk arah menuju kedai teh itu. Karena tidak berniat ingin menikmati teh dan kue-kue yang disajikan, saya dan suami hanya sekadar melewatinya saja.

Objek terakhir yang sempat saya simpan
            Itulah akhir dari pemuas rasa penasaran saya. Edensor bukanlah desa khayalan Andrea Hirata. Desa itu benar-benar ada. Saya sudah sampai di sana.  Keindahannya pun sempurna “membius” saya hingga ingin berlama-lama menikmatinya. Jika waktu tidak membatasi, rasanya saya ingin bermalam di sana. Ingin melihat suasana Edensor di waktu malam. 

Saya sempat memoto bus stop di depan Desa Edensor di awal
Apa boleh buat, saya dan suami harus bergegas menunggu bus di halte yang berada tepat di depan gerbang Edensor. Kami harus kembali ke London sebelum gelap menyergap. Sebab esoknya akan ada satu destinasi lagi yang akan kami kunjungi. Selamat tinggal Edensor. Semoga saya bisa kembali bersama anak-anak saya suatu hari nanti. Aamiin. [Wylvera W.]
             
Note: 
Semua foto di artikel ini adalah milik penulis/pribadi
Yang ingin baca catatan dari awal perjalanan di UK, silakan mampir di sini, ini, dan ini

Senin, 18 September 2017

Memanfaatkan Sisa Waktu di London dan Sekitarnya



Traveling bersama suami yang bertugas itu tetap ada ceritanya. Ada yang seru, lucu, dan bikin degdegan. Namun bagi saya, apa pun kondisinya tetap rasa syukur di atas segalanya. Rasa syukur itu pula yang membuat saya semaksimal mungkin menikmati waktu yang ada. Baik itu di sisa-sisa waktu yang saya bisa jalan dengan suami maupun tidak. Inilah cerita versi saya.

Menu sarapan pilihan suami
Sarapan pagi pilihan saya di St. Pancras Renaissance Hotel
            Hari berikutnya selepas sarapan pagi, saya memilih menunggu di kamar hotel sambil menunggu suami dan rekan kerjanya kembali dari jadwal tugas. Waktu yang serba tanggung itu saya manfaatkan untuk merapikan isi koper bawaan saya dan suami. Mumpung di kamar hotel ada setrika (gosokan-red), saya memanfaatkan waktu merapikan baju-baju suami dan pakaian saya agar kembali licin saat dipakai. Ini sih naluri Emak rumahan banget.*jangan protes yaaa ....*

Batal makan malam di Camden Town
            Akhirnya suami saya kembali ke hotel. Namun waktu tidak lagi banyak tersisa. Meskipun cuaca di luar masih terlihat terang, kami tidak mungkin menghabiskan kebersamaan mengitari kota London. Akhirnya karena sama-sama lapar, kami memutuskan untuk menikmati makan malam di Camden Town yang jaraknya tidak begitu jauh dari King's Cross.
            Camden Town adalah kawasan perbelanjaan yang pernah kami jadikan tempat untuk menginap saat berkunjung ke London. Saya dan suami tentunya sudah hapal betul area tersebut. Ada restoran yang menjual ayam goreng bersertifikat halal di sana. Kami ingin mengulang kebersamaan itu sambil menikmati makan malam di restoran tersebut. 
            Sebelum menuju stasiun kereta bawah tanah, saya melihat langit begitu indah menyelimuti kawasan King’s Cross, St. Pancras. Bangunan hotel tempat kami menginap jadi terlihat semakin megah dan elegan. Saya menghentikan langkah suami dan minta diambilkan foto dengan berlatar belakang hotel serta warna langit yang menawan itu. Sinar lampu-lampu menjelang malam menambah keromantisan latar belakangnya. 


Menjelang malam di depan hotel St. Pancras

            Setelah itu, kami kembali pada tujuan semula. Makan malam di Camden Town. Gerbong tube (kereta bawah tanah) yang kami naiki tidak terlalu padat lagi oleh orang-orang yang pulang dari kantor. Tiba di stasiun Camden Town, kami turun dari tube. Saya tersenyum melihat keadaan di luar stasiun.
Saya lirik hape. Sudah jam delapan malam lebih beberapa menit. Sebenarnya waktu itu saya tidak yakin kalau restoran penyaji ayam goreng halal itu masih buka. Saya dan suami tetap berjalan sambil menikmati kawasan yang selama hampir seminggu pernah kami lalui setiap harinya saat menginap di Camden Town. Benar saja. Restorannya sudah tutup. Kami sama-sama tertawa dan memutuskan untuk membeli makanan yang bisa dinikmati di kamar hotel saja.

Cuci mata di Bicester Village
            Hari selanjutnya, saya kembali menunggu di kamar hotel. Alhamdulillah, tidak terlalu lama, suami dan dua rekan kerjanya sudah kembali. Jadwal kami selanjutnya adalah kembali memanfaatkan sisa waktu. Tujuan kami adalah Bicester Village, sebuah kawasan perbelanjaan elit. Mumpung hari masih siang, kami bergegas menuju stasiun.    

Untuk sampai di kawawan perbelanjaan itu, kami harus berangkat dari Marylebone London Station. Selepas membeli tiket kereta antar kota, kami menunggu jam keberangkatan sambil membeli bekal makanan. Perjalanan dari stasiun Merylebone London menuju Bicester Village menghabiskan waktu sekitar satu jam. Begitu sampai di stasiun Bicester, aroma berbelanja langsung menyeruak menusuk hidung. Eh, maksudnya menggoda pandangan. Semua yang turun dari kereta yang kami naiki bertujuan sama, hunting barang bermerek.

Tiba di stasiun Bicester Village
Bicecster Village ini terkenal dengan desa belanja elitnya. Jangan ditanya soal barang branded di factory outlet ini. Mulai dari Coach, Fossil, Gucci, Lacoste, Michael Kors, Ted Baker, Longchamp serta puluhan merek ternama lainnya, ada di pusat perbelanjaan tersebut. Tempat ini adalah surga bagi “The Brand Minded”. Harga diskon di musim-musim tertentu menjadi daya tarik yang memikat para pecinta shopping.

Dari gerbangnya sudah terasa aroma perbelanjaan
Dari sini jalan menuju toko-toko penjual barang bermerek itu
Salah satu barang branded yang diincar
Waktu pertama kali datang ke London, saya pernah menyinggahi factory outlet yang mirip dengan Bicester Village. Nama tempatnya Freeport Braintree. Tidak seperti waktu pertama datang ke Freeport Braintree (outlet shopping village), kesempatan kali ini membuat saya hanya sekadar “cuci mata” saja. Yang dibeli hanya beberapa. Saya dan suami lebih menikmati suasananya. Memerhatikan orang-orang yang hampir semua menjinjing kantung-kantung belanja.Seru rasanya.

Buckingham Palace dan jejak kenangan lainnya
            Hari keempat masih dalam rangka memanfaatkan waktu di antara jadwal suami. Kebetulan hari itu jadwal suami dan teman-temannya dimulai pada siang hari. Sayang jika hanya menunggu dan menghabiskan waktu di kamar hotel. Saya mengajak suami melihat Buckingham Palace. Jika waktunya masih ada, kami bisa menyusuri tempat-tempat lainnya dalam waktu setengah hari itu.

Green Park masih sepi di pagi hari
Dulu tak sempat berfoto berdua di Green Park ini
            Setelah menikmati sarapan pagi di hotel, salah satu teman suami saya ingin ikut bersama kami. Tanpa membuang waktu, kami segera menuju stasiun King’s Cross. Dari stasiun ini kami ambil jurusan menuju Green Park Station. Hanya sekitar sepuluh menit di tube, kami pun sampai di area yang namanya sama dengan nama stasiunnya. Green Park merupakan taman yang ditumbuhi oleh pepohonan besar dan rindang. Lokasinya berdeketan dengan Buckingham Palace.

Saya dan suami nyantai di depan The Queen Victoria Memorial
            Dari Green Park kami terus berjalan. Lagi-lagi dejavu. Walaupun suasananya tidak sama persis, kesempatan kali ini tetap membawa kami pada kenangan waktu itu. Berfoto tetap menjadi pilihan yang tak terlupakan. Bahkan ketika tiba di pintu gerbang istana Ratu Elizabeth, hari masih pagi. Tentu para turis belum memadati landmark yang tak pernah sepi oleh wisatawan ini. Saat itu saya mendadak seperti model yang disibukkan oleh bidikan kamera hape suami. 

Serasa istana di belakang itu milik sendiri euy ...! :p
            Dari Buckingham Palace, kami melanjutkan berjalan kaki menuju St. James’s Park. Sepi, tenang, sejuk, dan nyaman. Suasana itu benar-benar kami nikmati. Masya Allah ... burung, bebek, dan tupai-tupai yang berkeliaran bebas di taman itu menjadi penyedap pandangan.

Bebeknya (foto atas ya bukan yang bawah ... hahaha) terlihat kompak
Kami pun tak mau kalah kompak
Tupainya banci kamera ih ... hahaha
London Eye tampak dari kanal St. James's Park
            Dari St. James’s Park, kami terus berjalan hingga sampai di sebuah monumen. Saya membaca nama-nama yang tertulis di dinding monumen. Di dinding itu tertulis nama para korban tragedi bom Bali yang terjadi beberapa tahun lalu.
Monumen Bom Bali
            Kami kembali melanjutkan jalan-jalan pagi menjelang siang itu menuju Westminster Palace. Di sana lah berdiri Big Ben, nama untuk Great Bell of the clock di ujung Utara Istana Westminster, London. Sayang, kami tak bisa mengambil foto berlatar belakang Big Ben secara utuh. Sedang ada pemugaran, sehingga sebagian menara tertutup oleh besi-besi panjang penyangga menara itu. Kami bergeser ke Jembatan Westminster. Dari atas jembatan yang melintasi Sungai Thames saya bisa kembali menikmati London Eye setelah tiga tahun lamanya.

Big Ben dalam pemugaran
Foto kesekian kalinya tapi tak pernah bosan ;)
            Masih ada waktu. Kami sepakat untuk kembali berjalan menuju Trafalgar Square, alun-alun kota London yang tak pernah sepi. Trafalgar Square yang letaknya di bagian tengah kota London ini didirikan untuk mengenang Pertempuran Trafalgar (1805). Selain sebagai lokasi wisata dan tempat ngumpul, Trafalgar Square juga sering digunakan untuk aksi demonstrasi buruh dan pekerja di London. Dari sini, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel.

Trafalgar Square
Di depan National Gallery Museum
            Saya kembali menunggu hingga sore hari. Sisa waktu sepulang suami dari dinasnya, kami manfaatkan untuk menikmati makan malam bersama di sebuah restoran muslim India. Letaknya masih di sekitar King’s Cross dan berada di tepi jalan utama wilayah itu. Sajian makanannya maknyus. Alhamdulillah … pas di lidah. Piring saya dan suami yang tadinya penuh oleh menu pilihan kami, akhirnya licin saking enaknya. Tapi sangat menyesal, saya dan suami sampai lupa memotonya. Semoga tidak dianggap hoax.
           
Gagal menuju Primark
            Saat kembali dari jalan-jalan pagi menjelang siang sehari sebelumnya, saya sempat menandai lokasi toko murah. Namanya Primark. Toko yang menjual beragam barang dengan harga terjangkau ini juga pernah menjadi pengisi waktu traveling saya saat di London waktu itu. Tentu saja saya ingin kembali ke toko itu jika waktunya memungkinkan.
            Di hari kelima, setelah suami berangkat dinas, saya pun bersiap menuju Primark. Sebenarnya Primark tersebar di beberapa lokasi di London. Saya memilih toko yang berada di area Oxford Street. Pagi itu saya ingin mencoba naik bus. Tanpa pikir panjang dan memerhatikan arah bus, saya naik saja ke bus dengan nomor yang sama saat kami kembali dari Trafalgar Square kemarin.
Awal berada di bus, saya tidak merasa curiga kalau bus yang saya naiki justru arahnya berlawanan. Hingga di pertengahan jalan, saya baru sadar dan yakin jika saya salah naik bus. Ingin menertawakan diri sendiri saat itu. Saya buru-buru menekan tanda stop lalu turun dan menyeberang di pemberhentian bus yang benar. Karena sudah menghabiskan waktu sekitar 40 menit, selera saya lenyap mendadak. Saya memilih turun saja kembali di halte King’s Cross. Saya habiskan waktu memotret suasana “Bazaar tradisional homemade pastries”.

Kue-kuenya bikin ngiler


            Saya sempat ngobrol dengan salah satu peserta bazaar. Mereka menjual mangga organik yang rasanya sedap sekali. Katanya mangga-mangga itu ditanam di tanah perkebunan yang ada di pinggir kota London. Saya tidak ingat nama daerah yang disebutnya. Yang jelas, saya akhirnya membeli potongan buah mangga itu dan jusnya juga sebelum kembali ke hotel.

Mangganya mantap rasanya
Penjualnya senang banget saya tanya-tanya
            Ssst … tapi saya tetap kembali ke Primark di hari lainnya. Nggak mau rugi dong. Minimal ada yang dibeli buat oleh-oleh, walau hanya sekadar kacamata.

Menikmati kesendirian di London Bridge
            Jum’at pagi itu, suami sudah terikat dengan jadwal yang padat hingga sore hari. Saya harus pintar menyiasati kesendirian. Setelah suami berangkat, saya memutuskan untuk naik tube menuju London Bridge. Tidak ada yang rumit untuk memilih rute. Semua sudah jelas tertulis. Harus naik kereta ke arah mana, Insya Allah tidak akan nyasar. Berbeda dengan bus. Saya sedikit lebih kesulitan menandai rute bus di petanya. Buat saya yang paling cepat adalah naik tube.

London Bridge nun jauh di sana
            Sekitar lima belas menit dari stasiun King’s Cross, saya pun sampai di London Bridge Station. Keluar dari stasiun, saya mencoba menggunakan google map untuk memandu ke arah mana saya harus meneruskan berjalan kaki agar tiba di tepi Sungai Thames yang terdekat dengan London Bridge. Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke lokasi tersebut. 

Tongsis beraksi :p
Akhirnya sampai juga setelah berjalan sekitar dua ratus meter. Karena sendiri, akhirnya tongsis yang saya bawa dari rumah berfungsi maksimal. Saat itu, saya benar-benar menikmati kesendirian. Memandangi jembatan megah dari jauh tidak cukup membuat saya puas. Saya mendekatinya sambil menelusuri pinggiran sungai serta mengingat-ingat kembali kebersamaan dengan anak-anak saya kala itu. Jembatan tua yang telah berulang-ulang dibangun di lokasi yang sama ini, London Bridge menjadi salah satu objek yang eksis sejak tahun 50 Masehi. Di sinilah akhirnya saya menghabiskan waktu sendiri dari pagi hingga menjelang siang.

Tak memilih Ted Baker, Harrods pun jadi
            Saat di Bicester, saya belum menemukan model yang pas untuk oleh-oleh yang dipesan anak saya. Akhirnya di sisa-sisa waktu yang ada, saya dan suami kembali mengambil waktu khusus untuk belanja memenuhi beberapa pesanan. Suami mulai bosan berkendara dengan tube, kami memilih naik bus menuju Brompton Rd, Knightsbridge, London. Di kawasan itulah berjajar toko-toko yang menjual barang-barang bermerek. 

Sebelum belanja, kenalan dulu sama dua jagoan ini ;)
Tentu saja harganya sedikit lebih mahal dibanding harga di Bicester Village. Yang menguntungkan, calon pembeli bisa memilih model yang lebih bervariasi. Saya dan suami pun akhirnya keluar masuk toko branded. Kembali “cuci mata”. Awalnya saya ingin membeli tas Ted Baker (menambah koleksi yang sudah ada), tapi karena barang dan harganya belum pas dengan mata dan kantong (diharap jangan tertawa ya … hihi) akhirnya saya pindah ke toko berikutnya.
Setelah puas berkeliling di gedung yang menjual segala model tas Harrods, pilihan saya tetapkan. Tas Harrods untuk putri saya dan beberapa suvenir dengan merek yang sama pilihan suami sampai ke meja kasir. Alhamdulillah, semua itu terbeli karena rezeki dari Allah juga. Harus buru-buru disyukuri dong.

Tak berharap bertemu makhluk astral
            Ada satu tempat yang menjadi tujuan wisata para turis di London, yaitu Kensington Palace. Istana Kensington ini merupakan tempat tinggal keluarga kerajaan yang berlokasi di Kensington, London, Inggris. Posisinya berdampingan dengan Kensington Gardens. Kengsinton Palace telah menjadi istana kerajaan sejak abad ke-17 dan pernah menjadi tempat tinggal Princess Diana.  Sekarang istana ini menjadi kediaman resmi Duke (Prince William) dan Duchess of Cambridge (Kate Middleton), Duke dan Duchess of Gloucester, dan Prince dan Princess Michael of Kent.
            Istana yang dibuka untuk pengunjung di sepanjang tahun ini tak pernah sepi dari kedatangan wisawatan. Waktu berkunjung dimulai dari pukul 10.00 – 18.00 waktu London. Sementara harga tiket masuk untuk dewasa adalah 15 Poundsterling dan bisa dibeli langsung di pintu masuk istana.
            Tidak seperti biasanya, kali ini saya dan suami mencoba melakukan wisata malam. Awalnya saya masih berharap bisa tepat waktu (jam lima sore), agar bisa masuk ke dalam istananya. Namun, karena memang tidak dijadwalkan serius, kami santai saja. Perjalanan dengan bus dari King’s Cross menuju halte Kensington lumayan lama. Tiba di depan pintu masuk taman, hari sudah gelap.
            Sempat ragu, kami berdiskusi sejenak sebelum memutuskan tetap masuk melewati taman Kensington (Kensington Garden). Kebetulan minggu itu bertetapatan dengan peringatan hari meninggalnya ibu Prince Willam yang sangat kita kenal dengan nama populernya, Lady Di. Itulah yang membuat keinginan kami bulat untuk tetap memasuki taman. 

Entah kenapa, saya tidak bisa menahan rasa merinding di suasana ini
            Akhirnya kami masuk dan berjalan di suasana remang-remang taman itu. Jujur saja, saat suami berkisah tentang tragedi kematian Lady Di, bulu kuduk saya sempat meremang. Saya protes ke suami untuk tidak menakut-nakuti saya yang memang penakut ini. Ia malah tertawa di keheningan suasana malam itu.
Tertawa sambil mikir, adakah yang ikut berfoto di belakang kami? Hiii ....
            Suami tak mau melewatkan momen yang bikin bulu kuduk saya bolak-balik meremang itu. Beliau mengajak saya berfoto bersama dengan latar belakang pintu gerbang yang penuh dengan foto-foto Princess Diana. Dengan setengah hati saya tetap berusaha tersenyum saat kamera hape suami menerangi wajah saya dengan sinar blitz-nya. Padahal jujur saja, saya pengin lari secepat mungkin meninggalkan lokasi itu. Sambil tertawa, akhirnya suami mengajak saya meninggalkan area gerbang Kensington Palace. Untunglah kami tak sempat bertemu makluk astral di sana. Suami saya akhirnya memberi tema wisata kami itu dengan judul “Berfoto dengan Makhluk Astral”.
            Selesai sudah jatah menghabiskan sisa-sisa waktu yang kami punya selama di London. Masih ada cerita perjalanan ke destinasi lainnya yang bukan memanfaatkan waktu tersisa. Tunggu saja kelanjutan catatan ini. Salam. [Wylvera W.]

Note: Semua foto adalah milik penulis (pribadi)