Laman

Senin, 27 Maret 2017

Masjid Agung Roma dan Suasana Jum'atan



 
Bismillahirrahmanirrahiim ….
            Alif Lam Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.”. (QS. Ar- Rum ayat 1 – 5)
            Pada zaman Rasulullah saw, kebesaran dan kekuatan kekaisaran Romawi terdengar hingga ke semenanjung Arabia. Dalam sebuah hadits, Imam Tarmizi mengatakan bahwa ketika perang Badar, orang-orang Romawi mengalami kemenangan atas orang-orang Persia. Hal ini membuat takjub orang-orang Mukmin. Inilah yang menjadi sebab turunnya Surat Ar-Rum (1- 5).
            Sejarah telah mencatat bahwa pasukan Islam di bawah pimpinan khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, pernah menaklukkan wilayah Romawi di negeri Syam (sekarang Suriah dan sekitarnya). Pada sejarah ini pula nama Khalid bin Al-Walid diingat sebagai pengatur strategi perang dan mampu melumpuhkan pasukan kerajaan Romawi yang berjumlah 240 ribu orang. Namun, pada tahun 1300 menjadi catatan kehancuran benteng pertahanan Islam terakhir di Lucera, Puglia.
Islam hampir tidak ada lagi di Italia sejak zaman penggabungan negara di tahun 1861 hingga tahun 1970-an. Pengaruh Islam hanya terlihat pada bangunan dan benteng peninggalan pasukan muslim di Italia yang menjadi objek wisata hingga saat ini. Kemudian, berdirinya Masjid Agung Roma menjadi sebuah kekuatan besar bahwa Islam kembali hidup di negeri itu.
            Roma yang dalam bahasa Arab disebut Rum. Bangsa Rum atau Romawi merupakan salah satu bangsa yang sejarahnya termaktub dalam kitab suci Al Qur’an. Nama Rum pun dijadikan sebagai nama surah ke-30 (Surah Ar- Rum) dalam kitab suci umat Islam, sebagai salah satu surah Al-Makkiyyah yang turun sebelum Rasulullah saw hijrah ke Madinah. Ketentuan ini menjadi pendorong rasa ingin tahu saya saat diajak suami menuju kota Roma. Terutama pada masjidnya.
            Masjid Agung Roma adalah tempat yang paling ingin saya kunjungi saat tiba di Roma, Italia. Bukan tanpa alasan. Roma yang dikenal sebagai pusat agama Katholik dan Tahta Suci Vatikan, tempat bertahtanya Paus selaku pemimpin tertinggi umat Katholik dunia, berada di kota ini. Keberadaan sebuah masjid menjadi hal yang mustahil menurut pandangan saya. Apalagi ketika menyimak kata-kata Benito Mussolini (1883 – 1945), dengan kutipan ucapannya tentang niat pembangunan masjid di Roma, “Tak kan ada masjid di Roma, selama tak ada gereja di Mekkah.” Inilah yang membuat rasa ingin tahu saya semakin membuncah ingin melihat Masjid Agung tersebut.

Perjalanan menuju Masjid Agung Roma dimulai
            Hari ketiga berada di Roma, saya kembali harus berjalan sendiri tanpa suami yang masih harus mengikuti acara konferensinya. Alhamdulillah, di hari ketiga ini pula, istri Stefano Romano (fotografer asal Roma) mau meluangkan waktu untuk menemani saya. Sesuai tempat dan waktu yang sudah kita sepakati, kami akhirnya bertemu di Termini Station tepat pukul 11.30 waktu Roma. Sebagai orang Indonesia yang sudah bertahun-tahun menetap di Roma, saya langsung nyaman berjalan dipandu oleh Mbak Bayu (nama panggilan beliau). 

Area sekitar Stasiun Flaminio
Sambil berjalan beriringan, saya mulai menghapal rute yang akan kami tempuh. Dari Termini kami naik Metro A menuju Stasiun Flaminio. Dari Flaminio, kami melanjutkan naik kereta dengan tujuan URB atau Urbano dan turun di Campi Sportivi. Tidak menghabiskan waktu terlalu lama, akhirnya kami tiba di stasiun Campi Sportivi. Setelah turun dari kereta, kami langsung menuju arah keluar (uscita/exit) ke arah tangga pintu keluar di sebelah kiri.
Kebetulan kunjungan kami bertepatan dengan hari Jum’at dan mendekati waktu sholat Jum’at. Mbak Bayu mengatakan kalau hari Jum’at di luar pagar masjid akan ramai dengan para pedagang yang berasal dari negara-negara muslim. Ada yang dari Africa, Maroko, Bangladesh, Turki, dan lainnya. Sambil terus berjalan menuju pintu gerbang masjid, saya sesekali melirik ke dagangan yang mereka gelar. Ada yang menjual baju, sepatu, alat rumah tangga (yang bekas dan baru), sampai makanan khasnya yang mengundang selera.

Melihat Masjid Agung Roma dari dekat
            Begitu sampai di halaman Masjid Agung Roma yang sangat luas, dada saya bergemuruh pelan. Decak kagum dan memuliakan kebesaran Allah pelan-pelan saya lafalkan berulang-ulang. Sambil mulai sibuk mengambil foto, saya kembali teringat sejarah yang sempat saya baca tentang awal mula berdirinya masjid ini. Setelah lima puluh tahun kematian Mussolini, umat Islam yang ada di Roma akhirnya memiliki masjid semegah ini. Bahkan Masjid Agung Roma menjadi salah satu masjid terbesar di Eropa.
Halaman Masjid Agung Roma yang luas dan bersih (doc. pribadi)

         Mengingat waktu proses pembangunan masjid ini sangat lama (1974 – 1995), terbayanglah di benak saya betapa para pendirinya membutuhkan energi dan semangat yang kuat serta pantang menyerah. Izin pembangunan masjid ini diperoleh dari dewan kota Roma atas lobi yang luar biasa dari Raja Faisal (Raja Arab Saudi pada waktu itu) kepada Presiden Giovanni Leone (Presiden Italia ke-6/1971-1978). 

Saya bangga melihat nama Indonesia ada di urutan ke-9 (doc. pribadi)
            Satu hal yang membuat saya ikut bangga, ketika mengingat Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut mendanai pembangunan Masjid Agung Roma ini bersama 23 negara Islam lainnya. Sementara Saudi Arabia adalah penyandang dana terbesar. Bahkan kedutaan Italia di Jakarta pernah mengadakan pameran foto-foto Masjid Agung Roma (La Mosche di Roma) ini pada Pusat Kebudayaan Italia (Instituto Italiano di Cultura) di Jakarta dan Surabaya pada pertengahan Agustus sampai September 2009.
           
Ketenangan menyelinap saat memasuki masjid.
            Jika berkunjung ke Roma, sempatkanlah ke masjid yang indah ini. Letaknya di Utara kota Roma dengan jarak lima kilometer dari pusat kota Roma. Persisnya berada di ujung taman Villa Ada Park, terdiri dari gunung Monte Antenne yang sangat lekat dengan legenda masa lalu Roma dan menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan Italia di masa itu.

Pintu masuk untuk perempuan
Tangga menuju lantai jema'ah perempuan
           Setelah puas mengambil gambar dari halaman masjid yang luas, Mbak Bayu mengajak saya memutar jalan. Di sanalah pintu masuk untuk jema’ah perempuan. Dibedakan dengan pintu masuk jema’ah laki-laki. 



Menunggu waktu sholat
            Saat memasuki masjid, semakin terlihatlah perpaduan eksterior dan interiornya. Perpaduan yang didesain oleh Paolo Portoghesi (arsitek Italia yang memenangkan lomba desain masjid) membaurkan ragam kultur dari negara-negara Islam yang ikut berkontribusi dalam pembangunan masjid ini. Paduan Roman dan Islam dalam desain masjid sangat jelas terlihat. Desain 32 pilar-pilar di bagian dalam dan 136 pilar di bagian luar masjid persis barisan pohon  yang menggambarkan kekokohan. 
Pilar-pilar yang kokoh dan menguatkan

            Saya diajak masuk menuju lantai tempat para jema’ah perempuan. Setelah meletakkan sepatu, dengan masih mengenakan kaus kaki, saya menapakkan kaki di karpet biru muda yang tebal dan lembut. Mata saya terpesona melihat lampu-lampu hias yang besar dan megah. Teringat pada Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Subhanallah ….
Hasrat ingin melakukan sholat tahyatul masjid sebenarnya sudah di ubun-ubun, tapi saya sedang libur sholat. Demi mengobati hati, saya puaskan untuk mengambil foto. Mbak Bayu menawarkan diri untuk menenami saya turun ke ruang sholat untuk jema’ah laki-laki. Dari situ, saya bisa lebih jelas mengambil gambar. 

Mimbar masjid
            Salah seorang Muazin yang selalu membantu menyambut para tamu untuk sholat Jum’at menyapa kami. Saya minta izin untuk mengambil foto ruang dalam masjid. Kemudian saya mohon izin kembali untuk berfoto dengan laki-laki separuh baya berwajah Timur Tengah itu. Beliau sangat ramah walau tak fasih berbahasa Inggris. Alhamdulillah ….


            Sambil menunggu kumandang suara azan yang menurut Mbak Bayu tidak boleh digemakan ke luar masjid, saya justru menikmati ketenangan yang luar biasa di dalam masjid ini. Betapa Allah telah melimpahkan rahmat-Nya pada umat muslim di Vatikan tersebut. Meskipun hanya ramai di hari Jum'at dan hari-hari besar Islam, namun keberadaan Masjid Agung ini menjadi sebuah kekuatan yang indah bagi keberlangsungan ibadah umat muslim di negeri bermayoritas pemeluk agama Katholik itu. Entah mengapa, air mata saya nyaris menetes. Untung cepat menarik nafas.

Mencicipi makanan khas Maroko di luar masjid
            Selepas azan, karena saya dan Mbak Bayu kebetulan sama-sama tidak sholat, akhirnya kami memutuskan untuk keluar. Kami langsung menuju pedagang dari Maroko yang menggelar aneka makanan khas dari negaranya. 

Semua serba maniiis ;)

              Mbak Bayu menawari saya hidangan makan siang. Namanya couscous (baca: kuskus). Terbuat dari tepung gandum semolina yang dilapisi tepung gandum jenis durum wheat.

Couscous dan "teman-teman"nya


            Couscous tidak hanya dikenal di Maroko, tapi juga Mesir, Lebanon, Arab Saudi, dan Tunisia. Couscous menjadi istimewa karena suka disajikan di waktu tertentu. Untuk menjamu tamu atau di hari Jum'at. Di Maroko, selesai Jum’atan, mereka suka mengundang kerabat untuk makan-makan di rumahnya.
Penjual Cousous yang ramah
            Saya melihat sekilas panci tempat memasak coucous itu. Cara memasaknya dengan dikukus. Couscous yang instan bisa digunakan setelah direndam sebentar dengan air panas. Lalu dijasikan dengan aneka macam sayuran tumis maupun rebus dengan atau tanpa daging. Hidangan ini disajikan dengan kuah kaldu. Kalau pas dengan selera dan lidah, kelihatannya couscous ini lezat sekali. Tapi, setelah mencicipi sebagian, lidah saya ternyata belum terlalu akrab. Mungkin harus sering-sering mencicipi masakan ini baru bisa akrab di lidah saya.

Kembali ke hotel
            Setelah mencicipi couscous, saya dan Mbak Bayu memutuskan meninggalkan Masjid Agung Roma. Ada rasa sedih sebenarnya di hati saya. Belum puas berada di dalam masjid, tapi kami harus kembali.
            Kami kembali ke stasiun kecil Flaminio. Saat itulah terbersit di pikiran saya tentang lokasi masjid. Letaknya memang agak jauh dari pusat kota Roma. Betapa kesepakatan lokasi dan segala aturan dan persyaratan tentang tidak diizinkannya suara azan berkumandang keluar masjid, telah diperjuangkan dengan susah payah oleh para pendiri Masjid Agung itu.
Saat azan pun saya sempat merekam suara Muazin yang mengumandangan suaranya hanya di dalam ruangan masjid. Tidak menggunakan microfone agar bergema keluar masjid. Dari Mbak Bayu saya mendengar bahwa itulah salah satu perjanjian yang disepakati saat awal ingin mendirikan masjid tersebut. Belum lagi selesai lamunan saya, kereta menuju stasiun Flaminio sudah datang.

Cuci mata sebentar di pasar kaget
            Kembali di stasiun Flaminio, saya dan Mbak Bayu menyempatkan untuk melihat-lihat dagangan yang digelar di sekitar stasiun kecil itu. Kata Mbak Bayu, ini mirip pasar kaget kalau di Jakarta tapi yang di Roma ini justru digelar setiap hari. Artinya, enggak kaget lagi dong ya? *nyengir*

Silakan cuci mata di sini ^_^
            Setelah melihat-lihat dan membeli sesuatu yang kami inginkan, kami kembali ke stasiun yang menuju Termini. Kebersamaan kami di hari ketiga ini akan segera berakhir. Saya sangat berterima kasih pada Mbak Bayu. Ia sudah meluangkan waktunya untuk saya. Semoga kebersamaan ini membawa berkah dan melanggengkan persahabatan kami ke depannya. Aamiin.
            Sesampainya di stasiun Termini, akhirnya kami benar-benar berpisah. Saya kembali ke hotel, sementara Mbak Bayu pulang ke rumahnya. Dalam hati, saya berjanji akan mengajak suami kembali ke Masjid Agung Roma sebelum pulang ke tanah air. Tunggu cerita selanjutnya ya. Salam [Wylvera W.]
To be continued

Kamis, 23 Maret 2017

Welcome to The Eternal City






            Kecemasan menunggu keluarnya visa membuat saya tak berani banyak berencana  tentang perjalanan menuju Roma. Lazimnya, permohonan visa itu akan disetujui setelah diproses minimal lima hari kerja (kecuali visa dengan menggunakan paspor dinas). Sementara saya mengajukannya kurang dari lima hari. Qadarullah, ternyata visa yang saya tunggu akhirnya disetujui di hari yang sama dengan jadwal keberangkatan saya dan suami. Bisa jadi karena pengajuan tersebut didampingi oleh paspor biru milik suami. Alhamdulillah, terbantu.  
            Malam, 14 Maret 2017, saya dan suami akhirnya menuju bandara Soekarno Hatta. Sementara pesawat Emirates yang akan membawa kami terbang, berangkatnya pada pukul 24.15 WIB (sudah masuk hari berikutnya), Rabu, 15 Maret 2017. Waktu tunggu di bandara cukup lama. Kami melewatinya sambil melepas penat (efek degdegan menunggu visa seharian masih tersisa) di sebuah lounge bandara Soeta. Diam-diam saya terus berucap syukur. Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?
Allah SWT kembali memberi kesempatan kepada saya untuk melihat bumi-Nya di sebuah kota yang dikenal dengan sebutan “The Eternal City” (kota yang kekal/abadi). Terinspirasi dari sebuah novel karya novelis Inggris, Hall Caine, dalam novelnya berjudul “The Eternal City” – 1991, sebutan itu hingga kini seolah dikukuhkan sebagai julukan untuk kota Roma. Sebutan abadi untuk Roma dan ditambah kisah mitologi Romawi kuno tentang Romulus dan Remus sebagai pendiri kota tersebut, membuat rasa penasaran saya membumbung tinggi ingin segera melihatnya dari dekat.

Menunggu boarding di Dubai *abaikan mata kami yang sembab itu* ;)
Perjalanan panjang yang menghabiskan durasi sekitar delapan jam dari bandara Soeta menuju Dubai International Airport untuk transit, cukup membuat energi kami sedikit terkuras. Kurang tidur, pasti. Namun kami harus menunggu penerbangan selanjutnya selama kurang lebih tiga jam. Kami harus sabar menempuh pernerbangan berikutnya selama lima jam untuk tiba di Roma.

Menapakkan kaki di Roma
            Kami tiba di Leonardo da Vinci-Fiumicino International Airport, Roma Italy. Sudah hampir jam dua belas siang. Kelelahan pun semakin terasa. Setelah cek imigrasi dan mengambil koper, suami memutuskan untuk membeli nomor baru agar hape kami tetap bisa mengakses informasi dan terhubung dengan leluasa ke Indonesia. Semua diselesaikan terlebih dahulu di area bandara sebelum memulai perjalanan menelusuri kota Roma. 


Setelah semua beres, kami pun bergegas membeli tiket kereta. Kereta yang akan membawa kami dari Fiumicino Airport ke Termini Station adalah The Leonardo Express. Harganya 14€ per tiket dengan durasi tempuh selama 35 menit. Lumayan mahal kalau dirupiahkan karena ada yang lebih murah sebenarnya, hanya sampainya pun lebih lama.
            Kami sampai di stasiun Termini. Di Termini tidak hanya ada stasiun kereta (Metro), tapi juga terminal bus. Dari sini, kita tinggal memilih nomor bus dengan beragam jurusan di kota Roma. Seperti pengalaman kami sebelumnya saat melakukan perjalanan ke beberapa negara, suami lebih suka membeli tiket terusan untuk memudahkan kami naik kendaraan umum selama di kota tersebut. Pilihannya tentu disesuaikan dengan keinginan kita. Kami memilih paket seminggu. Tiketnya bisa kami gunakan untuk naik kereta, bus, dan tram yang semuanya berlaku untuk jurusan dalam kota Roma.


Sudah hampir jam tiga sore saat kami tiba di Termini. Tentu saja perut pun mulai keroncongan. Sebelum berangkat ke Roma, saya sudah memberi kabar kepada teman yang memang orang asli Roma. Stefano Romano, fotografer asal Roma yang sudah bolak-balik ke Indonesia bersama istrinya (yang asli Indonesia), menjadi guide untuk beberapa informasi yang kami butuhkan. Stefano juga yang memberitahu saya kalau ingin mencari restoran halal, yang terbanyak adalah di sekitar stasiun Termini. Kami akhirnya memutuskan untuk membeli kebab dan membawanya ke hotel.


Selama suami mengikuti conference (dua hari), kami menginap di Hotel Albani. Kata suami, lokasinya dekat dengan tempat konferensinya. Bisa berjalan kaki. Ada beberapa bus yang melewati jalan terdekat dengan Hotel Albani. Bisa naik yang nomor 92, 360 atau 223. Tapi yang paling mudah ternyata naik bus nomor 92. Tempat pemberhentian pergi dan pulang dari terminalnya tidak terlalu jauh.

Ketiduran efek jetlag
            Tiba di hotel, rasanya ingin melompat ke tempat tidur yang empuk. Namun mengingat belum mandi selama dua hari perjalanan, enggak tega juga berbaring cantik. Saya memilih mandi dan menyegarkan badan. Setelah itu niatnya pengin tidur-tiduran dan habis sholat Magrib mau kembali ke lokasi terminal Termini untuk mencari makanan. Apa yang terjadi saudara-suadara? Saya dan suami sukses ketiduran. Saat terbangun, ternyata sudah jam setengah dua belas malam.
            Saya ingat kalau belum menyentuh kebab yang kami beli sorenya. Kita membeli dua kebab panini. Yang satu sudah kami habiskan. Sisa satu. Setelah menjamak sholat Isya dan Magrib, kami pun menghabiskan kebab yang ada. Ah, lumayan buat mengganjal perut berdua. Selesai makan, suami saya melanjutkan tidur kembali.
Karena sudah terlanjur terbangun di jam yang tidak lazim, saya mencoba menyalakan tivi. Ya ampuuun, hampir semua film dialihbahasakan ke bahasa Italy. Tidak ada teks terjemahannya. Saya ngikik di tengah malam karena tidak mengerti arti dialog dalam film yang saya tonton. Entah jam berapa tepatnya, saya ikutan pulas sampai menjelang Subuh.

Suasana alam selepas Subuh yang saya nikmati dari jendela kamar hotel
            Selepas sholat Subuh, saya membuka kaca jendela yang menghadap ke arah taman yang mirip hutan kecil. Udara jelang musim semi yang masih dingin langsung menyergap wajah saya. Segar sekali rasanya. Melihat matahari yang malu-malu mengintip, saya buru-buru mengambil hape dan mengabadikan pemandangan cantik itu. Damai sekali. Sejenak saya lupa dengan rutinitas dan segala permasalahan di tanah air. Saya benar-benar menikmati waktu rehat ini.

Sarapan pagi pertama di Hotel Albani
            Melihat tingkah saya yang sibuk sendiri di jendela, suami terpancing. Dia juga tak mau kalah merekam suasana alam pagi di Roma dari balik jendela kamar hotel tempat kami menginap. Pagi yang indah telah mengawali hari kami di Roma. Buat saya itu cukup romantis. Entah bagi pembaca. *senyum malu-malu*

Lima jam bersama Stefano Romano
            Hari kedua di Roma, suami saya memulai jadwal konferensinya. Saya akan ditinggal sendiri. Bukan saya namanya kalau pasrah dan diam menunggu di kamar hotel saat traveling begini. Saya mencoba menghubungi Stefano Romano. Berharap dia dan istrinya bisa menemani saya untuk hari itu. Alhamdulillah, dia menyanggupi dan saya mendapat izin dari suami. Tapi karena Bayu (istri beliau) hari itu bekerja, hanya Stefano yang menjadi tour guide saya.

Wefie tanpa tongsis :p
            Setelah Stefano kembali ke Roma - sekitar akhir September 2016 lalu – ini adalah pertemuan kami yang kedua. Stefano adalah fotografer yang memotret saya untuk kelengkapan profil saya yang dimuat di majalah NooR waktu itu. Itulah awal perkenalan kami. Namun, tidak merasa ingin bertemu dengan seorang fotografer, saya justru seolah sedang menunggu teman lama saja. Stefano berjanji akan menjemput saya di hotel tepat pukul 10.30 waktu Roma. Lima menit sebelum dia tiba, saya sudah menunggu di lobi hotel.
            Kami tidak berlama-lama mengawali pertemuan itu. Stefano langsung mengajak saya jalan menuju halte pemberhentian bus yang menuju ke Termini Station. Di bus, kami sempat ngobrol dan mengingat-ingat kegiatan yang pernah melibatkan kebersamaan di Bekasi. Dalam obrolan itu, Stefano sempat mengatakan kalau dia sudah rindu sama Jakarta, Bandung apalagi. Dia ingin kembali ke Indonesia, tempat yang paling dicintainya untuk mengeksplor kepiawaiannya di bidang fotografi. Semoga ya, Stef … mimpimu jadi kenyataan. Aamiin.

Colosseum dan Arch of Titus
            Dari Termini, Stefano mengajak saya melihat Colosseum, tempat pertunjukan besar berbentuk elips. Dari artikel-artikel yang sempat saya baca, Colosseum merupakan tempat yang tidak penah dilewatkan para wisatawan saat berkunjung ke Roma. Lokasinya berada di tengah-tengah pusat kota Roma, tepatnya di sisi Timur Roman Forum. Bangunan ini didirikan oleh Vespasian pada masa Domitianus dan diselesaikan oleh anaknya, Titus.

Ramainya wisatawan bikin saya bingung mengambil gambar ;)
Colosseum atau Colosseo merupakan sisa reruntuhan dari amfiteater (nama aslinya Flavian Amphitheatre). Waktu itu digunakan untuk arena gladiator tempat pertarungan antara binatang dan manusia dipertontonkan serta berfungsi sebagai tempat eksekusi para tahanan. Nama Colosseum berasal dari sebuah patung yang memiliki nama Colossus, pengganti raja yang ada di Romawi pada masa itu. Menjadi salah satu karya terbesar dari arsitektur kerajaan Romawi yang dirancang untuk menampung 50 ribu orang penonton.
Ramai sekali wisatawan di sekitar Colosseum. Stefano berulang-ulang mengingatkan saya agar berhati-hati dengan para copet. Saya sudah mendengar cerita buruk itu dari suami. Sebelumnya suami saya juga mengingatkan agar selalu siaga dengan tas yang dibawa. Ah, ternyata copet pun jadi momok yang diwaspadai di Roma. 

Arch of Titus ini yang pertama kali dibuat, yang lainnya mengikuti
Saya mengalihkan perhatian ke bangunan mirip tugu berbentuk huruf “U” terbalik. Bangunan itu bernama Arch of Titus yang menjadi inspirasi (baca-ditiru) oleh Arch de Triomphe karya Napoleon yang ada di Paris. Saya sudah pernah melihat Arch de Triomphe di Paris, jadi tahu bedanya. Arch of Titus lebih sederhana dibanding Arch de Triomphe yang megah dan mewah di Paris. 

Pengambilan foto dari spot yang pas
            Saat ingin menuju spot yang menurut Stefano sering dipakai oleh crew dari Trans TV untuk mengambil gambar Colosseum, saya sempat tertawa. Di sekitar bangunan bersejarah itu, ternyata ramai pedagang musiman yang menjajakan tongsis (tongkat narsis). Saya pun termasuk turis yang menjadi sasaran dagangan mereka. Tapi saya enggak membeli lho. Sesaat setelah itu, mereka lari pontang-panting ketika polisi berpatroli. Ternyata mereka tak diizinkan berdagang tongsis secara bebas di lokasi wisata sejarah itu. Kejadian serupa sering terjadi juga ‘kan di tanah air? *senyum sendiri*

Fora Romano tinggal reruntuhan
            Roman Forum atau dalam bahasa Italianya, Fora Romano, merupakan alun-alun yang dikelilingi oleh reruntuhan bangunan penting bekas pemerintahan Romawi kuno. Sejarah Roman Forum diawali oleh kisah Romulus yang menguasai Palatine Hill dan Titus Tatius yang menguasai Capitoline Hill. Ketika permusuhan keduanya terhenti, mereka membuat kesepakatan untuk membentuk aliansi dan persekutuan.

Roman Forum (doc. pribadi)

            Di antara kedua bukit tersebut terdapat lembah yang disebut sebagai Roman Forum. Di lembah itulah terjadinya gencatan senjata antara Romulus dan Titus. Kini, Roman Forum hanya menyisakan sisa reruntuhan. Yang masih utuh hanya Temple of Saturn. Reruntuhan itu pula yang menjadi objek perhatian para wisatawan, termasuk saya. Namun saya tidak masuk karena menikmatinya dari luar saja sudah cukup menyenangkan.

The Altare della Patria (Victorio Emanuele II Monument)
            Menurut sejarahnya, pembangunan monumen bersejarah ini merupakan ide dari Victor Emmanuel, seorang raja Italia. Bangunan megah ini sudah berdiri sejak tahun 1880 dalam rangka penyatuan Italia. Bangunannya terlihat megah dan kontras dengan yang ada di sekitarnya. Monumen ini ternyata dibangun dengan menggunakan marmer putih, dilengkapi dengan patung besar dan relief hiasan dinding.

Menemani yang di belakang itu :p
The Altare della Patria
            Tidak perlu biaya untuk masuk dan mengelilingi bangunan ini. Hanya butuh antri sebentar jika wisawatan ramai berkunjung. Yang bikin menarik hati saya justru dua penjaga yang berdiri tegap di atas pelataran setelah anak tangga masuk. Mereka seperti menjaga api yang katanya tak boleh padam di sisi kiri dan kanannya. Mirip penjaga istana di Buckhingham Palace. Tidak boleh beranjak sebelum waktu jaganya berakhir.

Via del Corso
            Puas berfoto di Altare della Patria, Stefano kembali mengajak saya berjalan kaki. Kami menyusuri Via del Corso yang menghubungkan Piazza Venezia dan Piazza del Populo. Di sepanjang jalan ini berderet-deret toko busana, parfum, tas, dan sepatu karya para perancang ternama, seperti Gucci, Armani, dan Dior yang menjadi pilihan wisatawan berduit. 

Jalan-jalan yang kami lewati
Saya sekadar “cuci mata” dan malah menikmati pedagang kaki lima yang menjajakan cinderamata di pinggir jalan. Kebiasaan belanja ini pun jadi topik ringan kami sambil menyusuri gang-gang klasik menuju tempat lainnya. Dan, saya bukan tipe traveler yang fokus pada belanja barang branded saat di luar negeri. Saya lebih suka menghabiskan waktu untuk wisata sejarah dan kulinernya.

Suara azan di Pantheon
            Kami terus melangkah hingga tiba di depan bangunan yang merupakan kuil di zaman kekaisaran Romawi. Sekarang, kuil tersebut berubah fungsi sebagai gereja Katolik Roma. Yang menarik, bangunan ini terlihat sangat terawat hingga sekarang. Saya menghitung-hitung lamanya bangunan ini berdiri.


Bagian dalam Pantheon
Lingkaran yang senagaja dibuka di bagian atapnya
            Desain bangunan berbentuk melingkar dengan atap segi tiga dan tiang-tiang tinggi pada bagian terasnya. Awalnya saya enggan untuk memasuki bangunan itu. Apalagi, tak satu pun perempuan berjilbab yang ada di sekitarnya. Namun, niat ingin menelusuri sejarah bangunan itulah yang menggerakkan kaki saya. Ditambah, lubang di bagian tengah atap justru memancing saya untuk melangkah lebih masuk. 

Seajarah berdirinya Pantheon
Tiba-tiba suara azan mengejutkan saya dan Stefano. Tentu saja beberapa pasang mata tertuju ke arah kami. Sumber suara jelas dari arah saya. Stef setengah berbisik mengingatkan bahwa suara itu mungkin dari hape saya. Saya sedikit gugup mengeluarkan hape yang baru saja saya simpan di kantung tas. Benar saja, suara panggilan azan itu ternyata dari hape saya. Spontan saya dan Stefano panik karena sempat bikin kaget orang-orang di dekat kami. “Di dalam gereja kok ada suara azan?” Mungkin itu yang terpikir sekilas di kepala mereka.
Stef buru-buru mengajak saya keluar. Semoga tidak dianggap sengaja dan tak menghormati. Siapa menduga kalau ternyata malam sebelumnya, suami saya mengaktifkan kembali suara azan itu untuk menandai waktu sholat selama di Roma. 


Fontana di Trevi, aksi lempar koin yang sudah memudar
            Selanjutnya kami masih berjalan kaki menuju air mancur Fontana di Trevi. Air mancur dengan patung besar ini dibangun oleh Nicolo Salvi pada pertengahan abad XVIII. Konon, air mengalir itu dikumpulkan oleh para perawan di desa untuk mandi Dewi Agrippa. Karena itulah Fontana di Trevi disebut sebagai Acqua Verdine atau air perawan.


Fontana di Trevi yang tak pernah sepi oleh pengunjung


Dulu, para wisatawan masih bebas melemparkan koin yang dipercaya sebagai harapan suatu saat dapat kembali ke Roma. Koin atau uang logam yang terkumpul di dasar kolam diambil dan disumbangkan ke Palang Merah setempat. Namun sekarang tradisi lempar koin di Fontana di Trevi mulai memudar karena koin-koin itu ternyata sempat merusak bangunan dasar kolam. Eh, tapi tetap ada saja yang diam-diam melemparkan koinnya. Saya memilih tidak melakukan itu.

Mengambil foto cantik dari sisi Barat Villa Borghese Garden
            Perjalanan kami belum selesai. Setelah menikmati makan siang di dekat stasiun Flaminio, kami melanjutkan langkah kaki menuju Villa Borghese. Letaknya ada di atas. Melihat anak tangga yang berundak-undak sebanyak itu, nyali saya mulai menciut. Berjam-jam berjalan kaki, membuat stamina saya mulai menurun. 



Peta Villa Borghese Garden yang luas
            Tantangan Stefano saya tolak mentah-mentah. Saya sudah tidak setangguh dulu lagi (hahaha … mulai lebay). Daripada saya memaksakan diri dan setelahnya K.O, lebih baik memilih alternatif lain. Yang penting tetap bisa sampai di atas.


Spot cantik bernama Pincio
            Akhirnya kami melewati jalanan biasa namun tetap menanjak. Lumayanlah dibanding harus menaiki tangga. Tiba di atas, lelah saya terobati. Spot cantik dari Pincian Hill atau Pincio membuat mata puas menatap ke bawah. Di bawah sana terlihat Piazza del Popolo. Saya menyapu pandangan ke segala arah dan bagian kota Roma.


Berlagak jadi peraga busana di Spanish Step
            Di sisa-sisa tenaga, kami sampai juga di Spanish Step. Sebuah tangga lebar yang menghubungkan Piazza di Spagna (Spanish Square) di bagian bawah dan Piazza dei Monti di depan gereja Trinita dei Monti di bagian atas.


Bukan ini lho peragawatinya :p
Susah mau milih duduk di mana
            Saat menuruni tangga, Stefano mengatakan bahwa tangga ini pernah dipakai oleh para peragawati untuk pameran penutupan pekan mode tahunan. Saya spontan sok merasa seperti peragawati yang gagal diet. *dilarang ngikik berjema’ah ya*       
              Setelah sampai di bawah, masih ada air mancur lagi. Saya berpikir bahwa orang Roma sangat suka dengan air mancur. Air mancur (Fontana della Barcaccia) di area Spanish Step ini adalah karya Bernini. Karena ada pemugaran, hasil foto yang saya ambil pun terasa kurang maksimal. 
 

Fontana della Barcaccia (doc. pribadi)
            Spanish Step dan sekitarnya menjadi akhir destinasi yang ditawarkan Stefano kepada saya. Setelah lima jam didampingi “tour guide” yang sabar, akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke hotel. Tapi, jangan lupa untuk kembali lagi ke blog saya ini ya. Masih ada lanjutan catatan jalan-jalan saya di Roma untuk hari berikutnya. Sampai jumpa. Salam. [Wylvera W.]

To be continued