Laman

Jumat, 22 Juli 2016

Restoran Lengkap ala Grand Nikko Bali



            Halo Sobat Traveler dari seluruh Indonesia…!
Sudah berpetualang ke mana saja? Saya adalah salah satu Traveler yang suka melihat keindahan Indonesia. Tapi mungkin pengalaman berpetualangnya lebih banyak kalian daripada saya.
            Sudah pernah ke Bali, belum? Saya mau bercerita tentang satu restoran dengan fasilitasnya yang lengkap. Restoran itu ada di hotel yang saya singgahi saat di Bali. Siapa tahu, bisa menjadi referensi buat Sobat yang belum atau ingin bermain ke Bali.
            Grand Nikko Bali namanya. Hotel ini didirikan oleh perusahaan Japan Airline Development Company (JDC). Saat ini hotel nikko sudah tersebar di seluruh dunia dan salah satunya ada di Bali. Letak hotel berbintang lima ini ada di Jl. Raya Nusa Dua Selatan, Bali. Grand Nikko Bali menyediakan sekitar 389 kamar dengan berbagai tipe, fasilitas, dan harga yang beragam. Sobat Traveler bisa memilihnya sesuai dengan kebutuhan dan isi kantong.

Sumber: grandnikkobali.com

            Selain fasilitas kamar, Grand Nikko Bali juga menyewakan 19 villa mewah dengan konsep kontemporer. Sobat Traveler bisa menginap bersama keluarga dan teman-teman di villa itu. Hotel ini sangat menarik di penyediaan kulinernya. Sobat Traveler bisa memanjakan lidah dan perut dengan sajian makanan serta minuman di banyak tempat.           
Inilah beberapa restoran yang saya jelajahi di dalam hotel.

Brasserie de Celebrities Restaurant

Sumber: galahotels.com

Restoran ini sangat luas dan keren. Biasanya, restoran ini digunakan untuk menyantap hidangan sarapan dan makan malam. Ada sekitar 206 kursi makan yang tertata rapi. Terdiri dari 132 kursi indoor dan 74 kursi outdoor. Letak Restoran ini pun gampang dijangkau. Lokasinya ada di lobi hotel.

Delicatesson Lounges
Tempat ini merupakan salah satu bar yang dimiliki Grand Nikko Bali. Bar ini
letaknya juga di lobi lantai dasar. Berfungsi sebagai ruang tunggu untuk tamu yang berkunjung. Sayangnya, di sana hanya tersedia 16 kursi saja.
Di bar ini hanya menyediakan makanan ringan saja. Jadi, jika Sobat Traveler benar-benar lapar, jangan ke bar ini, langsung saja ke restoran yang ada. Bar ini juga hanya dibuka pada waktu tertentu saja, yaitu pada pukul 11.30 15.00 waktu Bali. Lalu dibuka kembali pada 17.00 – 23.00 waktu Bali.

Benkey Japanese Restaurant
Ini dia yang menjadi ciri khas dari semua hotel Grand Nikko, Sob! Restoran ini menyediakan berbagai makanan Jepang dengan menggunakan teknik penyajian ala Jepang pula. Sobat Traveler yang menyukai masakan Jepang, wajib untuk makan di restoran ini. Dari makanan lunch hingga dinner disediakan. Terdapat 121 kursi duduk yang sudah terfasilitasi.

The Shore Restaurant
Restoran ini menyajikan menu ringan dan minuman seperti es krim dan lainnya. Yang menyenangkan, restoran ini menyajikan keindahan panorama Pantai Nusa Dua yang letaknya berada di depannya. Restoran ini dibuka pada jam 10 pagi hingga 10 malam.
Itulah beberapa restoran yang saya ketahui, Sob! Mungkin terdapat restoran maupun bar lainnya yang belum saya jajahi di hotel ini. Satu lagi, kalau kamu mau sekalian menginap di hotel ini, kamu bisa coba booking pakai situs travel online seperti traveloka. Menurut saya cara itu akan memudahkan, enggak pakai ribet.
Cukup lengkap, bukan? Selain letaknya di dekat Pantai Nusa Dua, sekitar 2,43 km dari hotel, kamu akan menemukan Pantai Mengiat, Sob!
Pantai yang tak kalah indahnya dengan Pantai Nusa Dua. Pantai ini mendapatkan julukan sebagai pantai yang paling bersih di Bali. Kamu akan betah berlama-lama menikmati keindahan pantainya. Sebab akan terasa sangat nyaman. Pasir pantai yang berwarna putih membuatnya semakin cantik.
Di Pantai Mengiat, terdapat titik selam untuk kegiatan snorkeling. Kamu akan melihat keindahan bawah laut dari sana, Sob! Bermacam-macam ikan dan bentuk karang akan terlihat jelas dari bawah air. Silakan coba, lalu rasakan sensasi yang menyenangkan.
Pantai Mengiat juga sering dikenal dengan Pantai Nelayan. Kamu akan melihat perahu-perahu nelayan yang diparkir dengan rapih di tepi pantai. Yang lebih mengasyikkannya lagi, kalau kamu datang pagi-pagi hanya untuk melihat sunrise, dari sana akan terlihat jelas. Menakjubkan!
Tunggu apa lagi? Kamu harus berkunjung ke Bali dan rasakan sensasinya!

Kamis, 14 Juli 2016

Berkunjung ke Istana Maimun



Istana Maimun tampak dari depan (foto pribadi)
            Berwisata ke kota Medan, rasanya tidak lengkap kalau tidak berkunjung ke Istana Maimun. Nama besar istana ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Atau masih adakah yang belum mengenal Istana Maimun? Baiklah, mari simak catatan saya saat berkunjung ke bangunan yang didominasi warna kuning ini.
            Istana Maimun merupakan salah satu peninggalan sejarah yang usianya sudah ratusan tahun. Hingga kini, keberadaannya masih menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke kota Medan. Letak bangunannya sangat strategis dan berada di jantung kota. Tepatnya di Jl. Al Rasyif No. 66, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun, Medan.

Istana Maimun dan daya tariknya
            Sejak menikah dan meninggalkan kota kelahiran saya (Medan) tahun 1997 yang lalu, entah berapa kali sudah saya dan keluarga pulang dalam rangka mudik lebaran. Namun, tidak pernah terpikir untuk sekali pun mampir dan mengulas tentang pesona istana yang masih tampak megah ini. Kalau pun pernah, saya hanya sekadar mampir sejenak, berfoto, melupakannya begitu saja. 
Di momen mudik lebaran 2016 kali ini, saya benar-benar ingin kembali ke istana itu. Ketika memasuki dua hari terakhir Ramadan, keinginan saya begitu kuat. Maka saya pun mengajak adik ipar dan putri saya Mira untuk bersama-sama berkunjung ke Istana Maimun. Kami tiba di lokasi sekitar jam sebelas siang. Panas matahari yang mencapai 38 derajat Celcius, seakan menembus kaca jendela mobil. Namun, niat kuat melebihi rasa panas yang menyengat itu. 

Jadwal kunjungan dan atraksi yang digelar
Saya dan Mira di depan bangunan istana
Saya parkirkan mobil di area yang dikhususkan untuk kendaraan para pengunjung. Begitu turun dari mobil, saya langsung merasakan aura adat Melayu yang khas. Warna kuning sejatinya adalah salah satu ciri khas suku Melayu. Pesona bangunan istana yang dicat dengan dominasi warna kuning langsung terpancar. Sebelum memasuki istana, saya memilih memuaskan pandangan pada kemegahan bangunan yang luasnya 2772 m2 dengan 3 bagian bangunan, yaitu bangunan induk, sayap kiri, dan kanan. 
Masuk melewati anak tangga ini (dokpri)
Di ruang utama (dokpri)

            Istana ini bertingkat dua yang sekelilingnya ditopang oleh 82 buah tiang batu dan 43 tiang kayu dengan lengkungan-lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik dan ladam kuda. Atapnya berbentuk limasan dan kubah (dome) dengan bahan atap sirap serta tembaga (seng). Atap limasan terdapat pada bangunan-bangunan induk, sayap kiri dan kanan. Sementara atap kubah (dome) sebanyak tiga buah ada di bagian depan.

Langit-langit istana dan lampu kristalnya
Koleksi foto-foto keluarga Sultan
            Setelah puas melihat sisi luar istana, kami pun memutuskan untuk masuk melewati pintu masuk dengan koridor bertangga dari batu pualam. Kami pun naik ke bangunan induk yang berteras di kiri dan kanannya. Mereka menyebutnya anjungan. Melalui gerbang dengan penyekat pintu dorong ala Eropa, kami  menuju ruangan tempat Sulat menerima tamu-tamu resminya di masa itu. Di kiri dan kanan terdapat kamar kerja para penjawat dan para dayang (pembantu-pembantu pria dan wanita yang mengabdi pada Sultan). 


Singgasana Sultan Deli
            Di sisi ruang induk terdapat singgasana Sultan yang didominasi oleh warna kuning keemasan.  Bentuknya persegi empat, lengkap dengan kubah dan lengkungan runcing pada ketiga sisinya. Ruangan ini disebut balairung yang diterangi oleh cahata lampu-lampu Kristal buatan Eropa. Pada dinding ruangan terdapat pajangan figura dan lukisan serta foto-foto Sultan Deli terdahulu. 

Merasakan duduk di kursi Sultan
            Saya dan Mira tidak puas hanya melihat balairung saja. Kami pun menuju ruangan yang berada di belakang. Dulu, ruangan ini dipakai sebagai tempat upacara pernikahan dan ruang makan keluarga Sultan. Di ruangan ini pula kami melihat 2 buah kursi yang menjadi kursi tahta sang Sultan, berikut lemari dan 2 meja buatan Eropa.

 Berpakaian ala Putri Deli
            Setelah puas mengitari ruangan, saya tertarik untuk mencoba pakaian adat Melayu yang di masa itu dikenakan oleh Putri Deli. Beberapa pengunjung lainnya pun melakukan hal yang sama. Pakaian-pakaian kebesaran itu ternyata disewakan dengan harga 25 ribu untuk satu set komplit dengan mahkotanya. Cukupn murah ‘kan? Sayang untuk dilewatkan. 

Koleksi songket Melayu yang dijual pada pengunjung
Aneka suvenir yang dijual
Tidak hanya itu, ruangan yang disetting seperti toko dalam istana itu juga menjual kain-kain songket khas Melayu dan barang-barang souvenir Melayu lainnya. Dalam hati saya berniat akan membeli beberapa kain songket tersebut untuk melengkapi koleksi saya. Namun sebelumnya, saya akan memuaskan hati terlebih dahulu dengan busana adatnya. 

Saya dan pakaian putri Melayu
            Anak saya Mira dan Bu’le nya memilih menjadi juru foto saja. Setelah usai didandani oleh penjaga toko, saya pun beraksi bak seorang putri. Warna kuning emas dari gaun yang saya kenakan memancarkan warna kebesaran Kerajaan Melayu. Mira yang menjadi pengarah gaya, membuat saya puas berfoto dengan menganakan busana adat Melayu itu. Serasa menjelama menjadi Putri Hijau sehari.

Meriam Puntung dan Legenda Putri Hijau
            Berada di lokasi Istana Maimun, membuat saya ingat pada kisah tiga orang kakak beradik yang terkait dengan meriam. Sekitar tahun 1612, terdapat kerajaan Haru Baru yang diperkirakan terletak di daerah Deli Tua sekarang ini. Rajanya memiliki tiga orang putra dan putri. Mereka adalah Mambang Diazid, Putri Hijau, dan Mambang Khayali (Mambang Sakti).  

Kami memutuskan untuk keluar dari istana menuju tempat penyimpanan meriam tersebut. Lokasi bangunan tempat menyimpan meriam itu terletak di sebelah bangunan istana. Melihat bentuk bangunan kecil itu, saya teringat pada rumah-rumah adat Batak Karo. 

Rumah tempat penyimpanan meriam puntung
Dikisahkan pada zaman itu, Kerajaan Haru Baru mendapat serangan dari Kerajaan Aceh yang marah karena pinangannya terhadap Putri Hijau ditolak. Pada saat pasukan dari Kerajaan Aceh mampu menjebol pertahanan Kerajaan Haru Baru, Mambang Khayali (Mambang Sakti) pun menghilang lalu tiba-tiba sebuah meriam meletus terus-menerus. Karena meletus tanpa jeda, meriam tersebut menjadi panas dan akhirnya pecah beberapa bagian. Maka sejak itu dinamakan menjadi Meriam Puntung
Dalam hikayatnya, meriam puntung merupakan jelmaan dari Mambang Khayali. Hingga saat ini, meriam tersebut masih menyimpan suara gemuruh di dalamnya. Jika kita menempelkan telingan di lubangnya, maka suara gemuruh itu jelas sekali terdengar. Konon katanya, suara itu sisa dari ledakan amarah meriam. Hingga saat ini, pecahan meriam tersebut terpisah di dua tempat. Satu di Istana Maimun dan sisanya ada di Desa Sukanalu dataran tinggi Karo. 

Saya penasaran ingin mendengar suara gemuruh yang berada di dalam meriam
Rasa penasaran saya terhadap bentuk bangunan yang menyimpan meriam puntung pun akhirnya terjawab. Sementara legenda Putri Hijau, dikisahkan bahwa di masa itu, Raja Aceh ingin mempersunting Putri Hijau yang cantik jelita. Disebut sebagai Putri Hijau sebab dari tubuhnya sering memancar kilau berwarna hijau. Sebenarnya Putri Hijau menolak pinangan Raja Aceh dengan mengajukan tiga syarat yang diperkirakan sulit untuk dipenuhi. Namun, Raja Aceh mampu memenuhi permintaan Putri Hijau untuk memberikannya peti kaca (digunakan untuk membawa Putri Hijau menuju Aceh), bertih (padi yang dipanaskan tanpa minyak), telur ayam (yang setelahnya akan ditaburkan ke laut saat kapal yang membawa putri menuju pelabuhan Kerajaan Aceh).

Hanya butuh 3000 rupiah untuk bisa melihat ini
Dalam perjalanan menyeberangi laut yang hampir tiba di Kerajaan Aceh, bertih dan telur ayam yang ditaburkan ke laut memunculkan seekor naga dari dalam laut. Konon, naga tersebut merupakan jelmaan dari Mambang Diazid (saudara laki-laki Putri Hijau). Naga tersebut pun menyambar Putri Hijau beserta peti kacanya lalu menghilang ke dalam laut. Kejadian tersebut disaksikan oleh masyarakat Aceh yang berada di tepian pelabuhan. Pelabuhan tersebut diperkirakan di daerah Panton Labu, Aceh Timur sekarang.
Berkunjung ke Istana Maimun dan menyimak rangkain sejarah singkatnya, membuat momen mudik saya kali ini sangat berkesan. Saya yang lahir dan besar di Medan, sebelumnya tidak pernah begitu antusias menyalin ulang bagian dari sejarah dan legenda ini. Untunglah, keinginan itu begitu kuat menyertai saya di kesempatan pulang kampung kali ini. Semoga masih ada kesempatan lagi untuk mengulik sejarah lainnya yang tersisa di kota Medan. Sampai jumpa! [Wylvera W.]