Laman

Senin, 28 September 2015

Mount Rushmore, Bukti Sebuah Penghormatan

Adakah yang tak kenal dengan Mount Rushmore? Nah, bagi yang belum pernah berkunjung ke sana, saya mau berbagi pengalaman lagi di sini. Saat itu (2008), masih di rangkain perjalanan liburan musim panas kami sekeluarga. Mount Rushmore yang terpampang “angkuh” dan bersejarah itu, menjadi salah satu destinasi pilihan kami. 
Beginilah penampakan wajah-wajah mantan presiden Amrik itu (dokpri)
Mount Rushmore yang letaknya di Dakota Selatan itu menjadi sangat terkenal. Di sanalah wajah empat Presiden Amerika terpahat dengan megah. Sejak awal pembuatan empat wajah Presiden itu tak lain ditujukan untuk menarik wisatawan ke bukit karang, Black Hills, South Dakota. Sementara, ide mengukir Mount Rushmore itu dilontarkan oleh Doane Robinson (salah satu sejarawan), pada tahun 1923. 
Mira dan Khalid
Kami, berlatar belakang wajah empat Presiden Amerika.
Selanjutnya, Peter Norbeck (Senator Dakota Selatan) pun menyetujui proposal yang diajukan. Bantuan anggaran juga akhirnya diperolah dari dana federal untuk menyelesaikan proyek tersebut. Doane Robinson meminta arsitek dan pematung Gutzon Borglum untuk mendesain serta memahatnya. Terpilihnya Mount Rushmore sebagai tempat pemahatan empat wajah Presiden Amerika. Posisi Mount Rushmore yang menghadap Tenggara selalu mendapat terpaan sinar matahari lebih banyak sehingga bisa langsung terlihat oleh pengunjung. Mount Rushmore juga merupakan puncak tertinggi  di daerah itu serta terbuat dari granit yang akan membuatnya tahan terhadap erosi.
Di sinilah bagian kisah pembuatan wajah para pemimpin itu.
Beberapa alat yang digunakan dalam proyek.
Lincoln Mask
Setelah memutuskan memahat wajah empat wajah Presiden Amerika Serikat (George Washington, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, dan Theodore Roosevelt), maka Gutzon Borglum pun memulai proyeknya pada tanggal 4 Oktober 1927. Terpilihnya wajah keempat Presiden tersebut bukan tanpa alasan. Masing-masing figur memiliki peran besar dalam sejarah Amerika Serikat.
Washington berjasa dalam menerapkan demokrasi di Amerika. Thomas Jefferson mematangkan konsep “pemerintahan oleh rakyat” serta membuat wilayah Amerika Serikat hampir menjadi dua kali lipat pada tahun 1803 dengan pembelian Louisiana yang menjadi South Dakota. Abraham Lincoln berjasa dalam memberantas sistim perbudakan di Amerika. Theodore Roosevelt terkenal dengan reformasi bisnis yang memperkenalkan National Park Service.
Melihat hasilnya, tentulah tidak mudah mengerjakan proyek tersebut. Borglum bersama para pekerjanya rela bergelantungan untuk memahat patung-patung itu di ketinggian lebih dari 150 meter dari atas lembah. Mereka menggunakan beragam alat, mulai dari pahat hingga dinamit untuk mengawali serta membentuk wajah-wajah keempat Presiden itu. 
Awalnya ingin dibuat seperti ini, tapi akhirnya hanya bagian wajah saja.
Menurut informasi, dana yang dibutuhkan untuk proyek tersebut sekitar US$500.000,- untuk masa kerja tidak lebih dari 6 tahun. Ada beberapa kendala yang sempat terjadi dalam pengerjaannya. Diantaranya, pengelupasan, ada yang retak, dan sebagainya, sehingga dana menjadi membengkak mencapai lebih dari $900.000.- Akhirnya proyek yang diawali dengan pengukiran wajah George Washington itu selesai di tahun 1941.
Hingga saat ini Mount Rushmore menjadi salah satu objek wisata terbesar di Amerika. Saya dan keluarga pun telah meninggalkan jejak kaki kami di sana. Untuk sejarah lengkapnya, bisa disimak di sini  [Wylvera W.]

Sabtu, 26 September 2015

Perjalanan ke Grand Canyon, Arizona

            Banyak kenangan indah yang sempat kami rasakan ketika tinggal di Amerika. Salah satunya adalah saat-saat menghabiskan waktu panjang pada musim panasnya. Dari waktu libur yang begitu panjang (1 ½ bulan), tentunya kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengeksplorasi sebagian kecil dari benua yang luasnya sekitar  42.188.568 km² itu. Dari rangkain perjalanan panjang yang kami lalui, Grand Canyon menjadi salah satu destinasi yang tercatat di agenda. 


Mobil kami tiba di pintu masuk Grand Canyon
            Begitu memasuki gerbang lokasi wisata, kami melihat antrian mobil yang lumayan padat. Layaknya tempat-tempat wisata di tanah air, Grand Canyon juga memberlakukan tarif kunjungan. Semua tercatat di pintu masuk. Anda tinggal memilih. 

Tarif pengunjung
            Grand Canyon yang terletak di Utara Arizona ini adalah ngarai  besar  dan merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Keindahan ngarainya membuat tempat ini dikunjungi lebih dari lima juta orang setiap tahunnya. Pada musim panas, Grand Canyon paling ramai dikunjungi oleh wisawatan. Jadi, kedatangan kami sangat tepat pada waktu itu. Namun, jika ingin mendaki ke ngarainya yang dalam, musim semi dan gugur adalah waktu yang lebih tepat karena udara lumayan bersahabat di kulit.
Mira dan Khalid
Saya dan suami
Katanya, bumi ini memerlukan kurang lebih 1,7 miliar tahun untuk membentuk tebing-tebing Grand Canyon. Lalu, proses pembentukannya telah melewati beragam periode. Mulai dari periode perubahan iklim, pembentukan gunung, dan banyak lagi periode lainnya.
Sungai Colorado memiliki andil besar dalam membentuk Grand Canyon.  Sungai Colorado ini  pula yang memotong sebuah selat selama jutaan tahun. Panjangnya kira-kira 446 km, dengan lebar mulai dari 6 sampai 29 km dan dengan kedalaman lebih dari 1.600 m. (Sumber:Wikipedia).  
Foto koleksi pribadi
Kami dan turis lokal. :)
Meskipun Grand Canyon bukan ngarai terluas dan terdalam di dunia, tetapi pemandangannya menawarkan sebuah snapshot yang luar biasa dalam sejarah geologi Amerika Utara. Grand Canyon juga terkenal dengan keunikan warna-warni landscape-nya serta sejarah bumi yang terkandung di dalamnya. Keunikan inilah yang menyebabkan Grand Canyon  banyak dikunjungi oleh wisatawan setiap tahunnya. 
Pertanyaan yang kini suka muncul dibenak saya, “Kapan ya bisa berkunjung ke sini lagi?” [Wylvera W.]

Secuil Kenangan yang Terekam dari Lille

#Repost


Akhir tahun 2008 merupakan perjalanan panjang kami sekeluarga dari Amerika menuju Eropa. Kesempatan yang mungkin tak akan terulang kembali itu membuat suami saya memutuskan untuk menyinggahi Jerman, Swiss serta Perancis dan kota-kota di sekitarnya. Salah satu kota yang sempat kami singgahi adalah Lille. Kota ini terletak di sebelah Utara Perancis, wilayah Nord Pas de Calais dan berdekatan pula dengan perbatasan Belgia. Nama Lille katanya berasal dari kata “l’Ille’ yang dalam Bahasa Perancis artinya pulau kecil. Tapi, walaupun kotanya kecil, Lille merupakan daerah metropolitan terbesar keempat di Perancis.

Stasiun kereta api Lille Flanders (dokpri)

Dari Paris kami memilih naik kereta api TGV (Train Grain Vitesse, kereta api dengan kecepatan tinggi milik Prancis) menuju Lille. Tiketnya sekitar 55 euro/orang waktu itu. Perjalanan dari Bandara CDG (Charles de Gaulle), Paris, Perancis menghabiskan waktu sekitar 1 ½ jam. Dari stasiun Lille Europe kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan metro (kereta bawah tanah) menuju stasiun Lille Flanders.



Saat itu sedang musim dingin. Begitu ke luar dari stasiun kereta api, udara dingin langsung menyengat kulit wajah kami. Kami menikmati sudut-sudut kota yang tenang itu dengan berjalan kaki. Dan, anak-anak saya tetap enjoy, menikmati perjalanan itu. Ternyata dari apa yang saya baca menjelaskan bahwa kota yang terletak di bagian Utara Perancis ini memang memiliki suhu lebih dingin dibanding Paris. Musim dingin seperti saat itu suhu bisa mencapai 6 – 8 derajat Celcius. Sungguh tidak nyaman kalau tidak mengenakan busana anti dingin. Apalagi buat saya yang sedikit rentan pada udara dingin. Untunglah satu setengah tahun lebih tinggal di Amerika telah membuat saya beradaptasi.

Lille juga diwarnai oleh ciri khas bangunan yang unik seperti kota-kota lain di Perancis. Kota Lille bercirikan Flemish (Belgia) – Perancis (abad ke-17) hingga bangunan modern menghiasi beberapa kota. Uniknya, di banyak bangunan kita dapat melihat penanda tahun kapan bangunan itu didirikan. Place du General de Gaulle atau disebut Grand Place merupakan tempat penting di kota ini. Sementara museum kedua tertua di Perancis, Palace of Fine Arts, juga terletak di kota ini.
La Grande Place, Lille
La Palais des Beaux - Arts de Lille

Mira dan Khalid yang menghadap depan. :)
Lille mengingatkan kita pada dua nama terkenal di Perancis serta dunia, yaitu Louis Pasteur dan Charles de Gaulle. Pasteur datang ke Lille untuk melakukan riset fermentasinya. Hasil karyanya ini berbentuk penemuan pada pasteurisasi. Pasteur  menjadi dekan College of Science di Lille. Sedangkan Charles de Gaulle, yang namanya diabadikan di Airport International Paris juga lahir di sini.
Kebersamaan kami di sana tetaplah menjadi sebuah catatan kenangan yang hingga kini masih melekat dan sesekali membuat rindu untuk kembali. Semoga suatu saat nanti kami berempat bisa mengulang perjalanan ke sana serta menyusuri tempat-tempat bersejarah yang mungkin luput dari bidikan kamera kami ketika itu. [Wylvera W.]
Note: Semua foto di sini adalah koleksi pribadi

Interlaken, I Miss You!

Saya berani mengatakan bahwa Swiss adalah salah satu negara terindah di dunia. Bahkan saya sempat menyebutnya “The Most Beautiful Country in the World”. Swiss bukan hanya gudangnya penikmat cokelat berkelas atau pencinta koleksi jam tangan mahal, di sana juga tersebar pegunungan salju dan lembah bunga nan indah. 
Kanal di Interlaken yang ngangeni. (Foto: thn 2004)
Dan, tiga kali mengunjungi Swiss, saya tetap menyimpulkan bahwa Interlaken (sebuah kota kecil di Provinsi Bernese Highland, Switzerland) lah yang menjadi daya tarik dan sudut terindah negeri itu. Kesimpulan ini saya buat sebab ketika dua kali mengunjungi Interlaken, puncak bersalju pegunungan Alpen memantul di permukaan danau yang tenang langsung membius mata dan hati. Bukit dan lembah berbunga terhampar laksana permadani. Rumah-rumah kayu dan pohon pinus semakin melengkapi panorama bagaikan lukisan alam yang mempesona.
Ini bukan gembalanya ya. ;)
Ketika pertama kali datang ke kota ini, salju belum begitu tebal menyelimuti permukaan datarannya. Serasa berada di negeri Heidy si penggembala domba, saya sempat jatuh cinta pada kanal dan hamparan padang rumput serta sapi-sapi gemuknya. Di tepi kanal itulah saya  menghabiskan waktu untuk berpose. Kunjungan kedua, saya tak sempat menjenguk kota teduh itu. Baru ketigakalinya, saya dan keluarga tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melepas rindu. Sayang, anak-anak kami tak sempat memanjakan mata mereka dengan hamparan rumput dan sapi-sapi piaraan para peternak di sana, sebab kami datang di saat musim salju mulai menebal.
Interlaken tetap cantik diselimuti salju. (Foto: 2009)
Saya, Mira dan Khalid
Interlaken terletak di antara dua danau, Thun dan Brienz, berada di bawah bayang-bayang gunung Eiger, Monch dan Jungfrau. Bukan hanya sebagai lokasi favorit untuk aktivitas traveling (seperti naik kapal mengeliling danau hingga menaiki kereta gantung, main kano, bersepeda mengelilingi danau Brienz serta berkunjung ke air terjun Giessbach), Interlaken telah mampu membius wisatawan betah berlama-lama di sini untuk menikmati panoramanya yang luar biasa indah.
Hahaha... ada yang terpisah di sudut sana. ;)
Tak ada batasan musim yang bisa membatasi kita untuk berkunjung ke kota ini. Interlaken selalu terlihat cantik baik di musim dingin maupun panas. Untuk berkunjung ke Interlaken pun banyak tersedia penerbangan dengan pilihan harga. Ketika tiba di Zurich, kita tinggal memilih mau memulai perjalanan dari mana. Bisa dari Zurich, Genewa, Berne, Luzern, atau kota Basel. 
Stasiun kereta di Basel (Basel Bahnhof)
Di dalam kereta (Mira dan Khalid)

Ibu dan Bapak ;)
Kalau saya lebih memilih perjalanan dengan kereta api dari Basel, kota kecil yang biasa kami pakai untuk menginap jika ke Swiss. Perjalanan dari Basel ke Interlaken akan dimanjakan oleh panorama alam yang begitu memukau dari balik kaca jendela.
Menuliskan catatan ini membuat hati semakin digerayangi kerinduan. Duh! Interlaken, semoga lain waktu saya dan keluarga bisa kembali ke sana. [Wylvera W.]

Jumat, 25 September 2015

Cambridge, Kota Romantis nan Elegan.


Catatan perjalanan ini telah dimuat di Majalah Annisa, edisi Januari - Februari 2014
Naskah asli

Perjalanan ini sudah lumayan lama tersimpan di catatan kenangan saya. Rasanya sayang jika tak mengabadikannya di blog tercinta. Sambil merajut kenangan, hati saya kembali rindu pada kota cantik itu. Siapa tahu, setelah membaca ini Anda juga berencana ke sana. Simak yuk! 
Musim dingin belum sempurna menyelimuti negeri Ratu Elizabeth, namun pagi itu udara London sudah sangat menusuk di kulit kami. Masih terlalu pagi, tapi saya dan suami sudah siap menempuh perjalanan dari London menuju Cambridge. Dengan berbekal peta, kami siap melakukan perjalanan panjang dengan kereta antar kota. 
Kereta pun melaju dengan kecepatan sedang. Mata saya mulai dimanjakan oleh keindahan alam di balik jendela kereta. Panorama dari pepohonan masih menyisakan dedaunan yang berwarna-warni. Pemandangan yang tak akan pernah saya temui di tanah air. Begitu mengagumkan!

Pemandangan dari balik kaca jendela kereta

Di setengah jam perjalanan, perut saya mulai berbunyi. Tak banyak bekal yang kami bawa. Demi menghemat dana di negara mahal ini, kami hanya membeli empat buah pisang dan dua kotak sandwich tuna. Cukup mengenyangkan dan hanya menghabiskan uang sekitar £7.58 atau Rp110.000. Jauh lebih hemat jika dibandingkan makan di restoran yang harganya bisa puluhan Poundsterling.
Tak terasa kereta yang kami tumpangi tiba di stasiun Cambridge, sebuah kota yang memiliki kekayaan sejarah, pendidikan, serta budaya. Begitu turun dari kereta, suami saya langsung menuju etalase yang memajang beberapa buku panduan perjalanan, termasuk peta kota Cambridge. Kami pilih peta yang gratis saja.

Cambridge's station 

Sebelum berkunjung ke kota ini, saya sempat dikejutkan dengan hasil survei yang dilakukan sebuah situs pencari jodoh yang mengatakan bahwa Cambridge konon disebut sebagai pusat seks di Inggris. Benarkah? Ah, saya tak mau ambil pusing dengan hasil survei itu. Tujuan kami hanya satu, menyusuri kota yang penuh sejarah dan keindahan alamnya.
Begitu tiba, saya justru mengambil kesimpulan kalau Cambridge adalah salah satu kota terindah di United Kingdom. Selain warna-warni daun dari pepohonan yang sangat menyejukkan mata, kota ini dipenuhi dengan bangunan-bangunan antik yang masih asli, tampak asri, nyaman, dan teratur. Nama Cambridge sendiri katanya diambil dari kata River ‘Cam’ dan ‘bridge’ (jembatan). Dengan begitu, Cambridge berarti jembatan yang menghubungkan dua wilayah yang dipisah oleh sungai Cam.

Bridge on the River Cam 

Cambridge juga terkenal sebagai salah satu kota pelajar terbesar di Inggris. Di sana berdiri megah Cambridge University yang menjadi universitas tertua berumur kurang lebih 800 tahun. Universitas ini juga telah memikat para pelajar di seluruh dunia agar bisa diterima di sana. 
Kota yang letaknya di dataran Inggris ini dikenal memiliki tanah yang subur dan luas. Sungai-sungainya juga indah dengan pemandangan alam yang membuat hati ingin berlama-lama di sana. Buat saya, kota ini sangat recommended untuk dikunjungi.
Punting di River Cam
Kami terus melangkah menyusuri jalan-jalan yang bersih dan tertata rapi. Tak sedikit pun terasa lelah. Hingga kami tiba di tepi River Cam. Sungai yang indah ini terbentang membelah kota Cambridge. 

River Cam 

Tak sah katanya jika sudah tiba di Cambridge tapi tak menyusuri aliran sungai Cam ini. Maka, saya dan suami pun tertarik untuk melakukan punting. Punt adalah nama jenis perahu kayu tradisional Inggris yang berbentuk oval memanjang. Kegiatan berperahunya sendiri disebut punting. Tarifnya £12.00 atau sekitar Rp174.000 per jam per orang. Tarif ini berlaku jika memakai pemandu. 
Jika ingin melihat tarif atau membeli tiket, Anda bisa melihatnya di http://www.thecambridgepuntingcompany.co.uk/prices/

Saya dan suami

Perahu untuk punting
                                                              
Berkali-kali lidah saya berdecak kagum. Pemandangan menakjubkan terbentang di kiri kanan River Cam. Karena area sungai letaknya di belakang kompleks Universitas Cambridge, maka sekitar sepuluh bangunan yang merupakan bagian dari Unversitas Cambridge akan memuaskan mata selama perahu berjalan di atas sungai Cam.
Bagi Anda yang ingin melakukan perjalanan bulan madu, punting ini akan memberikan catatan romantis yang akan sulit untuk dilupakan. Aroma air dan kesegaran udara musim semi, sangat mendukung kebersamaan Anda dengan pasangan. Begitu juga jika Anda berniat membawa keluarga ke sini. Dijamin! Decak kagum akan mewarnai perjalanan Anda dan keluarga selama berada di atas punt. Sambil mendengarkan sejarah tentang kota Cambridge oleh pengendali perahu yang kami naiki, kami tak melepaskan momen untuk mengabadikan setiap pemandangan yang indah di sisi kiri kanan sungai Cam.

View from Cambridge River

The Bridge of Sight

One View of The Back 

Dari sungai Cam Anda bisa mengabadikan beberapa gedung untuk Christ College, King’s College, Queen’College, St. John’s, Trinity dan Emmanuel College. Semua bangunan itu merupakan sekolah terkenal di Cambridge University. Bangunan antik yang didirikan pada abad 15 dan 16 ini sangat terawat dengan baik. 
King's College Chapel 

Selama ber-punting saya tak henti-hentinya mensyukuri keindahan alam ciptaan-Nya. Mulai dari tiupan angin yang sejuk, pepohonan dengan daun yang berwarna-warni, serta burung dan angsa yang bercengkerama di sungai sungguh-sungguh memuaskan mata dan hati. 
Clare Bridge 

New Cort at St. John’s College, View from Cambridge River 

Serasa tak ingin beranjak dari pemandangan yang semakin memikat mata dan hati, kami terus menelusuri sudut-sudut kota. Bentuk konstruksi bangunan yang didirikan pada akhir abad pertengahan ini, memberi ciri bahwa Cambridge terimbas oleh gaya gothic. 


View of The City 

Anda akan disuguhi interior yang indah dan antik di dalam gedung Cambridge University. Menurut informasi dari sejarahnya, semua itu merupakan warisan sejarah kebesaran Inggris yang tidak terhingga nilainya.
Peterhouse yang di dirikan oleh Hugh de Balsham, pada tahun 1284 merupakan bangunan yang pertama kali didirikan. Kemudian berturut-turut Clare, Gonville, Trinity Hall dan Corpus Christi yang didirikan di awal abad ke 14.

Peter house 

Kami belum ingin menghentikan eksplorasi di kota Cambridge. Sehari yang kami habiskan di kota ini menyisakan kenangan dan momen yang sangat mengesankan. Ditambah pemandangan tiap sudut kota yang menggambarkan romantisme abad 15 menjadikan pengalaman indah yang tak mungkin terlupakan. 
Pilihan transportasi 
Memilih transportasi akan sangat berpengaruh pada anggaran perjalanan Anda menuju kota Cambridge. Karena perjalanan kami dimulai dari kota London, maka menetapkan pilihan tidak terlalu sulit. Sebelumnya, keberangkatan dan destinasi pertama yang kami tuju dari Jakarta adalah London. Setelah beberapa hari menjelajahi kota London, kami pun melanjutkan eksplorasi ke kota-kota di Inggris Raya lainnya. Salah satunya Cambridge. 
Sebenarnya ada beberapa alternatif kendaraan dari London menuju Cambridge. Dengan bis, mobil sewaan atau kereta. Kalau dengan bis Anda akan menghabiskan dana sebesar £17.50 per orang. Pilihan kami jatuh pada transportasi kereta listrik (fast train). Harga tiketnya £29.00 per orang.

Kereta yang sangat nyaman 
Kereta cepat menuju stasiun Cambridge berangkat dari London King’s Cross Station setiap setengah jam. Perjalanan kami akan menghabiskan waktu sekitar empat puluh lima menit. Tidak terlalu lama sebenarnya jika di sepanjang jalur kereta kita bisa menikmati lukisan alam yang menawan. Jangan tidur! Abadikan setiap view agar Anda bisa menyimpan banyak kenangan selama perjalanan.
Kapan tepatnya saat yang menyenangkan melakukan perjalanan ke Cambridge? Bagi Anda yang alergi pada cuaca dingin, sebaiknya perjalanan dilakukan pada bulan Mei sampai dengan bulan September. Musim yang sedang berlangsung adalah musim semi (spring) dan musim panas (summer). Untuk menghemat, hindari pula musim liburan panjang (high season), yaitu dari bulan Juli sampai Agustus dan Desember sampai Februari. Pada bulan-bulan tersebut kota-kota wisata di Inggris akan dipadati pengunjung yang sedang mengisi liburan musim panas dan tahun baru. Keramaian pengunjung ini akan sangat berpengaruh pada seluruh tarif perjalanan Anda di sana.
Jika Anda ingin mengetahui tarif transportasi menuju Cambridge, hotel dan paket liburan yang serba murah selama berada di kota tersebut, bisa dilihat di http://www.wego.co.id/maskapai-penerbangan-ke/cbg/maskapai-terbang-ke-cambridge. Dengan kesiapan sejak awal akan lebih memudahkan dan memberi kenyamanan perjalanan Anda selanjutnya.
Memilih Tempat Makan
Jika Anda ingin memanjakan lidah dengan racikan bumbu Eropa, silahkan memilih restoran-restoran yang tersebar di Cambridge. Tapi, bagi Anda yang ingin mempertimbangkan anggaran, pilihan jajanan ringan dan murah tetap membantu menggantikan energi yang telah habis terpakai untuk mengitari kota tersebut.
Karena uang saku yang tidak berlebih, maka kami kembali menetapkan pilihan untuk membeli makanan murah, seperti roti gandum, sandwich dan buah-buahan sebagai pengganjal perut. Meskipun harganya murah dan tak sama dengan makanan pokok yang biasa disantap di tanah air, kami tetap merasa nyaman dan tidak kelaparan. 
Lokasi penjual makanan dan buah-buahan itu ada di beberapa tempat. Kebetulan saat itu ada pasar murah yang digelar tak jauh dari River Cam. 
Fruit Market 

Kembali kepada pilihan Anda dan keluarga. Jika ingin memilih-milih tempat bersantap yang nyaman, bisa dilihat di sini http://www.tripadvisor.co.id/Restaurants-g186225 Cambridge_Cambridgeshire_England.html. Banyak tempat makan yang mungkin bisa disesuaikan dengan lidah dan selera Anda, asal pas dengan isi kantong dan dompet, silakan memilih. []

Trans Studio Bandung

Selasa, 09 Juli 2013*
Alternatif pengisi liburan di tanah air.
Melengkapi liburan di sebuah wahana permainan menjadi alternatif pilihan mengasyikkan bagi anak-anak saya. Ketika mendengar ajakan dari Bapak mereka untuk menginap di The Luxury Trans Hotel, Bandung, mereka langsung antusias.

“Asyiiik..., bisa main di Trans Studio!” seru mereka bersamaan.

Mira dan Khalid girang, sebab mereka membayangkan akan bisa menghabiskan waktu libur di Bandung dengan bermain di Trans Studio.

“Wow! Trans Studio itu mirip-mirip Disney World yang di Orlando ya, Bu?” tanya mereka.

Saya yang belum pernah ke Trans Studio, jadi belum bisa memastikan kalau wahana permainan di sana mirip dengan Disney World.

“Kita lihat saja nanti,” begitu jawab saya semakin membuat mereka penasaran.

Biasanya kalau ke Bandung, kami hanya menghabiskan waktu untuk menikmati kuliner dan mampir di factory outletnya. Namun, kali ini kami ingin merasakan sesuatu yang berbeda. Informasi tentang Trans Studio Bandung ini sudah lama sekali kami dengar, namun belum juga berkesempatan untuk berkunjung ke sana.
Sore itu, Rabu, 3 Juli 2013 kami pun berangkat dari Bekasi menuju Bandung. Cuaca sore itu mendung, menandakan hujan akan segera mengguyur jalan sepanjang tol. Benar saja, belum lagi setengah perjalanan di jarak tempuh kami menuju Bandung, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Kabut yang ikut menyertai cuaca sore menjelang Magrib itu membuat pengendara mobil sedikit melambatkan laju kendaraan mereka.
Sekitar satu setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya kami tiba di The Luxury Trans Hotel, Bandung yang lokasinya berada di Jalan Gatot Subroto No. 289, Bandung. Hotel berbintang 5 ini memiliki 282 kamar, sedangkan gedungnya mencapai 18 lantai. Karena kami tiba malam hari, maka kemegahan hotel pun terpancar oleh gemerlapnya sinar lampu.


Lobi Hotel
“Wah! Trans Studionya dekat banget! Mal juga nempel sama hotelnya!” seru Mira kegirangan karena membayangkan esok hari akan segera menikmati semua fasilitas itu. Mal yang disebutkan Mira adalah Bandung Super Mal, yang letaknya bersebelahan dengan Trans Studio.

Mira dan Khalid menunggu Bapak di lobi hotel
Setelah menurunkan kami di depan lobi hotel, suami saya menuju tempat parkir. Tak berapa lama, suami saya pun melakukan check in. Mata saya sempat menyapu selintas dekorasi hotel tempat kami menginap itu. Pantaslah hotel itu mendapatkan label hotel berbintang lima.
Urusan check in selesai. Kami langsung menuju kamar 903 tempat kami menginap selama tiga malam di hotel tersebut.

Hahaha... Khalid langsung menghempaskan badannya di kasur yang empuk itu. ;)
Setelah sholat, suami pun mengajak kami untuk menikmati makan malam di restauran yang ada di hotel itu. Saat menikmati makan malam dengan hidangan ala penyajian prasmanan atau buffet itulah kami mengatur rencana untuk menghabiskan waktu sehari di Trans Studio. Suami saya yang saat itu dalam rangka dinas dari kantor hanya memberi dukungan karena dia tak mungkin bisa menemani anak-anak kami bermain. Makan malam jadi bertambah semangat ditimpali diskusi tentang wahana di Trans Studio.
Selepas makan malam, kami memutuskan untuk istirahat saja di kamar hotel. Anak-anak saya seakan tak sabar menunggu waktu pagi. Mereka ingin cepat-cepat bangun supaya bisa menikmati semua wahana yang ada di Trans Studio.
Kamis, 4 Juli 2013, selepas menikmati sarapan pagi, saya dan anak-anak segera melesat menuju lokasi Trans Studio. Cukup berjalan kaki saja. Tak sampai lima menit kami sudah tiba di pintu masuknya. Saya meminta Mira dan Khalid berpose sejenak di pintu masuk Trans Studio itu. Setelah itu, kami pun asyik menikmati wahana yang ada.

Sesaat sebelum membeli tiket masuk

Kartu sebagai tiket masuk

Peta Panduan
Untuk tarif tiket masuk ke Trans Studio Bandung, bisa dilihat di sini. Dengan pilihan harga masuk 250.000 ribu per orang kami sudah mendapatkan satu kartu tiket masuk yang bisa diisi ulang jika ingin menikmati makanan dan membeli souvenir di dalam wahana permainan tersebut.

At Science Centre

Begitu tiba di dalam lokasi, anak-anak saya langsung berkomentar, “Hmm... not bad! Tapi, Disney World memang terlalu luas untuk dibandingkan dengan ini,” ujar mereka bergantian sambil mengenang pengalaman mereka ketika berada di dunia permainan yang begitu besar di Orlando, Amerika itu.
Saya tersenyum mendengar komentar mereka dan ikut memberi masukan.
“Trans Studio ini one of the biggest indoor theme parks in the world, lho,” ujar saya kepada Mira dan Khalid.
“Oh, okey. Betul juga sih, kalau Disney World, kan, lokasinya outdoor jadi beda dong ya dengan ini,” balas Mira mulai paham dengan letak perbedaan itu. Saya tak ingin mereka membandingkan sesuatu yang memang tidak pantas dibandingkan karena keduanya memang berbeda.

At Trans City Theatre


Pertunjukan Sirkus


Untuk wahana permainan yang memakai konsep indoor, Trans Studio memang sangat mengagumkan. Sedangkan Disney World yang ada di Orlando, Florida konsepnya outdoor dan memang sungguh luar biasa luasnya sehingga tak cukup waktu sehari atau dua hari untuk menikmati semua wahana permainan yang disediakan di sana. Tapi, pengalaman berada di Trans Studio cukup membuat Mira dan Khalid puas.

Beberapa wahana permainan yang memicu adrenalin

Di Trans Studio, Bandung ini terdiri dari 20 wahana yang fantastis, terbagi menjadi 4 zona, yaitu;
1. Studio Central.
Sebuah kawasan menakjubkan, terdiri dari sepuluh jenis tontonan yang menampilkan gemerlap dunia layar lebar dan televisi dalam tampilan ala Hollywood era tahun 60-an. Zona ini menyingkap rahasia-rahasia di balik layar.
2. Lost City.
Kawasan yang terdiri dari empat wahana, dikemas secara apik untuk dinikmati para penjelajah dan petualang sejati.
3. Magic Corner.
Suasana penuh magis terdiri dari enam area yang membuat pengunjungnya begitu yakin pada apa yang ada di depan mereka.
4. Show and Parade.
Di sini kita akan menyaksikan sebuah sajian world class show and entertainment dengan ikon-ikon yang cukup dikenal. Di antaranya, Kabayan Goes to Hollywood, Legenda Putra Mahkota, Trans Studio Parade and Laser Show, serta Petualangan si Bolang dan Zoo Crew.
Trans Studio dengan dua puluh wahana permainan mulai dari yang lumayan keras sampai yang nyaman baik untuk anak, remaja, maupun dewasa. Tinggal pilih saja mana yang cocok untuk Anda dan buah hati. Kalau tiba-tiba lapar dan haus, di dalam lokasi itu banyak tersedia makanan dari mulai yang berat sampai yang ringan-ringan, tapi tetap dengan menggunakan tiket masuk yang sudah diisi ulang alias ditambah nominalnya supaya cukup membeli makanan kesukaan Anda. Ingat! Mereka tidak menerima uang cash. Bagi pengunjung muslim, tempat sholat juga disediakan di lokasi itu. Komplit, kan?



At Trans Broadcast Museum
Setelah puas menjajal beragam wahana, akhirnya anak-anak saya memutuskan untuk menyudahi kebersamaan kami di Trans Studio Bandung. Ketika ke luar dari lokasi, hari sudah sempurna gelap. Saya lirik jam di hape, ternyata sudah hampir jam delapan malam. Pantas saja rasa lelah mulai merayapi kami. Sebelum kembali ke hotel, kami sengaja melewati mal. Anak-anak minta dibelikan makanan untuk dibawa ke kamar hotel. Saya pilihkan pizza untuk mereka.
Sepanjang jalan menuju hotel, mereka kembali membahas beberapa wahana permainan dan tontonan yang mirip-mirip dengan suguhan yang pernah mereka lihat di Disney World, Orlando.
“Hahaha, kangen ya sama Disney World?” canda saya membuat mereka serentak mengangguk.
“Bersyukurlah kalian, karena kita nggak perlu mengeluarkan uang super banyak buat terbang ke Amrik lagi, Trans Studio ini kan bisa jadi obat...,”
“Lha... kan nggak sama, Bu,” protes Mira membuat saya kembali tertawa.
“Tapi tetap happy kaaan?” tanya saya lagi.
“Iya sih, apalagi yang special effects actionnya, cuma lokasinya aja kurang luas. Tapi lumayan seru deh!” timpal Khalid mengomentari salah satu tempat pertunjukan di Trans Studio yang katanya baru pertama ada di Indonesia itu.

Special Effects Action

Special effects action yang dimaksud adalah pertunjukan rahasia di balik pembuatan film-film laga atau action. Mulai dari efek ledakan di pompa bensin, atraksi tiang jatuh, sampai adegan baku hantam yang dilakoni oleh para stuntman mampu memacu adrenalin penonton selama pertunjukan.


Begitulah, akhirnya kami kembali ke hotel untuk melepas lelah. Saya biarkan Mira dan Khalid saling berkomentar tentang apa yang sudah mereka nikmati. Saya yakin, kerinduan mereka pada Disney World, Orlando sedikit banyak sudah terobati dengan Trans Studio Bandung. [Wylvera W.]